๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Ch. 93 - To Dissappear
“Ada apa, Sabine? Kenapa kamu cemberut?” tegur Randy saat Sabine lagi-lagi ketahuan melamun di kafetaria dan bahkan menyentuh makan siang yang sebenarnya hanya formalitas –ia tidak punya selera makan sama sekali.
“Tidak ada,” jawab Sabine hanya tersenyum sekenanya lalu mulai membuat suapan pertama dengan makan siang-nya nasi dengan sup yang sudah dingin.
Maika hanya menatapi Randy dengan wajah murung.
“Kenapa kamu juga ikut kusut?” tanya Randy pada Maika yang mendadak pendiam. “Kamu seram kalau cemberut. Aku kira kamu hantu penasaran yang ingin membalaskan dendam.”
“Sabine lagi-lagi digosipkan yang tidak-tidak,” jelas Maika melirik Sabine yang diam dengan prihatin; ia tidak menanggapi ledekan Randy sama sekali seperti biasanya.
“Apa lagi sekarang?” Randy agak kesal, melirik Sabine yang murung dan Maika yang ikut berempati padanya. “Apa mereka tidak lelah menggosipkan orang terus?”
Sabine dan Maika diam saja.
“Leon mana? Kenapa dia belum datang?”
“Dia masih di ruangan bosnya dan tidak bisa makan siang bersama kita.”
Randy menatap Sabine; wajahnya gusar, bukan pada gadis itu. Namun sekelilingnya yang sesekali menengok ke arah mereka seolah ikut membicarakan dirinya dan Maika juga.
“Aku rasa aku harus pergi,” kata Sabine tiba-tiba berdiri dari kursinya.
“Sabine?” panggil Maika. “Kenapa kamu harus pergi? Biarkan saja mereka.”
Tiba-tiba Randy berdiri lagi dari kursinya, ia menghampiri meja sebelah.
“Kalian punya masalah apa?” tanya dia pada sekelompok orang di sana dengan gusar.
Orang-orang itu hanya menanggapinya dengan wajah sini.
“Kamu mau apa?” balas salah seorang dari mereka dengan wajah jengkel sementara yang lainnya pura-pura acuh.
“Kalau kalian ingin mengatakan sesuatu, jangan berbisik. Katakan dengan jelas kalau kalian merasa itu memang benar,” tantang Randy.
Tak ada yang menanggapi Randy. Mereka semua memalingkan wajah sementara Maika sudah panik dan Sabine tertunduk hampir menangis.
“Kenapa tidak mau bicara?” tantang Randy lagi. “Ayo, katakan!”
“Randy!” jerit Maika yang ketakutan setengah mati. “Jangan cari masalah....”
Kelompok itu yang terdiri dari lima orang itu tampak mulai tidak nyaman saat semua orang di kafetaria memandang ke arah mereka.
“Kalau apa yang kalian bicarakan itu fakta, tidak apa-apa keluarkan saja!” Randy masih menantang semuanya. “Lain halnya kalian hanya membuat gosip, kalian tidak berani bicara karena kalian sendiri juga meragukan kebenarannya!”
Pada akhirnya mereka semua bubar dan tak satu pun yang berani menjawab. Setelah itu Randy kembali ke kursinya selagi Maika kembali mengajak Sabine duduk lagi.
“Orang-orang sialan...,” gerutu Randy yang masih kelihatan kesal. “Tadi aku benar-benar lapar dan sekarang jadi kehilangan selera makan.”
Sabine akhirnya menangis; bukan karena ia bersedih. Namun begitu senang melihat ada seseorang yang membelanya. Dulu ada Jessica tapi sekarang mereka sudah tidak berteman karena ia tak bisa mempercayainya lagi; tak ada seorang pun bisa ia percayai lagi. Sabine khawatir akan merasakan kekecewaan yang sama seperti yang pernah Jessica tinggalkan.
“Aduh, Sabine, jangan menangis...,” ujar Maika khawatir.
“Kamu tidak perlu menangis untuk gosip-gosip sampah semacam itu, Sabine,” kata Randy kemudian.
Sabine diam dan Maika masih terlihar sedikit gusar memperhatikan Sabine yang benar-benar tertekan.
“Ada apa ini?” tegur Leon yang akhirnya datang.
“Eh, Leon?” sahut Maika. “Aku kira kamu masih di ruangan Chief HR.”
“Tadinya. Sekarang sudah selesai,” jawab dia mengambil tempat di samping Randy yang masih kesal seperti ingin memukul orang. Leon mempehatikan mereka satu persatu. “Apa yang baru saja terjadi di sini?”
“Seperti biasa. Gosip,” jelas Maika agak murung. “Randy baru saja melabrak sekelompok orang yang berbisik-bisik dan sepertinya ikut menertawai kita.”
“Kenapa kalian terpancing dengan hal-hal semacam itu? Bukankah kalian sudah tahu, gosip adalah salah satu hiburan di kantor dan kalian juga kadang-kadang melakukannya.”
“Tapi, ini keterlaluan, Yon,” jelas Maika lagi. “Sekarang ada lagi rumor yang mengatakan bahwa Sabine juga menggoda Pak Harish sampai dia dan Laura bertengkar. Terus juga, kamu tahu apa yang mereka katakan soal kita? Kita adalah penjilat. Aah, aku tidak mengerti dengan isi kepala orang-orang ini!”
Leon sedikit terkejut; mungkin karena ia punya bos yang sibuk dan ikut sibuk juga sampai tidak tahu ada gosip yang sebegitu menyebalkannya dan bahkan membawa namanya juga.
“Mereka memang keterlaluan. Bos kita juga keterlaluan,” komentar Maika lagi dan itu membuat Sabine terhenyak.
Ia tak membantahnya; semua yang terjadi padanya hari ini memang kesalahan Harish.
“Setelah sekarang dia sibuk dengan pekerjaan dan perjalanan bisnisnya, dia berhenti menghukum Sabine. Tapi tidak dengan orang-orang di sini. Mereka masih merundung Sabine untuk hal yang tidak pernah dia lakukan,” sambung Maika, dia terlihat sama gusarnya dengan Randy. “Kalau dia sudah tahu kebenarannya seharusnya dia suportif dengan mengembalikan nama baik Sabine. Tapi, sekarang dia memilih diam seolah sengaja membiarkan orang lain karena takut blunder. Kesalahpahamannya terhadap Sabine berujung mengerikan....”
Sabine masih tertunduk; yang dikatakan oleh mereka sangat tepat. Tapi, ia tak bisa mengiyakan semuanya begitu saja. Di samping apa yang mereka percayai, ada fakta lain yang tak bisa Sabine ungkapkan dan tak boleh diketahui siapa pun: hubungannya dengan Harish –sebuah rumor yang menjadi nyata bahwa dirinya memang penyebab pertengkaran Harish dan Laura.
“Aku... mau ke toilet sebentar,” kata Sabine pamitan karena ia benar-benar tidak tahan lagi.
Rasa bersalah timbul di hatinya; mereka sudah membelanya tanpa pernah tahu bahwa tuduhan terhadapnya kali ini memang benar. Tidak lama lagi semuanya akan terbongkar. Orang-orang akan terus membicarakannya dan menghubung-hubungkan semuanya sampai mereka mendapatkan kesimpulan yang tepat.
Hanya tinggal menunggu waktu.
Meski pekerjaan membuatnya sibuk dan untuk pertama kalinya ia merasakan yang namanya dikejar oleh tenggat waktu dan berada di dalam hiruk pikuk dunia kerja yang sebenarnya, dimarahi karena lalai, ada sesuatu yang masih terasa begitu salah baginya. Meski ia berada di antara teman-teman yang tak peduli pada gosip-gosip murahan tentangnya, ia masih merasa tidak nyaman dengan lirikan sinis orang-orang yang membencinya.
Yang Sabine inginkan saat ini hanya satu. Menghilang.
“Sebaiknya kalian juga tidak boleh berkomentar yang tidak-tidak di depan Sabine langsung,” ujar Leon memperhatikan Sabine melangkah dengan lesu setelah meninggalkan meja mereka. “Kalian tidak benar-benar tahu kejadian yang sebenarnya dan dia bisa saja tersinggung karena itu urusan pribadinya.”
“Tapi, Yon, apa mungkin dia dan Pak Harish punya hubungan?” tanya Maika. “Menurutku itu sangat tidak masuk akal.”
Leon mendengus. “Apa pun itu, bukan urusan kita,” tegas Leon. “Jika kalian ingin membelanya tidak masalah, tapi jangan mengatakan hal-hal seperti itu lagi. Kalian tidak lihat dia sudah menanggung banyak cacian?”
Randy dan Maika saling tatap.
“Ya sudah, setelah ini aku akan minta maaf padanya...,” kata Maika terlihat menyesal. “Tadi aku hanya kesal karena gosip bodoh itu semakin menjadi-jadi setiap hari. Kita semua percaya bukan kalau Sabine tidak seperti yang orang-orang kira? Dia hanya berada di waktu yang salah dan tempat yang salah.”
Leon diam. Dia bukan orang yang berhak berkomentar untuk masalah yang bukan urusannya –apalagi sesuatu yang menyangkut urusan pribadi atasannya. Mempunyai bos yang juga tak peduli dengan urusan orang lain seperti Kellan, juga membuat Leon berhati-hati untuk berbicara dengan teman-temannya.
“Aku juga memikirkan hal yang sama,” kata Maika. “Aku sempat heran, gadis penggoda macam apa yang tidak pernah terlihat memakai barang-barang mahal? Aku tidak yakin Sabine punya barang-barang sebanyak sugar baby pada umumnya. Dia bahkan masih tinggal di apartemen yang terkenal seantero Jakarta dengan banyak kasus bunuh diri, kriminal dan kisah horor.”
“Kamu benar, seharusnya Sabine tinggal di Penthouse seharga 5 M dari hasil memeras pria tua hidung belang macam Roland. Atau dia bisa mendapatkan lebih kalau memang dia punya ‘affair’ dengan bos kita yang sekarang. Lihat Laura, sekarang dia punya saham di perusahaan dan bisa plesiran mewah di luar negeri walaupun dia sudah berhenti bekerja. Tapi, Sabine, jangankan taraf hidup, semakin hari dia semakin kurus dan selalu kelihatan tertekan.”
“Sudah! Sudah! Kalian berdua tidak ada bedanya dengan tukang gosip kalau terus bicara seperti itu,” tandas Leon. “Kalau kalian tulus berteman dengannya, berhentilah menyinggung masa lalunya dan menanggapi serius gosip-gosip itu. Anggap saja angin lalu supaya Sabine juga tidak terbebani.”
Komentar
0 comments