๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Ch. 89 - Taking Break
“Kamu pasti tahu alasan saya memanggil kamu ke sini..., Laura,” kata Vivian Salim memulai pembicaraan setelah Laura duduk di depannya.
Berhadapan dengan Vivian Salim memang tak pernah mudah.
“Saya pikir... saya sudah melakukan hal yang tepat untuk diri saya sendiri,” kata Laura dengan tegas meski ia agak ragu-ragu.
Jika Vivian Salim sampai mencarinya setelah selama ini wanita itu tidak menyukainya, pasti ada sesuatu yang besar.
Senyum sarkas terlihat angkuh di bibir wanita itu. “Sekarang kamu sudah tahu akibat dari sifat keras kepala kamu itu?” tanya dia, menyindir.
“Ibu... ingin menertawai saya sekarang?” balas Laura tersinggung.
Vivian tertawa satu kali. “Kamu tidak perlu merasa tersinggung, Laura. Saya ingin menemui kamu bukan untuk itu,” ujarnya, namun masih tak terasa menyenangkan di telinga.
“Jadi... sebenarnya Ibu sudah tahu kalau Harish menyukai gadis yang dulu dia benci?” tanya Laura; pembicaraan mereka menjadi kian sinis saja karena pada dasarnya Vivian juga tidak menyukai Laura sejak dulu.
Namun jika dia sudah mengetahuinya, kenapa Vivian diam saja? Bukankah Sabine adalah jenis gadis yang tidak cocok dengan seleranya?
“Tampaknya itu seperti takdir buruk yang tidak bisa dihindari,” komentarnya. “Tapi, saat ini saya hanya ingin meminta kamu untuk tenang.”
“Apa?” sembur Laura disertai tawa sarkas. “Tenang?”
“Seperti yang kamu tahu, Harish berada di masa-masa pentingnya. Jika kamu berbicara yang tidak perlu, itu akan membuat keadaan semakin rumit untuknya,” jelas Vivian.
Laura tertawa lebih keras. “Ibu sama sekali tidak memikirkan perasaan saya?” balasnya. “Lagipula... sejak kapan Ibu begitu mempedulikan Harish?”
“Kita punya persepsi dan perasaan yang berbeda terhadap masalah.”
Laura segera berdiri dari kursinya dengan kesal. “Saya tidak ingin bicara lagi,” tandasnya gusar.
“Mungkin kamu tidak akan mengerti latar belakang saya melakukan apa yang harus saya lakukan akan tetapi saya meminta kamu tenang bukan tanpa sebab,” kata Vivian dengan cepat sebelum Laura benar-benar meninggalkannya.
“Tanpa sebab?”
“Kamu tahu alasan saya tidak pernah menjodohkan Harish dengan siapa pun karena dia adalah representasi yang buruk dari kegagalan dalam keluarga saya. Saya tidak ingin tingkah lakunya justru malah mempermalukan saya. Karena itu saya tidak pernah peduli dengan gadis mana dia pernah berurusan. Termasuk kamu. Kamu mengerti sekarang?”
Apa pun akan hancur di tangannya. Itulah yang ia tahu tentang putranya yang telah tumbuh dewasa menjadi pribadi yang rumit dan emosional.
“Memangnya salah siapa Harish jadi seperti itu?” gumam Laura.
“Akan tetapi ada sesuatu yang mengganggu saya akhir-akhir ini,” ia mulai menjelaskan.
“Sabine?” tebak Laura.
“Tepat sekali.”
“Kalau begitu kenapa Ibu diam saja kalau Ibu memang tidak menyukainya?”
“Semuanya tidak sesederhana yang ada di pikiran kamu, Laura.”
“Apa hubungannya dengan saya sekarang? Bukankah Harish sudah membuat pilihannya? Dari awal Ibu juga tidak menyukai saya.”
“Saya tidak pernah melakukan hal yang sia-sia. Kamu selalu tahu itu. Jika saya memanggil kamu berarti ada sesuatu yang penting yang harus saya sampaikan.”
“Hal apa lagi yang terasa penting sekarang?” Laura semakin tidak sabar.
Ia kembali ke kursinya dan mengamati wajah Vivian yang masih terlihat begitu angkuh setelah mengisyaratkan bahwa dia membutuhkan bantuannya saat ini.
“Seperti yang sudah saya katakan, kamu harus tenang karena saya tidak ingin kamu menambah masalah anak saya,” jelas Vivian. “Harish tidak boleh kehilangan fokusnya. Biarkan saja dia sedikit bermain-main dengan gadis itu untuk sementara. Karena jika kamu mengacaukannya, semua yang sudah dia capai saat ini akan hancur. Bukan hanya Harish saja yang akan gagal, Kellan juga akan merasakan bahwa kerja kerasnya hanya untuk sesuatu yang sia-sia.”
“Akhirnya saya melihat Ibu menunjukkan sedikit kasih sayang padanya...,” sindir Laura tiba-tiba.
“Kamu jangan sok tahu,” cetus Vivian, agak kesal. “Kita memandang segala sesuatunya dengan berbeda karena saya bukan wanita yang rela berselingkuh demi lelaki lain dan dengan cukup tidak tahu malu mengemis untuk dicintai. Dibandingkan dengan kamu saya justru berada di posisi yang paling tidak menyenangkan dalam hidup saya selama bertahun-tahun. Jadi kamu tidak akan mengerti bagaimana rasanya berada di posisi saya, Laura.”
“Terima kasih. Tapi, maaf saja, Bu Vivian, saya hanya membuang-buang waktu ke sini,” tegas Laura benar-benar ingin pergi. “Seburuk apa pun saya di mata Ibu, saya juga tidak pantas diperlakukan seperti ini!”
“Cepat atau lambat Harish pasti meninggalkan gadis itu juga,” kata Vivian akhirnya. “Saya hanya ingin kamu tenang dan tidak mengacaukan situasi sampai hari di mana Harish benar-benar bisa menyingkirkan Roland. Bukankah kita semua punya tujuan yang sama?”
Laura tertawa lagi. Sudah tidak lagi. Sejak awal Laura tak punya keinginan apa pun terhadap kekayaan dan kekuasaan yang dimiliki Harish. Yang ia inginkan hanya cintanya tapi lelaki itu malah memberikannya untuk gadis lain.
“Dari mana ibu begitu yakin dia akan meninggalkan gadis itu? Ibu sama sekali tidak tahu betapa Harish jatuh cinta dan tergila-gila padanya,” celetuk Laura sangsi.
Vivian tersenyum. “Saya pernah menghadapi hal yang sama persis dengan ini...,” ia bergumam, lalu menatap Laura sungguh-sungguh. “Tapi, saya tidak sedang bicara omong kosong dengan kamu. Jika kamu bisa bersabar, mungkin setelah badai ini berlalu kamu bisa kembali dalam persaingan dan barangkali, nasib baik akan berpihak kepadamu.”
“Apa yang membuat ibu yakin sekali? Saya tidak bodoh, Bu Vivian. Saya tahu, ibu mengatakan hal-hal ini juga karena Ibu ingin saya lenyap dari kehidupan Harish bukan?”
Ibu dan anak sama saja!
“Kamu dan gadis itu sama saja. Sama-sama pilihan yang buruk bagi anak saya. Tapi, di satu sisi saya menyadari kekurangan Harish dan tidak menampik bahwa apa yang terjadi padanya juga kesalahan saya. Akan tetapi, jika saya harus memilih, daripada gadis itu, saya mungkin bisa menaruh sedikit harapan di tangan kamu walaupun saya membencinya.”
“Maksudnya?”
“Begitu saatnya tiba kamu akan tahu bahwa yang saya katakan hari ini bukan sekedar omong kosong. Tapi, sebelum itu, saya ingin kamu tidak melakukan apa pun baik terhadap Harish ataupun gadis itu.”
Lalu Vivian memberikannya sesuatu; sebuah amplop.
“Pergilah berlibur untuk sejenak, Laura. Saya mengerti kamu begitu tertekan. Kamu butuh istirahat setelah semua yang terjadi.”
Laura menggeleng; ia tak membutuhkan liburan. Semua materi yang Harish berikan padanya tak ada artinya jika lelaki itu menghancurkan hatinya dengan cara yang begitu kejam. Apalagi pemberian wanita ini. Kebaikannya terkesan menakutkan.
“Setelah kamu tenang, kembalilah ke Athlon,” sambung Vivian Salim dan itu terdengar semakin tak masuk akal.
Surat pengunduran dirinya telah disetujui Harish tanpa banyak pertimbangan karena itulah yang diinginkan lelaki itu; menjauhkan dirinya dan juga gadis itu. Jika dia kembali bukankah itu memalukan?
“Saya tidak akan kembali lagi ke sana apa pun yang terjadi,” tegas Laura.
“Saya tidak meminta kamu kembali ke sana sebagai staf Harish,” kata wanita itu lagi. “Melainkan salah seorang Board of Director, sama seperti Kellan. Bukankah dia sudah memberikan kamu saham di perusahaan sebagai hasil kerja keras kamu selama ini?”
“Saya tidak tertarik,” kata Laura.
Kembali lagi ke sana ia hanya akan melihat Harish yang kasmaran dengan seorang gadis kecil dan melakukan hal-hal bodoh; itu seolah menyindirnya.
“Harish, Kellan dan kamu adalah tim yang bagus. Dengan menjadi salah satu Board of Director, kamu punya wewenang lebih luas di perusahaan. Dan lagi, walaupun Harish sepertinya baik-baik saja sepeninggal kamu, dia tetap akan kesulitan. Dia akan menggenggam kekuasaan tertinggi di tangannya dan dia tidak akan bisa melakukannya sendiri.”
“Saya tidak peduli lagi, Bu Vivian. Jangan memaksa saya untuk kembali ke sana.”
Kali ini ia harus benar-benar mendengarkan Kellan. Cintanya sudah tamat karena Harish tidak akan pernah menjadi miliknya. Semuanya sudah berakhir. Vivian Salim hanya memikirkan nasib putranya; bukan dirinya. Dia datang hanya untuk memanfaatkan kelemahannya untuk kepentingannya sendiri.
“Jika kamu benar-benar mencintainya, berusahalah mendapatkannya dengan cara yang terhormat dan elegan,” Vivian Salim kembali menyindirnya. “Dia tidak tertarik padamu karena mungkin baginya kamu sama seperti perempuan murahan lainnya. Apa kamu tidak menyadarinya?”
“Sudah, cukup...,” pinta Laura yang hampir menangis di depan wanita itu.
“Hubungan mereka tidak akan lama. Saya bisa memastikannya. Pada saat itu situasinya akan berbeda dengan sekarang. Kamu mungkin akan mendapatkan Harish dalam keadaan hancur dan itulah kesempatan kamu.”
Komentar
0 comments