๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Malam itu, hal yang mengerikan terjadi pada Bill Denbrough. Itu terjadi untuk kedua kalinya.
Ayah dan ibunya sedang menonton TV di lantai bawah, nyaris tak berbicara, duduk di ujung berlawanan dari sofa — seperti dua penyangga buku. Dulu, ruangan TV yang menyatu dengan dapur itu selalu penuh dengan suara tawa dan obrolan, begitu ramai sampai suara TV kadang tak terdengar sama sekali.
“Diam, Georgie!” Bill akan berteriak.
“Berhenti rakus popcorn, baru aku diam!” balas Georgie.
“Ma, suruh Bill memberiku popcorn.”
“Bill, berikan popcorn ke adikmu. Dan Georgie, jangan panggil aku Ma. ‘Ma’ itu suara domba.”
Atau kadang ayah mereka melontarkan lelucon, dan semua tertawa — bahkan Ibu. Bill tahu, Georgie tak selalu paham lelucon ayahnya, tapi ia ikut tertawa karena semua orang tertawa.
Dulu, ayah dan ibunya memang seperti dua penyangga buku di ujung sofa, tapi Bill dan Georgie adalah buku-buku di antara mereka. Sejak kematian Georgie, Bill mencoba menjadi satu-satunya “buku” yang tersisa di tengah mereka, tapi rasanya dingin sekali. Dingin yang memancar dari dua sisi sekaligus, dan “pemanas” Bill tak cukup kuat untuk melawannya. Ia selalu harus pergi — karena dingin semacam itu membuat pipinya beku dan matanya berair.
‘K-K-Kalian m-mau dengar l-lelucon yang aku d-dengar di s-sekolah hari ini?’ ia pernah mencoba berkata, beberapa bulan lalu.
Tak ada jawaban dari mereka. Di TV, seorang kriminal sedang memohon pada saudaranya — seorang pastor — agar menyembunyikannya.
Ayah Bill, Zack Denbrough, menatap sekilas dari majalah True yang sedang ia baca, lalu memandang Bill dengan ekspresi heran ringan, kemudian kembali menunduk. Di halaman itu ada gambar seorang pemburu yang terbaring di tumpukan salju, menatap seekor beruang kutub besar yang sedang menggeram. Judul artikelnya: “Terkoyak oleh Pembunuh dari Gurun Putih.”
Bill berpikir, Aku tahu di mana ada gurun putih — tepat di antara ayah dan ibu di sofa ini.
Ibunya bahkan tak menoleh sama sekali.
“Itu tentang b-b-bberapa banyak o-orang P-Prancis yang d-dibutuhkan untu m-m-memasang bohlam La-lampu,” Bill nekat melanjutkan. Keringat dingin mulai muncul di dahinya — seperti saat di sekolah ketika ia tahu guru sudah tak bisa lagi berpura-pura tidak melihatnya dan pasti akan memanggil namanya. Suaranya terdengar terlalu keras, tapi ia tak bisa menurunkannya. Kata-katanya bergaung di kepalanya, memantul, macet, lalu tumpah lagi seperti dentang lonceng yang kacau.
“K-K-Kalian tahu b-b-berapa bany-hyak?”
“Satu untuk memegang bohlam dan empat untuk memutar rumahnya,” sahut Zack Denbrough tanpa menatap, lalu membalik halaman majalahnya.
“Iya, Sayang?” tanya ibunya tanpa sadar, sementara di Four Star Playhouse, si pastor di TV mengatakan pada saudaranya yang kriminal untuk menyerahkan diri dan berdoa meminta pengampunan.
Bill duduk di sana, berkeringat tapi kedinginan — sangat dingin. Karena sebenarnya, ia bukan satu-satunya “buku” di antara dua penyangga itu; Georgie masih ada di sana. Hanya saja, Georgie itu tak bisa ia lihat. Bukan lagi Georgie yang minta popcorn atau teriak karena dicubit. Georgie yang baru ini tak pernah bicara. Ia hanya duduk diam — dengan satu tangan — di antara mereka, pucat, hening, dan merenung dalam cahaya putih kebiruan bayangan televisi Motorola.
Mungkin bukan dari ayah dan ibunya dingin itu berasal, pikir Bill — mungkin justru dari Georgie.
Mungkin Georgie-lah pembunuh dari gurun putih itu.
Akhirnya Bill melarikan diri dari kakaknya yang tak terlihat itu — dari keheningan dan dingin yang menusuk — ke kamarnya sendiri, di mana ia menelungkup di ranjang dan menangis ke dalam bantalnya.
Kamar Georgie masih persis seperti hari ia meninggal. Suatu kali, sekitar dua minggu setelah pemakaman, Zack sempat mengemasi sebagian mainan Georgie ke dalam sebuah kotak kardus — mungkin untuk disumbangkan ke Goodwill atau Salvation Army, pikir Bill. Tapi ketika Sharon Denbrough melihat suaminya keluar dengan kotak itu, tangannya langsung terangkat ke kepala seperti burung putih yang ketakutan, lalu menyelam ke dalam rambutnya, mencengkeram dengan kuat.
Bill melihat itu — dan lututnya langsung lemas hingga ia menabrak dinding. Wajah ibunya tampak seperti Elsa Lanchester di film The Bride of Frankenstein — gila dan hancur oleh kehilangan.
“Jangan KAU BERANI mengambil barang-barangnya!” ibunya menjerit.
Zack tersentak, lalu tanpa berkata apa pun membawa kembali kotak mainan itu ke kamar George. Ia bahkan menaruh semuanya tepat di tempat semula, persis seperti sebelum diambil.
Bill masuk dan melihat ayahnya berlutut di samping tempat tidur George — tempat tidur yang masih diganti seprai oleh ibunya, meski sekarang hanya seminggu sekali, bukan dua kali seperti dulu. Kepala ayahnya terbenam di antara kedua lengan yang berotot dan berbulu itu. Bill melihat ayahnya menangis, dan pemandangan itu menambah rasa takutnya.
Sebuah kemungkinan yang menakutkan muncul di benaknya: mungkin kadang sesuatu tidak sekadar “berjalan salah” lalu berhenti; mungkin ada kalanya semuanya terus menjadi lebih salah, dan lebih salah lagi, sampai akhirnya segalanya benar-benar hancur total.
“A-a-ayah—”
“Pergi, Bill,” suara ayahnya parau dan bergetar. Punggungnya naik turun pelan. Bill sangat ingin menyentuh punggung itu, ingin tahu apakah sentuhannya bisa membuat guncangan itu berhenti. Tapi ia tak berani.
“Sudah, sana. Pergi.”
Bill keluar, berjalan perlahan di lorong lantai atas. Dari bawah, ia mendengar ibunya menangis di dapur. Suaranya melengking, tak berdaya. Bill berpikir, Kenapa mereka menangis sejauh itu satu sama lain? — lalu segera mengusir pikiran itu.
Malam pertama liburan musim panas, Bill masuk ke kamar George. Jantungnya berdentum keras di dadanya; kakinya terasa kaku dan canggung karena tegang. Ia sering datang ke kamar George, tapi bukan berarti ia menyukainya. Kamar itu begitu penuh dengan “kehadiran” George, sampai rasanya seperti dihantui.
Setiap kali masuk, Bill tak bisa menahan bayangan bahwa pintu lemari akan berderit terbuka dan George akan keluar dari sana — masih memakai jas hujan kuningnya, tapi kini berlumuran noda merah, satu lengannya menggantung lemas. Matanya kosong, menyeramkan, seperti zombie di film horor. Sepatu botnya akan menimbulkan bunyi “plak-plok” basah saat ia berjalan ke arah Bill yang membeku di atas ranjang.
Jika listrik tiba-tiba padam saat ia duduk di sini, memandangi foto-foto di dinding George atau model pesawat di atas lemari, Bill yakin ia akan kena serangan jantung — mungkin yang mematikan — dalam sepuluh detik. Tapi ia tetap datang.
Yang berperang dalam dirinya adalah dua hal: rasa takut terhadap “hantu George” dan sebuah kebutuhan bisu, kelaparan batin — untuk bisa menerima kematian George dan menemukan cara hidup yang layak setelahnya. Bukan untuk melupakan George, tapi agar bayangannya tidak terasa begitu mengerikan.
Ia tahu orang tuanya gagal melakukan itu, dan kalau ia ingin berhasil, ia harus melakukannya sendiri.
Namun bukan hanya untuk dirinya ia datang. Ia juga datang untuk George. Ia mencintai adiknya itu — dan untuk ukuran dua bersaudara, mereka cukup akur. Kadang memang ada momen sebal: Bill memberi George “Indian rope-burn”, George mengadu ke ibu saat Bill diam-diam turun tengah malam memakan sisa frosting lemon. Tapi selebihnya, mereka baik-baik saja.
Kehilangan George saja sudah cukup buruk. Tapi membiarkan ingatan tentang George berubah jadi sosok monster menakutkan — itu lebih buruk lagi.
Ia rindu anak kecil itu. Rindu suaranya, tawanya — rindu cara George menatapnya dengan yakin, seolah Bill pasti tahu semua jawaban dunia. Dan satu hal yang paling aneh: kadang-kadang Bill merasa ia justru mencintai George dalam rasa takutnya. Karena bahkan ketika takut, ketika membayangkan George muncul dari bawah ranjang atau dari lemari, ia tetap bisa mengingat betapa besar cintanya pada George — dan cinta George padanya.
Dalam usahanya untuk menyatukan dua perasaan itu — cinta dan ketakutan — Bill merasa, mungkin di sanalah letak dari penerimaan yang sesungguhnya.
Ini bukan hal-hal yang bisa ia ucapkan; di kepalanya, semua itu hanyalah kekacauan pikiran yang tidak bisa disusun dengan kata-kata. Tapi hatinya — hangat, rindu, dan penuh keinginan — mengerti. Dan itu saja yang penting.
Kadang ia membuka-buka buku milik George. Kadang ia mengutak-atik mainan George.
Sejak Desember lalu, ia belum pernah menyentuh album foto George lagi.
Malam itu — malam setelah pertemuannya dengan Ben Hanscom — Bill membuka pintu lemari George. Seperti biasa, ia menegangkan diri, bersiap kalau-kalau melihat George berdiri di sana di antara baju yang tergantung, mengenakan jas hujan berdarah, satu tangan pucat seperti tangan ikan tiba-tiba menyambar keluar dari kegelapan untuk mencengkeram lengannya.
Ia mengambil album dari rak paling atas.
Tulisan emas di sampulnya berbunyi: MY PHOTOGRAPHS.
Di bawahnya, ditempel dengan selotip yang kini mulai menguning dan mengelupas, tertulis dengan huruf-huruf kecil dan rapi:
GEORGE ELMER DENBROUGH, AGE 6.
Bill membawanya ke tempat tidur tempat George biasa tidur. Jantungnya berdetak berat, seolah setiap denyut memukul dadanya dari dalam. Ia tidak tahu kenapa malam ini ia kembali mengambil album itu — setelah apa yang terjadi di bulan Desember.
Mungkin hanya untuk memastikan. Sekadar melihat sekali lagi — membuktikan bahwa yang dulu itu cuma khayalan, hanya kepalanya sendiri yang mempermainkannya.
Ya, mungkin begitu.
Atau mungkin karena album itu sendiri memang punya daya tarik gila yang tidak bisa dijelaskan. Apa pun yang telah ia lihat — atau pikir telah ia lihat — terus memanggilnya kembali.
Ia membuka album itu sekarang. Di dalamnya ada kumpulan foto yang George dapat dari ibu, ayah, tante, dan paman-pamannya. George tidak peduli apakah foto-foto itu berisi orang atau tempat yang ia kenal; yang membuatnya terpesona adalah foto itu sendiri — gagasan bahwa sesuatu bisa ditangkap, disimpan, dan tak hilang.
Kalau tidak ada foto baru untuk ditempel, George akan duduk bersila di tempat tidur — di tempat Bill duduk sekarang — dan memandangi yang lama satu per satu, membalik halaman dengan hati-hati, mempelajari foto-foto Kodak hitam putih itu.
Di sana ada foto ibu mereka saat masih muda dan luar biasa cantik;
ayah mereka, tak lebih dari delapan belas tahun, berdiri bersama dua teman dengan senapan di tangan, tersenyum di atas bangkai rusa;
Paman Hoyt berdiri di atas batu sambil mengangkat ikan tangkapannya;
Bibi Fortuna di pekan raya pertanian Derry, berlutut bangga di samping keranjang tomat hasil panennya;
sebuah mobil Buick tua;
sebuah gereja;
sebuah rumah;
sebuah jalan yang entah menuju ke mana.
Semua foto ini — dijepret oleh orang-orang yang kini hilang karena alasan yang juga hilang — terkurung di dalam album milik seorang anak yang kini mati.
Di sana Bill melihat dirinya sendiri berusia tiga tahun, terbaring di ranjang rumah sakit dengan perban tebal melilit kepalanya. Perban itu menuruni pipinya dan menahan rahangnya yang patah. Ia pernah tertabrak mobil di area parkir A&P di Center Street. Ia hampir tak ingat apa pun tentang masa itu, hanya bahwa mereka memberinya milkshake es krim lewat sedotan dan kepalanya berdenyut sakit selama tiga hari.
Ada juga foto seluruh keluarga di halaman rumah: Bill berdiri di samping ibunya sambil menggenggam tangannya, dan George — masih bayi — tertidur di gendongan Zack.
Dan di sinilah…
Halaman terakhir yang penting.
Bukan halaman akhir buku, tapi yang terakhir yang berarti, karena semua halaman setelahnya kosong.
Foto terakhir itu adalah foto sekolah George, diambil Oktober tahun lalu — kurang dari sepuluh hari sebelum ia mati.
Ia mengenakan kaus kerah bulat. Rambutnya yang sulit diatur disisir basah agar rapi. Ia tersenyum lebar, dua celah kosong tampak di deretan giginya — tempat gigi baru yang tidak akan pernah tumbuh.
Kecuali gigi terus tumbuh setelah kau mati, pikir Bill, dan tubuhnya bergidik.
Ia menatap foto itu lama sekali, lalu hendak menutup album — ketika hal yang terjadi di bulan Desember itu terjadi lagi.
Mata George bergerak.
Bola matanya berputar dan menatap lurus ke arah Bill.
Senyum kaku “cheese” itu berubah menjadi seringai mengerikan.
Mata kanannya menutup pelan, berkedip — seolah berkata:
Sampai jumpa, Bill. Di lemari. Mungkin malam ini.
Bill melempar album itu sekuat tenaga ke seberang kamar.
Tangannya menutup mulut sendiri untuk menahan jeritan.
Album itu menghantam dinding, lalu jatuh ke lantai — terbuka. Halamannya berputar, meski tak ada angin. Ia terbuka kembali ke halaman itu, dengan tulisan di bawahnya:
SCHOOL FRIENDS 1957–58.
Darah mulai mengalir dari foto itu.
Bill membeku. Lidahnya membengkak, menyesak di tenggorokan. Kulitnya merinding, rambut di lehernya berdiri. Ia ingin berteriak, tapi hanya suara lirih, hampir seperti erangan binatang, yang keluar.
Darah itu merembes ke tepi halaman dan menetes ke lantai.
Bill meloncat bangun dan lari keluar kamar, membanting pintu di belakangnya.
Komentar
0 comments