๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Ia berjalan menuju meja utama di Perpustakaan Anak-anak, menggoyangkan pikiran tentang papan pengumuman jam malam itu dengan mudah — seperti seekor anjing yang mengibas air dari bulunya setelah berenang.
“Halo, Benny,” sapa Mrs. Starrett. Seperti Mrs. Douglas di sekolah, ia benar-benar menyukai Ben.
Orang dewasa — terutama mereka yang kadang harus menegur anak-anak sebagai bagian dari pekerjaan mereka — umumnya menyukai Ben, karena ia sopan, lembut dalam berbicara, penuh pertimbangan, dan kadang lucu dengan cara yang tenang.
Semua alasan inilah yang membuat sebagian besar anak-anak menganggapnya menjijikkan.
“Sudah bosan liburan musim panas belum?” tanya Mrs. Starrett, senyum menggoda di wajahnya.
Ben tersenyum. Ini lelucon khas Mrs. Starrett.
“Belum,” jawabnya. “Soalnya liburan baru berlangsung—” ia melihat jam tangannya — “satu jam tujuh belas menit. Beri aku satu jam lagi.”
Mrs. Starrett tertawa, menutup mulutnya supaya tidak terlalu keras. Ia bertanya apakah Ben ingin ikut program membaca musim panas, dan Ben bilang ya.
Ia memberinya sebuah peta Amerika Serikat, dan Ben mengucapkan terima kasih dengan sopan.
Ia kemudian berkeliling di antara deretan rak, menarik buku di sana-sini, melihat, lalu mengembalikannya lagi. Memilih buku adalah urusan serius. Harus hati-hati.
Kalau orang dewasa, mereka bisa meminjam sebanyak yang mereka mau, tapi anak-anak hanya boleh tiga buku sekaligus.
Kalau salah pilih — kalau bukunya membosankan — ya sudah, kamu harus menanggungnya sampai masa pinjam habis.
Akhirnya Ben memilih tiga: Bulldozer, The Black Stallion, dan satu lagi yang ia ambil agak asal — sebuah buku berjudul Hot Rod karya Henry Gregor Felsen.
“Kau mungkin tidak suka yang ini,” kata Mrs. Starrett sambil menstempel kartu bukunya.
“Ceritanya sangat berdarah. Biasanya saya sarankan untuk remaja, terutama yang baru dapat surat izin mengemudi, supaya mereka bisa berpikir dua kali. Kadang bisa membuat mereka lebih hati-hati… setidaknya selama seminggu.”
“Baiklah, aku akan coba,” kata Ben, lalu membawa buku-bukunya ke salah satu meja yang agak jauh dari sudut Pooh’s Corner, di mana Big Billy Goat Gruff sedang menghajar troll di bawah jembatan dengan kerasnya.
Ia membaca Hot Rod untuk beberapa waktu, dan ternyata lumayan bagus.
Ceritanya tentang seorang anak yang sangat jago mengemudi, tapi selalu dihalangi oleh seorang polisi yang menyebalkan.
Ben menemukan fakta menarik — ternyata di Iowa, tempat cerita itu berlangsung, tidak ada batas kecepatan.
“Lumayan keren,” pikirnya.
Setelah tiga bab, Ben mengangkat kepala dan matanya tertarik oleh sebuah pajangan baru.
Poster besar di atasnya (perpustakaan ini memang hobi sekali membuat poster) menampilkan tukang pos yang bahagia sedang menyerahkan surat kepada anak kecil yang juga bahagia.
Tulisan di atasnya berbunyi:
PERPUSTAKAAN JUGA UNTUK MENULIS!
MENGAPA TIDAK MENULIS UNTUK SEORANG TEMAN HARI INI?
SENYUMNYA DIJAMIN!
Di bawah poster itu ada rak berisi kartu pos dengan perangko, amplop berperangko, dan kertas surat dengan gambar Perpustakaan Umum Derry di bagian atasnya dalam tinta biru.
Amplop berperangko harganya lima sen, kartu pos tiga sen, dan kertas surat dua lembar seharga satu sen.
Ben merogoh sakunya. Masih ada empat sen dari uang hasil menukar botol.
Ia menandai halaman terakhir bacaannya di Hot Rod dan berjalan ke meja utama.
“Boleh saya beli satu kartu pos, Mrs. Starrett?” tanyanya.
“Tentu saja, Ben.”
Seperti biasa, Mrs. Starrett terpesona oleh kesopanan Ben yang tenang, dan sedikit sedih melihat tubuhnya yang besar.
Ibunya dulu akan berkata, “Anak itu sedang menggali kuburnya dengan pisau dan garpu.”
Ia menyerahkan kartu pos itu dan memperhatikan Ben kembali ke mejanya.
Meja itu sebenarnya bisa menampung enam orang, tapi Ben selalu duduk sendirian di sana.
Ia belum pernah melihat Ben bersama anak laki-laki lain. Sayang sekali, pikirnya. Ia percaya Ben Hanscom menyimpan harta berharga di dalam dirinya — sesuatu yang hanya akan ditemukan oleh penambang yang baik hati dan sabar, jika suatu hari ada yang datang mencarinya.
Ben mengeluarkan pulpen bolpoinnya, menekan ujungnya hingga keluar, lalu menulis alamat di kartu itu dengan sederhana:
Miss Beverly Marsh, Lower Main Street, Derry, Maine, Zona 2.
Ia tidak tahu nomor rumah yang tepat, tapi ibunya pernah berkata bahwa kebanyakan tukang pos tahu siapa saja warganya setelah cukup lama bekerja di wilayah mereka.
Kalau tukang pos yang bertugas di Lower Main Street bisa mengantarkan kartu ini, itu akan luar biasa.
Kalau tidak, ya kartu itu akan berakhir di kantor surat tak dikenal — dan ia kehilangan tiga sen. Tidak masalah.
Yang jelas, ia tidak akan menulis nama dan alamatnya di sana.
Dengan kartu pos yang sisi alamatnya dibalik (ia tidak mau ambil risiko, meskipun tidak melihat siapa pun yang ia kenal), Ben mengambil beberapa kertas kecil dari kotak kayu di dekat rak kartu katalog.
Ia kembali ke mejanya, lalu mulai menulis, mencoret, menulis lagi, dan mencoret lagi.
Selama minggu terakhir sekolah sebelum ujian, mereka mempelajari dan menulis haiku di kelas bahasa Inggris. Haiku adalah bentuk puisi Jepang — singkat dan penuh disiplin. Sebuah haiku, kata Mrs. Douglas, hanya boleh terdiri dari tujuh belas suku kata — tidak lebih, tidak kurang. Biasanya berfokus pada satu gambaran yang jelas, yang dihubungkan dengan satu emosi tertentu: kesedihan, kegembiraan, nostalgia, kebahagiaan... cinta.
Ben benar-benar terpesona oleh konsep itu. Ia memang menikmati pelajaran bahasa Inggris, meskipun biasanya hanya sebatas menikmati ringan. Ia bisa mengerjakannya, tapi jarang ada hal dalam pelajaran itu yang benar-benar menggugahnya. Namun ada sesuatu dalam konsep haiku yang membakar imajinasinya. Ide itu membuatnya merasa senang — sama seperti ketika Mrs. Starrett dulu menjelaskan tentang efek rumah kaca dan membuatnya gembira.
Bagi Ben, haiku adalah puisi yang baik karena terstruktur. Tidak ada aturan tersembunyi di dalamnya. Tujuh belas suku kata, satu gambar yang terhubung dengan satu emosi — lalu selesai. Bingo. Puisi itu bersih, fungsional, sepenuhnya berdiri di dalam dan bergantung pada aturannya sendiri. Ia bahkan menyukai kata itu sendiri, “haiku,” yang diucapkan seperti embusan udara yang terpotong di belakang mulut oleh bunyi k — lembut tapi tegas.
Rambutnya, pikir Ben, teringat saat gadis itu menuruni tangga sekolah, rambutnya memantul di bahunya. Sinar matahari tidak sekadar berkilau di atasnya — seolah terbakar dari dalam.
Dengan hati-hati, selama sekitar dua puluh menit (dengan satu kali jeda untuk mengambil lebih banyak lembar kerja), ia menulis dan menghapus kata-kata yang terlalu panjang, mengganti, menghapus lagi — sampai akhirnya menghasilkan ini:
Bara Januari,
Hatiku pun terbakar di sana.
Ben tidak terlalu puas, tapi itu yang terbaik yang bisa ia buat. Ia khawatir kalau terlalu lama mengutak-atiknya, kalau ia terlalu cemas, hasil akhirnya justru akan lebih buruk — atau malah tidak jadi sama sekali. Ia tidak ingin itu terjadi. Momen ketika gadis itu berbicara padanya adalah saat yang penting bagi Ben. Ia ingin mengabadikannya dalam ingatan.
Mungkin Beverley menyukai anak laki-laki yang lebih besar — murid kelas enam, atau bahkan kelas tujuh — dan mungkin ia akan mengira bahwa anak itu yang mengirimkan haiku. Pikiran itu akan membuatnya bahagia, dan hari ketika ia menerima kartu itu akan menjadi hari yang ia kenang. Dan meskipun Beverley tidak akan pernah tahu bahwa Ben Hanscom yang menandai harinya, itu tidak masalah — karena Ben akan tahu.
Ia menyalin puisinya ke bagian belakang kartu pos (dengan huruf besar semua, seperti sedang menulis surat tebusan, bukan puisi cinta), lalu menyelipkan kembali pulpennya ke saku dan menaruh kartu itu di belakang majalah Hot Rod.
Kemudian ia berdiri, berpamitan pada Mrs. Starrett sebelum keluar.
“Selamat tinggal, Ben,” kata Mrs. Starrett. “Nikmati libur musim panasmu, tapi jangan lupa jam malam.”
“Aku tidak akan lupa,” jawab Ben.
Ia berjalan santai melewati lorong kaca yang menghubungkan dua gedung sekolah, menikmati hawa panas di dalamnya (efek rumah kaca, pikirnya bangga), lalu disambut kesejukan ruang perpustakaan dewasa.
Seorang pria tua sedang membaca News di salah satu kursi empuk usang di sudut Ruang Baca. Judul berita besar di bawah logo surat kabar itu berbunyi:
DULLES JANJIKAN PASUKAN AS UNTUK BANTU LIBANON JIKA DIPERLUKAN!
Ada juga foto Eisenhower sedang berjabat tangan dengan seorang pria Arab di Rose Garden. Ibu Ben pernah berkata bahwa kalau nanti negeri ini memilih Hubert Humphrey jadi presiden tahun 1960, mungkin keadaan akan mulai bergerak maju lagi. Ben samar-samar tahu sedang ada yang disebut resesi, dan ibunya khawatir ia bisa saja dipecat dari pekerjaannya.
Di bagian bawah halaman pertama, ada judul kecil lain yang berbunyi:
POLISI TERUS MEMBURU PSIKOPAT.
Ben mendorong pintu besar di depan perpustakaan dan melangkah keluar.
Di ujung jalan setapak berdiri sebuah kotak surat. Ben mengeluarkan kartu pos dari belakang bukunya dan memasukkannya ke sana. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat saat kartu itu lepas dari jemarinya. Bagaimana kalau dia tahu itu dariku, entah bagaimana caranya?
Jangan bodoh, jawabnya pada diri sendiri, agak terkejut betapa mendebarkannya pikiran itu terasa.
Ia berjalan menyusuri Kansas Street, hampir tidak sadar ke mana kakinya melangkah, dan sama sekali tidak peduli. Sebuah khayalan mulai terbentuk di kepalanya. Dalam khayal itu, Beverly Marsh berjalan mendekatinya — mata abu-hijau itu terbuka lebar, rambut auburn-nya diikat ekor kuda.
"Aku ingin tanya sesuatu, Ben," kata gadis khayal itu dalam pikirannya. "Dan kamu harus bersumpah akan berkata jujur."
Ia mengangkat kartu pos itu. "Kamu yang menulis ini?"
Itu adalah fantasi yang mengerikan.
Itu adalah fantasi yang indah.
Ia ingin menghentikannya.
Ia tidak ingin itu berakhir selamanya.
Wajah Ben mulai memanas lagi. Ia berjalan sambil berkhayal, memindahkan buku-buku perpustakaannya dari satu tangan ke tangan lain, lalu mulai bersiul.
"Kamu mungkin menganggapku mengerikan," kata Beverley dalam khayal itu, "tapi aku rasa aku ingin menciummu."
Bibinya sedikit terbuka.
Bibir Ben tiba-tiba terlalu kering untuk bersiul.
"Aku rasa aku juga ingin kamu melakukannya," bisiknya pelan, tersenyum dengan senyum tolol, pusing, tapi begitu indah.
Seandainya ia melihat ke bawah saat itu, ia akan tahu ada tiga bayangan lain yang tumbuh di sekitar bayangannya sendiri. Seandainya ia mendengarkan, ia akan mendengar suara sepatu paku milik Victor, Belch, dan Henry yang mendekat. Tapi Ben tak mendengar dan tak melihat apa pun. Ia jauh, tersesat dalam mimpinya sendiri, merasakan bibir Beverly yang lembut menyentuh bibirnya, mengangkat tangannya yang ragu untuk menyentuh api lembut berwarna tembaga di rambut gadis itu.
--
Seperti banyak kota lain, besar maupun kecil, Derry tidak pernah benar-benar direncanakan — seperti ungkapan lama, “seperti Topsy, ia hanya tumbuh begitu saja.” Para perencana kota takkan pernah memilih lokasi itu seandainya mereka harus membangunnya dari awal. Pusat kota Derry terletak di sebuah lembah yang dibentuk oleh Kenduskeag Stream, aliran sungai yang memotong distrik bisnis secara diagonal dari barat daya ke timur laut. Sisa kota menjalar ke sisi-sisi bukit di sekelilingnya.
Lembah tempat para pemukim pertama tiba itu dulunya rawa-rawa, ditumbuhi lebat tanaman liar. Sungai itu, bersama Penobscot River yang menjadi muaranya, memang bagus untuk perdagangan, tapi buruk bagi siapa pun yang menanam atau membangun rumah terlalu dekat — terutama Kenduskeag, karena setiap tiga atau empat tahun sungai itu pasti meluap. Bahkan setelah lima puluh tahun uang dihamburkan untuk mengendalikan banjir, kota itu masih rentan.
Seandainya hanya sungai itu penyebabnya, sistem bendungan mungkin sudah cukup. Tapi ada faktor lain — tebing Kenduskeag yang rendah, sistem drainase wilayah yang lamban, dan jaringan anak sungai kecil di bawah tanah. Sejak pergantian abad, banyak banjir besar melanda Derry, bahkan satu yang benar-benar menghancurkan pada tahun 1931.
Memperparah keadaan, bukit-bukit tempat sebagian besar Derry berdiri dilalui oleh sungai-sungai kecil — salah satunya adalah Torrault Stream, tempat jasad Cheryl Lamonica ditemukan. Saat hujan deras datang, semuanya bisa meluap. Seperti yang pernah dikatakan ayah Bill Denbrough:
“Kalau hujan dua minggu, seluruh kota sialan ini kena sinus.”
Kenduskeag dijinakkan dalam saluran beton sepanjang dua mil saat melewati pusat kota. Saluran ini menyelam di bawah persimpangan Main Street dan Canal Street, menjadi sungai bawah tanah sepanjang setengah mil sebelum muncul kembali di Bassey Park.
Canal Street — tempat bar-bar Derry berjajar seperti para penjahat dalam barisan polisi — mengikuti jalur saluran itu keluar kota. Setiap beberapa minggu sekali, polisi harus menarik mobil mabuk yang nyemplung ke air, yang sudah tercemar parah oleh limbah pabrik dan kotoran manusia. Kadang ada orang memancing di sana, tapi ikan-ikannya hanyalah mutan tak layak makan.
Di sisi timur laut kota — sisi kanal — sungai itu sedikit lebih teratur. Aktivitas perdagangan tetap hidup di sepanjang jalurnya meskipun banjir sesekali terjadi. Orang-orang sering berjalan di tepinya, kadang bergandengan tangan (kalau arah angin bersahabat; kalau tidak, bau busuknya bisa menghancurkan suasana romantis). Di Bassey Park, yang menghadap ke sekolah menengah di seberang kanal, kadang diadakan kegiatan seperti perkemahan Pramuka dan pesta sosis bakar.
Namun pada tahun 1969, warga kota tercengang mengetahui bahwa sekelompok hippie — salah satunya bahkan menjahitkan bendera Amerika di bagian pantat celananya — merokok ganja dan bertukar pil di sana. Tempat itu berubah jadi apotek terbuka. “Tunggu saja,” kata orang-orang. “Akan ada yang mati sebelum ini berhenti.”
Dan memang akhirnya ada: seorang anak laki-laki tujuh belas tahun ditemukan tewas di dekat kanal, pembuluh darahnya penuh heroin murni — apa yang anak-anak sebut tight white rail.
Setelah itu, para pemakai narkoba menjauh dari Bassey Park. Mulai beredar cerita bahwa arwah anak itu menghantui daerah tersebut. Cerita itu jelas bodoh — tapi kalau bisa membuat para pecandu takut datang, maka itu setidaknya kebodohan yang berguna.
Di sisi barat daya kota, sungai itu lebih merepotkan. Bukit-bukit di sana terbelah dalam akibat gletser purba dan terus tergerus oleh aliran air selama ribuan tahun; lapisan batuan dasar mencuat seperti tulang dinosaurus yang setengah terkubur. Para pekerja veteran Dinas Pekerjaan Umum Derry tahu bahwa setelah embun beku pertama musim gugur, mereka pasti akan banyak memperbaiki trotoar di sana. Beton akan mengerut dan rapuh, lalu batuan di bawahnya akan memecah, seolah bumi sendiri sedang berusaha menetas.
Tanah yang tersisa dangkal, hanya cocok untuk tanaman berakar pendek dan keras kepala — rumput liar, semak, dan tanaman sampah. Pohon-pohon kecil kurus, semak tebal, serta racun ivy dan oak tumbuh di mana pun mereka bisa mencengkeram tanah.
Ke arah barat daya itulah tanah menurun tajam menuju area yang disebut warga Derry sebagai the Barrens. Ironisnya, Barrens sama sekali tidak “gersang”. Wilayah itu luasnya sekitar satu setengah mil kali tiga mil, dibatasi oleh Upper Kansas Street di satu sisi dan Old Cape di sisi lain.
Old Cape adalah kompleks perumahan berpenghasilan rendah. Sistem pembuangannya sangat buruk hingga ada cerita tentang toilet dan pipa yang pernah meledak di sana.
Kenduskeag mengalir di tengah Barrens. Kota Derry berkembang ke arah timur laut dan di kedua sisinya, tapi di Barrens hanya tersisa dua tanda kehidupan manusia: Derry Pumphouse #3 (stasiun pompa limbah kota) dan Tempat Pembuangan Akhir Kota. Dari udara, Barrens tampak seperti belati hijau besar yang menuding ke pusat kota.
Bagi Ben, semua geografi dan geologi itu hanya berarti satu hal: kesadarannya bahwa di sisi kanannya kini tak ada lagi rumah. Tanah di sana menurun tajam. Sebuah pagar kayu reyot bercat putih, setinggi pinggang, berdiri di tepi trotoar — sekadar simbol perlindungan. Dari kejauhan ia mendengar gemericik air; suara itu menjadi latar bagi khayalannya yang terus berlanjut.
Ia berhenti sejenak, menatap ke arah Barrens, masih membayangkan mata Beverly dan harum rambutnya.
Dari tempatnya berdiri, Kenduskeag tampak hanya sebagai kilau air yang berkelip di sela-sela dedaunan lebat. Anak-anak di sekolah bilang di musim seperti ini nyamuk-nyamuk di sana sebesar burung pipit; ada juga yang bilang ada pasir hisap di dekat sungai. Ben tidak percaya soal nyamuk, tapi gagasan tentang pasir hisap membuatnya takut.
Sedikit ke kiri, ia melihat awan burung camar yang berputar dan menukik — tempat pembuangan sampah. Suara pekikan mereka terdengar samar. Di seberang sana, ia bisa melihat Derry Heights dan atap rendah rumah-rumah Old Cape yang paling dekat dengan Barrens. Di sisi kanan Old Cape, menjulang pendek seperti jari putih yang tebal, berdiri Derry Standpipe. Tepat di bawahnya, sebuah pipa logam berkarat menonjol dari tanah, menumpahkan air berwarna keruh yang mengalir berkilauan menuruni bukit, lalu lenyap di balik semak dan pepohonan yang kusut.
Fantasi indah Ben tentang Beverly tiba-tiba hancur oleh bayangan yang jauh lebih mengerikan: bagaimana kalau tiba-tiba ada tangan mayat menjulur keluar dari gorong-gorong itu saat ini juga, tepat ketika ia sedang melihatnya? Dan bagaimana jika, ketika ia berbalik hendak mencari telepon untuk memanggil polisi, ada badut berdiri di sana? Badut lucu dengan setelan longgar dan kancing besar berwarna oranye? Bagaimana kalau—
Sebuah tangan jatuh di pundaknya, dan Ben menjerit.
Terdengar gelak tawa. Ia berbalik, terdesak ke pagar putih yang memisahkan trotoar Kansas Street yang aman dan waras dari Barrens yang liar dan tak teratur (pagar itu berderit keras), dan di depannya berdiri Henry Bowers, Belch Huggins, dan Victor Criss.
“Hai, Tits,” kata Henry.
“Apa maumu?” tanya Ben, berusaha terdengar berani.
“Aku mau menghajarmu,” jawab Henry. Ia tampak merenungkan hal itu dengan serius, bahkan khidmat. Tapi oh, mata hitamnya berkilat penuh semangat. “Aku harus memgajarimu sesuatu, Tits. Kau tidak akan keberatan. Kau suka belajar hal-hal baru, kan?”
Ia mengulurkan tangan hendak menangkap Ben. Ben menunduk menghindar.
“Kalian, tangkap dia.”
Belch dan Victor menyergap lengannya. Ben menjerit melengking. Suaranya seperti kelinci ketakutan — lemah dan memalukan, tapi ia tak bisa menahannya. Tolong, Tuhan, jangan biarkan mereka bikin aku menangis dan jangan sampai mereka merusak arlojiku, pikirnya panik. Ia tak tahu apakah mereka akan sampai merusak arlojinya atau tidak, tapi ia cukup yakin bahwa ia akan menangis. Ia yakin sekali akan menangis keras sebelum semuanya selesai.
“Jeezum, suaranya seperti babi,” kata Victor sambil memelintir pergelangan tangan Ben. “Bukankah suaranya seperti babi?”
“Betul sekali,” Belch terkikik.
Ben berusaha meronta ke kiri dan ke kanan, tapi kedua anak itu mengikutinya dengan mudah — membiarkan ia meronta, lalu menariknya kembali dengan kasar.
Henry meraih bagian depan sweatshirt Ben dan menariknya ke atas, memperlihatkan perutnya yang menonjol, menggantung di atas sabuk.
“Lihat gendutnya!” seru Henry jijik. “Ya ampun, lihat ini!”
Victor dan Belch tertawa lagi. Ben menoleh ke sekeliling dengan panik, mencari pertolongan. Tak ada siapa pun. Di belakangnya, di Barrens, jangkrik berdengung malas dan camar berteriak.
“Kalian lebih baik berhenti!” katanya. Ia belum terisak, tapi suaranya sudah bergetar. “Kalian lebih baik berhenti!”
“Atau apa?” tanya Henry seolah benar-benar ingin tahu. “Atau apa, Tits? Atau apa, hah?”
Ben tiba-tiba teringat Broderick Crawford, pemeran Dan Matthews di acara Highway Patrol — bajingan itu keras, bajingan itu kejam, bajingan itu tidak pernah takut pada siapa pun. Dan seketika, Ben menangis tersedu-sedu.
Dan Matthews pasti sudah menghajar ketiga bocah ini sampai terlempar menembus pagar, jatuh ke tanggul, dan terguling ke semak liar. Dan ia akan melakukannya dengan perutnya.
“Oh, lihat si bayi!” Victor terbahak. Belch ikut tertawa. Henry hanya tersenyum kecil, tapi wajahnya tetap serius — hampir sedih. Ekspresi itu membuat Ben takut. Itu menyiratkan sesuatu yang lebih dari sekadar pemukulan.
Dan seolah membenarkan pikirannya, Henry mengeluarkan pisau lipat Buck dari saku jinsnya.
Ketakutan Ben meledak total. Ia yang tadi meronta ke sana kemari kini tiba-tiba meloncat ke depan. Dalam sepersekian detik, ia yakin ia akan lolos. Ia berkeringat deras, dan tangan kedua anak yang memegangi lengannya sudah licin. Belch masih sempat menahan pergelangan tangan kanannya, tapi dengan pegangan lemah. Ia berhasil melepaskan diri dari Victor.
Satu loncatan lagi—
Namun sebelum ia sempat bergerak, Henry melangkah maju dan mendorongnya keras. Ben terlempar ke belakang. Pagar berderit keras kali ini, dan ia merasakan pegangan pagar mulai goyah. Belch dan Victor kembali menangkapnya.
“Sekarang pegang dia,” kata Henry. “Kau dengar?”
“Siap, Henry,” jawab Belch, terdengar agak gugup. “Dia tidak akan kabur. Tenang saja.”
Henry maju lagi, hingga perut datarnya hampir menempel di perut Ben. Ben menatapnya dengan mata lebar, air mata tumpah tanpa bisa dikendalikan. Tertangkap! Aku tertangkap! teriak batinnya. Ia berusaha menahan pikiran itu — ia tak bisa berpikir dengan suara panik itu di kepalanya — tapi tidak bisa. Tertangkap! Tertangkap! Tertangkap!
Henry menarik keluar bilah pisaunya, panjang dan lebar, dengan namanya terukir di sisi logam. Ujungnya berkilat di bawah sinar matahari sore.
“Aku mau mengujimu sekarang,” kata Henry dengan suara datar itu. “Ini waktunya ujian, Tits, dan kau harus siap.”
Ben menangis keras. Jantungnya berdegup gila-gilaan di dadanya. Ingus menetes dari hidung dan menggenang di bibir atasnya. Buku-buku perpustakaannya berserakan di tanah. Henry menginjak buku Bulldozer, melirik sebentar, lalu menyepaknya ke selokan.
“Nah, pertanyaan pertama ujianmu, Tits. Kalau ada orang bertanya ‘apakah boleh menyontek?’ waktu ujian akhir, apa yang akan kau jawab?”
“Ya!” seru Ben cepat. “Aku akan bilang ya! Boleh! Terserah! Contek saja sebanyak-banyaknya!”
Ujung pisau meluncur sejauh dua inci di udara dan menempel di perut Ben. Dingin, seperti es batu baru keluar dari lemari es. Ben menggaspang napas, menarik perutnya menjauh. Dunia tiba-tiba menjadi abu-abu. Bibir Henry bergerak, tapi Ben tak bisa mendengar apa-apa. Seolah Henry jadi televisi tanpa suara, dan dunia berputar… berputar…
Jangan pingsan! suara panik dalam kepalanya menjerit. Kalau kau pingsan, dia bisa jadi cukup marah untuk membunuhmu!
Dunia kembali sedikit fokus. Ia melihat Belch dan Victor berhenti tertawa. Wajah mereka tegang… hampir takut. Melihat itu justru membuat Ben sedikit sadar. Mereka pun takut. Mereka nggak tahu Henry bakal sampai sejauh apa. Namun yang jelas, ia benar-benar gila.
“Itu jawaban yang salah, Tits,” kata Henry. “Kalau hanya siapa pun yang minta contekan, aku tidak peduli. Paham?”
“Ya,” kata Ben tersedu. “Ya, aku paham.”
“Bagus. Satu salah, tapi pertanyaan besar masih menunggu. Kau siap untuk yang besar?”
“A… aku kira siap.”
Sebuah mobil datang perlahan ke arah mereka — Ford tahun ’51 berdebu, dikendarai pasangan lansia yang tampak seperti boneka etalase yang dilupakan. Kepala si lelaki tua berputar perlahan ke arah mereka. Henry melangkah mendekat, menyembunyikan pisau.
Ben bisa merasakan ujungnya menekan kulit perut, tepat di atas pusar. Pisau itu masih dingin — ia tak mengerti bagaimana bisa, tapi memang begitu.
“Ayo, teriak,” bisik Henry. “Kau akan memungut isi perutmu sendiri dari sepatu kalau kau berani.”
Mereka berdiri begitu dekat hingga hampir bisa saling mencium. Ben bisa mencium aroma manis permen karet Juicy Fruit dari napas Henry.
Mobil itu melaju terus menuruni Kansas Street, perlahan dan tenang seperti mobil pembuka parade Tournament of Roses.
“Baiklah, Tits,” kata Henry. “Ini pertanyaan kedua. Kalau aku bertanya ‘apakah boleh menyontek?’ saat ujian akhir, kamu akan jawab apa?”
“Ya. Aku akan jawab ya. Langsung.”
Henry tersenyum. “Bagus. Itu jawaban yang benar, Tits. Sekarang pertanyaan ketiga: bagaimana caranya aku bisa memastikan kamu tidak akan lupa?”
“Aku... aku tidak tahu,” bisik Ben.
Henry tersenyum. Wajahnya tiba-tiba bercahaya, dan sesaat terlihat hampir tampan. “Aku tahu!” katanya, seolah baru menemukan kebenaran besar. “Aku tahu, Tits! Aku akan mengukir namaku di perut gendutmu itu!”
Victor dan Belch tiba-tiba tertawa lagi. Untuk sesaat, Ben merasakan kelegaan yang aneh, semacam harapan bahwa semua ini cuma lelucon — sekadar permainan iseng untuk menakutinya setengah mati. Tapi Henry Bowers tidak tertawa, dan Ben langsung sadar: Victor dan Belch tertawa karena lega. Mereka yakin Henry hanya bercanda. Tapi Henry tidak.
Pisau Buck itu meluncur ke atas, semulus mentega. Darah mengalir, membentuk garis merah terang di kulit pucat Ben.
“Hei!” seru Victor. Kata itu keluar seperti tersedak.
“Tahan dia!” bentak Henry. “Pegang dia, dengar?!” Sekarang tak ada lagi raut serius di wajahnya — yang ada hanyalah wajah iblis yang terpelintir.
“Ya ampun, Henry, jangan sungguhan memotongnya!” teriak Belch dengan suara tinggi, hampir seperti suara perempuan.
Semua terjadi begitu cepat, tapi bagi Ben Hanscom, waktu seolah melambat; semuanya terasa seperti serangkaian foto beku dalam majalah Life. Paniknya lenyap. Ia menemukan sesuatu di dalam dirinya — sesuatu yang menelan habis ketakutannya dan menggantikannya dengan ketenangan dingin.
Dalam klik pertama, Henry menarik sweatshirt-nya sampai ke dada. Darah mengucur dari luka dangkal vertikal di atas pusarnya.
Dalam klik kedua, Henry kembali menggores, cepat seperti ahli bedah gila di tengah serangan udara. Darah segar mengalir lagi.
Mundur, pikir Ben dengan dingin, saat darah mengalir dan menggenang di antara pinggang jins dan kulitnya. Harus mundur. Itu satu-satunya arah buat kabur. Belch dan Victor sudah tidak memeganginya lagi. Meski Henry memerintah mereka, keduanya mundur. Mereka mundur ketakutan. Tapi kalau ia lari sekarang, Bowers akan menangkapnya.
Dalam klik ketiga, Henry menyambungkan dua goresan vertikal itu dengan satu garis horizontal pendek. Ben bisa merasakan darah menetes ke dalam celana dalamnya, menelusuri paha kirinya seperti lintasan siput lengket.
Henry menunduk sebentar, wajahnya menegang dalam konsentrasi seperti seorang pelukis yang sedang menyempurnakan karya. Setelah huruf H pasti E, pikir Ben — dan itu saja sudah cukup untuk membuatnya bergerak. Ia sedikit menarik tubuhnya ke depan, dan Henry mendorongnya kembali. Ben menekan kakinya ke tanah, menambahkan kekuatan sendiri melawan dorongan Henry. Ia membentur pagar putih yang memisahkan Kansas Street dari jurang menuju Barrens. Saat itu juga, ia mengangkat kaki kanannya dan menancapkannya ke perut Henry. Itu bukan serangan — Ben hanya ingin mendorong dirinya lebih kuat ke belakang. Tapi ketika melihat wajah Henry yang terkejut total, ia merasakan sukacita buas yang sangat jernih — begitu kuat hingga sejenak ia merasa kepalanya akan meledak.
Terdengar bunyi retakan dan kayu patah dari pagar. Ben sempat melihat Victor dan Belch menangkap Henry sebelum ia terjatuh ke selokan di samping sisa buku Bulldozer, lalu tubuh Ben melayang ke belakang ke ruang kosong. Ia jatuh sambil menjerit — separuh tawa, separuh teriakan.
Ben menghantam lereng di bawah gorong-gorong yang tadi sempat ia lihat, mendarat di punggung dan pantat. Untung ia jatuh di bawah gorong-gorong itu; kalau tepat di atasnya, mungkin punggungnya patah. Tapi kali ini, ia mendarat di atas bantalan rumput liar dan semak tebal, nyaris tanpa rasa sakit. Ia terguling ke belakang, kakinya berputar di atas kepala, lalu mendarat duduk dan meluncur menuruni lereng seperti anak kecil di perosotan hijau raksasa. Sweatshirt-nya terangkat ke leher, tangannya meraih apa pun yang bisa digenggam tapi malah mencabut rumpun demi rumpun rumput liar.
Ia melihat puncak tanggul di atas — mustahil rasanya ia tadi berdiri di sana. Wajah Victor dan Belch terlihat di tepi atas, mulut mereka membentuk huruf O putih besar, menatap ke bawah padanya. Ia sempat menyesali buku-buku perpustakaannya yang hilang. Lalu tubuhnya menghantam sesuatu dengan keras, membuatnya hampir menggigit lidahnya sendiri.
Sebuah batang pohon tumbang menghentikan jatuhnya, hampir saja mematahkan kaki kirinya. Ia berusaha naik sedikit ke atas, menarik kakinya dengan erangan. Pohon itu menghentikannya di pertengahan lereng. Di bawahnya, semak-semak makin tebal. Air dari gorong-gorong menetes ke tangannya dalam aliran kecil.
Tiba-tiba terdengar jeritan dari atas. Ben mendongak, dan melihat Henry Bowers melompat dari tepi jurang, pisau di gigi. Ia mendarat di kedua kaki, tubuhnya condong ke belakang agar tidak kehilangan keseimbangan, lalu berlari menuruni lereng dalam lompatan panjang seperti kanguru gila.
“I’n gain oo huckin kill ooo, Its!” Henry berteriak dengan pisau masih di mulut, dan Ben tak butuh penerjemah untuk tahu maksudnya: I’m going to kill you, Tits! — aku akan membunuhmu, Tits.
“I’n gain oo huckin kill ooo!”
Dengan pandangan dingin dan tajam yang entah dari mana datangnya, Ben tahu apa yang harus ia lakukan. Ia berhasil berdiri sebelum Henry sampai padanya, pisau kini sudah di tangan musuhnya, diarahkan lurus ke depan seperti bayonet. Dari sudut matanya, Ben sadar celana jins kirinya robek parah, darah dari luka di kakinya mengalir lebih deras daripada dari perutnya... tapi kakinya masih bisa menopang tubuhnya. Setidaknya ia berharap begitu.
Ben merendahkan tubuhnya untuk menjaga keseimbangan di medan miring, dan ketika Henry menebas dengan pisau sambil meraih dengan tangan lain, Ben melangkah ke samping. Ia kehilangan keseimbangan, tapi saat jatuh ia menendang kaki kirinya yang robek ke depan. Betis Henry menghantam kakinya, membuat kedua kaki Henry terpelanting keluar dengan efisien.
Untuk sesaat Ben terpaku, terpesona oleh apa yang baru ia lihat. Henry Bowers tampak benar-benar terbang seperti Superman, melayang di atas batang pohon tumbang tempat Ben sempat berhenti. Kedua tangannya lurus ke depan, seperti gaya George Reeves di serial TV. Hanya saja, George Reeves selalu terlihat tenang dan gagah saat terbang; Henry tampak seperti seseorang yang baru saja ditusuk batang besi panas di pantatnya. Mulutnya terbuka lebar, air liur menetes dan melayang ke belakang — Ben sempat melihat satu tetes menghantam cuping telinga Henry.
Lalu Henry menghantam tanah. Pisau terlempar dari tangannya. Ia terguling di bahu, jatuh telentang, lalu meluncur ke semak-semak dengan kedua kakinya terentang membentuk huruf V. Terdengar teriakan. Bunyi thud. Lalu hening.
Ben duduk terpaku, menatap bagian semak yang gepeng tempat Henry lenyap. Tiba-tiba batu dan kerikil mulai berjatuhan di sekitarnya. Ia mendongak lagi — Victor dan Belch kini menuruni lereng. Mereka bergerak lebih hati-hati daripada Henry, tapi itu berarti mereka juga lebih lambat; mereka akan sampai padanya dalam tiga puluh detik jika ia tidak bertindak.
Ia mengerang. Apa kegilaan ini tidak akan pernah berakhir?
Sambil terus menatap mereka, ia memanjat melewati batang pohon tumbang dan mulai merangkak menuruni lereng, terengah-engah. Perutnya nyeri, kakinya berdenyut, lidahnya terasa perih luar biasa.
Semak-semak di bawahnya kini setinggi tubuhnya sendiri. Aroma tajam tumbuhan liar yang tumbuh tak terkendali memenuhi hidungnya. Ia bisa mendengar suara air mengalir di dekat sana — berdesir, berlari di antara batu-batu.
Kakinya terpeleset, dan ia kembali terguling dan meluncur, menghantamkan punggung tangannya ke batu yang menonjol, menembus semak berduri yang mengaitkan bulu-bulu kapas abu-abu kebiruan dari sweternya dan mencabik sedikit daging dari tangan serta pipinya.Henry perlahan turun berlutut, bukan jatuh, melainkan seperti tubuhnya dilipat pelan-pelan. Ia masih menatap Ben dengan mata hitam tak percaya itu.
“Ugh.”
“Persis,” kata Ben.
Henry jatuh menyamping, masih memegangi selangkangannya, lalu mulai berguling perlahan dari sisi ke sisi.
“Ugh!” erang Henry. “Telurku… ugh! Oh, kau mematahkan tel—ugh-ugh!” Suaranya mulai meninggi, dan Ben mundur setapak demi setapak. Ia muak dengan apa yang baru saja dilakukannya, tapi juga terpesona dengan semacam rasa benar yang beku dan tak bergerak.
“Ugh! — kantungku — ug-UGH! — oh, TELURKU SIALAN!”
Mungkin Ben akan tetap berdiri di sana entah berapa lama — mungkin sampai Henry cukup pulih untuk mengejarnya lagi — jika saja batu tidak menghantam kepalanya, tepat di atas telinga kanan, dengan rasa sakit tajam yang mengebor dalam. Sampai ia merasakan darah hangat mengalir lagi, Ben sempat mengira dirinya disengat lebah.
Ia menoleh dan melihat dua orang lainnya berjalan cepat di tengah aliran air ke arahnya. Masing-masing memegang segenggam batu kali yang halus. Victor melempar satu — Ben mendengar desingnya di dekat telinga. Ia menunduk, dan batu berikutnya menghantam lutut kanannya, membuatnya berteriak karena sakit yang mengejutkan. Batu ketiga memantul dari tulang pipi kanannya, dan matanya langsung berair.
Ia bergegas menyeberangi sungai menuju tepi seberang, memanjat secepat mungkin, mencengkeram akar-akar pohon dan menarik diri dengan tangan yang menggenggam rumpun semak. Ia berhasil sampai ke atas (sebuah batu terakhir mengenai pantatnya saat ia menarik tubuh ke puncak) dan menoleh cepat ke belakang.
Belch kini berlutut di sisi Henry, sementara Victor berdiri sekitar dua meter jauhnya, terus melempar batu. Salah satunya, sebesar bola bisbol, menembus semak setinggi dada di dekat Ben. Itu sudah cukup — bahkan terlalu banyak. Yang paling buruk: Henry Bowers mulai bangkit lagi. Seperti jam tangan Timex milik Ben, Henry bisa dihajar habis-habisan tapi tetap berjalan.
Ben berbalik dan menerobos semak belukar, berlari terpincang-pincang ke arah yang ia harapkan sebagai barat. Kalau bisa menyeberang ke sisi Old Cape dari kawasan Barrens, ia bisa meminta koin sepuluh sen dari seseorang dan naik bus pulang. Dan saat tiba di rumah, ia akan mengunci pintu rapat-rapat, membuang pakaian berlumuran darah ini ke tong sampah, dan mimpi gila ini akan berakhir.
Ben membayangkan dirinya duduk di kursi ruang tamu, sudah mandi bersih, mengenakan jubah mandi merah berbulu lembut, menonton kartun Daffy Duck di saluran The Mighty Ninety, sambil minum susu dengan sedotan rasa stroberi Flav-R-Straw.
Pegang bayangan itu, katanya pada dirinya sendiri dengan getir, dan terus berlari.
Semak-semak menampar wajahnya. Ben menepisnya. Duri mencakar dan mengait, tapi ia berusaha mengabaikannya. Ia tiba di sebidang tanah datar yang hitam dan berlumpur. Di depannya, tumbuh rumpun tebal tanaman mirip bambu, dan bau busuk menguar dari tanah.
Sebuah pikiran mengerikan melintas cepat di kepalanya: (pasir hisap)
Ia memandangi genangan air mengilap di antara rumpun itu dan merasa ngeri. Ia tidak mau masuk ke sana. Kalaupun bukan pasir hisap, lumpur itu pasti akan menyedot sepatunya. Ia berbelok ke kanan, berlari di sepanjang tepi rumpun bambu itu sampai akhirnya memasuki area hutan sungguhan.
Pohon-pohon di sini — kebanyakan cemara — tumbuh rapat, saling berebut ruang dan cahaya, tapi semaknya lebih jarang, sehingga ia bisa bergerak lebih cepat. Ia tidak lagi yakin ke arah mana ia pergi, tapi masih merasa sedikit di atas angin. Barrens dikelilingi Derry di tiga sisi dan dibatasi proyek jalan tol yang belum rampung di sisi keempat. Cepat atau lambat, ia pasti akan keluar di suatu tempat.
Perutnya berdenyut sakit. Ia mengangkat sisa sweternya dan melihat. Ia meringis, menarik napas mendesis di antara giginya. Perutnya tampak seperti hiasan bola Natal yang rusak — tertutup darah kering dan noda hijau dari rerumputan saat ia meluncur di turunan tadi. Ia buru-buru menarik kembali sweternya. Melihatnya saja membuatnya ingin muntah.
Saat itulah ia mendengar dengungan rendah dari arah depan — satu nada panjang, nyaris di luar jangkauan pendengarannya. Orang dewasa yang hanya ingin segera keluar dari sana (dan kini nyamuk-nyamuk sebesar kelereng mulai menggigitnya) mungkin tidak akan memperhatikannya, atau bahkan tidak akan mendengar sama sekali. Tapi Ben masih anak-anak, dan rasa takutnya mulai mereda. Ia membelok ke kiri dan menembus semak laurel rendah.
Di baliknya, mencuat dari tanah, ada sebuah silinder semen setinggi sekitar satu meter. Di atasnya terpasang tutup besi berongga dengan tulisan timbul: DERRY SEWER DEPT. Suara — kini lebih seperti dengungan keras — datang dari dalam sana, jauh di bawah.
Ben menempelkan satu matanya ke lubang ventilasi, tapi tak bisa melihat apa pun. Ia hanya mendengar dengungan itu dan suara air mengalir di suatu tempat di bawah sana. Ia menarik napas — dan bau masam menyengat, lembap dan busuk seperti selokan, membuatnya meringis dan mundur.
Itu hanya saluran pembuangan, pikirnya. Atau mungkin gabungan selokan dan terowongan drainase — Derry memang penuh dengan sistem seperti itu. Tidak ada yang aneh. Tapi tetap saja, sesuatu dari pemandangan itu membuatnya merinding. Mungkin karena melihat hasil karya manusia di tengah rimba yang liar ini, tapi mungkin juga karena bentuknya — silinder beton yang mencuat dari tanah itu.
Ben pernah membaca The Time Machine karya H. G. Wells tahun lalu — pertama versi Classics Comics, lalu versi lengkapnya. Silinder dengan tutup besi berongga ini mengingatkannya pada sumur yang menurun ke negeri para makhluk Morlock yang mengerikan.
Ia segera menjauh dari sana, berusaha menemukan arah barat lagi. Ia sampai di area agak terbuka dan memutar tubuh hingga bayangannya tepat di belakangnya. Lalu ia berjalan lurus.
Lima menit kemudian, ia mendengar suara air mengalir di depan — dan suara anak-anak.
Ia berhenti, mendengarkan. Saat itulah terdengar bunyi ranting patah dan suara-suara lain di belakangnya. Ia langsung mengenalinya. Itu suara Victor, Belch, dan satu-satunya — Henry Bowers.
Mimpi buruk ini rupanya belum berakhir.
Ben menoleh ke sekeliling, mencari tempat untuk bersembunyi.
Komentar
0 comments