[Ch. 4] CINTA HITAM - Baca Novel Romantis Dewasa Online

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

 Will you love me even with my darkside?

“Kamu punya sudah punya pacar ya sekarang?” goda Mama di telpon. “Tiap malam ditelpon sibuk terus”

Aku hanya senyum-senyum  tidak jelas. Aku malu mengakuinya.

“Yang penting, jangan ajak ke rumah. Apalagi sampai menginap” suara Mama terdengar serius dan dalam. “Lagian juga kamu harus ingat pacaran jangan terlalu serius. Nanti putus bisa bunuh diri lagi. Lagian juga kamu harus jaga rahasia. Jangan terlalu terbuka soal urusan pribadi sama cowok yang baru kamu pacarin”

“Iya, Ma...” jawabku.

Mama mengakhiri pembicaraan. Duniaku kembali sepi. Sesaat sebelum Wira menelpon untuk yang ketiga kalinya dalam sehari. Walau sudah bertemu tiap hari tapi kami bersikap seolah tidak ada kejadian. Aku yang meminta agar kami bersikap biasa di kampus supaya tidak ada yang membicarakanku. Aku terkenal dungu di kampus. Wira pasti malu kalau semua orang tahu kalau aku pacaran dengannya.

Karena tidak ada lagi yang bisa kami bahas di telpon, aku jadi kepikiran untuk menanyakan satu pertanyaan yang sebenarnya penting.

“Aku dengar kamu punya pacar dua. Bener nggak sih?” aku bertanya dengan hati-hati. Berharap dia tidak marah.

“Siapa yang bilang? Ben ya?” Wira balas bertanya.

Kalau bukan Ben siapa lagi yang ngomong. Pasti Wira kepikiran begitu.

“Satu aja pusing. Apalagi dua” katanya.

Aku tertawa kecil. “Kalau kamu punya pacar dua berarti aku yang ketiga dong” balasku bercanda.

Wira balas  tertawa “Ada-ada  aja” gumamnya kemudian kembali serius. “Terakhir pacaran setahun yang lalu sih. Pengalaman yang paling nggak enak”

Itu dia yang kutunggu! Jelasin supaya aku makin percaya bahwa yang dibilang Ben salah!, seruku dalam hati.

“Dia mutusin aku waktu ibu lagi koma di rumah sakit” jelasnya.

“Oh...”

 “Kamu sendiri?” Wira tiba-tiba  bertanya.

‘Aku sih...nggak pernah. Tapi dulu ada dekat sama cowok, nggak sampai pacaran sih, waktu SMA...” aku mulai mengenang satu hal manis di antara seribu kenangan pahit di SMA dulu. Tentang adanya seorang cowok yang adalah kakak kelasku sendiri.

Pertama kali bertemu saat MOS dan dia suka mengerjai aku. Aku suka padanya pada pandangan pertama . Sama-sama  suka tapi tidak pacaran. Yang jelas kedekatan kami berakhir begitu dia dikeluarkan dari sekolah itu karena pelanggaran berat dan kami tidak pernah bertemu lagi. Sampai sekarang pun, buatku dia tetap sosok cowok keren dan baik yang pernah kutemui. Kurasa dia pasti hidup bahagia. Karena hukum alam selalu begitu, kalau seseorang berasal dari keluarga mapan biasanya mendapat pasangan dari latar belakang yang sama juga.

Wira terdiam di seberang sana.

Tidak  banyak yang bisa kuceritakan soal itu.

Dan setiap malam rasanya seperti bermimpi indah. Hal yang dirasakan setiap orang ketika apa yang paling dia inginkan ada di dalam genggaman. Meski rasanya seperti ilusi ketika aku merasa tidak bisa memiliki pacarku sendiri. Walau kami dekat dan dia bilang sayang padaku. Ada perasaan yang kurang di antara kami. Keterbukaan.

Setiap orang memiliki rahasia, apakah dia akan tetap menerimaku setelah kukatakan yang sebenarnya?

----

“Kata mama nggak boleh bawa cowok ke rumah”, jelasku. “Kamu tau sendiri kan lingkungan dekat rumahku gimana. Ada banyak ibuk-ibuk yang suka ngegosip. Mereka tahu aku tinggal sendiri”.

Wira tidak bereaksi. Tidak  marah tapi aku merasa tidak enak. Sebenarnya bukan masalah tetangga. Toh tetanggaku tampak tidak peduli dengan urusan orang lain. Aku hanya tidak ingin melakukan apa yang dilarang mama.

Aku harus ingat jika berdua daja di rumah tidak mungkin tidak melakukan yang aneh-aneh. Aku hanya nggak ingin menyesal di kemudian hari dan menangisi ketololanku. Karena seorang cewek yang sudah ‘rusak’, tidak ada cowok manapun yang menginginkannya. Perawan itu ibarat kain sutera, yang sekali robek nggak akan pernah bisa kembali seperti semula. Lagipula mama berusaha keras agar aku bisa menjadi orang yang baik dan bermartabat. Dengan bersikap dan pendidikan tinggi. Sekalipun aku sayang Wira setengah mati, aku harus menjaga diriku.

Aku senang, Wira menghargai aku dan dia tidak pernah menuntut apapun. Tapi, aku terlalu banyak berbohong. Soal Mama. Soal keluargaku. Aku bilang padanya mama bekerja sebagai seorang sekretaris dan sering ke luar kota, orang tuaku bercerai dan masih banyak kebohongan lain tentang asal-usulku. Semua karena aku tidak ingin kehilangannya jika Wira tau yang sebenarnya. Aku tidak ingin Wira memandangku rendah. Tapi, Wira seakan tidak peduli apapun selain aku. Kupikir itu bagus, dia benar-benar  serius soal perasaannya.

Wira tidak suka membahas sesuatu berulang-ulang. Setiap kali aku tidak mau menjawab pertanyaannya, diapun langsung berhenti menanyakan sesuatu yang membuatku tidak nyaman. Seperti kenapa aku sering ditinggal sendiri, apakah Mama-ku sama sekali tidak peduli akan diriku. Dan mengapa aku selalu menolak keras saat dia ingin main ke rumah. Aku sangat paham hal itu ketika seorang cowok mulai menuntut lebih dari ceweknya.

Sebelumnya aku sama sekali tidak mengerti. Aku biasa hidup soliter. Memikirkan diri sendiri karena takut tidak bisa menyesuaikan diri dengan orang-orang sekitarku. Jika suka seseorang aku lebih suka memendam, karena bagiku perasaan saat menyukai seseorang jauh lebih indah daripada cinta itu sendiri. Karena cinta menuntut sebuah pembuktian, perngorbanan yang banyak disalahartikan oleh orang yang lapar mata.

Aku sama sekali tidak siap untuk itu. Sehingga aku bingung. Aku terus berputar-putar  dalam kebingungan dalam hubungan yang kupikir sangat istimewa tapi membuatku tersiksa setiap kali memikirkan di mana semua ini berakhir. Apakah untuk selamanya? Karena cinta pada akhirnya pasti menyakitkan. Jika salah seorang nggak meninggalkan lebih dulu, pasti maut yang akan memisahkan. Tapi, bagiku akan lebih baik jika kematian yang berkata, karena melihat orang yang pernah kucintai bahagia dengan orang lain, akan membuatku tidak berdaya.

Aku memperhatikan orang-orang  di sekitarku. Khususnya Alya yang memiliki pacar sesama mahasiswa di kampus. Di tahun berikutnya dia tidak pernah lagi memakai rok ke kampus. Kulihat dia lebih normal dan lebih sering terlihat bersama Frans, senior yang memacarinya dan memberinya banyak peraturan. Semua tahu bagaimana mereka menjalani hubungan yang tampak istimewa tapi mendapat cemoohan. Alya berubah total dan parahnya dia tidak pernah lagi terlihat bersama sahabatnya, Rara yang sudah punya teman-teman baru dan kelihatannya mulai berselisih. Ada yang bilang, Frans tidak membolehkan Alya untuk ikut-ikutan  dengan Rara karena memberi pengaruh yang tidak baik. Tentu saja Rara marah dan mereka sempat ribut.

Di depan teman-teman sekelas yang lain mereka sama sekali tidak malu mengungkapkan keburukan masing-masing. Ada yang tertawa mendengarkan dan ada yang mencoba menghentikan mereka.

Besoknya mereka jadi bahan pembicaraan dan lelucon oleh anak-anak  lain.

Tidak  ada lagi duo yang selalu terlihat bersama dan menarik perhatian orang. Mereka seperti badut yang menghibur para cowok yang pasti menganggap mereka rusak. Seolah sudah menjadi rahasia umum hubungan sepasang kekasih itu tidak pernah tidak lebih dari sekedar pegangan tangan. Namun di kampus ada yang bisa dengan baik menjaga rahasia mereka dan ada beberapa yang terkesan menunjukan rahasia pribadi itu. Seperti Alya yang tidak pernah tidak terlihat bersama Frans. Begitu kelas berakhir, Alya langsung ‘ngebut’ bersama pacarnya itu dengan motor. Tidak  lagi sempat bersosialisasi dengan orang lain.

Frans cukup tidak disukai teman-temannya karena kasar dan sering bicara kotor. Dia pernah melawan dosen dan berkali-kali teracam DO. Melihat  tampangnya yang seperti berandal orang juga sudah tau dia orang yang seperti apa. Rambutnya agak gondrong dan dicat pirang. Frans selalu datang ke kampus dengan motor besarnya yang berusara nyaring. Tapi, sebenarnya Frans berasal dari keluarga berada. Kenapa Alya bisa jatuh cinta pada orang yang seperti ini? Para cewek pernah mempermasalahkannya dan mereka pikir Alya seorang cewek matre tapi malah kena batunya.

Matrealistis itu juga termasuk hak manusia. Aku selalu tidak habis pikir, kenapa mereka selalu mempermasalahkan apa yang dipikirkan dan dilakukan orang lain? Kadang seorang pengkritik merasa bahwa dirinya sudah melakukan hal yang benar tapi kenyataan membicarakan keburukan orang adalah hal yang lebih tidak benar lagi.

“Ngapain sih mikirin orang lain?” jawab Wira saat aku menanyakan pendapatnya tentang apa yang kami lihat sebelum itu di kelas.

“Nggak...cuma kepikiran” kataku, “Habisnya nggak pernah lihat mereka berantem segitu hebatnya”

“Salah mereka sendiri” balas Wira.

Aku merasa sangat beruntung. Wira tidak seperti Frans. Dia tidak pernah mengekangku, melarangku melakukan apapun yang ingin kulakukan. Dia tidak pernah mecemburui dengan cara yang berlebihan. Tidak pernah ikut campur urusan orang lain. Dia memperlakukanku dengan baik meski dia selalu ingin aku mendengarkan kata-katanya. Dan jika ada sesuatu yang tidak sesuai keinginannya, dia selalu mengeluh dan aku harus begini atau begitu. Bagiku tidak masalah, karena mungkin ada sifat dalam diriku yang tidak dia sukai dan dia berusaha mengubahku.

Aku tidak harus seperti Alya yang sering digosipkan macam-macam sama teman-temannya sendiri. Aku tidak lagi jadi pembicaraan yang hangat untuk mereka saat mereka sudah merasa tidak ada lagi yang menarik bagiku. Sampai mereka tahu ada sesuatu antara aku  dan Wira.

Inilah bagian yang paling tidak aku sukai. Saat mereka mulai suka membicarakan kami.

“Seleranya Wira memang payah. Tapi, mereka kelihatan nggak pacaran. Aneh nggak sih...”

Memang  aku kenapa?

“Wira tahu nggak sih, mamanya Bita pelacur?” Rara menambah masalahku.

Padahal selama ini dia diam saja karena aku tidak pernah menanggapinya secara langsung sampai dia capek sendiri dan berhenti. Dia kembali membuat tahun-tahun  berikutnya menjadi rumit. Begitu dia kembali menelajangiku dengan semua ucapan dan cemoohannya.  Mengingatkan aku di masa-masa SMA saat dia merasa telah mengganggu kesenangannya. Berurusan dengan mereka adalah hal tersulit di sekolah. Apalagi itu dikarenakan oleh orang lain. Aku pun teringat saat-saat di SMA yang luar biasa buruk bagiku.

Mereka seperti sengaja membuat semua orang harus tau siapa aku sebenarnya. Bagaimana dia menyudutkanku berulang kali dan yang paling kucemaskan adalah bagaimana tanggapan Wira begitu dia tau aku sudah berbohong selama satu setengah tahun ini  padanya?

Saat itu aku merasa bersalah dan malu.

“Kenapa kamu nggak jujur?” Wira kelihatan marah.

Aku bingung. Hanya ada satu alasan kenapa aku melakukannya, karena aku sama sekali tidak mau kehilangan dia. Tapi, aku terdiam sangat lama. Aku tau dia mencoba untuk mempercayai kenyataan dan pastinya Wira shocksaat seisi kampus membicarakan pacarnya. Bilamana terdengar sampai ke telinga ayahnya, dia pasti tidak punya penjelasan yang masuk akal.

Sedikitnya aku tahu, bahwa ayahnya seorang yang keras terlebih dia anak sulung yang harus bertanggungjawab pada adik-adiknya. Karena Wira sering cerita bahwa dia pernah dimarahi habis-habisan  karena memacari cewek yang salah. Cerita itu seakan terus menakut-nakutiku  sehingga aku tidak pernah mau diajak ke rumahnya untuk bertemu keluarganya. Aku tidak pernah merasa siap untuk itu. Lalu akhirnya aku terpaksa dan dikenalkan pada keluarganya.

Ayah Wira bekerja sebagai pegawai BUMN yang menikah lagi setelah ibu Wira meninggal. Bertemu keluarganya,  pengalaman yang menegangkan bagiku. Pertama kali dikenalkan aku merasa canggung dan takut. Wira mirip dengan ayahnya, dan sama-sama  bertubuh tinggi. Aku tahu, tatapan ayah Wira yang menelisik saat aku duduk di depannya dan tidak tau harus bagaimana, membuatku merasa mungkin dia sama sekali tidak percaya bahwa anak sulungnya memilih gadis seperti aku.

Aku sangat gelisah duduk di sana dan untung aku tidak berada di sana lebih lama karena Wira segera mengajakku pergi. Aku tahu keluarganya tidak terlalu menyukai aku, entah mengapa, aku punya firasat bahwa ada ketidakcocokan di antara kami. Hal itu selalu membuatku cemas. Walaupun adik perempuan Wira satu-satunya, juga ibu tirinya, kelihatan ramah dan tampak tidak mempermasalahkan apapun.

Ternyata benar. Ayahnya meyakinkannya kembali apakah benar-benar serius soal aku. Dan Wira menjawab ‘ya’. Aku senang, artinya, keluarga Wira menghargai pilihan yang ia ambil. Namun kemudian Wira tampak meragukannya.

Apapun yang mau kamu katakan, bilang saja...hatiku membantin. Menunggu kata darinya dengan tidak sabar. Dengan menangis dan kalau bisa pun aku memohon

Dia terdiam sangat lama. Tidak  mau bicara sedikitpun. Katanya dia minta waktu untuk memikirkannya. Aku sama sekali tidak bisa menghubunginya semalaman karena Wira sengaja mematikan telponnya. Selama itu juga aku menangis sendirian dan bingung.

ooOoo

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments