[Baca Novel Roman Dewasa] Getting Her Heart Back - Chapter 31 (4/5)

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

 

Melihat kondisi Saira yang belum bisa tenang sejak perdebatannya dengan Pevita, aku tidak tega membiarkannya pergi sendiri. Aku pun bersedia mengantarnya dengan rencana tetap menunggu di mobil. Karena jelas aku akan melihat Sidney. Entah. Aku hanya belum tahu harus bersikap bagaimana saat bertemu dengan orang itu. Saira yang juga paham dengan hal itu memintaku untuk memarkir mobil di agak jauh dari pagar rumah Sidney sementara dia turun untuk menjemput anaknya.

Aku menunggu sekitar lima belas menit saat akhirnya aku melihat Saira keluar melewati pagar rumah dan membawa Sunny. Namun ada yang aneh saat kuperhatikan Sunny tampak menolak saat Saira memegang tangannya. Sangat terlihat bahwa Saira tengah menariknya; Saira terus memaksanya untuk ikut walau Sunny merengek. Bersamaan dengan itu, suara-suara mereka mulai terdengar.

“Mama sudah kasih kamu waktu sama Daddy kamu ‘kan? Sekarang kamu harus ikut Mama pulang!” kata dia; terdengar begitu keras.

“Aku nggak mau ikut Mama!” Sunny berseru tidak kalah keras dan terlihat memegangi pintu pagar untuk bertahan.

“Sunny!” Saira berbalik dan menghardiknya.

“Dia nggak mau ikut kenapa kamu masih memaksanya?!” suara lain pun terdengar dan sudah pasti itu Sidney yang mengikuti mereka sampai ke depan pagar.

“Aku nggak tahu apa yang kamu bilang ke Sunny sampai dia jadi begini! Cukup, Sidney! Kalau aku tahu, memberi kamu kesempatan untuk bersama kamu malah membuat dia terpengaruh dengan kamu, sungguh aku nggak akan membiarkan ini terjadi!” teriak Saira padanya.

“Sunny, masuk!” Sidney terdengar memerintah anak itu masuk ke rumah. Sepertinya dia memang tidak mengizinkan Sunny pergi dengan ibunya.

“Apa-apaan kamu?!” Saira semakin emosi saat Sunny mematuhi ayahnya dengan kembali ke dalam rumah.

Kali ini aku tidak tahu apakah harus tetap turun atau mendamaikan. Tapi, kalau Sidney melihatku, akan seperti apa jadinya?

“Kamu nggak berhak melarang Sunny ikut aku!” teriak Saira lagi.

“Aku nggak pernah melarang kamu! Dia sendiri yang nggak mau ikut!” tegas Sidney. “Harusnya kamu sadar kenapa dia lebih memilih tinggal di sini dan bukannya terus-terusan menuduh aku meracuni pikirannya!”

“Lalu apa?! Sebelumnya dia nggak pernah seperti ini! Apa yang kamu bilang ke Sunny, hah?!”

Sidney tidak menjawab. Dia hanya menatap dengan datar dan tampak tak ingin melanjutkan pertengkaran. “Sebaiknya kamu pulang,” kata dia, sambil membalikan badan.

“Tunggu!” panggil Saira.  Sepertinya dia mulai kehilangan kendali atas dirinya. Dia mengejar Sidney yang hendak kembali ke rumah. “Kenapa kamu lakukan ini, Sidney?!”

“Melakukan apa?” balas Sidney. Masih terlihat begitu tenang.

“Kenapa kamu ingin mengambil hak asuk Sunny dariku? Bukannya sudah cukup aku mengizinkan dia bersama kamu selama yang kamu inginkan?”

Sidney tampak tidak langsung menjawabnya. Dia hanya menatap Saira datar.

“Kamu nggak akan pernah tahu bagaimana aku membesarkan dia dan sekarang kamu mau mengambilnya begitu saja? Kamu pikir kamu siapa?”

“Aku ayahnya dan aku berhak atas dirinya juga.”

“Apa ini hukuman? Apa ini cara kamu membalasku?”

“Membalas kamu? Untuk apa?”

Kali ini Saira lah yang terdiam.

“Aku nggak ingin Sunny besar seperti kamu. Dengan orang tua tunggal yang lebih sering menghabiskan waktunya di luar untuk bekerja,” kata Sidney akhirnya. “Apa kamu tahu dia nggak ingin tinggal bersama kamu karena dia tahu dia hanya akan ditinggalkan untuk sesuatu yang nggak bisa kamu abaikan bahkan hanya untuk menjemputnya pulang sekolah? Aku rasa kamu pasti paham dengan perasaan seperti itu. Ditinggalkan dan diabaikan. Aku nggak ingin Sunny juga mengalaminya.”

“A... apa kamu bilang?”

“Itu sesuatu yang nyata, Saira. Kamu bahkan lupa memberinya kado ulang tahun.”

“Diam kamu!” Saira kembali berteriak; kali ini dia nekat mendorong Sidney dengan kasar. “Kamu tahu apa?! Apa sebelum ini kamu juga mengurusnya?! Memikirkannya setiap saat seperti aku?!”

“Ingat, kamu nggak benar-benar membesarkannya, Saira. Kamu menitipkannya pada orang lain bertahun-tahun. Terlepas dari hal buruk yang menimpa kamu saat itu, aku masih berhak untuk tahu tapi kamu masih memilih untuk tetap diam. Kamu menyembunyikannya seakan aku nggak berhak.”

“Katakan gara-gara siapa aku harus meninggalkan dan menitipkan dia pada orang lain untuk waktu yang lama? Lagipula kalau aku memberitahu kamu, apa itu nggak menghancurkan kehidupan rumah tangga kamu dengan Magisa yang romantis itu?”

“Aku menerima karmaku sendiri dan kalau kamu pikir semua kesalahanku yang nggak termaafkan setimpal dengan apa yang kamu perbuat padaku saat ini, kamu salah. Nggak ada alasan bagiku saat ini untuk nggak mengambil Sunny. Toh, kamu juga nggak bisa menjaganya sebagai seorang ibu. Kamu pernah benci apa yang ibu kamu lakukan terhadap kamu tapi sekarang kamu malah melakukan hal yang sama ke anak kamu sendiri. Aku nggak akan membiarkan Sunny tumbuh dengan seorang ibu macam kamu!”

***

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments