[Ch. 10] CINTA HITAM - Baca Novel Romantis Dewasa Online

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

 Merajut Asa

Aku datang terlambat di hari pertama kuliah lagi karena salah perhitungan. Aku kira aku bisa sampai 15 menit ke kampus dengan naik angkot tapi ternyata membutuhkan waktu lebih lama karena angkot sering berhenti untuk menaikan dan menurunkan penumpang.

Dosen mempersilahkan aku masuk dan aku mencari tempat duduk yang paling belakang. Soalnya bagian depan sudah terisi semua.

“Hei” seseorang yang duduk di sebelahku menyapa sewaktu aku baru saja duduk dengan lega.

Aku kaget. Rupanya Alya, musuh bebuyutanku sejak SMA. Ternyata dia juga mengulang.

“Kamu  mengulang juga?” tanyanya.

Aku mengangguk. Tapi, jadi tidak betah karena duduk di sampingnya. Lalu dia diam dan mulai memperhatikan ke depan.

Aku melirik ke sebelah kananku di mana Ben duduk paling sudut melambaikan tangannya dengan pelan padaku sambil tersenyum. Aku membalasnya.

Di kelas itu cuma aku, Alya dan Ben yang paling senior. Kombinasi yang aneh yang pernah ada.

“Aneh, Wira bisa lulus, kamu enggak” komentar Alya sewaktu kami duduk bersama di kantin.

Aku diam saja karena tidaksuka membicarakannya lagi. Habisnya aku jadi teringat akan kenangan buruk yang baru saja berlalu dan masih menyisakan kesedihan bagiku. Sepenuhnya aku belum bisa terima sudah dicampakan dengan cara yang kejam.

“Kamu mau tahu urusan orang aja, Al” celetuk Ben yang ada bersama kami untuk makan siang sebelum kelas terakhir hari ini dimulai. “Kamu sendiri juga kenapa Rara bisa lulus, kamu enggak?”

“Lulus dengan nilai pas-pasan nggak mau ah!” tandasnya. “Mending mengulang daripada IP di atas standar sedikit”

“Sok!” balas Ben.

Alya memang super ketus dan sensitif. Padahal dulu sok manis dan berusaha untuk tampil seimut mungkin.

“Perusahaan mana sih yang mau terima IP pas-pasan?” lanjut Alya. “Di kelas kita banyak yang lulus dengan IP pas-pasan, si Wira juga. Heran deh, mau lulus buru - buru kayak dikejar setan”

Memang sulit menghilangkan anggapan orang yang terlanjur berpikir negatif. Sedikit-sedikit jika menyinggung masalah itu lagi, aku jadi kepikiran, seandainya tidak putus pasti masih ada yang menemani. Aku masih tidak percaya karena ucapan-ucapan  serius Wira masih kuingat dengan sangat jelas dalam kepalaku. Kadang aku jadi menyalahkan diriku yang sering terbawa emosi. Kalau seandainya aku bisa mengendalikan diriku tentu dia akan berpikir dua kali untuk meninggalkan aku.

Perasaanku jadi nggak menentu. Kadang aku merasa marah karena ditinggalkan dan menganggapnya brengsek. Kadang aku menyalahkan diriku yang terlalu emosi dan egois.

Aku hanya ingin mencari sebuah pelarian dari perasaan bersalah dan penyesalan.

 “Aku janji kalau sudah punya kerjaan semua hutang aku bayar” kataku sama Ben.

“Kapan?” tanya Ben nantangin. “Memangnya kapan kamu punya kerjaan?”

“Nanti, kalau aku sudah lulus...” jawabku.

“Padahal kamu nggak perlu bayar kalau mau jadi pacarku” katanya, mulai lagi bercandanya.

“Nggak mau!” cetusku sambil melangkah pergi.

“Kapan sih kamu lupain kejadian yang di toilet itu?!” Ben masih mengikutiku.

“Aku bahkan nggak ingat lagi,” celetukku dan terus berjalan.

“Bita, aku serius!” serunya setelah akhirnya berhenti mengikutiku.

Jatuh cinta lagi ternyata nggak mudah.

---

Aku tidak tahu kenapa aku kembali ke sana di lain kesempatan. Mungkin karena waktu melihatnya berputar-putar  seperti kelereng dalam kaleng, aku jadi melupakan kesepianku di rumah. Aku juga terkenang akan hari-hari yang kami lewatkan di sekolah dan banyak hal-hal menyenangkan saat bersamanya dulu. Dari dulu aku juga sudah tahu, bersama Daniel selalu penuh tawa. Bahkan memikirkannya saja pasti sudah tertawa duluan karena dia sangat lucu.

“Pasar malam nggak setiap hari rame” jelas Daniel. “Kalau hujan orang jadi malas datang. Terus hari biasa nggak pernah lebih ramai dari malam Jumat dan Sabtu”

“Kenapa kakak bisa ada di sini?”

“Memangnya kenapa kalau aku di sini?”

“Ya...aku merasa aneh aja. Karena dulu kakak nggak kayak sekarang”

Hujan gerimis turun.

“Yang aneh itu, kamu masih panggil aku kakak. Kita bukan anak SMA lagi” katanya sambil tertawa kecil. “Panggil aku pakai namaku aja”

Aku terdiam. Tertunduk sendiri. Memanggilnya kakak adalah sebuah kebiasaan yang susah dihilangkan.

“Itu biasa kok. Umur kita nggak beda jauh” ujarnya.

Walaupun penampilannya berubah sama sekali tapi sifatnya nggak jauh berbeda dengan yang dulu. Tetap humoris tapi tenang. Tetap sosok yang sederhana dan cepat akrab sama orang lain. Sekilas seseorang terlihat sempurna hanya karena memiliki fisik yang cantik dan tampan tapi terkadang mereka menyembunyikan ketidakmampuan akan sesuatu yang bisa dilakukan dengan mudah orang lain.

Ada banyak hal yang kembali teringat olehku tentang masa-masa  kami masih jadi anak remaja yang periang dan ceria. Yang tidak pernah mengalami masalah berat selain pencarian jati diri dengan cara yang berbeda-beda. Selama itu pula aku memendam perasaan dan hanya bisa menyaksikannya pergi lalu menghilang.

Aku tidak bisa bilang sama menyakitkannya dengan melihat Wira pergi begitu saja dan meninggalkan penyesalan yang berat. Tapi, karena dia yang pertama aku seringkali mengenangnya saat kubayangkan aku menginginkan sosok yang bisa menyenangkan hatiku dengan kata-kata  dan sikapnya. Sosok yang selalu menghibur dengan canda dan tawanya. Seperti yang dilakukan Daniel dulu.

---

“Sst...sst...” Alya memanggilku di tengah-tengah  pelajaran seperti ada sesuatu yang darurat dan nggak bisa ditunda sampai kelas selesai.

“Apa sih?” cetusku bisik-bisik.

Dia duduk tepat di sampingku sementara dosen ‘bla bla bla’ di depan kelas. Konsentrasiku akan pelajaran seketika buyar.

“Tadi Ben nanya-nanya  soal Daniel. Ada apa sih?” tanyanya dan bikin aku kaget, “Kamu  ketemu sama Daniel memangnya?”

Apa-apaan dia?, gerutuku dalam hati.

Aku lupa, Alya dan aku sekolah di SMA yang sama. Sama-sama  kenal Daniel dan tau beberapa cerita yang melibatkan aku di SMA. Ya, aku jadi ingat juga, awal Rara dan Alya mulai sensitif. Gara-gara Daniel. Gara-gara  Rara merasa aku merampas ‘gebetan’-nya dan dia mulai menjadikan aku masalah. Aku mengalami banyak hal menyenangkan bersama Daniel, namun berkatnya juga aku mengalami hal yang sulit dan itu berlanjut setelah Daniel dikeluarkan dari sekolah. Semua tertawa padaku begitu mendengar sebuah kabar memalukan soal Daniel.

Sebenarnya aku sama sekali tidak ingin membicarakannya. Apalagi dengan Alya. Haruskah aku menceritakan masa laluku padanya?

Tapi, tampaknya Alya seakan tidak lagi mempermasalahkan sikapnya yang jahat padaku sejak SMA. Atau dia lupa, aku jadi bahan olok – olok   seantero sekolah berkat ucapannya dan sahabat karibnya itu?.

“Padahal dulu dia kelihatan hebat” sambungnya. “Sekali berurusan sama cinta kenapa semua orang jadi gila ya?”

Ternyata dia hanya mau curhat.

Aku baru tau bahwa akhirnya Alya dan Frans putus. Kurang lebih kami punya cerita yang sama. Tapi, sepertinya Alya kelihatan lebih tertekan. Seperti kehilangan yang lebih besar dari sekedar kehilangan seorang pacar yang hanya bisa mengatur dan mendikte. Aku mulai menebak-nebak tapi karena masalahnya sama sekali tidak ada hubungan denganku, aku pun tidak pernah bertanya mengapa padanya.

“Kamu tinggal sendiri?”

Aku langsung  pergi ke dapur buat mengambil minum untuk Alya yang memaksa bertamu ke rumah sepulang kuliah. Kemudian kembali dengan sebotol air dingin dan gelas. Aku juga mengambilkan beberapa makanan ringan.

“Apa sih rasanya tinggal sendiri? Nggak punya orang tua, nggak punya saudara...”

Aku tidak bisa jawab pertanyaan yang nggak kuketahui jawabannya. Sendirian bagiku seperti keharusan yang dijalani untuk bisa hidup. Seperti bernafas, makan dan minum.

Kelihatannya dia sedang punya banyak masalah. Tidak  ingin cepat pulang. Ingin ke tempat di mana tidak ada orang yang melihatnya sedih dan menangis.

“Kenapa kamu bisa putus?” aku bertanya.

Alya tersenyum getir, “Aku yang ninggalin dia karena nggak tahan lagi” jawabnya.

“Oh...”

Mana yang lebih sakit ditinggalkan atau meninggalkan? Jika ditinggalkan nggak lebih sakit dari meninggalkan, apa alasan yang membuat Alya begitu tertekan saat menangis di rumahku? Ternyata bagi seorang cewek dua – duanya  menyakitkan.

Rupanya ada orang yang jauh lebih menderita daripada aku. Aku lebih tegar daripada Alya yang tumbang di rumah sakit karena over dosis minum aspirin. Berniat untuk mengakhiri hidupnya di saat – saat  sepenting ini.

---

“Oh ya, aku ingat! Dia cewek yang sering ngejekin kamu itu kan, yang berdua sama temannya?” Daniel memecah kebisuan setelah aku diam begitu menceritakan kabar yang aku dengar di kampus tadi siang. “Aku lupa namanya tapi dia sering nyamperin aku kan?”

“Iya...” jawabku lesu.

“Masalahnya rumit juga ya...” komentarnya. Lalu memberi sebuah pertolongan.”Pasti ada sesuatu...”

Aku tidak mengerti maksud ucapannya tapi kulihat Daniel sedang memandangi pekerja pasar malam lain menaiki perahu ‘Kora Kora’ di saat tidak ada pengunjung yang datang karena gerimis. Mereka bersorak gembira di atasnya. Tidak  peduli akan gerimis yang dingin dan bagi mereka yang kadang harus bekerja sampai larut malam, ini kesempatan yang jarang.

Aku menghubungi Ben karena ingin minta tolong. Dan dia menyanggupinya tanpa banyak tanya.

Seringkali di saat aku terdesak, walau dia sibuk sampai akhirnya bertengkar dengan pacarnya, dia selalu sempat untuk membantuku. Tapi, kali ini aku tidak melakukannya untuk diriku sendiri. Melainkan untuk seseorang yang nyaris mati karena putus asa.

“Kalian mau apa sih?!” Alya bertanya-tanya  kenapa Ben membawanya kabur dari rumah sakit padahal ia masih dalam keadaan lemah.

Gerimis turun dengan dinginnya malam itu.

Aku menariknya untuk mengajaknya melakukan sesuatu yang seharusnya kami lakukan untuk menyingkirkan perasaan tertekan, tidak berdaya dan takut. Di suatu tempat yang identik dengan hiburan orang miskin.

Daniel menyambut kami bersama teman-temannya  yang sudah lebih dulu menjalankan perahu. Mereka semua anak muda yang bahkan usianya bisa lebih muda daripada kami. Mengajak kami menghabiskan malam yang hujan ‘ala’ mereka saat pengunjung nggak menunjukan batang hidungnya.

Perahu berayun dengan pelan. Aku duduk paling ujung dan bisa merasakan tetesan hujan membasahi puncak kepalaku. Makin lama perahu makin kencang. Maju dan mundur dengan cepat. Begitu di atas, aku melesat dengan cepat ke bawah.  Lalu kembali berayun ke arah berlawanan sehingga aku kembali di atas. Saat yang paling tepat untuk teriak sepuasnya, melepaskan emosi yang tertahan.

Daniel dan rekannya bersorak sambil mendorong perahu agar terus berayun bersama dua orang temannya. Satu perahu penuh oleh para penjaga pasar malam yang kebanyakan adalah gadis  ABG yang mulai berteriak pusing, tapi para cowok terus ‘mendayung’ karena mereka pikir itu asyik. Bahkan Ben ikut-ikutan  berdiri membantu mereka agar perahu terus berayun.

Alya, di sebelahku juga tidak hentinya berteriak histeris saat kami melesat ke bawah. Dia kelihatan lebih baik walaupun masih memakai piyama rumah sakit. Setelah itu dia pun menangis. Bukan karena pusing terlalu lama berayun di atas perahu. Tapi, karena malam itu dia terlalu senang. Terlalu senang sampai rasanya ingin menangis.

Aku pun juga. Tapi, sudah terlambat bagiku untuk menangis. Toh, aku sudah tidak apa -apa.

“Aku pusing nih!” jerit Alya yang terduduk sambil memegangi kepalanya. “Bisa – bisanya  kalian ngajakin aku ke sini di saat aku lagi sakit begini!”

Ben, Daniel dan aku hanya tertawa. Kami tau dia sudah tidak apa-apa.

Bagiku, ini adalah saat-saat paling menyenangkan pertama sejak semua kejadian buruk itu berlalu. Aku sangat berterima kasih padanya. Cowok menyenangkan yang selalu tau bagaimana cara menyenangkan orang lain.

Hanya saja, ada seorang cewek yang datang mencarinya ke pasar malam dan akhirnya muncul di hadapan kami.

Daniel langsung bergegas menghampirinya dan sepertinya mereka sudah ada janji di malam selarut itu. Lalu pamitan untuk pergi sambil menggandeng cewek itu keluar dari arena pasar malam.

ooOoo


Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments