๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Wishing Black into Red
Masih belum pudar dalam ingatanku siang di pusat rehabilitasi yang meyedihkan itu. Menghantuiku setiap kali aku memejamkan mata, dikejar rasa bersalah. Sama-sama menangis seolah kenangan yang pernah terukir terbakar habis menjadi debu.
Aku kembali kepada rutinitas untuk mengalihkan perhatian. Bekerja seharian di depan komputer hingga sore hari.
Dear little black pearl, adalah kata – kata favorit Ron di awal suratnya. Selalu.
Kamu lebih tahu dari pada saya. Dan kamu sudah bukan anak kecil yang selalu bertanya pada orang lain apa yang seharusnya kamu lakukan. Tapi, sebenarnya kamu sudah tahu. Tapi kamu terlalu takut ditolak. Kenyataannya kamu tahu bahwa kamu pantas mendapatkannya. Pikirkan sekali lagi.
All the love in the world for you
Ron
Aku benci hari Senin. Aku benci Jakarta. Aktivitas dimulai lagi.
Aku sudah lelah setiap pagi ke kantor bekerja sampai sore hari. Capek tapi aku tidak mendapatkan apapun selain uang. Kebahagiaan yang sejati juga belum datang padaku. Aku menjadi seorang penggerutu yang sering kali mengeluh sambil bersandar pada kursiku dan menatap layar komputer yang makin lama makin membosankan.
Mataku mengantuk. Aku lelah. Jari-jariku terus bekerja. Walau rasanya lelah, namun otakku tetap memaksa di saat perutku tidak bisa berdamai lagi. Harusnya aku pulang, istirahat dan kembali lagi besok. Tapi, aku tetap bertahan di tempatku.
Handphone-ku berbunyi. Bunyinya sudah lebih bagus sehingga Ben tidak lagi mengejekku. Sebuah pesan singkat dari Alya. Tidak boleh, pikirku sambil hanya memandangi handphone –ku yang berbunyi. Alya lagi- lagi menelpon tapi tidak ku angkat. Aku membiarkannya begitu saja sampai dia akhirnya mengirim pesan singkat.
Dia membuatku ikut pusing karena di SMS dia bilang, ada urusan yang benar-benar penting, antara hidup dan mati.
Aku mengangkat telponnya dan malah mendengarnya menangis sambil memanggil namaku.
“Aku nggak tau harus gimana?” ringisnya terisak- isak.
“Ada apa sih?”, tanyaku ikut cemas. Sebelum kembali ke Jakarta Alya tidak pernah kelihatan sedih kecuali menyangkut acara ‘pendekatan’ dengan Ben yang membuatnya sempat minder dan ‘down’.
“Aku bingung...”, keluhnya makin membuatku bingung dan berpikir bahwa aku sudah membuat kesalahan dengan menyemangati Alya dengan orang yang mungkin tidak bisa menerima keadaannya.
“Aku nggak nyangka akhirnya dia melamar aku, Bit!” serunya lalu tertawa di saat bersamaan.
“Apa?!” aku kaget, ternyata bukan sebuah kabar buruk.
“Barusan dia telepon...” jelasnya dan seketika aku menjerit histeris, Alya juga menjerit saking bahagianya. Sampai menimbulkan kegaduhan.
“Ada apa?” tegur Wira dari meja-nya karena terkejut dengan jeritanku.
Aku tidak sadar sejak tadi dia duduk di sana dan juga sedang bekerja.
“Beneran?!” seruku, mengabaikannya dan meghadap ke jendela besar memandangi kota yang bisa terlihat dari mejaku. Membelakanginya.
“Kamu cerita semuanya kan?” tanyaku,
Alya meyakinkan aku bahwa dia benar-benar sudah memastikan semuanya. “Nggak perlu bilang pun dia juga sudah tau” jelasnya, “Tapi, dia senang kalau aku jujur. Trus dia juga bilang, bahwa dia juga nggak lebih baik daripada aku.”
So sweet....
Sebuah pernyataan cinta yang mungkin menyentuh hingga Alya tidak bisa berhenti menangis karena terlalu senang. Asalkan saling bisa menerima, cinta datang dengan sendirinya kepada orang-orang yang tulus.
Aku juga ingin bahagia seperti mereka yang jatuh cinta. Meski aku akan menempuh perjalanan yang agak lama dibadingkan mereka yang sudah menemukan pelabuhan terakhirnya.
---
Aku mulai mengeluh lagi. Pekerjaanku banyak. Menungguku esok pagi seperti harimau yang mau menerkamku sementara aku merasa sakit.
Sebenarnya bukan itu, aku masih sangat terbebani oleh kejadian siang itu. Aku melampiaskan keksalanku pada keyboardkomputer yang berbunyi keras lalu terhenti saat aku ingin merebahkan kepalaku di atas meja.
Hari masih siang dan cuaca tampak panas di luar sana. Aku mulai merasa jam-jam yang kuhabiskan di tempat ini terasa seperti neraka. Aku tidak bisa menarik diriku keluar walaupun aku sangat ingin melakukannya. Tanpa sadar aku telah memperlihatkan kelemahanku pada Wira yang daritadi memperhatikan.
Aku memang tidak bisa menyembunyikan bahwa ada masalah yang sedang menyelubungiku sampai aku selalu terlihat resah dan takut. Aku rasa Wira masih ingat bahwa sifatku memang seperti itu.
Dia boleh tertawa, tapi aku tidak peduli. Walau dia merasa beruntung tidak lagi punya pacar yang merepotkan seperti diriku. Bersyukur, kesombonganku telah sirna dan aku di hadapannya saat ini terlihat seperti gadis yang kesepian dan tidak berdaya karena belum juga menemukan kekasih. Sementara dia begitu meikmati hubungan yang romantis dengan gadis yang sesuai dengan keinginannya selama ini.
“Kamu sakit?” tegurnya, malah menghampiriku dengan segelas air mineral yang ia taruh di depanku.
Aku menatapnya heran, lalu menggeleng-geleng. Ini seperti deja-vu, pernah terjadi sebelumnya saat dia pertama kali mendekatiku saat melihatku pucat dan sakit.
“Yah...” jawabku, kembali duduk dengan tegap sambil memandang ke layar komputerku. “Pekerjaan ini membuat aku tambah sakit”
“Oh...” Wira menanggapi jawabanku dengan tenang.
Aku jarang bicara dengannya, selain dari urusan pekerjaan. Ajaibnya aku tidak lagi merasa terganggu karena melihatnya lagi. Mungkin karena sudah terlalu sering dan kami duduk di meja yang berhadapan. Aku bisa dengan santai menatapnya, dan berkata padanya untuk melakukan sesuatu di kantor.
Tapi, terkadang, karena dulu pernah menjalin hubungan serius lalu berakhir dengan menyakitkan, membuatku jadi tidak nyaman saat aku harus bicara dengannya empat mata. Meski, yang ada di hatiku bukan lagi dirinya.
Wira pun sering gelagapan saat bertanya padaku tentang sesuatu yang bahkan berhubungan dengan pekerjaan.
Karena itu kami tidak pernah bicara selain membicarakan urusan pekerjaan. Dan ini pertama kalinya dia menghampiriku dan mengajakku bicara dengan lebih santai.
“Ini di mana?”, bertanya padaku saat mengambil sebuah vas foto yang berada di atas mejaku.
“Gunung Merapi, Yogyakarta” jawabku menjelaskan bahwa foto itu diambil dua tahun lalu saat aku masih bekerja di sebuah organisasi non-pemerintah bersama sekelompok orang asing. Dan pria yang berfoto bersamaku adalah bos-ku yang sudah mengajarkan banyak hal padaku, sehingga aku bisa duduk di sini.
“Wow” katanya sambil tersenyum dan membuatku merasa dia sama sekali tidak berubah.
Aku kembali ingat saat pertama kali melihatnya di kelas, dan kilasan-kilasan itu sejenak menggangguku bagai lalat yang terbang di dekat telinga. Terdengar berdengung dan harus disingkirkan.
Aku balas tersenyum, walau aku tahu dia menyadari bahwa aku terpaksa melakukannya, dan perlahan aku menjadi salah tingkah karena dia bersikap seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Aku sangat takut memandang langsung ke wajahnya, karena mengingatkanku pada hal-hal menyakitkan yang dia lakukan padaku di masa lalu dan sekarang semua itu seolah menghantuiku.
“Ehm...” Ben datang mengakhiri ketegangan antara aku dan Wira selama beberapa saat.
Aku tahu Ben sengaja agar Wira tidak menggangguku karena dia tahu aku tidak suka didatangi.
Wira kembali ke mejanya. Tapi, dia masih memandang ke arahku dan aku tidak mengerti maksudnya.
---
“Apa kamu nggak pernah pacaran lagi sejak kita putus?”, akhirnya pertanyaan itu kudengar juga darinya.
Aku tertawa kecil, tidak menyangka akan ada percakapan seperti ini. Lalu aku menggeleng-geleng, tanpa jawaban lisan. Tapi, aku rasa dia mengerti. “Kamu?” aku balas bertanya, lalu tertawa getir untuk menyindirnya.
Wira diam.
“Sudah ketemu gadis baik-baik yang selalu kamu inginkan?”, aku menanyainya lagi dan Wira mulai tidak senang.
Sudah berbulan-bulan sejak aku kembali ke sini untuk melajutkan pekerjaanku. Terlihat sangat jelas bahwa aku sangat kesepian.
“Terserah...” gumamku, karena aku tidak butuh jawab iya atau tidak darinya. Karena sudah bukan urusanku lagi.
“Kamu nggak pernah jatuh cinta lagi?”, Wira kembali bertanya seolah prihatin dengan kesendirianku yang pasti sudah didengarnya dari staf-staf yang lain. Termasuk soal aku dan Ben yang punya hubungan khusus selain asisten dan manajer.
“Kamu yang terakhir, Wira”, aku menjelaskan, dan dia tampak terbebani dengan jawabanku.
Sebelum bertemu Wira aku sudah pernah jatuh cinta pada seseorang dan cinta itu terpendam selama beberapa tahun sebelum aku bertemu dengannya lagi dalam sebuah kebetulan. Tapi, aku tidak menceritakannya karena kurasa dia tidak mau mendengarnya dan aku pun tidak ingin bercerita padanya.
Buat apa?
“Aku orang yang setia” kataku padanya, “Kamu pasti menyesal membuang aku suatu saat nanti karena nggak akan ada orang seperti aku yang mau menerima semua kekurangan yang kamu sembunyikan”
“Aku bohong apa soal kamu?”, Wira terdengar protes.
Aku tertawa pelan, “Kamu lebih tahu dari aku, Ra” jawabku, “Aku nggak mungkin lagi mengungkit masalah itu sekarang. Yang jelas, aku sudah tahu kalau ternyata aku hanya pelarian buat kamu”
“Siapa yang bilang begitu? Ben?!”
“Kamu tahu kalau dia benar.” tukasku, “Tapi, aku jadi ingin tahu, selama dua setengah tahun itu, apa benar kamu hanya mempermainkan aku? Menjadikan aku pelampiasan patah hati kamu karena ditolak mantan pacar kamu yang bikin kamu sampai nekat bunuh diri?”
“Apa sih maksud kamu?!” Wira seolah membantahnya, “Nggak ada pelarian yang bertahan selama itu!”
“Lalu apa?!” teriakku, aku sungguh tidak ingin terlihat menyedihkan di depannya tapi, aku malah ingin tahu apa yang dia pikirkan di saat aku menderita sendirian karena dirinya.
Tapi, dia malah diam.
“Apa?” desakku, menghampirinya, menatap wajahnya yang bingung.
“Aku memang benar-benar serius, tapi...aku akui aku memang nggak sanggup menjalaninya karena keadaan yang sama sekali nggak memungkinkan kita untuk terus lanjut”
“Lalu ninggalin aku dengan cara seperti itu? Bilang ke teman kamu yang kaya itu bahwa kamu pernah memacari cewek nggak beres?”
Wira terdiam, sangat lama.
Yang aku tahu, sejak dulu, sekalipun dia ketahuan berbuat salah, Wira tidak pernah mengucapkan maaf. Aku harus lebih dulu mengingatkannya dan kemudian dia mengucapkannya dengan terpaksa. Dia orang yang selalu benar dalam segala hal. Mana mungkin aku bisa lupa.
Kenapa sekarang dia mengajakku bicara? Seolah ingin memperbaiki kesalahan yang dia lakukan? Bukankah menyebut namaku saja sudah tidak sudi? Seakan aku-lah yang telah menghancurkan hidupnya, padahal dia bisa dengan mudahnya meninggalkan aku dan menganggapku gila?
---
“Aku bawa dia ke sini, bukan supaya kamu balikan lagi sama dia”, Ben agaknya tidak senang dengan apa yang ia temukan belakangan ini.
Aku diam saja, kembali ke meja-ku mencoba untuk fokus dengan pekerjaan yang ada di depanku. Aku pikir, Ben tidak mengerti. Karena dia memang tidak pernah benar-benar mencintai seseorang. Mana dia tahu seperti inilah ketika bertemu kembali dengan mantan pacar yang pernah sangat dicintai dalam keadaan yang menyedihkan?
Semuanya tidak seperti yang dipikirkan Ben. Kembali padanya? Yang benar saja!
Beberapa jam kemudian, aku melirik Wira yang duduk di meja kerjanya yang berjarak sekitar 8 meter dari mejaku. Lalu tersenyum sendiri dan bertanya, kenapa dulu aku bisa sangat tergila-gila padanya? Ya, aku tidak mengerti, tapi...mungkin saja saat dia membelaku dari omongan Rara dan Alya. Itu cukup masuk akal, karena dulu sama sekali tidak ada orang yang mempedulikanku. Hanya dia satu-satunya.
“Aku mau tanya sesuatu” kataku, menghampiri Wira ke tempatnya di saat pegawai lain mulai meninggalkan meja mereka satu per satu.
Wira menoleh padaku, dia tampak sangat tenang.
“Apa menurut kamu aku orang yang sangat egois?”
Wira malah mengernyit, mungkin dia tidak menyangka akan diberi pertanyaan seperti itu. Jadi dia tidak menjawabnya seketika.
“Aku membuat orang-orang yang di sekelilingku selalu menyembunyikan masalahnya dariku karena aku sama sekali nggak bisa diharapkan?”, sambungku dan mendapat senyum darinya. Aku pun mengerti bahwa Wira mengiyakan. “Aku...selalu berkeluh kesah tentang diriku sendiri dan hanya mengharapkan orang lain untuk mengerti?”
“Adikku banyak”, katanya, “Aku pikir sulit buat kamu nantinya...”
Aku menarik nafas panjang. Semalaman aku memikirkannya sampai tidak tidur. Tidak seharusnya aku lari seperti ini.
“Harusnya kamu jelasin itu sejak dulu”, balasku, sekilas tampak menerima kenyataan, “Bukan pergi dengan cara seperti itu”
Aku melihat ekspresi kagetnya saat aku berdiri di depannya.
“Aku beruntung nggak pernah tidur sama kamu, Ra”, kataku akhirnya, dan aku menantangnya dengan kemarahan yang selama ini kutahan. Tanganku dengan ringan mendaratkan tamparan di wajahnya sehingga dia terkejut. “Dan kamu beruntung, aku nggak melakukan ini di depan orang-orang karena aku sempat kepikiran untuk membalas kamu dengan cara itu”
Wira masih terdiam dan heran, sekaligus kesal.
“Bagaimana rasanya, Wira?” tanyaku, tersenyum, penuh kemenangan, “Saat ada seseorang yang menjanjikan kamu kebahagiaan selamanya tapi dia malah meninggalkan kamu dengan semua janji-janjinya?”
---
Aku melihat Ben terdiam sangat lama di depan jendela setelah memberi tahuku sebuah keputusan yang ia buat untuk dirinya dan masa depannya. Aku sempat berpikir bahwa akulah yang akan lebih dulu meninggalkan kantor ini, tapi ternyata Ben sudah lebih dulu merencanakannya.
Aku sangat terkejut. Aku pikir dia akan mengajak Alya untuk pindah ke sini suatu saat nanti. Tapi, bukan hanya Alya yang menjadi alasan baginya untuk pulang ke kota asal kami. Ben sudah tidak sanggup menjalani pekerjaannya dan ia merasakan tekanan yang sangat berat selama ini. Aku pun mengerti saat ia dengan malu-malu mengakui bahwa dia tidak bisa melakukan apa-apa karena terbiasa hidup serba ada.
Satu kali, saat kami masih menjadi seorang mahasiswa dia perah mengatakan bahwa sebuah perusahaan tentu tidak ingin mempekerjakan orang-orang yang tidak memiliki kemampuan. Ben merasa, bahwa dia orang yang termasuk ke dalam golongan itu, dan beruntung karena ada yang namanya ‘koneksi’ yang seperti jaring laba-laba antara keluarganya dengan banyak mitra kerja.
Setelah ini, dia akan meninggalkanku sendirian. Aku akan menggantikannya namun aku sama sekali tidak siap. Aku merasa sudah tidak membutuhkan pekerjaan ini seperti saat pertama kali masuk ke dunia kerja di mana aku sangat terobsesi akan uang. Manusia selalu seperti itu, setelah mendapatkan apa yang dia inginkan, dengan mudahnya ia merasa bosan, lupa akan keinginan terbesar yang pernah ia buat dengan sepenuh hati.
Aku tahu dengan pasti aku lelah sekali setiap harinya. Kantor bagiku seperti dunia tanpa suara yang hitam putih dan suram. Aku tersenyum dan menyapa orang-orang yang tampak bagaikan siluet, berjalan melewati mereka yang tidak bisa melihat bahwa aku sedang menangis dan tidak bisa mendengar aku sedang berteriak. Berharap seseorang akan datang menarikku keluar dari pasir penghisap bernama kesepian.
Semakin lama semakin larut dalam tulisan demi tulisan yang terlihat seperti kata ‘bunuh aku’ dan lama kelamaan mulai mempengaruhi otakku. Sampai aku mendengar seseorang menegurku dan dia meletakan secangkir kopi di atas mejaku.
Aku sempat terdiam beberapa saat dan kudengar suara telpon berdering dan ‘tak tik tuk’ suara keyboardkomputer dari meja sebelah. Semua orang bekerja, aku larut dalam ilusi mengerikan tentang realita seorang workaholicyang kesepian. Yang membutuhkan uluran tangan seseorang untuk bisa menyelamatkannya.
Dulu pekerjaan seperti ini seolah menawarkan kehidupan yang gemintang. Banyak gadis yag memimpikannya. Menerima jutaan rupiah setiap bulan. Bisa menyewa kamar yang lebih bagus lengkap dengan fasilitas khusus bagi para pegawai kantoran. Belanja di mall dan membeli pakaian dengan harga ratusan ribu. Ke kantor mengenakan jas kerja dan rok, serta sepatu high heels yang menjadi lambang pegawai wanita kantoran. Penampilan itu membuat semua mata melirik karena lelaki jaman sekarang banyak yang tertarik pada perempuan yang bekerja. Kelihatan hebat dan ‘wow’.
Sekarang bagiku, pekerjaan itu tampak seperti monster bertanduk merah dan bertaring panjang yang tertawa menyeringai setiap kali aku berhadapan dengan komputer. Pekerjaan ini menjauhkan aku dari hura-hura masa muda.
“Kamu nggak apa-apa?” Wira bertanya padaku.
Aku menggeleng-geleng dan kembali menatap layar komputerku untuk mengerjakan sebuah proposal baru.
Wira langsung pergi karena dia juga mempunyai pekerjaan yang membuatnya sibuk.
Apa tamparan itu tidak membuatnya benci padaku?
Aku tahu betul bahwa Wira sama sekali tidak suka dengan perempuan yang suka berkata dan bersikap kasar. Tapi, tampaknya kejadian sebulan lalu sudah bukan masalah baginya karena aku mempunyai ikatan pekerjaan dengannya. Ataukah dia mungkin sudah bisa terima bahwa dia memang pantas mendapatkannya?
Ya, mungkin saja. Karena tiba-tiba dia datang lagi padaku dan menyodorkan sebuah helm sebelum aku sempat menyebrang jalan untuk pergi ke halte busway. Berniat mengulangi kejadian yang sama sebelum aku menjalin hubungan dengannya. Yaitu mengantarku pulang.
Wira dan motornya menghampiriku saat aku sudah lebih dulu melihat seseorang berdiri di seberang jalan dan aku terpaku melihatnya.
Aku tidak mengambil helm itu dan begitu mobil sepi aku segera menyeberang.
Aku dengar Wira memanggilku, tapi aku mengabaikannya.
Seorang lelaki tampak menunggu di pinggir jalan. Mengenakan celana jeans dan kaos berkerah berwarna putih. Bertubuh tinggi dan berisi, serta berkulit putih. Orang itu menatapku sambil tersenyum, sama seperti pertama kali berhadapan dengannya. Senyum yang memperlihatkan lesung pipi yang dalam. Mata yang menghilang karena tertawa.
Seperti keinginan yang pernah kungkapkan padanya. Aku mau Daniel yang dulu. Sekarang dia memenuhinya. Dan entah bagaimana caranya dia bisa menemukan aku di kota yang penuh sesak seperti ini.
“Kenapa kamu bisa ada di sini?”, aku bertanya padanya dan masih tidak percaya itu benar-benar dirinya.
“Aku ke sini mau menjemput kamu”, jawabnya. “Kamu nggak senang?”
Lebih dari sekedar senang!
Komentar
0 comments