๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Cinta Hitam
“Itu nggak boleh” kata Alya menegaskan padaku bahwa sedih karena pasar malam itu sudah tutup adalah hal yang konyol, “Tempat pelarian buat kamu bukan pasar malamnya, tapi Daniel”
Aku tersentak. Benarkah seperti itu kelihatannya? Jika benar, berarti aku jahat.
“Itu nggak boleh” ulangnya. “Kamu mau bikin kacau suasana?”
“Aku sama sekali nggak pernah kepikiran sampai ke sana, Al”
“Terus?” tanya Alya penasaran.Aku malah terdiam. Sangat sulit menjelaskan perasaanku yang kacau balau.
“Apa sih yang terjadi enam tahun lalu antara kalian? Aku jadi penasaran karena semua orang mengira-ngira kalau kalian pacaran dan berusaha buat menutupinya”
Aku menggeleng -geleng, membantahnya, “Kami nggak pernah pacaran.” Jawabku membuka tabir yang menutupi kisah aku dan Daniel selama ini. Aku tidak menyangka Alya masih penasaran padahal sudah lama berlalu. Mungkin karena sekarang kami berteman akrab dan dia hanya sekedar ingin tau. Aku juga tidak menyangka akan membahasnya dengan orang lain. Karena ini rahasia antara aku dan Daniel “Walaupun...aku tau Daniel suka aku, aku suka Daniel, tapi kami nggak pacaran”
Cerita ini jadi menarik untuk diungkit.
Padahal aku sudah lama lupa bahwa pernah ada cerita seperti ini. Aku tidak mau mengingatnya karena termasuk kenangan yang nggak harus diingat, jalan hidupku masih panjang. Saat itu aku masih 16 tahun dan sebagian orang berpendapat bahwa cinta pertama itu tidak selalu pada orang yang kita pacari. Kita tidak harus bisa memilikinya. Jadi aku membiarkannya pergi begitu saja walaupun aku sedih.
Jatuh cinta kadang bukan pada orang yang tepat karena kita hanya melihat dengan mata bukan hati. Jadi apa yang tampak hanyalah sesuatu yang bisa dilihat kasat mata. Secara fisik, bila dia sempurna banyak yang suka padanya.
Daniel adalah tipe orang yang sempurna dari gaya dan penampilan. Karena bertampang keren dan ke sekolah mengendarai motor besar yang harganya mahal. Semua mata cewek melirik padanya ketika dia datang. Kagum sekaligus patah hati berkali-kali setiap pagi, karena Daniel selalu membonceng Tasya, pacarnya yang cantik. Mereka seangkatan dan sering terlihat bersama.
Aku salah satu yang selalu memperhatikan gerak- gerik mereka dan terdiam di satu sudut yang tidak kelihatan, menunggu sesuatu akan terjadi pada mereka. Aku yang datang ke sekolah malas- malasan dan seperti terpaksa. Tidak punya teman dan sering dikucilkan karena tidak kunjung bisa menyesuaikan diri. Daniel seperti oasis di tengah padang gurun yang gersang dan bukanlah sebuah fatamorgana belaka.
Kabarnya Daniel dam Tasya putus tidak lama setelah tahun ajaran baru dimulai.
“Nobita ngapain?” tegur Daniel yang keranjingan mengerjaiku sejak MOS.
“Makan” jawabku sambil menyendok jajanan bakso yang baru kubeli dari kantin dan duduk di bawah sebatang pohon sendirian.
“Bagi dong” katanya merampas mangkok baksoku dan melahap semuanya sampai habis.
Aku berusaha merampasnya kembali tapi dia keburu menghabiskan semuanya. “Ternyata yang gratis memang lebih enak!”
Aku menggerutu karena masih lapar dan mangkok bakso sudah kosong sama sekali. “Yah...”
Daniel cekikikan.
“Jahat...” rengekku.
Dia tertawa makin keras. Lalu mengusap-usap kepalaku. Seperti memperlakukan seekor kucing.
Aku tidak tau harus bagaimana setiap kali dia mendekat. Karena semua orang memperhatikan dan aku seperti seorang pengganggu alias perebut pacar orang. Yang membuatku heran kenapa justru orang lain yang sibuk membicarakanku sementara, Tasya yang seharusnya melabrakku tidak pernah bersikap sedemikian buruk padaku? Mungkin hanya aku yang tahu bahwa Tasya sudah punya pacar baru setelah hubungan mereka bermasalah.
Tapi, kami hanyalah remaja putih abu-abu yang mengenal cinta hanya karena melihat seseorang itu dari luarnya saja. Yang mempermasalahkan hal- hal kecil seperti baju yang dipakai dan model rambut. Tapi, Daniel sebenarnya adalah cowok yang sangat jahat, sangat-sangat jahat.
“Aku putus sama Tasya gara-gara kamu” katanya satu kali tanpa ada hujan, tanpa ada angin di saat sedang bercanda.
Aku merasa tidak pernah melakukan sesuatu. Aku tidak pernah berusaha mendekati dia karena tau dia sudah memiliki pacar yang tidak bisa dibandingkan denganku. Hanya saja, justru dia yang selalu datang mengganggu bahkan di saat yang nggak tepat. Seperti saat aku mau masuk ke toilet buru-buru karena ‘kebelet’, dia malah mecegatku dan tidak membolehkan aku masuk dengan berdiri di depan pintu. Sampai aku memohon- mohon padanya agar menyingkir. Dia menungguku sampai keluar dari toilet dan mengajakku bolos. Aku menolak dan kabur.
Aku tau dia hanya bercanda karena seorang murid nggak bisa jadi anggota OSIS jika suka bolos. Aku tau setiap kali melihatku kabur dan menghindar, dia tertawa. Menggangguku memberi kepuasan batin baginya yang kadang sudah ada di belakangku saat aku sedang makan di kantin dan merampas apa yang sedang ku makan lalu menghabiskannya tanpa basa-basi.
Namun, semakin dihindari, jiwaku berontak. Hatiku merasa senang, tapi akal sehatku tidak mengizikannya. Pertama, Daniel mungkin hanya main-main karena sudah punya pacar. Kedua, kami berbeda dalam segala hal. Dan ketiga, Rara naksir Daniel dan dia sudah lebih dulu memberiku pelajaran supaya tidak merebut apa yang disenangi orang.
Kenapa bisa jadi salahku? Jika gara-gara surat cinta yang hanya main- main saat MOS, bukannya itu terlalu berlebihan? Bukan hanya aku yang menulis untuknya. Banyak sekali dan aku hanya kebetulan terpilih untuk membacakan apa yang aku tulis.
“Yah...Tasya sih nggak tau” jelasnya, “Jadi kamu nggak perlu takut, dia nggak akan melabrak kamu kok”
Aku langsung pergi karena tidaksuka dengan caranya. Aku tidak mau cari masalah dengan orang lain karena ingin melewatkan masa- masa SMA dengan tenang. Jika menghindar darinya tentu orang-orang tidak akan menyindirku. Tidak perlu berhadapan dengan Rara cs yang selalu sibuk mencari bahan baru untuk mempengaruhi yang lain.
Sementara aku harus menghadapi masalah yang sama di rumah karena kemunculan orang yang tidak diundang. Mereka datang untuk menuntut apa yang pernah dilakukan Mama dan bahkan pernah memasukan ke penjara. Mulai dari seorang istri dari seorang suami yang ketahuan berselingkuh, mereka yang pernah meminjamkan uang ke Mama sampai orang yang meminta hutang judi. Akibatnya Mama bisa tidak pulang selama sebulan karena harus menjalani masa penahanan. Aku ingat dia punya teman seprofesi yang sering meminjamkan uang dan membayar jaminan, Tante Monik. Berkatnya, Mama pulang ke rumah seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
Tante Monik juga sering menemaniku untuk memastikan aku baik-baik saja atas permintaan Mama yang harus terbelenggu selama beberapa saat sebelum akhirnya bisa kembali pulang.
Dia wanita yang tidak lebih cantik dari Mama dan seorang peminum dan perokok berat. Dia sudah sering menikah siri dengan pria-pria kaya namun kemudian mencampakannya saat ia mulai menua dan bersaing dengan gadis-gadis muda. Terakhir melihatnya adalah saat dia datang ke rumah mengadu pada Mama dalam keadaan sakit dan wajah pucat. Mereka sering berbicara berdua di kamar dan aku tidak boleh tau apa yang sedang mereka bicarakan. Mama bilang itu bukan urusan anak kecil.
Suatu kali aku pernah mengintip dan menguping karena penasaran. Mereka membicarakan satu penyakit berbahaya yang biasa diderita wanita penghibur dan mematikan. Tante Monik terlalu lama tinggal di rumah kami dalam keadaan lemah sampai akhirnya meninggal. Itu kematian pertama yang pernah kulihat. Menyaksikan seseorang dengan begitu tersiksa meregang nyawa di atas tempat tidur. Keadaannya sangat menyedihkan dan tetangga mulai berbisik-bisik. Mereka terus membicarakan kematian itu bahkan sebulan berlalu sejak kematian Tante Monik yang tragis karena sipilis.
Akhirnya kami pindah rumah di mana nggak ada orang yang terus membicarakanya. Ke lingkungan baru yang untuk sementara adalah tempat yang aman untuk memulai lembaran baru. Tapi, kejadian-kejadian di mana seorang wanita yang mengaku bahwa Mama telah menggoda suaminya terus terjadi. Kadang Mama tidak ada di rumah dan mereka malah menyerangku. Karena tidak mau Mama bersedih sebab aku ikut-ikutan jadi korban aku tidak memberitahunya. Satu kali, Mama baru tahu tidak lama setelah wanita itu kembali dan mengaku sendiri bahwa dia sudah menjambak rambutku dan megumpat mama di depanku. Mama langsung naik darah. Bagaimana wanita itu menjambakku seperti itu pulalah Mama membalasnya sampai dia pergi dan tidak pernah datang lagi.
Saat itu hanya Daniel satu-satunya orang yang paling dekat dekat denganku. Aku datang padanya sambil menangis. Selalu ada saja sesuatu yang hilang dan tidak bisa kutemukan lagi saat mengadu padanya.
Aku menangis di depannya seperti Nobita yang mengadu pada Doraemon karena ada yang menjahatinya. Doraemon selalu menghibur Nobita dengan alat-alat yang ia keluarkan dari kantong ajaibnya.
Daniel mengenalku dengan sangat baik. Dia tau apapun tentang diriku dan aku juga tau siapa dia yang sebenarnya di balik sosoknya yang sangat dielu-elukan orang. Dia memang tidak memiliki kantong ajaib tapi dia selalu berhasil membuatku tertawa.
Aku pernah terkejut saat Daniel tiba-tiba membuka baju seragamnya dan menghadapkan punggung telanjang kepadaku. Saat aku merasa malu dan ketakutan karena sangat tiba-tiba, ternyata Daniel memperlihatkan tato yang ia buat pertama kali di tubuhnya. Sebuah tato kecil bergambar hati berwarna hitam pekat di punggung bagian atas sebelah kanan.
“Apa kakak nggak takut dimarahi kalau ketahuan? Kakak bisa dikeluarin karena nggak boleh punya tato di sekolah” kataku cemas.
“Makanya kamu jangan bilang-bilang orang kalau aku punya tato” jelasnya sambil kembali mengenakan seragamnya. “Kalau nggak ada yang tau nggak bakal jadi masalah. Sebentar lagi juga lulus”
“Tapi,...” aku tersentak saat Daniel mendekatkan wajahnya ke wajahku. Aku terdiam dan mataku sama sekali tidak berkedip saat menatap matanya yang sipit.
Daniel terus menatapku seolah berisyarat aku harus memejamkan mataku. Tapi, begitu aku pejamkan, aku tidak merasakan apapun. Setelah membuka kembali mataku Daniel rupanya sedang memasangi kancing bajunya dengan membelakangiku. Menghindar .
“Nggak boleh...” katanya pelan. “Aku nggak boleh begitu...”
Kenapa nggak?, tanyaku dalam hati dan menunggunya sampai kembali menatapku.
Daniel merapikan seragamnya sehingga dia kembali kelihatan seperti Daniel yang biasanya. Yang dikenal orang. Kelihatan gagah dengan seragam yang rapi. Tapi, bagiku dia tetaplah Doraemon yang lucu.
“Aku bukan cowok yang baik ,” akunya, “Aku sama sekali nggak mau terikat terlalu lama sama cewek. Lagian aku baru 18 tahun”
Mempertahankan hubungan cinta untuk waktu yang sangat lama itu susah. Sementara belum tentu berjodoh. Patah hati rasanya sakit dan tidak ada yang menginginkannya. Aku sadar, begitu lama waktu yang harus ditempuh untuk bisa dewasa dan memutuskan. Terlalu cepat untuk menarik kesimpulan bahwa ini adalah cinta yang sejati.
Daniel berasal dari keluarga mapan dan agak sedikit maja pada Mami-nya yang katanya sangat pemarah. Daniel diberi banyak peraturan supaya dia tidak melakukan kesalahan. Setiap ketahuan nakal, Daniel dihukum dengan tidak adai jajan selama sebulan. Jika tidak ada jajan, tidak akan ada cewek, dan tidak ada ‘hepi-hepi’ alias bosan. Jika bosan, hidup sama sekali tidak ada gunanya tapi tidak mungkin juga bunuh diri. Karena itu Daniel selalu menyembhunyikan semua kelakuan buruknya baik dari sang Mami juga orang-orang yang mengenalnya.
Dia bukan anak yang nakal dan suka hura-hura. Dia cukup tenang dan sangat humoris, tapi jelalatan atau bahasa halusnya disebut ‘stereotype’.
Aku tidak pernah tahu, Daniel menganggapku apa. Dia tidak pernah mengatakannya langsung tapi aku tahu dia menganggapku sedikit istimewa. Karena Daniel sering cerita tentang apa yang tidak diketahui orang lain tentang dirinya. Termasuk masalah pribadi. Dan aku pun sering datang padanya setiap kali mau menangis. Dan ketika bertemu dengannya, aku yang tadinya ingin sekali menangis, jadi tidak bisa menangis karena candaan segarnya.
Dia memegang tanganku, “Tapi yang pasti...” kembali berujar, “Kita bisa saling memiliki”
Aku sama sekali tidak mengerti arti ucapannya dan nggak pernah cari tahu. Jika hanya status, sama sekali tidak penting, bukan sesuatu yang harus dipertanyakan setiap saat.
Biasanya lambang cinta identik dengan warna merah atau pink.
“Karena kita begini, makanya aku kasih warnanya hitam” jelas Daniel padaku soal tato yang ada di punggungnya.
“Tapi, jadinya nggak lucu”
Daniel tertawa, “Masa sih?” balasnya.
Cinta hitam. Cinta yang tidak pernah diungkapkan tapi bisa dirasakan. Tidak seperti cinta yang berwarna merah atau pink. Tapi, cinta hitam menghilang dalam gelap.
Besoknya aku mendengar kabar yang sangat mengejutkan dari teman-teman yang sama terkejutnya denganku. Sebuah berita mengenai Daniel yang kemarin pamitan padaku untuk bertemu Tasya yang minta tolong padanya dalam keadaan terdesak.
Aku tidak pernah tahu pertolongan seperti apa yang dia berikan untuk Tasya saat itu karena besok paginya dikabarkan bahwa mereka tertangkap sedang berduaan di kamar kos Tasya. Spekulasi miring terdengar di mana -mana. Aku tidak sanggup mendengarnya karena aku percaya bahwa Daniel tidak seperti itu. Tapi, Daniel tidak pernah muncul lagi untuk menjelaskan kejadian yang sebenarnya.
Aku menjadi bahan olok-olok teman satu sekolah setelah kejadian seperti itu. Mereka bilang aku kena batunya setelah merebut pacar orang. Terlebih setelah satu kali mama datang ke sekolah untuk mengambil raport dan orang-orang jadi mengenalnya. Pantas aku begitu, karena Mama-ku orang yang seperti ini, anggapan mereka. Setelah itu, aku tidak punya waktu lagi untuk memikirkan menghilangnya Daniel secara mendadak dan berjuang keras di tengah anak-anak itu.
Komentar
0 comments