[Ch. 17] CINTA HITAM - Baca Novel Romantis Dewasa Online

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

 Realita ‘Zero’

Pagi, sebelum jam menunjukan angka delapan, aku selalu kasak kusuk untuk berdandan dan memakai sepatu hak tinggi yang merepotkan. Ini adalah rutinitas baru yang buatku menyebalkan karena aku susah bangun pagi. Belum lagi, menempuh perjalanan dengan naik angkot pergi ke tempat kerja dan aku sudah harus di sana sebelum jam delapan.Yah, aku telat lagi. Hanya satu menit dan absen-ku sudah merah.Aku adalah anak baru di sebuah perusahaan swasta yang bergerak di bidang industri. Aku mendapat posisi di bagian kantor tapi sayang dengan jabatan yang sama sekali tidak jelas. Ini membuatku menggerutu setiap hari. Aku bisa diterima di perusahaan itu, karena atasan yang sepertinya baik tertarik dengan surat lamaran yang kutulis dengan tangan dalam Bahasa Inggris walaupun sebenarnya untuk bisa masuk ke perusahaan itu tidak perlu keahlian Bahasa Inggris. Bagian yang paling bagus adalah bos besar mulai mengiming-imingi aku dengan jabatan yang tinggi karena dia berpikir aku gadis yang pintar dilihat dari nilai-nilaiku dalam ijazah yang kulampirkan saat melamar.

Padahal sebenarnya perusahaan itu belum membutuhkan karyawan baru tapi Bos Besar tetap menginginkan aku bergabung di perusahaannya untuk sebuah proyek di luar kota yaitu membangun sebuah pabrik besar di provinsi lain. Aku tergiur dan berharap aku akan segera dikirim ke sana. Namun untuk sementara aku harus bersabar dengan posisi yang belum ada.

Inilah aku yang tiada hari tanpa mengeluh, yang berharap semua terjadi sesuai keinginan. Tapi, mana ada yang seperti itu di dunia ini?

Kantor itu tidak terlalu besar. Ruangannya bahkan terlalu sempit untuk bisa dibilang sebuah kantor dari sebuah perusahaan yang katanya beromset milyaran karena bekerja sama dengan sebuah BUMN yang nilai proyeknya sangat besar. Mereka memakai sistem tender yang tidak terlalu kumengerti namun yang pasti untuk bisa memenangkan tender, perusahaan itu harus bisa mendekati orang-orang penting yang ada di BUMN itu dengan amplop yang berisi uang. Soalnya aku pernah diminta untuk menemani seorang karyawan yang bertugas membagikan amplop-amplop itu dan kami berkeliling bolak-balik untuk bisa memberikan amplop kepada orang yang tepat. Tentu ini sudah jadi rahasia umum.

Aku sangat berharap pekerjaan ini bisa mengubah hidupku. Walau keadaannya sangat tidak memungkinkan bagiku. Aku sering tidak melakukan apapun selain disuruh-suruh mengerjakan hal-hal yang sepele, seperti mem-fotokopi dokumen, memberi stempel pada lembaran formulir pengiriman barang dan beberapa pekerjaan yang nggak penting lainnya. Dan di sana aku hanya punya satu orang teman, seorang perempuan yang sudah bekeluarga dan jauh lebih tua dari aku. Aku memanggilnya Kak Nina.

Kami adalah dua orang yang selalu tidak dianggap di kantor itu dan sering mengeluhkan kelakuan karyawan-karyawan lain yang seenaknya dan semuanya adalah cewek. Satu orang mengerjakan satu bidang pekerjaan dan mereka tersebar di dua ruangan yang sangat sangat sempit dan sesak oleh alat-alat kantor. Mereka membuatku seperti seorang pengemis saat bertanya apa ada yang bisa kukerjakan supaya aku tidak kelihatan malas-malasan. Belum lagi mereka suka menggosip dan membicarakan kekurangan orang seolah mereka tidak melihat diri mereka sendiri.

Tapi, para pekerja laki-laki memperlakukan aku dengan baik. Mereka menyapa dan kadang-kadang mengajakku bercanda.

Aku mungkin akan mencoba sebulan lagi. Padahal gajinya tidak besar, pas-pasan untuk bayar sewa rumah dan kadang meminjam dari Alya untuk beli makanan di saat tanggal tua kehabisan uang. Tapi, mereka yang duduk di kantor itu dan senang bergosip, tidak akan pernah mengerti bagaimana kesulitan yang kuhadapi untuk bertahan hidup. Mereka malah terus mempersulitku.

Suatu hari aku dipanggil oleh karyawan bagian HRD yang juga merangkap sebagai staf akunting. Bagaimana sebuah perusahaan besar punya karyawan yang diharuskan menjalankan pekerjaan ganda yang bidangnya jauh berbeda? Kurasa mungkin, bos besar terlalu pelit.

Aku tahu, aku pasti melakukan kesalahan lagi, namun yang kali ini membuatku tidak habis pikir. Kenapa semua menyudutkan aku seolah aku menyinggung mereka semua?. Ataukah aku yang tidak sadar diri atas perkataan dan sikapku di depan mereka? Entah.

“Saya tau kamu pintar dan kamu bisa, tapi saya minta kamu untuk lebih aktif dan nggak menunggu yang lain bisa memberi kerjaan. Banyak yang komplen ke saya katanya kamu nggak mau disuruh” kata Kak Rini, karyawan HRD yang sangat dituakan di kantor itu, “Dan satu lagi, karena di sini juga banyak laki-laki, kamu jangan pakai baju yang terlalu mengepas badan”

Apa?

Sebenarnya aku mau protes apalagi soal berpakaian. Aku sudah bersikap dan berpenampilan yang pantas! Bisa-bisanya mereka mempermasalahkan itu dan membuat aku malu!

Perusahaan macam apa yang sama sekali tidak profesional, menerima aduan sesama karyawan yang belum tentu benar. Seolah mereka sengaja agar aku tersingkir dan tidak mengganggu mereka.

Tapi, begitu berhadapan dengan Kak Rini yang dijuluki ‘gembrot’ oleh orang-orang yang tidak menyukainya, aku langsung ciut. Karena dia selalu punya kata-kata yang menohok dan membuat orang tidak berkutik. Kak Rini, umurnya 30 tahun ke atas. Punya dua orang anak. Dia tidak lebih lama bekerja dibanding Kak Fitri yang lumayan dekat dengan bos sehingga mereka sering perang argumen. Kak Rini bertubuh pendek dan gendut, berkerudung dan sepertinya sangat cuek dengan penampilan, juga tidak suka berdandan. Ada satu hal yang bikin aku sering geleng-geleng kepala, bau badannya itu. Apalagi di saat sudah sore dan dia berkeringat lebih banyak. Apa tidak ada yang protes karena mencium aroma yang tidak enak itu seperti dia memprotes cara berpakaianku?

Di kantor banyak yang tidak suka padanya. Selain karena kasar, dia juga suka meremehkan orang mentang-mentang hanya dia seorang yang bergelar S2. Sampai gelar M.M yang ada di belakang namanya diartikan menjadi ‘Mau Muntah’. Kata orang dia adalah penjilat yang kelihatan sangat baik di depan bos besar. Kabarnya dia juga pernah dimaki dengan kata-kata kotor oleh seorang pekerja lapangan.

Kak Fitri dulu baik padaku, tapi kemudian dia mulai terpengaruh oleh orang-orang di sekelilingnya. Sehingga Kak Nina mengingatkan aku untuk hati-hati padanya.

Mereka yang di sana hanyalah orang-orang yang berpikiran sempit. Yang mengira, hanya di sanalah tempat satu-satunya mereka bisa bekerja hanya untuk gaji yang tidak sampai dua juta sebulan. Padahal rata-rata dari mereka adalah sarjana.

Lingkungan kerja memang keras dan selalu ada persaingan terselubung di antara mereka walau mereka kelihatan bagai sahabat sejati yang selalu sharing tentang masalah pribadi atau pekerjaan.

Lagipula perusahaan itu punya kebijakan yang aneh, yaitu keputusan mutlak dari bos besar bisa melalui telpon saja tanpa ada pernyataan tertulis. Perusahaan itu lebih terlihat seperti organisasi mafia. Contohnya, temanku Kak Nina, mendapat skorsing hanya gara-gara terus mencoba menghubungi bos lewat telpon di saat ia tidak bisa diganggu atas desakan karyawan lain. Kak Nina meradang dan akhirnya berhenti dengan cara nggak masuk lagi setelah masa skorsing berakhir. Aku juga sempat terancam skorsing hanya karena bos besar tidak ingin melihat sebuah lampu masih hidup di siang hari padahal bukan aku yang sering menggunakannya.

“Udahlah, Bit. Mendingan kamu cari kerjaan yang lain aja” katanya, di saat aku menelponnya untuk memastikan kabar yang aku dengar benar. Kami cerita panjang lebar soal kelakuan karyawan yang menurut kami menyebalkan dan keburukan yang mereka sembunyikan satu sama lain hanya untuk bisa bekerja di sana.

Saat itu aku sudah dipindahkan ke kantor yang satu lagi karena aku pernah mengatakan pada Bos bahwa aku merasa sangat tertekan berada di tempat itu. Jadi dia memindahkanku agar aku bisa bekerja dengan baik. Awalnya aku senang, karena kupikir aku dipindahkan ke tempat di mana ada seorang karyawan yang menurut kebanyakan orang setidaknya lebih baik dari pada yang ada di kantorku yang lama.

Ningsih namanya, dia lebih tua beberapa tahun dari aku dan lulusan fakultas ekonomi yang berasal dari Jambi. Ningsih merupakan keturunan Jawa Solo tulen. Bertubuh tinggi dan amat sangat kurus, lurus dari ujung kaki sampai ujung kepala. Wajahnya tirus dengan bekas-bekas jerawat yang memerah. Rambutnya lurus seperti ‘bodi’-nya dan panjang plus tipis seperti kurang gizi. Dibandingkan karyawan lain dia kelihatan lebih modis mungkin karena punya posisi yang penting, dia mendapat gaji yang lebih banyak sehingga bisa beli baju dan pakai sepatu sendal yang modelnya beda-beda dan harganya mahal. Tapi, aku merasa gayanya tetap saja norak.

Dia kelihatan pendiam dan lemah lembut dari caranya bicara yang agak manja. Namun, aku mulai menemukan bahwa dia tidak seperti anggapan orang-orang. Dia sering tidak memberiku perkejaan dengan alasan tidak ada yang bisa kukerjakan. Dan aku rasa dia juga sering tertawa di saat aku kelihatan bodoh karena tidak punya pekerjaan.

Ada dua orang karyawan laki-laki yang memperlakukanku dengan sangat baik di sana. Ruli dan Jery. Dua-duanya sudah berkeluarga dan aku sering bercanda dengan mereka di sela-sela membantu mereka bekerja. Mereka sangat puas dengan hasil kerjaku karena aku bisa mengoperasikan MS Office dengan sangat baik. Aku bahkan bisa mengerjakan sesuatu yang tidakbisa dikerjakan Ningsih yang sudah bekerja di sana bertahun-tahun.

Kedua temanku selalu berpesan padaku untuk berhati-hati karena karyawan di perusahaan itu tidakseorangpun yang bisa dipercaya. Yang mengherankan, Jery bilang padaku untuk berhati-hati dengan Ruli, tapi Ruli bilang padaku untuk tidak terlalu percaya pada Jery. Kedua orang yang sudah dewasa itu terkesan seperti anak-anak. Tapi, mereka sama-sama bilang, penjilat-penjilat itu bisa saja menyingkirkan orang yang bisa mengancam posisi mereka.

Tidak  lama, Kak Rini datang untuk inspeksi karyawan dan melakukan banyak perbaikan sistem keuangan yang kacau karena terlalu banyak bendahara di kantor cabang. Laporan keuangan mereka bahkan sampai berselisih hingga lima puluh juta lebih. Kedatangan Kak Rini juga sekaligus memberitahu kabar buruk untukku.

Aku dipecat. Aku diberhentikan atas dasar alasan-alasan yang menurutku sangat dibesar-besarkan.

Kak Rini mendapat kabar bahwa aku nggak benar-benar bekerja dan lebih sering tertawa bersama karyawan laki-laki. Aku juga dituduh mengadu domba karyawan karena ucapan-ucapanku soal perilaku teman-teman sekantor yang selalu menjelekan satu sama lain.

Aku sakit hati, dan tanpa membela diri langsung saja menandatagani surat PHK.

Aku merasa cukup pintar dan bisa mendapatkan pekerjaan baru. Jadi aku tidak harus memohon agar tidak diberhentikan. Mereka memberhentikanku tepat di saat masa percobaanku habis.

Sebelum pulang, Ruli sempat memberitahu aku bahwa Ningsih yang mengadukan semua itu. Padahal aku baru tiga bulan bekerja di sana. Tapi, malah dipecat. Hanya saja aku merasa lega, tidak perlu berhadapan dengan orang-orang itu lagi. Orang-orang yang saling menjelek-jelekan untuk mengamankan posisi masing-masing alias ular kepala dua! Suatu saat mereka akan kena batunya.

“Dia jahat! Aku benci dia!” kata Alya, “Tapi, Ningsih itu siapa sih?”

“Karyawan kesayangan bos” jawabku, lemas dan berbaring di atas kasur menarik nafas panjang.

Aku sama sekali tidak menangis walau mereka memperlakukanku nggak adil.

“Cantik nggak sih tuh orang?’ tanya Alya makin penasaran.

“Cantik apanya? Dari atas sampai bawah nggak ada bentuknya, lurus kayak penggaris” jelasku, masih sebal ketika kuingat sosok Ningsih yang sok suci, yang bilang tidak pernah ciuman sama pacarnya sekalipun sudah empat tahun pacaran, sok lembut dan sok berkepribadian.

Alya tertawa keras, “Munafik banget!”

“Yah...” balasku, “Tuh cewek norak banget. Merasa paling cantik, padahal kalau diperhatiin perawakan wajahnya kayak banci”

“Hah?! Serius?”

Mereka, dengan kata-kata mereka yang seperti pisau dan pedang sebagai senjata yang mereka gunakan untuk melawanku. Yang membuatku merasa aku bukan apa-apa. Mereka, dengan suara mereka yang seperti paku yang ditancapkan ke papan tulis untuk memanggilku di saat aku terluka.

Suatu hari aku akan tinggal di sebuah kota besar. Dan mereka hanyalah orang yang  jahat. Suatu hari nanti, aku akan mejadi cukup besar sehingga mereka tidak bisa memukulku lagi.

Kenapa mereka jahat sekali?

Mereka, yang menunjuk kekuranganku seperti aku tidak bisa melihatnya sendiri. Aku selalu berjalan dengan kepala tertunduk karena perkataan mereka. Setiap saat aku berharap bisa  merasa lebih baik.

Mereka semua jahat.

ooOoo

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments