๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Hilang Menjadi Buih
“Terakhir dilempari sendal di depan tetangga” jawab Daniel waktu aku tanya kenapa ia tidak menemui Utari lagi sejak mereka ribut saat Daniel memberi hadiah kalung itu.
“Berantemnya belum selesai?” tanyaku lagi.
‘Biasa sih” jawabnya. “Dia agak pemarah. Nggak angkat telpon marah. Telat balas SMS marah. Pulang telat marah. Telat bangun juga marah.”
Aku hanya bisa diam dan prihatin. Jika hubungan itu tidak menyenangkan untuk dijalani kenapa Daniel melanjutkannya? Tidak bisakah dia jatuh cinta pada orang yang memperlakukannya seperti lelaki?
“Utari nggak bisa ngapa-ngapain,” katanya. Entah seperti keluhan atau sekedar cerita soal masalahnya. “Nggak bisa masak. Tiap hari makan di luar. Nyuci nggak bersih. Dibilangin nyolot. Jadinya berantem terus. Rumah nggak beres. Dikit-dikit teriak. Pokoknya bikin aku nggak betah di rumah”
Aku tidak berkomentar. Aku bahkan tidak tahu banyak tentang mereka.
“Tiap hari minta putus. Katanya mau pulang ke rumah ortunya. Tapi, aku nggak pernah ngizinin. Habisnya aku sudah bersumpah akan tanggungjawab. Soalnya aku laki-laki”
Daniel mengambil sesuatu dari kantongnya. Sebuah kotak kecil berwarna abu-abu dengan hiasan pita berwarna putih. Isinya pasti sebuah cincin untuk melamar. Untuk Utari.
Utari pasti akan senang. Setelah itu mungkin aku akan pergi dan menghilang.
“Tinggal serumah nggak ada ikatan pernikahan itu sama sekali nggak baik” katanya menjelaskan soal keputusan yang sudah dia ambil.
“Aku juga nggak ngerti kenapa bisa jadi begini. Dulu Utari sombongnya selangit. Pertama kali ketemu dia cuma cewek SMA yang datang ke pasar malam sama temannya dan nonton tong setan” jelasnya sambil tersenyum, “Padahal semua teman-temannya bilang aku keren. Sibuk mau kenalan dan minta nomor hp sambil bercanda saat aku mengambil tiket orang yang mau nonton. Tapi, dia malah merendahkan aku sama ucapannya yang kelewatan”
Kenapa aku harus mendengarkan cerita ini?
"Besoknya mereka datang lagi dan aku paling nggak suka sama cewek belagu kayak dia. Utari juga nggak cantik-cantik amat” sambungnya. “Aku nggak tau apa yang menarik dari dia... tapi aku malah mendekati dia buat balas dendam. Awalnya aku pikir gampang, setelah dapat yang aku mau, tinggal cabut dan nggak mau tau lagi. Tapi, waktu dia memohon supaya jangan pergi, aku jadi kasihan, lebih-lebih sekolahnya berantakan. Sampai nggak lulus UN dan diusir dari rumahnya. Klise. Lalu aku bawa dia pulang ”
Nggak semudah itu bisa memahami tindakannya. Daniel lebih jahat dari yang aku tahu selama ini.
“Aku belum pernah minta maaf” , kata Daniel lagi, padaku sehingga aku heran, “Aku tahu setelah aku dikeluarin, kamu diketawain orang dan aku...sebenarnya merasa bersalah.”
Sungguh, aku sama sekali nggak mau membicarakan masalah ini.
“Aku mau menemui kamu untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi karena orang-orang terlanjur ngomong yang nggak-nggak soal aku dan Tasya. Tapi, aku sama sekali nggak berani” sambungnya, “Harusnya aku cari kamu lagi. Tapi, aku malah jadi pengecut” katanya.
Tapi, rasa penasaran selama ini jadi hilang.
“Hidup aku berantakan, kamu nggak akan tahan sama orang seperti aku. Aku hanya nggak mau hidup dengan aku, hidup kamu malah tambah susah”
“Sok tau!” celetukku mendorongnya dengan siku lalu dia tertawa lagi.
Namun, aku mengerti.
Ya, setelah ini dia akan pergi dengan rombongan pasar malam. Ke luar kota yang jauh dari sini. Sekalipun begitu aku berusaha untuk tidak kecewa. Setidaknya dia membuat perasaanku jadi lebih baik setelah menghadapi masa-masa yang bagaikan terkutuk selamanya.
“Kami nggak melakukan hal-hal yang seperti dibilang orang-orang. Tasya dipukuli sama pacarnya, aku datang nggak lama setelah itu, sebelum ibu kosnya datang dan semua orang jadi mengira kalau kami habis ngapa-ngapain” jelasnya, secara tiba-tiba dan membuatku kembali heran, “Kami dalam posisi yang sama sekali nggak bisa menjelaskan dan sulit bagi orang lain untuk percaya”
Sebuah kisah cinta nggak harus berakhir dengan bahagia. Aku memaafkannya. Nggak perlu malu, nggak perlu menyalahkannya. Nggak perlu berkata seandainya dan seandainya lagi.
“Daniel!!” teriakan itu terdengar melengking dan mengejutkan kami berdua yang langsung terdiam.
Rupanya aku telah melakukan sebuah kesalahan dan baru saja sadar, saat Utari datang untuk mencari Daniel. Dengan rasa penasaran ingin mengetahui apa yang terjadi selama dia tidak bisa memastikan apa yang dilakukan Daniel di luar.
Tidak pernah kulihat Daniel cemas. Seakan Utari bakal mencincangnya. Dia terdiam di sampingku sementara Utari mendekat dengan langkah yang cepat.
Utari, gadis berambut lurus panjang itu menghampiri kami. Dia sangat marah dan seketika melayangkan tangannya ke wajah Daniel.
Dia menampar Daniel lalu meoleh kepadaku, menatapku tajam.
“Kamu siapa?!” tanyanya, suaranya kecil seperti bocah.
Yah, usianya masih 19 tahun.
Daniel menariknya pergi sebelum Utari sempat menggunakan tangannya untuk menjambak rambutku. Dia cewek yang kasar, kata Daniel. Daniel saja yang seorang cowok tidak tahan dengan sikapnya apalagi kalau sudah mengamuk. Siapapun bisa diserangnya.
“Ayo pulang!” paksa Daniel menariknya kuat-kuat agar menjauh dariku.
“Nggak mau!” jeritnya sambil meronta, “Aku nggak puas sebelum aku balas cewek itu!”
Aku terpaku di tempatku, mendengarkan mereka ribut.
“Brengsek! Kamu brengsek, Daniel!” makinya, “Lepasin aku! Dasar cowok brengsek!”
“Sudah! Berhenti!” Daniel memaki lebih keras sambil menahannya. Menyeretnya pergi dengan susah payah karena Utari terus-terusan melawan.
Semua pekerja pasar malam keluar dari tenda mereka untuk melihat kejadian itu. Tapi, Utari tidak berhentinya membuat Daniel malu karena tingkahnya yang emosional.
Aku masih diam karena shock.
“Kemarin kamu beli kalung tapi nggak mau kasih ke aku! Kenapa?! Ternyata kamu mau kasih ke cewek itu ya?!” tuduhnya sambil teriak-teriak.
Daniel bohong. Kenapa dia harus bohong?
Dari kejauhan dia menatap ke arahku sementara Utari kembali menampar dan memukulinya. Daniel menghindar dan kembali memegangi tangannya. Menahan Utari untuk tidak menghajarku dan menariknya pergi.
Aku hanya tidak mau jadi penyebab. Seperti Daniel dan Tasya putus, hidup mereka pun jadi berantakan. Jadi aku malah menghampiri mereka, bukan untuk membela diri. Walau aku tau Utari bisa saja menamparku. Aku tidak peduli, mungkin aku pantas mendapatkannya.
“Kalungnya buat kamu kok!” kataku menyela pertengkaran mereka. “Bukan buat aku”
Utari terdiam tapi masih menatapku dengan cara yang sama, seolah tidak percaya. Masih ingin mejambak rambutku untuk melampiaskan rasa kecewa dan kekesalannya karena merasa dikhianati.
“Daniel, cincinnya!” kataku mengingatkan sebelum kemarahan Utari kembali meledak.
Daniel terkejut kemudian merogoh sakunya dengan ragu-ragu untuk mengambil kotak kecil yang sengaja ia belikan untuk Utari, yang langsung mengunci mulutnya saat Daniel menyodorkan sebuah cincin indah.
Gadis mana pun pasti luluh karenanya.
Saat itu aku langsung pergi. Tidak perlu penjelasan lagi supaya mereka baikan dan kembali seperti biasanya. Lebih dewasa dan tidak lagi bertengkar seperti anak kecil.
Aku tidak akan menangis untuk hari-hari yang sudah berlalu.
ooOoo
Komentar
0 comments