[Ch. 9] CINTA HITAM - Baca Novel Romantis Dewasa Online

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

 Pintu di dasar air

“Besok kamu masuk dong” kata Ben mengajakku bicara karena aku tidak bersuara sejak tadi. Dia sesekali melirik aku yang memandang keluar jendela selagi menyetir mobil menuju kontrakanku yang baru setelah belanja keperluan buat di rumah di supermarket. “Minimal harus dapat C lho supaya bisa ambil mata kuliah lanjutannya. Gimana mau dapat C masuk aja belum. PA nggak bisa kasih izin kelamaan”

Sejak itu, dia jadi peduli padaku. Aku jadi tidak enak sama ceweknya. Entah dia masih punya atau tidak. Aku tidak pernah mengikuti kisah cintanya. Endingnya selalu sama. Jadi membosankan untuk disimak.

“Iya, besok aku masuk kok” jawabku lalu diam lagi.

Aku sedang malas bicara. Belum lepas dari kesedihan yang berlipat ganda. Masih terbayang kilasan – kilasan  yang menyakitkan hati. Ditinggal dua orang yang paling kucintai di dunia ini.

“Eh, kamu tau nggak sih waktu ospek kemarin aku dapat banyak surat cinta dari anak-anak yunior?” Ben kembali mengajakku mengobrol, karena perjalanan masih cukup jauh. “Padahal aku nggak ikut senat tapi ternyata beken juga. Hahahaha...”

“Terus?” tanyaku menanggapi.

“Dasar cewek nggak lucu!” cetusnya.

Aku tersenyum lebar tapi dipaksakan karena aku jengkel dengan gerutuannya.

“Idih, senyum aja terpaksa!” tandasnya.

“Habis kamu narsis sih, bikin eneg!” balasku.

Ben diam. Tidak  tau harus jawab apa. “Iya deh. Tapi, sumpah asyik OSPEK –nya. Jadi ingat saat kita yang di OSPEK dulu” dia mengoceh lagi tanpa berhenti. Seperti  biasanya selalu ada bahan untuk mengobrol dan tertawa cekikikan. “Dulu kamu nulis surat cintanya ke siapa?”

Aku mencoba mengingat saat-saat ospek yang buatku sama sekali tidak berkesan. “Aku nggak ingat...” jawabku.

“Kalau aku sih nulis buat Melinda. Nggak lama langsung jadian. Hahahaha...” kenangnya. “Waktu OSPEK aku dikerjain melulu, sampai muka ireng semua gara-gara  diolesin kopi. Senior kita dulu memang jahil minta ampun!”

Menulis surat cinta. Ide tahunan setiap ada OSPEK mahasiswa baru di awal tahun akademik. Kayaknya tidak pernah lengkap jika tidak ada adegan membacanya keras-keras di depan semua orang. Waktu masuk kuliah aku tidak menjadi sasaran senior yang iseng. Tapi, waktu masuk SMA, pernah. Bahkan masih membekas dalam ingatanku.

Ah, jadi ingat lagi...

Di tengah sorak-sorai  penonton yang tidak lain adalah sesama siswa baru yang lengkap dengan atribut konyol, aku berdiri dengan secarik surat cinta untuk seorang senior cowok. Dengan rambut yang disasak berantakan. Papan nama yang terbuat dari lembaran kertas kardus dan diikat dengan sumbu kompor menggantung dileherku, bertuliskan namaku Bita Sandrina dan dibawahnya ada julukan ‘curut’, nama yang paling jelek dari semua nama julukan yang disandang teman – temanku  yang lain. Mengenakan rok dan kemeja putih; sepatu kets dan kaos kaki belang setinggi lutut; dan membawa tas kardus berisi coklat dan alat tulis.

Para senior berdiri di belakangku menunggu aku akan membacakan suratnya dan sudah tidak sabar untuk mengetahui isinya.

Aku mulai membaca. “Dear Kak Daniel.’ Awal yang membuat semua penonton makin bersorak kepada senior yang aku maksud. “Kakak mungkin belum kenal aku tapi aku nggak tau harus tulis surat kayak gini ke siapa. Karena dibandingin sama senior lain cuma kakak yang paling keren dan nggak jahil.”

Dan itu bukan surat cinta.

Aku berhenti. Karena cuma itu yang kutulis. Lagipula apa lagi yang mau ditulis. Aku tidak berbakat dalam menulis dan imajimasiku sama sekali tidak berkembang.

“Wah, reseh nih anak!” kata senior yang lain menghampiriku. “Daniel!”

Orang yang kumaksud datang. Dia kakak kelasku. Duduk di kelas III dan menurutku mempunyai aura berbeda dari senior-senior yang lain. Kulitnya putih khas etnis tionghoa, tapi sepertinya dia campuran orang pribumi juga. Cewek-cewek sudah lebih dulu membahasnya dan banyak surat yang ditujukan untuk Daniel. Tapi, hanya suratku yang sengaja diperdengarkan karena kebetulan aku terpilih dan mereka mulai menjadikan aku bulan-bulanan selama 3 hari MOS berlangsung.

Dia berdiri di depanku sambil tersenyum dan aku baru sadar dia punya lesung pipit yang dalam dan matanya hilang saat tersenyum apalagi tertawa.

Memang tidak bisa dipungkiri, Daniel itu keren dan ramah. Tapi, sayang sudah punya cewek sehingga yang lain termasuk aku jadi patah hati. Ceweknya cantik. Aku hanya menikmati saat-saat  Daniel menggangguku di sekolah ketika penyakit isengnya muncul.

Dia selalu panggil aku “No-Bita” temannya Doraemon yang cengeng dan menurutnya cocok  dengan karakterku. Tapi, cuma Daniel yang panggil aku begitu. Namun Daniel tidak sesempurna kelihatannya.

“Kok bengong sih?!” tegur Ben sambil narik rambutku. “Orang lagi cerita malah melamun! Nggak seru!”

“Sakit tahu!” teriakku jengkel.

Lalu kami berhadapan dengan jalanan macet karena sepertinya ada acara besar yang membuat badan jalan jadi tempat parkir mobil. Aku melirik jam yang sudah menunjukan pukul delapan  malam. Aku  mulai gelisah karena capek dan ingin segera sampai rumah untuk istirahat. Apalagi besok aku berencana untuk kembali masuk kuliah setelah satu bulan libur.

“Ada pasar malam rupanya...” kata Ben yang melaju dengan kecepatan rendah dan pandangannya tertuju pada keramaian di sebelah kirinya. “Kayaknya asyik ya. Sudah lama nggak lihat”

Tanpa pikir panjang, Ben langsung cari tempat parkir. Aku baru sadar mobilnya berhenti sewaktu Ben menegurku.

“Telat sampai rumah dikit nggak apa - apa kan?” tanya Ben.

“Ah?” aku baru sadar dari lamunanku da melihat keramaian di luar sana.

Ada pasar malam yang buka dan tidak jauh di rumahku. Hiburan buat masyarakat kelas menengah ke bawah dan buka pada saat-saat  tertentu. Aku pernah dengar dari tetangga yang sudah pergi ke sana dan katanya ada banyak permainan. Tapi, tidak pernah kepikiran untuk pergi melihatnya.

Kenapa aku bisa ada di sini bersama Ben? Seperti pasangan yang pergi kencan?

Aku berjalan mengikuti Ben melihat-lihat. Karena hari Rabu, tempat itu nggak terlalu ramai. Biasanya pengunjung membludak setiap Jumat dan Sabtu malam. Permainannya banyak juga. Terutama buat anak-anak. Ada istana balon, bianglala, kereta-keretaan, komedi putar, ada kapal-kapalan  seperti Kora Kora yang ada di Dufan,  ada pertunjukan putri ajaib atau putri kepala, dan permainan ketangkasan berhadiah.

Kenapa Ben ke sini sih? , pikirku.

“Wah, ada tong setan!” seru Ben,  “Waktu kecil aku paling suka lihat itu”

Namanya tong setan. Tong besar yang terbuat dari susunan kayu yang kokoh dan bisa dinaiki oleh puluhan orang, aku tidak pernah melihatnya sebelum ini dan tidak tahu apa isi di dalamnya. Tapi, aku bisa dengar suara mesin motor meraung-raung  dari dalam.

Ben membeli tiket masuk dengan antusias. Kami harus naik tangga untuk bisa melihat isi yang ada di dalam tong itu. Ben sudah tidak sabar dan naik dengan buru-buru.

Aku lihat di dalam tong ada dua motor rombeng yang mesinnya nyaring, berisik. Pertunjukan tong setan adalah pertunjukan di mana si pembalap akan berputar-putar di dalam tong itu. Sejenis pertunjukan akrobat yang menguji nyali pengendaranya.

Ngeri juga membayangkannya.

Ada seorang cowok yang nampak menyetel motor itu dan sepertinya akan segera dimulai. Cowok itu rambutnya agak gondrong. Dia memakai baju kaos merah dan celana jeans robek serta sepatu kets. Begitu dia naik motornya dan ‘ngeeeng!’ mesin motor kembali meraung-raung. Pertama si pengendara memulai aksinya dengan berputar di lantai sebelum mendaki dan mulai melesat di dinding kayu dengan kecepatan penuh.

Aku sempat terkesima karena orang itu sama sekali nggak punya rasa takut. Dan aku terpana padanya. Seketika merasa aneh dan mulai mengingat-ngingat bahwa aku pernah bertemu orang itu sebelumnya. Tapi, entah di mana. Di suatu tempat di waktu yang sudah lama sekali.

Namun, senyum  berlesung pipit dan mata yang tenggelam itu sangat familiar bagiku.

Bagaimana mungkin aku melupakannya?

Dia menatap ke arahku sekilas sebelum kembali fokus pada ‘jalanan’-nya dan ia selalu begitu saat lewat di depanku tapi kemudian saat penonton mulai menyodorkan uang kertas ribuan ia mulai konsentrasi untuk bisa mengambil semuanya. Memanjat lebih tinggi untuk meraihnya. Termasuk lembaran demi lembaran uang seratus ribu milik Ben yang sengaja dia sodorkan untuk menantang pembalap itu.

Rasanya aneh, padahal aku baru saja teringat padanya. Sangat sulit untuk percaya, Daniel melakukan hal yang sama sekali tidak akrab dengan image –nya  yang melekat di ingatanku selama ini.

Bagaimana kalau dia jatuh? Tubuhnya yang kurus itu pasti tertimpa motor yang dikendarainya. Tapi, dia terus melaju dan berputar berkali - kali dalam kecepatan yang tinggi. Sesekali ia lepaskan genggamannya dari setang motor dan berdiri sambil merentangkan tangan pada penonton. Apa dia sama sekali tidak takut jatuh?

Orang ini pasti punya nyali yang besar. Kenapa dia mau melakukan pekerjaan seperti itu? Apa tidak ada pekerjaan lain yang bisa dilakukannya selain bertaruh nyawa?

Aku lihat Daniel tengah membidik posisi kami lalu melesat ke atas untuk mengambil uang yang dilambaikan Ben. Tapi, Ben malah mempermainkannya dengan menghindar. Ia melakukannya berulang-ulang. Tapi, orang itu selalu berhasil mengambilnya hingga Ben menghabiskan 500 ribu hanya untuk menantangnya.

Pertunjukan selesai begitu si pengendara motor mulai berputar ke bawah karena sudah tidak ada lagi pengunjung yang ‘menyawer’. Kami turun lewat tangga yang satunya lagi.

---

“Eh, Nobita, lama nggak ketemu!” sapanya saat aku sengaja untuk menemuinya untuk melepaskan rasa penasaran dan memastikan dia adalah orang yang baru saja kupikirkan.

Ya benar, itu Daniel yang pernah kukenal dulu. Benar-benar dia!

“Kakak ngapain sih di sini?” tanyaku tidak habis pikir. Yang aku tau, Daniel berasal dari keluarga berada dan kenapa dia mau saja melakukan aksi gila itu.

Banyak yang berubah darinya. Dulu Daniel rapi, sekarang berantakan. Tubuhnya jauh lebih kurus dari yang dulu.

“Kerja” jawabnya, “Oh ya, pacar kamu tadi mana?”

Aku mengernyit, “Pacar?” dan menoleh ke belakang. Kupikir dia mengikuti aku. Rupanya dia sibuk menggoda seorang cewek yang tadi kebetulan lewat.  Lalu aku menunjuk ke arahnya “Bukan pacar aku, Kak. Teman satu kampus..”

“Oh, emang sekarang kamu semester berapa?”

“Sembilan”

Kami asyik mengobrol sampai Daniel harus kembali melakukan pertunjukan untuk mengumpulkan rupiah demi rupiah yang disawer penonton.

Aku langsung pulang setelah itu.

Ben jadi selalu membicarakan Daniel di jalan menuju rumahku. Dia bilang untuk bisa melakukan aksi itu biasanya sedang ‘teler’ dengan narkoba jenis shabu. Aku tidak percaya. Rasanya tidak mungkin Daniel menjadi seorang pecandu.

“Jadi kamu kenal?” tanya Ben.

“Kakak kelas waktu SMA” jawabku. “Kayaknya aneh deh, tadi kamu ngomongin soal surat cinta buat senior waktu OSPEK. Kamu  tau nggak, waktu MOS di SMA aku tulis surat cinta ke dia?”

Aku tertawa kecil.

“Serius? Cowok kayak gitu kamu naksir?”

“Dulu dia nggak seperti sekarang!” celetukku. “Dulu dia keren banget. Yang pasti lebih keren daripada kamu. Aku  juga kaget kenapa dia jauh berubah...”

“Kamu lagi senang ya...?” goda Ben sambil cekikikan. “Kayaknya ingat lagi nostalgia cinta pertama”

“Aah, kamu usil deh, Ben!” teriakku jengkel.

“Cowok kayak gitu apanya yang keren sih?”

“Pokoknya dulu keren banget!” aku bersikeras.

Ben sengaja memancing emosiku. Soalnya dia nggak berhenti cekikikan.

“Nah, gitu dong. Semangat,” katanya. “Jangan sedih terus...”

Kadang aku tidak sadar hari-hari  itu masih menyiksaku. Membuatku terus memikirkannya. Alangkah baiknya jika aku menjaga sikapku dan tentu tidak akan kehilangan dia. Sebulan setelah semua berakhir aku tidak bisa menerima kenyataan bahwa dia benar-benar  sudah menghilang. Aku berharap hanya dipisahkan untuk sementara waktu sebelum akhirnya kami dipertemukan lagi. Aku berharap suatu saat dia akan kembali karena tidak bisa melupakanku.

Tapi, setelah aku membuka mataku lebar-lebar, alangkah konyolnya harapan-harapan  itu. Wira sudah lama bosan. Dia sudah memikirkan jalan hidup hanya untuk dirinya seorang dan keluarga yang selalu ia agung-agungkan. Aku bukanlah orang yang suka mempermasalahkan keluarga orang yang kucintai. Tapi, aku selalu berharap dengan status hubungan yang serius sedikitnya ia menganggapku penting. Kenyataannya, dia selalu bilang hal-hal  yang mengecewakan. Dan yang paling buruk, setiap ada masalah dia datang ke rumahku untuk cerita tapi ketika senang dia kembali kepada keluarganya. Tidak  bisakah dia menganggapku seperti keluarganya karena aku sudah megorbankan banyak hal hanya untuk bisa bersamanya? Dia menjawab dengan suara yang keras, aku tidak perlu melakukan semua itu. Jawaban itu adalah jawaban yang paling mengecewakan yang pernah kudengar darinya.

Aku jadi ingat pada hal-hal yang pernah dilakukannya padaku dan mulai merasa bahwa aku benar-benar sudah tertipu olehnya.

Untuk apa aku yang terus memikirkannya sementara dia mungkin beranggapan bahwa aku seorang cewek gila yang terus mengejar-ngejar  dia? Pegorbananku sama sekali tidak berarti baginya. Ketika aku tenggelam aku menyadari bahwa ini adalah akibat yang kudapat karena nggak mendengarkan mama. Mama juga meninggalkan aku seorang diri.

Tapi, begitu aku memikirkannya berulang kali, ini adalah sebuah awal yang baru bagi hidupku. Untuk bisa tenang, aku menempuh berbagai cara agar aku tidak terus berlarut – larut. Lalu aku menemukan bahwa jika aku memelihara kebencian dalam hatiku karena dia, aku tidak akan pernah bisa tenang. Yang selalu kupikirkan adalah bagaimana cara untuk membalas sakit hati. Tapi, aku pasti tidak akan memiliki harga diri lagi, jadi kubiarkan saja dia hidup tenang dengan semua impian besar dan rasa percaya dirinya yang tinggi itu. Meski sakit hati ini akan hilang dalam waktu yang lama.

Hanya saja, aku tidak ingin membencinya. Aku berharap tidak akan pernah mendengar cerita tentang dirinya dari siapapun dan Tuhan tidak akan mempertemukan kami lagi dalam kebetulan macam apapun. Aku hanya perlu menganggap bahwa jika bersamanya aku belum tentu bisa bahagia. Setelah lulus kuliah aku akan jadi orang yang lebih berguna dan hidup dengan baik. Aku tidak akan melakukan sesuatu yang memalukan dan membuat diriku menyimpan begitu banyak rahasia.

Tapi, perpisahan tetap saja menyakitkan. Aku tidak bisa melupakannya dengan mudah dan kadang  masih menangisinya.

ooOoo

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments