[Ch. 21] CINTA HITAM - Baca Novel Romantis Dewasa Online

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

 Langit yang sempit

Aku melamar pekerjaan ke banyak perusahaan yang ada di Jakarta melalui email setelah membaca iklan-iklan lowongan yang sering dipasang di website. Semua staf di kantor melakukannya karena mereka tahu betul bekerja di sebuah NGO, bukan pekerjaan tetap. Hanya bagi mereka yang menyukai petualangan. Mereka suka googling dan mencari peluang-peluang terbaik yang bisa mereka raih.

Namun bekerja di sebuah gedung tinggi di kota besar juga masih adalah impianku, impian Mama. Makanya aku rela datang ke Jakarta yang sempat kuhindari sejak melihat Wira di bandara itu. Kadang-kadang, dunia ini sempit. Di tempat yang jauh kita pun masih bisa bertemu dengan orang yang sama.

Aku orang yang beruntung.

“Bita?” dia memanggil aku dengan ekspresi mecengangkan seorang staf yang mengantarku ke ruang bos baru-ku.

Ya Tuhan, apa aku sedang nggak bermimpi?

Kebodohan itu belum hilang juga. Aku terdiam memandangnya dan menghembuskan nafas. Diterimanya aku di perusahaan itu bukanlah sebuah kolusi, hanya kebetulan yang entah apa maksudnya.

“Kayaknya kita berjodoh, kamu jadi asisten-ku!” dia tidak berhentinya tertawa sejak kami bertemu lagi.

Aku jadi ingat hutang-hutangku padanya dan sepertinya ini saat yang tepat untuk membayarnya. “Jangan gila, Ben” celetukku, tidak menyangka akan menghabiskan hari dengan seorang bos seperti dia. Dan bahkan satu ruangan.

Tapi, aku berhasil menyisihkan banyak pesaing yang ingin bergabung dalam perusahaan itu. Tanpa aku sadari jika aku tidak lulus tes aku bisa saja minta bantuannya untuk meluluskan aku. Ajaibnya aku sama sekali tidak tahu bahwa ternyata Ben hebat juga bisa menjadi seorang manajer. Yah, Alya bilang keluarganya mempunyai banyak koneksi dan mendapatkan posisi seperti itu hanya tinggal membalikan telapak tangan. Ben bahkan boleh merekrut seorang asisten dan aku beruntung orang itu adalah aku.

Setidaknya aku mengerti kenapa dia membutuhkan seorang asisten yang cukup ahli di bidang komunikasi. Agar bisa membantunya.

“Gimana mungkin sih cewek yang dulu sama sekali nggak bisa pegang komputer jadi asistenku?” dia tidak berhentinya mengoceh dan sepertinya aku butuh curhat. Untuk membahas semua kebetulan ini. Tapi, kurasa ini juga salah satu bagian terbaik dalam hidupku.

Aku pun menelpon Alya dan dia luar biasa kaget. Lalu tertawa dan bilang pekerjaanku yang kali ini pastinya lebih merepotkan karena mempunyai seorang bos yang tidak bisa apa-apa.

Hanya saja, karena berteman dengan Ben, aku sama sekali tidak menemukan kesulitan. Aku bisa bekerja dengan lebih santai dan meskipun tekanannya sangat berat. Namun ketika aku berdiri di depan jendela  kantorku aku bisa melihat pemandangan Jakarta yang hiruk pikuk dan selalu kuimpikan, tekanan itu terasa agak berkurang. Dari gedung setinggi 18 lantai dan kantorku berada di lantai 15.

“Keren kan?” tegur Ben menyadarkan aku dari lamunanku

Rasanya masa-masa sulit itu sudah tidak berarti lagi. Antara percaya dan tidak, aku berada di tempat yang paling kuimpikan.

Aku kembali ke mejaku dan menatap komputer. Fokus dengan pekerjaan.

“Aku pikir kamu nggak akan pernah mau pergi ke Jakarta” katanya yang duduk di mejanya dan membelakangi pemandangan yang sudah beberapa hari ini membuatku takjub.

Aku tidak berkomentar.

“Tapi, kamu hebat juga bisa masuk sini. Nggak semua orang bisa lho”

“Anggap aja aku lagi beruntung” jawabku.

Ya, beruntung. Ada orang bilang, orang bodoh, kalah dari orang pintar, orang pintar kalah dari orang cerdas, dan orang cerdas masih kalah dengan orang yang beruntung. Tapi, bukan berarti beruntung dalam segala hal.

Aku memang beruntung dari segi pekerjaan. Berkat Ron yang selalu memarahiku dan mendidikku dengan keras. Jadi, mendapatkan pekerjaan pun tidak butuh waktu yang sangat lama, dengan pengalaman yang sudah kudapat sejauh ini. Tapi, aku masih saja kesepian di saat gadis seperti aku mulai serius mencari pasangan hidup.

Aku selalu lupa hal itu karena sibuk bekerja. Bukan tidak ingin seperti mereka yang dengan bahagia menyebar undangan pernikahan di kantor. Mereka tidak beruntung walau sudah bekerja lebih dari dua tahun pun masih duduk di posisi sama. Sementara aku, bisa dengan mudah mendapatkan posisi yang mereka inginkan begitu datang ke sini, karena beruntung. Tapi, aku tidak punya seorangpun di sampingku di saat orang-orang jatuh cinta dan mengungkapkannya dengan cara yang romantis.

Ada seorang rekan sekantor di bagian informasi yang dilamar oleh kekasihnya di hadapan orang-orang dengan seikat buga dan cincin. Hal-hal yang biasanya hanya bisa kita lihat di TV. Kurasa orang-orang jaman sekarang sudah diracuni oleh Youtube. Tapi, melihat mereka juga adalah kebahagiaan yang diharapkan bisa menjadi milik orang yang mendoakannya.

Entah ada yang salah dengan diriku. Aku iri setiap kali melihat orang yang berpasangan, ingin seperti mereka. Tapi, aku seakan membatasi diriku untuk mendekati seseorang yang mungkin saja ditakdirkan untukku. Hanya saja, aku masih percaya pada hatiku. Mungkin belum saatnya.

Aku tetap melangkah apa adanya dengan diriku yang merasa bahagia dengan pekerjaan yang aku miliki sekarang. Melewatkan waktu membahas soal pekerjaan dengan Ben dan program-program yang kami terapkan untuk pencitraan perusahaan. Membuat proposal dan mendesign segala bentuk promosi dan publikasi; berurusan dengan media, menyiapkan bahan presentasi untuk Ben  dan menghadiri rapat yang bisa makan waktiu berjam-jam. Banyak sekali hal yang membuatku sangat sibuk.

Sekaligus pergi dengan Ben  menikmati hiburan dan masa muda yang tidak seharusnya dihabiskan untuk berkeluh kesah soal pasangan. Pergi ke tempat yang belum pernah kudatangi dan bercerita banyak hal soal pengalaman dan betapa aku mencintainya.

“Aku belum sempat pulang. Mau sih, tapi karena di sana nggak ada yang menungguku, jadi kupikir di saat benar-benar ada waktu liburan, baru pulang” jelasku.

“Kamu nggak pernah komunikasi lagi sama Daniel?”

Aku menggeleng.

“Sama Daniel nggak lagi. Dia sudah menikah” jawabku, “Mungkin...”

Ben tidak berkomentar. Dia sudah jauh lebih tenang sekarang. Aku baru melihatnya sebagai lelaki seutuhnya saat dia duduk di depanku dengan pakaian yang rapi dan mencerminkan siapa dirinya. Seseorang yang berasal dari keluarga mapan. Aku dengar dia sama sekali tidak punya pacar sejak di Jakarta karena sibuk dan nyaris tidak percaya akan hal itu.

“Kenapa memandangi aku sampai begitu?” tegurnya saat aku terdiam cukup lama, “Naksir?”

Aku langsung mengernyit, “Ih, ge-er!” cetusku,

Aku baru melihat tawa khasnya.

Dulu waktu pertama melihat orang ini di kampus, aku merasa akhirnya ada yang menyaingi Daniel. Tapi, kutarik ucapanku saat aku tahu dia seorang playboy dan kejadian di toilet. Sangat disayangkan, punya segalanya tapi dia malah melakukan hal-hal yang sama sekali tidak ada gunanya. Begitulah kesan pertamaku saat mengenalnya.

“Kapan sih kamu bisa suka sama aku?” tanyanya tapi aku tahu itu hanya candaan seperti biasanya.

“Kenapa memangnya?” balasku, “Kenapa aku harus suka kamu, Ben?”

Dia hanya tertawa. Kalau dulu dia pasti bilang, ‘Aku kaya dan kamu butuh cowok seperti aku’. Rasanya, dia tidak akan memberi jawaban seperti itu lagi. “Yah...nggak tau juga” jawabnya, “Setiap suka betulan sama cewek, cewek itu sama sekali nggak suka aku”

“Masa? Kamu kan kaya...” celetukku, mengejek.

Ben tersenyum tertunduk dan menggeleng, “Kamu tau jawabannya karena kamu salah satu dari cewek-cewek itu” katanya.

“Cewek itu suka orang lain, Ben. Bukan kamu” balasku, mengejeknya lagi. “Suka sama orang yang mungkin nggak ada apa-apanya bila dibandingkan sama kamu. Artinya, cari cewek yang nggak matre jaman sekarang susah”.

“Dulu pernah tertipu sama seorang cewek” jelasnya bercerita, “Pertamanya nggak matre, tapi lama-lama setelah aku memberi dia kalung, jadi keranjingan minta, panggil sayang tiap sebentar kalau ada maunya. Sampai di facebook semua foto-foto di upload sampai isi BBM juga. Teman-teman yang lain pada ketawa dan bilang aku jawara merayu sedunia”

Aku saja yang baru tahu masih bisa  tertawa.

“Kalau diingat-ingat parah juga si Amel...” gumamnya menggeleng-geleng.

“Amel? Kamu pernah pacaran sama dia?” tanyaku, terekejut. Aku langsung ingat, Amel adalah  teman sekelasku yang menurutku adalah cewek paling beruntung sedunia karena punya pacar kaya yang memberinya kalung cantik. Sampai sekarang pun aku masih iri karena belum ada cowok yang memberiku sebuah hadiah manis.

“Masa kamu nggak tahu?”

Aku cuma geleng-geleng kepala. Mana aku tahu?, aku pernah bilang, kisah pacaran Ben selalu berakhir dengan ending yang sama. Mana pernah aku mengurus-urusi orang lain selain yang membuat aku kepikiran?

“Sekarang dia sudah dapat yang lebih dari aku” sambung Ben, “Temannya si Wira itu. Kabarnya sudah tunangan sampai cincin-nya di foto-foto segala, di pasang di facebook lagi. Dua-duanya norak”

“Berarti Amel di sini juga?”

Ben mengangguk, “Saat ketemu lagi, dia belagak nggak kenal, dan Wira....”

Aku heran kenapa dia tiba-tiba berhenti, seolah keceplosan menyebut-nyebut nama Wira.

Sebelum ini dia tidak pernah cerita masih pernah ketemu sama Wira. Dan dia tampaknya memilih untuk tidak melanjutkan ceritanya karena memikirkan perasaaanku.

“Kenapa nggak dilanjutin? Nggak apa-apa lagi...” kataku, sambil tersenyum lebar,”Memang  Wira kenapa?”

Ben tampak ragu, “Yah...diam saja dan nggak pernah bilang bahwa Amel pernah pacaran sama aku” jelasnya, “Kalau Wira sempat bilang sama temannya itu, pasti jadinya lain karena mereka sama-sama tahu aku orangnya seperti apa kalau pacaran” jelasnya, “Aku juga pura-pura nggak kenal karena malas ngurusin yang gitu-gitu”

Ternyata begitulah kelakuan anak-anak orang kaya. Dari luar mereka terlihat hebat tapi mereka juga bisa asal dalam memilih pasangan. Mungkin sudah biasa di kota seperti Jakarta. Aku rasa Wira sudah pasti ikut-ikutan mereka yang Upper Class. Mendapatkan seorang cewek cantik, bertubuh tinggi langsing, berkulit putih, berambut panjang dan ikal, dengan mata besar mirip orang Sunda yang terkenal cantik. Serta pakai baju seksi dan hotpants, plus supernarsis di jejaring sosial. Seperti Amel yang cantik sekali di foto jejaring sosialnya. Sampai aku selalu iri padanya karena dia punya bentuk tubuh yang bagus dan punya pasangan yang tepat.

Aku tidak pernah tahu.

“Tapi, kamu jauh lebih hebat dari mereka itu” kata Ben, “Dari aku juga”

Hebat apanya? Aku hanya tertawa tidak mengerti dengan ucapannya.

“Kalau kami menjalani kehidupan seperti yang kamu jalani, orang-orang kayak kami nggak akan sanggup. Padahal kita seumuran” jelasnya, “Jadi dibandingkan aku, Wira dan temannya itu, atau Amel sekalipun, mereka nggak ada apa-apanya dibandingkan kamu”

“Tapi, aku kesepian, Ben...” kataku tertunduk.

Aku tidak sehebat itu, buktinya kadang aku masih menangisi apa yang terjadi di saat sedang sendiri. Tengah malam saat aku tidak bisa tidur dan kembali mengingat semuanya. Semua kebodohan yang kulakukan sampai aku kehilangan apa yang kucintai, bagaimana aku diperlakukan rendah oleh orang-orang hingga membuatku berhenti bernafas sesaat. Andai aku tidak sendiri, tentu aku tidak akan terlalu memikirkannya. Ada seseorang di sampingku, yang menemaniku, dan memelukku di saat aku hampir terjatuh.

Ben juga tidak memiliki pacar dan sering disibukan dengan pekerjaan. Dia bukan lagi sosok yang suka cekikikan dan bercanda; playboy dan Don Juan; dan bukan lagi anak kecil. Setiap hari ditekan oleh pekerjaan sehingga tidak ada waktu lagi untuk bermain.

Aku kasihan padanya, kadang-kadang sampai larut malam masih di kantor. Ben menyuruhku pulang lebih dulu sampai bahkan memaksa untuk meyakinkan aku bahwa dia bisa melakukannya. Sebuah posisi yang tinggi membutuhkan tanggung jawab yang besar pula. Bekerja di bidang humas juga memusingkan dan kami sering menghadapi masalah dengan klien di saat keadaan ekonomi sedang tidak baik. Dan yang bisa kami lakukan adalah menyampaikan apa adanya dengan berbagai tanggapan yang harus bisa kami kendalikan demi citra perusahaan.

Tapi, menjalani hidup seperti yang sudah kujalani, mengajarkan aku bahwa setiap masalah ada jalan keluarnya.

----

“Penerimaan karyawan?”

“Yah, bagian personalia minta tolong supaya kamu mendampingi Mas Irwan saat interview” jelas Ben di saat aku masih sibuk dengan pekerjaanku sendiri.

“Duh, aku nggak bisa, Ben” kataku, “Kerjaanku masih banyak. Hari ini kamu ada rapat kan, bahannya belum siap, kamu mau jelasin apa nanti?”

Terakhir kali saat aku melihat banyaknya pelamar yang harus diwawancara, aku sama sekali tidak tertarik. Karena melelahkan dan aku hampir seharian duduk dengan terus mengajukan pertanyaan yang itu-itu saja kepada setiap pelamar. Tapi, kami belum juga menemukan yang sesuai dengan kriteria, sehingga, kami kembali memasang iklan dan membuka kesempatan bagi para fresh graduate untuk bergabung.

Tapi, aku jadi ingat saat-saat aku juga menjadi pelamar, seperti mereka yang berharap dapat mewujudkan impian mereka. Aku mungkin sombong, jika berpikir melayani mereka adalah hal yang melelahkan.

“Oke, tapi kamu selesain kerjaan aku ya?”

“Lho kok? Malah aku yang disuruh sama asisten?”

“Kalau gitu kamu aja yang ikut interview” ancamku,

“Iya deh iya” kata Ben akhirnya.

Aku mengambil barang-barang yang kubutuhkan dan pergi ke ruang personalia, tempat tes interview sedang berlangsung. Aku mengetuk pintu lalu membukanya dan melihat seseorang tengah di wawancara.

Mas Irwan, bagian personalia, menyambutku di sela-sela kesibukannya itu dan mempersilahkan aku untuk duduk di sampingnya sementara ia mendengarkan pelamar menjawab pertanyaan yang ia berikan.

Aku duduk dan tiba-tiba terkejut melihat siapa yang ada di depanku. Tapi, aku seketika mengendalikan diriku karena aku di sini bukan untuk beramah tamah dan bernostalgia.

Hanya saja, Wira terdiam tiba-tiba di saat dia sedang menjelaskan jawaban dari pertanyaannya dengan percaya diri. Seolah kehadiranku telah mengacaukan konsentrasinya.

Aku menatapnya karena itulah yang seharusnya kulakukan pada pelamar. Sementara ia mulai mejawab dengan terbata-bata. Aku melirik Mas Irwan yang diam-diam menyilang sesuatu pada lembaran pertanyaan di balik sikap tenangnya.

Dia bisa saja mendapatkan pekerjaan itu andai aku tidak datang dan membuatnya terpana hingga berpikir ulang, inilah gadis yang dulu dia campakan karena takut menghalangi jalannya. Yang dia tinggalkan dengan cara menyakitkan di saat yang paling buruk dalam hidupnya. Sekarang, gadis itu muncul lagi untuk melihat hasil dari kepahitan yang  ia tempuh berkat dirinya yang menghilang.

Aku duduk dengan angkuh di hadapannya di saat dia mulai gelisah dan pasti mencoba mempercayai bahwa dia tidak salah mengenali orang. Ditambah lagi aku memberinya pertanyaan yang sulit hingga dia bahkan tidak bisa menjawabnya dengan baik.

Kepercayaan dirinya hancur hanya dalam beberapa saat.

Semua itu sudah hilang sama sekali, tapi tetap saja membuatku kepikiran.

Mas Irwan tidak akan meloloskannya dalam tes itu. Karena dia tidak bisa menjawab pertanyaan yang kami berikan dan ada pun yang bisa ia jelaskan, kami sama sekali tidak memahaminya karena sering mengulang kata-kata yang seharusnya tidak perlu.

Aku tahu aku jahat.

---

“Kayaknya kamu sengaja kasih pertanyaan yang sulit” komentar Ben yang memandangiku melamun di depan jendela sejak tadi, “Balas dendam?”

Aku tidak menjawabnya. Tidak  bisa dibilang balas dendam juga, tapi aku jadi ingin menunjukan siapa diriku yang sekarang padanya, karena dia pernah menganggapku gila, memperlakukanku seperti sampah. Menganggapku rendah karena ibuku seorang pelacur dan sempat tidak mempercayai aku. Berbohong padaku dia tidak pernah tidur dengan gadis mana pun sementara dia pernah menyayat nadinya sendiri karena perpisahan dan dia tidak mungkin mau melakukannya jika tidakpernah mempunyai hubungan mendalam dengan gadis itu.

Aku hanya ingin menunjukan padanya bahwa aku tidak lagi seperti dulu. Aku bersikap seolah berterima kasih padanya telah mencampakan aku dan jika dia tidak meninggalkan aku dengan cara yang demikian kejam, aku tidak akan ada di sini. Melihat ekspresi kaget-nya dan membuatnya sadar bahwa dirinya yang menurutnya hebat itu belum ada apa-apanya denganku.

Aku yang lulus dengan IP memuaskan, sementara dia memaksakan diri untuk lulus hanya untuk menghindariku . Pergi ke Jakarta, menikmati kemewahan yang diberikan temannya dengan mimpi-mimpi  dan kesombongannya, yang mengaku religius dan menginginkan seorang gadis beragama. Tapi, lihat apa yang dia perbuat padaku. Dia menganggapku murahan dengan datang ke rumahku. Dia tidak lebih dari sekedar menjadikanku pelarian.

Tanganku mengepal dengan kuat. Begitu mengingat semuanya kembali bagai mimpi buruk.

Aku hanyalah manusia biasa yang bisa merasa benci. Walaupun aku selalu berkata tidak ada dendam tetap saja aku merasa benci. Karena selama ini aku terus mengabaikannya, agar aku merasa lebih baik. Agar bisa menjalani hidupku dengan tenang. Tapi, apa yang dia lakukan sebenarnya memang tidak bisa dimaafkan. Jahat, egois dan kejam.

Aku sudah cukup memberinya goncangan hebat seperti yang dulu pernah ia berikan padaku. Tapi, aku juga cukup tertekan saat menghadapinya tadi. Apakah aku masih belum bisa melupakannya sehingga tanpa sadar aku menjauhkan diri dari lelaki yang mungkin menyukaiku dan akan memperlakukanku dengan baik? Memberiku bunga atau kalung cantik dan melamarku dengan cara yang sangat romantis?

“Jika kita memulainya dengan cara yang nggak baik, jangan harap semuanya berakhir baik” kata Ben lagi, saat aku masih menatap ke luar jendela dan nampak sedih. “Aku kenal betul sama temannya Wira itu”

“Apa temannya itu bangkrut jadi Wira nggak bisa kerja lagi dengannya?”

Ben menggeleng, “Usahanya sih nggak akan bangkrut karena dia punya perusahaan tambang batu bara yang cukup terkenal di Indonesia, tapi dia mau coba-coba mencari peruntungan dengan mendirikan perusahaan baru di bidang Creative Agency” jelasnya, “Namanya di Jakarta nggak semudah itu bisa dapat klien karena persaingannya ketat dengan Creative Agency lain yang sudah memperkerjakan tenaga profesional”

“Kamu tahu dari mana?”

Ben tersenyum lirih seperti sebuah sindiran, “Dia pernah datang menawarkan jasanya ke sini” jelasnya lagi, “Kamu tahu nggak kerjaan Wira nggak jauh berbeda dengan sales marketing?”

Aku menggeleng.

“Ya, aku menolak tawarannya karena ada sedikit perasaan nggak senang dan kayaknya dia mencoba mendekati aku” jelasnya lagi, “Karena aku paling ingat saat kuliah dulu dia belagak pintar dan meremehkan aku”

Wira tidak tahu bahwa dia menerima pukulan berkali-kali dari orang yang dulu ia anggap rendah. Salahnya sendiri, pukulan itu diterimanya di saat ia benar-benar sudah jatuh.

“Creative Agency itu nggak jalan karena kesulitan mencari klien. Nggak ada klien, nggak ada pemasukan” sambung Ben, “Dan untuk bisa masuk ke perusahaan batu bara, dia harus punya gelar S2, mungkin karena itu akhirnya berhenti”

Menyedihkan...sangat menyedihkan.

Aku tersenyum.

“Kamu puas nggak?” tanya Ben menghampiriku.

Aku merasa tidak memenangkan apapun di sini. Sama sekali tidak. Melihatnya lagi masih menyisakan sakit hati yang kupikir sudah hilang tapi, ternyata masih tertinggal di tempat yang paling dalam di hatiku.

ooOoo


Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments