๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Di balik awan hitam
Pada tanggal muda toko ramai didatangi pembeli dan kami kebanjiran pelanggan. Terlebih saat kebanyakan pabrik konveksi mengeluarkan model-model sesuai tren yang dikenakan selebriti.
Aku dan Alya sering kewalahan, kadang Lia datang menolong kami di saat Alya marah padanya karena malas-malasan. Mereka sama sekali tidak akur karena Lia sangat cuek dengan urusan rumah dan masalah-masalah yang ada di toko.
Di saat-saat yang genting itu, handphone-ku berbunyi. Aku tidak sempat memperhatikan siapa yang menelponku dan langsung mengangkatnya dengan buru-buru. Namun, setelah itu aku tidak lagi berkonsentrasi melayani pembeli yang tidak sabaran menungguku selesai menelpon.
“Alya!” teriakku memanggilnya.
Alya yang repot di meja kasir menoleh padaku sambil bertanya ada apa sementara ia sedang menghitung uang kembalian.
“Aku lagi sibuk!” jawabnya.
“Aku diterima!” seruku bahagia sampai mereka yang sedang berbelanja terheran-heran dan kegaduhan sempat sirna sejenak.
Alya ikut menjerit bahagia tapi ibunya segera mengingatkan kami bahwa pembeli tidak bisa menunggu lebih lama. Akibatnya mereka bisa saja meninggalkan toko setelah pasti membeli. Kami tentu akan merugi.
“Maaf, maaf” ucapku pada seorang ibu-ibu yang menungguku mencarikan warna pakaian yang cocok untuk putri-nya.
Untunglah dia tersenyum dan bilang tidak apa-apa.
Namun aku sudah tidak sabar lagi membicarakannya.
---
“Di Jogja?” Alya mengernyit, sadar itu adalah tempat yang sangat jauh dari sini.
“Sejauh ini, baru itu yang telpon” jawabku, “Aku hanya iseng karena lulusan Bahasa Inggris jadi aku rasa nggak ada salahnya”
“Kerjaannya apa sih?” tanya Alya.
“Bukan swasta sih tapi...organisasi dari luar negeri yang datang ke Indonesia untuk membantu korban bencana”, jelasku.
Awalnya aku tidak yakin karena Yogyakarta jauh. Aku harus meninggalkan kota ini. Aku tidak pernah meninggalkan kota ini, tidak pernah merasakan bagaimana rasanya jika pergi dan menetap di kota lain untuk waktu yang sangat lama. Tapi, sejak aku seorang diri, aku bebas, bagaikan kapas yang tertiup angin. Bisa pergi ke manapun.
Sehingga tiada ragu lagi aku memantapkan hati untuk berpetualang di sana walaupun aku tahu, situasinya akan berbeda dari pekerjaan-pekerjaan pada umumya yang tidak jauh dari urusan jual menjual.
Tapi, aku terlalu senang karena pertama kalinya naik pesawat. Melihat awan yang seperti kapas, lautan yang seperti berada di dalam satu wadah, puncak gunung dan pesawahan seperti kotak korek api yang bersusun rapat. Merasakan goncangan hebat saat cuaca buruk melanda dan aku sempat ketakutan. Tidak sampai dua jam, pesawat mendarat di Bandara Soekarno-Hatta.
“Jangan lupa kalau pulang nanti bawa oleh-oleh” pesan Alya, dan dia terus mengoceh, sampai dia kemudian memanggil-manggil dengan nada yang tidak sabaran karena aku diam dan tidak menjawabnya sama sekali.
Aku tersadar seketika dari memandangi seseorang yang amat kukenal baru saja melewatiku.
“Kamu kenapa sih?” tanyanya dari seberang sana.
“Ng...” aku sempat bingung sebentar, “Aku lihat Wira barusan” jawabku dan Alya pasti terkejut juga medengarnya.
“Trus?”
“Yah, cuma itu aja. Sepertinya mau pulang kampung” jelasku.
Aku harus mencari taksi untuk mengantarku ke alamat yag kudapat dari website organisasi non pemerintah yang memanggilku untuk interview.
Aku sempat menoleh ke belakang untuk mencari sosok Wira di antara calon penumpang yang lalu lalang. Tapi, aku tidak menemukannya lagi. Aku hanya melihatnya sekilas dan pastinya dia sama sekali tidak melihatku. Biar saja. Aku sudah jauh lebih lega dari saat pertama kali dicampakan, tidak ada beban apalagi mengharapkannya kembali. Aku bisa tersenyum lagi.
Seketika aku jadi ingat Daniel, apa yang dia lakukan sekarang? Pastinya dia sudah menikah. Aku mendoakan apapun yang terbaik untuknya. Karena aku sangat menyayanginya.
---
Pekerjaanku ternyata tidak jauh dari jurnalistik. Sebuah tantangan baru bagi aku yang tidak pernah bekerja dengan posisi yang jelas. Aku bertugas menemani Ron Martin, seorang pria asing berkebangsaan Amerika Serikat berusia sekitar 42 tahun yang merupakan bos-ku. Aku ikut dengan Ron kemana-mana dan membuat catatan yang penting saat Ron mengadakan pertemuan dengan orang-orang penting. Aku mendampingi Ron saat ia pergi daerah-daerah yang terkena dampak letusan gunung untuk observasi dan mengambil dokumentasi di daerah Sleman.
Ron, orang yang tegas dan pemarah, serta menyebalkan bagi staf yang lain. Mungkin karena dia orang yang kritis dalam berpikir dan Ron sangat berbakat dalam bidang fotografi. Aku pernah melihat hasil foto yang ia ambil saat letusan baru terjadi. Banyak dari karyanya yang dimuat di situs berita nasioal dan bahkan internasional sekelas BBC.
“Kamu mau mencoba?” tanya Ron padaku sambil menyodorkan kameranya yang berlensa panjang dan besar itu padaku.
Kami selalu bicara dalam Bahasa Inggris karena Ron belum terlalu mengerti. Ron baru tinggal di Indonesia satu tahun belakangan dan dia belum menguasainya dengan baik.
Aku menggeleng-geleng, aku tidak yakin, mana pernah memegang barang-barang seperti itu?. Aku hanya pernah melihat teman-ku membawanya ke kampus untuk sekedar ‘gaya-gayaan’ dan aku rasa dia tidak tahu cara menghasilkan foto yang bagus, yang bukan asal jepret dengan pose narsis.
Ron memaksa, “Ini pekerjaan kamu” katanya, menegaskan, “Kamu direkrut untuk bekerja, bukan mengikuti saya ke manapun saya pergi”
Ron berkepala plontos dan katanya ia mempunyai seorang anak perempuan yang masih berusia 11 tahun dan tinggal di California bersama istrinya yang baru saja menceraikannya.
Akhirnya, aku memegang kamera itu dan Ron mulai mengajariku.
Untuk memotret sebuah objek ada dua cara, otomatis dan manual. Otomatis adalah cara yang paling mudah untuk mengabadikan sebuah objek karena hanya tinggal menjepret tombol dan kita sudah bisa melihat hasilnya pada layar LED. Hasil jepretan otomatis biasanya monoton karena pengaturan cahayanya sudah distel sedemikian rupa sehingga terlihatlah sebuah objek yang jelas dengan detail gambar yang tinggi.
Tapi, untuk menghasilkan sebuah foto yag artistik, fotografer memakai teknik manual. Dengan menyetel besaran lensa menutup dan membuka serta pegaturan ISO yang tepat agar menghasilkan gambar yang dihasilkan tidak terlalu terang atau terlalu gelap. Selain itu pengaturan kecepatan saat menjepret sangat penting apalagi untuk memotret objek yang bergerak. Pegaturan-pengaturan itu ditandai dengan angka-angka yang membuatku bingung.
Kadang, hasilnya terlalu gelap, dan ada yang terlalu terang. Ada juga yang buram dan terlalu dekat ke objek. Tapi, di sela-sela kesibukanku menemani Ron aku mencobanya setiap ada kesempatan, hingga aku benar-benar bisa melakukannya.
---
“Eh, Ben udah lulus belum ya?”, satu kali aku pernah bertanya pada Alya di telpon.
“Ben kerja di Jakarta sekarang, jadi orang hebat! Makanya kamu punya BB biar nggak ketinggalan berita” jawab Alya, “Jangan bilang deh kamu nggak punya uang!”
Aku ikut tertawa, “Iya, nanti aku beli deh” kataku, “Kalau kerjaanku sudah selesai. Di sini nggak ada orang jual ‘bebe’ tapi kalu bebek banyak!”
“Iih, serius nih!” celetuk Alya.
“Jadi sekarang Ben kerja di Jakarta ya? Kenapa ya semua orang suka pergi ke Jakarta?” aku jadi bertanya-tanya.
Jakarta memang sebuah kota yang menggiurkan bagi orang-orang yang sudah lama putus asa di kampung halaman. Karena sebagian besar uang beredar dan berputar di Ibukota. Jakarta menjanjikan pekerjaan dengan gaji yang besar tapi dengan pengeluaran yang besar pula. Membawa mimpi yang begitu besar dari kampung yang kemudian hancur karena katanya ibukota lebih kejam daripada ibu tiri.
Aku mungkin lebih suka berada di sini. Bekerja tanpa high heel, tanpa dandan. Pergi ke kantor dengan mengenakan baju kaos dan kemeja, jeans dan sepatu kets. Membawa tas ransel yang berisi laptop dan catatan ke mana-mana. Menggantungkan sebuah kamera di leher untuk menangkap ekspresi-ekspresi pengungsi yang tampak antara perasaan tertekan dan sakit. Berbicara degan orang-orang kampung dan kadang bercanda dengan mereka walaupun aku kesulitan dengan bahasa. Namun, aku jadi tertarik untuk mempelajari bahasa Jawa.
Menariknya sebagian dari orang Indonesia yang bekerja denganku adalah orang Aceh, karena mereka direkrut saat Tsunami memporakporandakan Aceh enam tahun yang lalu. Lingkungannya sama sekali berbeda dengan PT. KJ (Kurang Jelas) tempat aku bekerja dulu. Orang-orang sangat menghargai perbedaan dan mereka tidak mempermasalahkan latar belakang seseorang. Yang lebih senang mengurus pekerjaan masing-masing daripada mengambil muka alias menjilat. Tanpa khawatir posisi mereka bisa tergencet oleh rekan sendiri. Setiap orang direkrut untuk menangani satu bidang dan punya tanggung jawab penuh atas pekerjaan mereka.
Aku jarang duduk di kantor dan berkonsentrasi di depan komputer sejak Ron melepasku untuk mulai bekerja sendiri.
Aku mengamati lingkungan itu. Anak-anak yang duduk jongkok di depan tenda sambil bermain gundu. Sebagian ada yang sudah kembali ceria, sebagian lagi ada yang masih trauma da tampak termenung di antara teman-temannya. Mereka semua tampak lusuh, kotor dan sakit. Orang tua yang sakit-sakitan dan merana di sudut tenda. Ibu-ibu yang menyusui anaknya sementara ia tidak mendapat gizi yang cukup sejak bencana. Bapak-bapak yang kehilangan mata pencaharian karena sawah ladang mereka telah hancur.
Pengungsi jarang bisa mendapatkan air bersih untuk mandi. Tidak punya pakaian yang layak. Mereka tidak ke sekolah karena sekolah mereka yang berada di lereng Gunung Merapi sudah hancur lebur dan hanya menyisakan tiang-tiang hitam legam berdebu.
Aku pernah mengunjungi satu lokasi bekas luapan lahar gunung yang panas. Menakutkan sampai aku merinding.
“Sudah dapat gambar yang bagus?” Ron bertanya padaku saat aku kembali dari pengungsian.
“Saya tidak tahu bagus atau tidak”, jawabku, sambil memperlihatkan layar laptopku di saat aku sedang melihat kembali gambar-gambar yang sudah kuambil.
“Kamu harus tahu itu gambar yang bagus atau tidak. Karena kamu yang memotretnya” Ron memeriksanya satu persatu dan kemudian memilih beberapa gambar yang menurutnya bagus. “Make it a story”, katanya memberi tugas yang sebelumya nggak pernah kulakukan.
Menulis cerita?
“Kamu sudah melihat terlalu banyak, bukan?” tanyanya, “Apa yang kamu pikirkan? Bagikan!”
Aku sama sekali tidak bakat menulis. Aku duduk sangat lama di depan laptop. Memandangi lembaran kosong Microsoft Word, sementara jari-jariku belum menyentuh keyboadnya sama sekali. Berbagi cerita tentang apa yang selalu dilihat ternyata tidak mudah. Berbeda dengan saat sharing gara-gara patah hati Tapi, ini adalah pemandangan tentang orang-orang yang kehilangan sanak saudara dalam tragedi yang mengerikan dan bagaimana mereka menjalani keseharian di tenda-tenda darurat. Menunggu bantuan datang, berharap akan punya rumah baru dan penghidupan seperti saat sebelum bencana datang.
Matahari menghilang di balik asap hitam gunung yang menjulang seakan menembus langit yang tidak terkira tingginya. Burung-burung dan binatang penghuni hutan sudah turun karena ketakutan memberi pertanda bahwa penduduk harus segera menyingkir. Debu-debu yang berterbangan menempel di atap-atap rumah dan apapun di sekitar lereng gunung. Seperti kota mati yang ada di film Silent Hill.
Seorang penduduk bercerita padaku bahwa saat debu-debu itu semakin lama semakin banyak, ia sama sekali tidak bisa bernafas. Sementara itu hawa panas mengepung. Saat itu pria berusia 46 tahun benama Pak Warsam itu menyesal tidak mendengarkan peringatan dini dari pemerintah agar semua penduduk mengungsi. Tapi, ia terlalu mempercayai ucapan juru kunci yang katanya bisa menghentikan meletusnya gunung legendaris itu. Berat baginya untuk meninggalkan rumah tempat ia pernah tumbuh besar sampai akhirnya berkeluarga dan mempunyai anak. Sayang, bencana itu menrenggut mereka semua dan yang tersisa hanyalah dirinya seorang.
Ada lagi seorang anak kecil yang berhasil selamat bersama adiknya sementara mereka menyaksikan orang tua mereka tidak selamat. Mereka berhasil diselamatkan relawan Palang Merah. Sejak kejadian itu si anak jarang bicara dan kadang terlihat menangis. Yang lebih menyedihkan sang adik tidak pernah mau bicara lagi sejak itu. Selalu bersembunyi di balik orang yang merawatnya sejak hari ia diselamatkan.
Bagaimana menuangkan keadaan yang miris itu dalam sebuah tulisan?
Aku pun menghampiri Winina, sesama Senior Officer, dan posisinya setingkat di bawah Ron. Winina sudah lebih mahir tulis menulis dan mempunyai banyak link.
Winina berusia 32 tahun dan masih single. Dia wanita yang lincah dan cantik serta smart yang pernah kutemui. Dia berambut ikal dan pirang, berkulit putih dan sangat fashionable. Aku mulai sering pergi dengannya untuk mengurus program yang sedang ia rencanakan untuk korban bencana. Khususnya dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat dengan pendekatan-pendekatan yang intensif.
Aku jarang terlibat langsung dalam pekerjaannya. Tapi, dia pernah megajakku pergi ke sebuah pertemuan di mana perwakilan dari PBB dan NGO, termasuk PMI berkumpul untuk membuat sebuah pameran tentang bencana. Menampilkan rangkaian kegiatan yang mereka lakukan pasca bencana hingga pemulihan sampai pemerintah dapat menangani korban bencana secara penuh. Memberi rumah tinggal yang layak dan membantu membangkitkan mata pencaharian mereka yang mati setelah bencana melanda.
Untuk organisasi kami sendiri, Winina juga telah menyiapkan beberapa program yang melibatkan media. Seperti talkshow di TV dan radio lokal, menulis untuk koran dan website berita. Mengangkat isu seputar anak-anak yang sangat rentan terhadap pengaruh di sekitar mereka. Baik pengaruh lingkungan maupun kesehatan fisik dan mental mereka yang buruk pasca becana. Sebelum memulai Winina banyak bernegosiasi dengan pihak-pihak yang bisa dijadikan arasumber dan bersedia berpartisipasi dalam program itu.
Aku paling ingat kata-katanya saat itu.
“Untuk mengajak orang, kamu harus bisa membuat orang itu memikirkan hal yang sama dengan yang kamu pikirkan. Itu namanya negosiasi”
Dia mengajariku banyak hal. Aku mulai meniru caranya berbicara karena menurutku keren dan terdengar low profile. Banyak hal dari Winina yang mempengaruhiku. Percaya diri dan tegas. Membantuku untuk dapat berbicara di depan orang lain tanpa perasaan malu dan berani bertanggungjawab.
Akhirnya aku kembali duduk di depan komputer, setelah membaca tulisan-tulisan yang pernah dibuat Winina dan pernah dimuat di koran-koran. Meski aku tidak sehebat dia, dan gaya menulisku lebih apa adanya tanpa ‘kata-kata bersayap’ .
Menulis itu ternyata tidak mudah. Si penulis tidak boleh memihak atau menyampaikan pendapatnya atas suatu masalah. Kode etik jurnalistik adalah netral. Walaupun aku sangat ingin menjelaskan bahwa sebenarnya pemerintah sangat lalai dan bahkan mereka cenderung lebih komersil. Sayangnya, keinginan itu harus ditahan. Yang harus kulakukan adalah membuat orang-orang berpikir bahwa mereka yang di sana masih membutuhkan bantuan dan dukungan.
“Live in fear”, cerita yang kutulis dimuat di website BBC atas bantuan Ron. Dan dia bilang kerjaku bagus sambil menepuk punggungku.
Aku sama sekali tidak menyangka. Seluruh dunia membacanya.
Komentar
0 comments