๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Selamat Tinggal Daratan
Daratan adalah tempat aku berdua dengan mama menghadapi ketidakadilan dunia ini. Bita kecil yang selalu kesepian ditinggal sendiri malam-malam dan hanya bisa menangis dalam kegelapan. Tapi, mama juga menangis di tempat lain karena memikirkan aku yang pasti terbangun karena mendengar suara petir saat hujan lebat. Sementara ia terus bergumul dengan lingkungan kumuh dan menjijikan. Bermimpi aku bisa memeluk bulan.
Bulan tidak bisa dijangkau, tinggi di atas sana. Mungkin aku harus mencari tangga yang sangat panjang. Aku akan memanjat dengan sangat cepat dan nggak boleh menyerah sebelum sampai di atas. Tapi, di tengah perjalanan aku berhenti karena lelah.
Mama tidak tau bahwa aku ternyata gagal di wisuda sesuai target. Aku sama sekali tidak pernah bilang karena begitu pulang kondisinya sama sekali tidak sehat. Aku tidak mau membebaninya.
Tapi, mama bahkan nggak meminta bantuanku jika dia butuh sesuatu. Dia melakukan semua keinginannya walau dengan langkah tertatih. Sejak kembali mama tidak mau bicara denganku sehingga aku pun diam. Mengurung diri di kamar sambil menangis. Menunggu Wira menelponku dan membalas semua SMS yang kukirimkan sejak berjam-jam lalu. Berharap dia akan membuat perasaanku jadi lebih baik. Hal ini kembali membuatku tertekan. Aku menyatakan kekesalanku lewat SMS yang kukirimkan bertubi – tubi dan tidak satu pun kuterima balasannya.
Lalu kudengar suara berdebam keras dari dapur. Aku segera berlari keluar karena terkejut. Tahu-tahu, Mama sudah tergeletak di lantai dalam keadaan lemas.
Aku kembali menghubungi Wira saat di rumah sakit tapi handphone –nya mati untuk waktu yang sangat lama. Aku juga sudah mengirimkan banyak SMS dan bilang Mama-ku belum sadar juga. Lalu keesokan pagi saat terbangun dari tidur yang sama sekali tidak nyenyak, aku melihat satu pesan baru di handphone –ku.
Aku langsung menangis saat membaca isinya.
“JANGAN HUBUNGI AKU LAGI. AKU NGGAK BISA LANJUTIN HUBUNGAN KITA. AKU HANYA MAU SENDIRI SEKARANG”
Aku membalas dan terus memohon. Tapi, percuma. Karena Wira mengganti nomornya. Aku sadar sudah banyak waktu yang terbuang. Ada banyak hal yang kulewatkan selama menjaga Mama di rumah sakit tanpa harapan.
----
Upacara wisuda sudah digelar kemarin.
Aku ketemu Ben.
“Biasanya dia selalu maafin aku” kataku menangis.
“Setiap orang punya batas sabar, Bit” balasnya.
“Kamu mau temenin aku ke rumahnya nggak?” tanyaku. “ Aku harus bilang sama keluarganya, dia nggak bisa ninggalin aku dengan cara kayak gini...”
“Kamu punya harga diri nggak sih?!” Ben terdengar marah. “Cowok kayak gitu dipikirin! Dia belum tentu mikirin kamu! Waktu masih pacaran aja dia nggak peduli apalagi sekarang!”
“Terus aku harus gimana? Aku nggak tau... Aku nggak bisa kalau nggak ada dia...”
“Lanjutin hidup kamu, Bit!”
“Tapi, aku harus bicara dulu sama Wira! Aku harus ketemu sama Wira. Aku yakin kalau ketemu sama dia dia pasti berubah pikiran. Dia bilang berat buat mutusin aku, tandanya dia masih sayang sama aku!”
“Kamu tau nggak sih sekarang dia udah di mana?!”
“Kamu sempat ketemu dia?”
“Dia ketemu sama temannya yang katanya bisa ngasih kerjaan! Temannya itu anak orang kaya, punya satu perusahaan omsetnya miliaran! Udah jelas kan dia itu orangnya kayak apa?”
“Aku bakal nyusul dia ke sana... Aku harus ketemu sama dia, Ben...”
“Kamu memang gila ya? Aku bisa aja bantu karena aku tahu alamatnya di mana tapi kamu pikir lagi, apa untungnya kamu ketemu dia? Kalau dia masih mau sama kamu, dia nggak akan ninggalin kamu kayak gini. Sifat bisa dirubah, Bit. Nggak seharusnya dia putusin kamu gara – gara sikap kamu ke dia, nah sikapnya sendiri itu apa?! Kamu mikir dong pakai logika. Dia cuma menganggap kamu sumber masalah buat dia. Mana mungkin dia kepikiran soal nikah sementara dia aja mau ngelajutin S2?! Lagian adiknya banyak, ayahnya sudah mau pensiun juga. Siapa sih yang akan tanggung jawab?!. Dia merasa kamu hanya menghalang – halangi dia, makanya dia putusin kamu! Buka mata kamu, dia suka manfaatin orang demi kepentingannya sendiri!”
Daratan adalah cinta yang kudapat dari Wira yang mulai kuragukan kebenarannya. Suatu hari aku berpetualang dalam sebuah labirin dan berusaha menemukan jalan keluarnya. Selama menyusuri tiap sudut aku menemukan banyak hal. Seperti kepingan jigsaw puzzle yang jika disatukan membuat sebuah gambar yang jelas. Kepingan-kepingan jigsaw itu adalah semua kecurigaan yang selalu kuingkari.
Terbukalah segalanya.
“Dengar ya , Bit, kamu hanya pelarian, dia sebenarnya ditolak Putri buat balikan lagi. Sebenarnya aku sudah lama tau karena aku ngomong langsung sama Putri waktu kami secara nggak sengaja ketemu. Tapi, aku nggak mau bilang karena mungkin Wira serius! Tapi, kenyataannya nggak!” Ben terus menambah beban pikirannya. “Wira cowok matre!”
Dulu aku pernah dengar hal yang sama dari orang lain yang ngakunya sudah kenal Wira sejak lama. Entah mengapa aku mulai membenarkan semua itu.
“Sekarang dia manfaatin temannya sendiri untuk dapatin yang dia mau. Dia sama sekali nggak pantas dicintai sama orang yang tulus kayak kamu. Kamu cuma tertipu! Dia nggak menganggap kamu lebih dari sekedar pelarian, Bita!”
Mimpi tidak seindah dulu. Tidak ada lagi canda tawa. Tidak ada lagi hiburan di kampus yang membuat aku tertawa dalam kesendirian. Aku yang duduk paling belakang dan memperhatikan pelajaran. Tidak ada hal yang lebih baik dari saat aku menunggu Mama pulang dan selalu punya oleh-oleh untukku. Aku yang tertidur dalam gelap malam dan hujan petir seorang diri. Biar saja. Asal aku tidak tersiksa perasaan seperti ini. Asal aku tidak jatuh cinta dan menyiksa diri sendiri. Asal aku bisa tertidur sampai pagi hari dan bangun dengan perasaan yang tidak lebih baik dari kemarin. Biar saja. Asal jangan merasa kehilangan seperti saat ini.
Ketika bendera hitam berkibar di tengah jalan gang menuju ke kontrakan yang bagiku punya banyak kenangan buruk. Tetangga berdatangan dan mulai berbisik soal kematian Mama. Membuat aku tidak tahan lagi tinggal lebih lama di sana.
Selamat tinggal, Mama...
Wira tahu rasanya saat ditinggalkan dalam keadaan yang seperti ini. Apa yang kualami sama persis dengan yang pernah dia ceritakan saat ibunya meninggal. Tapi, hatinya pasti sudah mati untuk bisa menyadari bahwa dia telah menyakiti satu-satunya orang yang setidaknya tidak akan pernah ia temukan lagi. Hanya aku. Hanya aku yang bisa menerima semua kesombongan dan kebohongan akan dirinya yang hebat dan sok religius. Yang rela berkorban apa saja. Tapi, tentunya dia bukan orang yang pantas. Bukan orang yang pantas mendapatkan gadis suci seperti aku walaupun dia merasa karena satu bagian dari hidupku yang rusak, aku tidak jauh beda dari kebanyakan gadis. Itu terserah dia. Semoga dia dapatkan apa yang dia mau.
Kakiku akhirnya menyentuh dasar. Yang terasa berpasir dan berbatu. Namun aku merasa melihat cahaya membias tatkala tanganku yang lemas bersentuhan dengan dasar yang berpasir. Seperti ada pintu di dasar air...
ooOoo
Komentar
0 comments