๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Langit yang tak seindah daratan
Bagiku langit yang luas hanyalah ilusi karena bentuknya bisa berubah kapanpun. Jika dari daratan kita lihat langit begitu indah, tapi ketika kita pergi ke sana untuk memastikan seperti apa di atas sana, kita hanya melihat titik-titik air yang menyatu seperti asap tebal yang hampa bila sentuh. Begitu kita lihat ke bawah ternyata daratan lebih indah. Karena gunung, lembah, pesawahan yang tampak seperti kotak-kotak dan laut biru lengkap dengan kapal-kapal yang tengah mengarunginya, terhampar bagaikan gambar di selembar kertas yang sanagat besar. Seperti sebuah dunia fantasi, tapi pemandangan itu benar-benar ada. tidak seperti langit, yang keindahannya hanya ilusi belaka karena langit sebenarnya tidak berwujud.
Aku terdiam beberapa saat, sebelum Alya menegur memberitahu bahwa handphone-ku terus berdering dalam tas.
Aku tahu itu Daniel, tapi aku sengaja tidak mengangkatnya. Ucapannya semalam terus membuatku berpikir bagaimana sebaiknya. Sepertinya aku kembali terjerat dalam cinta buta yang mungkin akan menyakitiku lagi. Bisa saja lebih buruk dari yang pernah kualami dengan Wira. Aku harus segera menemukan jalan keluar sebelum benar-benar terjerat. Aku tahu siapa Daniel. Dia jahat dan tidak ada seorang pun yang bisa membuatnya berubah.
“Tumben tadi pagi minta jemput sama Ben” komentarnya soal tadi pagi saat aku keluar dari mobil Ben dan semua orang memperhatikan dan menyangka bahwa aku adalah korban Ben selanjutnya.
Tentunya mereka tidak tau, mungkin Ben-lah yang menjadi ‘korban’-ku. Meski aku sama sekali tidak bermaksud demikian, rasanya aku cukup keterlaluan padanya.
“Tiap sebentar pinjam uang, karena dia suka sama kamu”, komentar Alya.
“Tapi, aku pasti bayar kalau sudah punya uang” kataku.
“Masih lama, Bit” celetuknnya, “Sampai lulus juga pasti kamu akan pinjam uang sama dia. Kalau kamu cuma jadiin dia tempat pinjam uang itu namanya kelewatan! Hitung berapa uang yang sudah kamu pinjam. Banyak!”
“Ben itu playboy! Ada satu kejadian yang membuat aku nggak bisa terima dia jadi pacarku!” jelasku, “Waktu semester satu aku pernah memergoki dia berduaan sama ceweknya di toilet, tau nggak? Sejak itu aku jadi malas”
Alya tertawa terbahak-bahak saking lucunya, “Jadi itu kejadian di toilet yang waktu itu dia pernah bilang?”.
Aku tidak menjawab lagi dan memandangi Alya yang merasa itu sebuah kejadian yang sangat lucu. Padahal sama sekali tidak lucu buatku.
“Kejadiannya sudah lama. Jangan sok suci, memang kamu sama Wira nggak pernah aneh-aneh apa?” celetuknya sehingga aku terdiam dan ternyata cewek ini juga tidak sepenuhnya berubah, masih suka mencurigai orang dengan caranya berpikir, “Semua pernah, Bit. Jadi nggak usah menjadikan itu alasan. Jaman sekarang sudah nggak ada lagi orang yang suka mempermasalahkan hal-hal itu karena semua juga pernah merasakan”
Akhirnya yang diomongin muncul juga.
Kami lihat Ben melambaikan tangannya kepada cewek yang tadi dibawanya sebelum datang menghampiri kami dan lagi-lagi aku patah semangat. Memangnya kalau pacaran sama Ben bisa jadi nomor berapa? Tiap sebentar bilag mau jadi pacarku, hutangku lunas kalau mau jadi ceweknya, tapi dia tetap seenaknya gandeng cewek baru.
---
“Siapa sih yang SMS?” tanya Ben mencurigaiku lagi ketika handphone-ku berbunyi, “Daniel?”
“Bukan!” cetusku sebal, “Alya!”
Alya berkata dalam SMS -nya aku harus mencoba membuat Ben berubah. Walau awalnya aku menyerah karena aku tidak akan bisa merubah penyakitnya yang sudah akut. Tapi, Alya meyakinkan lagi padaku, jika Ben tidak berubah, aku punya alasan untuk tidak harus pacaran dengannya. Karena itu, saat Ben mengajakku pergi, tanpa pikir panjang aku langsung jawab iya dan akhirnya aku duduk di mobilnya menuju suatu tempat.
Tanpa banyak bicara, tanpa ada keramahan karena aku memang benar-benar terpaksa melakukannya.
“Kalau diperhatikan sepertinya kamu sering pakai baju yang itu-itu -aja” komentarnya dan bikin aku jadi bertanya-tanya,
Apa urusannya dengan baju yang aku pakai? Dia mau menyindirku karena belakangan ini aku bahkan sudah tidak punya uang hanya untuk beli sehelai t-shirt saja?
Ben berhenti di depan sebuah butik yang ia lihat di pinggir jalan dan memajang fashion andalannya pada manekin yang berjejer sepanjang etalase kaca yang mengkilat dan nampak ‘bling-bling’ dari kejauhan. Aku harusnya senang, dia membelikan baju yang bagus. Dia memaksa walaupun aku sudah menolak dengan cara yang halus bahwa baju itu sama sekali tidak cocok buatku karena aku terlalu kurus.
Bagian yang melelahkan bagiku adalah terlalu banyak mengepas baju tapi belum ada satupun yang menurutnya bagus. Sampai akhirnya pilihannya jatuh pada baju pertama yang aku coba. Entah maksudnya mengerjai karena dia selalu menjahiliku atau dia mencoba untuk sedikit perhatian.
Aku tidak pernah tahu sifatnya yang ini, sehingga aku agak kaget. Aku berusaha bersabar begitu sudah ada di mobil dan mendengarnya mengumpat bahwa butik itu menjual baju-baju yang tidak ada bagus-bagusnya sama sekali. Aku masih tetap tersenyum padanya, karena tidak mungkin mengajaknya ribut setelah dia berikan aku hadiah yang mahal.
“Aku lapar” kataku
“Oh, kalau gitu kita cari tempat makan” katanya, dengan bahasa dan nada yang lebih enak didengar.
Ben mencari sebuah restoran yang menurutnya enak. Restoran modern dengan menu ala barat yang identik dengan makanan kelas atas. Membuatku linglung dan kehilangan selera makan karena pilihan menu yang tidak sesuai seleraku. Sampai akhirnya, dia sendiri yang pilihkan dan menurutnya, makanan itu adalah menu spesial dan menjadi andalan di restoran itu. dengan pemandangan pinggir pantai yang kerlap-kerlip di malam hari.
Sekali lagi, aku membalas sikapnya itu dengan senyuman manis dan dia pun memperlakukan aku dengan sangat manis. Seumur-umur baru sekali itu makan makanan yang terlihat bagus di pandang mata sampai merasa sayang untuk dimakan tapi rasanya sama sekali tidak ada enak-enaknya. Ini pertama kalinya duduk di sebuah restoran mahal yang harga makananya lebih dari empat puluh ribu rupiah per porsi . Kalau ditukarkan ke abang tukang bakso, aku bisa makan empat porsi sampai perut ini kembung. Seleraku memang kampungan dan tetap saja lebih suka bakso tanpa kecap dan tanpa sambal.
“Kok nggak dihabisin sih?” tanyanya,
“Kenyang” jawabku singkat, dan masih tersenyum manis.
Sepanjang perjalanan ke tempat yang lain lagi, aku tidak terlalu banyak bicara yang hanya diam saat ditanya, rasanya tidak nyaman dengan hal-hal yang kualami bersama Ben beberapa jam belakangan. Aku melirik jam di handphone-ku yang sudah menunjukan jam 7 malam, aku ingin sekali minta pulang karena capek.
Lalu handphone-ku berbunyi lagi. Nama Daniel muncul di layar dan aku malah mematikannya. Sejak malam itu aku nggak mau mengangkat telponnya lagi.
“Handphone kamu bunyinya jelek” katanya dan jelas membuat aku tersinggung.
Maksud dari ucapannya itu adalah ingin membelikan aku yang lebih bagus dan tentu saja baru. Jadi toko handphone adalah tujuan Ben berikutnya.
Tanpa banyak bicara dia meminta penjaga counter handphone yang ia datangi untuk mengambilkan handphone yang menurutnya bagus.
“Gimana? Kamu suka nggak?” tanyanya,
Aku tidak menjawabnya dan malah pergi meninggalkannya. Aku memang pernah mengharapkan pemberian dari seorang cowok, tapi bukan pemberian yang seperti itu. Seolah Ben, mengharapkan sesuatu dariku apabila dia memperlakukanku seperti seorang ratu. Atau setidaknya aku akan tergiur karena tidak pernah memimpikan punya barang-barang mahal. Aku tidak bisa bayangkan dan yang kurasakan saat itu adalah, dia mencoba menghargaiku dengan uang!
Ben bukan satu-satunya cowok kaya yang pernah kukenal. Daniel mungkin setara dengannya tapi Daniel tidak pernah menghargaiku dengan barang pemberian yang mahal! Karena menurutku, Ben sedang berusaha memperlihatkan betapa kaya dirinya dan aku membutuhkan orang seperti dirinya untuk bisa bertahan hidup. Kurasa, dia sama sekali tidak cocok untukku.
---
“Bita, tunggu!” Ben memanggilku saat berusaha menyusulku hingga ke toilet tempat di mana aku menghilang dari pandangannya.
Sewaktu keluar dari tolilet, aku menemukannya masih menunggu di luar dan betapa kagetnya dia saat aku mengembalikan tas belanja yang berisi baju yang tadi dia belikan. Aku tidak akan tahan dengannya. Jadi aku putuskan untuk pulang sendiri tanpa bicara apapun lagi.
Jika sekali saja aku bicara, pasti ribut! Berdasarkan pengalamanku, ribut hanya menambah masalah dan membuatku terlihat kekanakan. Aku tidak mau mengacaukan hidupku lagi hanya karena tidak bisa mengendalikan emosi. Daripada bicara, aku lebih memilih pergi sebelum emosiku memuncak dan bisa saja berteriak padanya dengan suara yang sangat keras. Aku seorang perempuan dan tidak mau terlihat bodoh saat marah.
Tapi, dia terus mengikuti dan tidak mau menyerah. Berikutnya dia paksa aku naik ke mobil dan tetap ingin mengantar pulang walau aku sudah bilang berulang kali ingin pulang sendiri.
Aku tidak bicara dan berusaha untuk tidak terlalu memikirkannya. Mobil terus melaju sampai kami menemukan kemacetan di jalan karena ada sebuah mobil yang mogok.
Orang-orang tampak berusaha mendorong truk itu ke pinggir supaya jalanan lebih lapang dan bisa kembali dilewati oleh mobil. Parahnya mobil itu adalah sebuah truk besar yang membutuhkan waktu yang lama untuk bisa memarkirkannya di pinggir jalan. Beberapa orang tampak berusaha keras mendorong truk. Sementara itu pengendara motor yang tidak bisa lebih sabar terus menyerbu celah di mana mereka bisa lewat tanpa peduli akan menimbulkan kemacetan lebih parah dan lebih lama.
Ben meggerutu dan kesal saat ia harus terjebak sementara pengendara motor tidak mau mengalah. Tapi, jumlah mereka sangat banyak. Satu menyelip yang lainnya juga ikut menyelip, mereka tidak menghiraukan relawan yang berusaha mengatur lalu lintas. Padahal jalanannya sempit. Berputar pun tidak bisa, seharusnya truk itu tidak masuk ke jalan ini.
Jika aku berjalan kaki melewati jalan itu hanya butuh sepuluh menit untuk bisa sampai di rumah. Terkadang naik mobil bisa jadi merepotkan. Akhirnya kami terjebak sampai setengah jam karena banyaknya kendaraan yang mau lewat.
Aku masuk ke rumah dengan perasaan marah saat handphone-ku kembali berbunyi. Dan aku terpaksa mengangkatnya karena Daniel selalu berusaha untuk membuatku tenang lewat SMS yang selalu meminta maaf.
“Aku keluar sama Ben” jawabku saat ia bertanya kenapa aku tidak mengangkat telponnya sejak tadi.
“Jadi kamu mulai pendekatan sama dia ya?”
“Bukannya kamu yang suruh?” cetusku,
“Masih marah?”
“Nggak”
Aku langsung ke kamar setelah mengunci pintu dan memastikannya sudah terkunci rapat sehingga aku bisa mandi lalu istirahat.
“Kamu teler lagi ya?” tanyaku ketus karena suaranya kembali terdengar tidak jelas dan gemetar.
“Kenapa kamu menuduh begitu?”
“Kalau kamu lagi waras nggak pernah telpon aku. Memangnya aku dianggap apa sih?” balasku lebih ketus, “Apa bedanya kamu sama Wira yang datang kalau lagi susah tapi senangnya sama orang lain!”
“Aku sejahat itu ya?”
“Kamu pikir aja sendiri! Aku nggak ngerti kenapa aku selalu ketemu cowok nggak berguna! Nggak pernah ada yang lebih baik dari yang sudah-sudah! Aku capek! Aku capek dimainin sama orang-orang kayak kalian!”
Hari itu aku kesal sampai ke ubun-ubun. Mungkin karena capek aku jadi mulai membandingkan ketiganya. Wira yang sok baik dan pintar, Daniel yang tidak bisa mengubah kebiasaan buruknya dan Ben yang selalu menghargai segala sesuatu dengan uang.
Aku muak! Aku muak! Lebih baik tidak usah memikirkan soal pacaran karena membuat seseorang jadi lupa dengan apa yang seharusnya dilakukan.
Aku melihat kalender yang kutandai dengan hal-hal penting tentang skripsi yang harus ditulis. Aku harus diwisuda tahun ini, jika gagal, kurasa aku akan mati bunuh diri!
Walau langit tidak lebih indah dari daratan, tapi langit adalah tempat paling tinggi yang selalu ingin dicapai orang-orang. Aku juga ingin ke sana, mewujudkan harapan mama satu-satunya untuk bisa memeluk bulan.
Rasanya hampir nggak mungkin dengan keterbatasan yang kumiliki. Tapi, sebagian orang ada yang bisa menembus batas itu. Seperti Daniel yang melawan gravitasi di dalam tong setan dengan motornya dan nggak semua orang bisa melakukannya dengan sempurna.
ooOoo
Komentar
0 comments