[Ch. 20] CINTA HITAM - Baca Novel Romantis Dewasa Online

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

 End of Mission

“Pemerintah sudah punya rencana yang bagus untuk pengungsi!” kataku memberitahu Ron soal rencana pemerintah yang akhirnya telah membuat sebuah kebijakan yang menentukan nasib para pengungsi yang sudah terlunta-lunta sejak bencana.

“Saya sudah dengar” jawabnya tersenyum.

Ruangan itu tidak lagi seramai seperti saat aku pertama kali datang. Satu per satu mulai pergi seiring berkurangnya intensitas pekerjaan dan habisnya kontrak para staf yang sudah kembali ke kampung halaman.

 “Sepertinya kamu kelihatan sudah jauh lebih baik daripada saat saya bertemu kamu pertama kali enam bulan yang lalu di Jakarta”  jelasnya dan membuatku terhenti mengetik, menoleh padanya. “Saya bisa melihatnya di mata kamu, sebuah perasaan putus asa yang sangat dalam saat kamu harus kembali ke kota asal karena gagal dalam tes. Dan saat itu, saya berpikir dua kali karena untuk sampai ke Jakarta kamu pasti mengalami banyak hal yang rumit”.

“Apa kelihatan sangat jelas?’ tanyaku.

“Sangat” jawabnya sambil tersenyum,  “Yeah...life is hard, isn’t it?”

“Saya pinjam uang dari teman saya setelah saya pernah dipecat karena kesalahan yang tidak pernah saya ketahui. Rasanya sangat tidak adil, tapi...setelah saya pikir lagi, kejadian itu mempunyai sebuah arti yang bagus” jelasku, sambil tersenyum, “Jika saya tidak dipecat tentu saya tidak akan berada di sini dan megalami hal-hal yang menakjubkan dalam hidup saya”

---

“Kamu punya rencana besok pagi?” tanya Ron sebelum aku meninggalkan mejaku untuk segera pulang ke rumah dan istirahat.

“No” jawabku, “Why?”

“Apa kamu mau melihat apa yang tersembunyi di balik asap di atas sana?”

“Mendaki?”

“Besok ada ekspedisi yang dilakukan oleh jurnalis. Mereka ingin melihat sisa-sisa letusan dan mereka mengundang kita untuk mendampingi mereka”

Ron mengajakku mendaki gunung, hal yang sama sekali tidak pernah kulakukan sebelumnya dan bahkan aku tidak pernah memikirkannya.

Lahar yang dulu panas telah membeku, menutupi setiap jengkal tanah. Pemandangan serba hitam di mana pepohonan telah tumbang hangus terbakar, melintang di sepanjang perjalanan. Tapi, kami juga menemukan beberapa tanaman hijau yang baru saja bertunas dan tumbuh. Tanah ini telah menjadi tanah yang subur di mana sebuah kehidupan baru akan dimulai lagi.

Rombongan terus mendaki dataran hitam dan berdebu tebal. Masing-masing membawa kamera untuk megabadikan dataran yang terasa makin dingin saat kami hampir menuju titik tertinggi yang boleh kami daki. Mereka terdiri dari wartawan, dan penduduk setempat yang bertugas sebagai pemandu.

Aku lelah di saat lututku terasa sangat nyeri saking lamanya mendaki.

Ron mengulurkan tangannya agar aku meyelesaikan langkah terakhir sesaat sebelum kami mencapai ketinggian yang cukup untuk bisa melihat ke bawah sana.

Bagi para pendaki ini adalah kepuasan tak terkira. Saat mencapai titik tertinggi di  mana dataran dapat terlihat dengan sempurna. Sebuah pemandangan yang luar biasa selepas bencana dahsyat yang sampai tersiar ke seluruh dunia.

Wajahku memerah, tanganku dan kakiku gemetar, aku berdiri dengan sisa tenagaku. Lalu perlahan bisa kembali menegakkan punggungku kala menikmati indahnya dataran yang selama ini hanya pernah aku lihat dari atas pesawat.

Terima kasih sudah membawaku ke sini...

“Kamu berhasil” kata Ron padaku, yang sedang mengatur nafas dan kelihatan sangat puas dengan ekspedisi ini. “Inilah dunia”

Aku tersenyum, “Bukan ilusi...” sambungku. Ternyata ada tempat seperti ini di muka bumi.

Anggota rombongan berteriak puas. Mereka duduk menikmati langit biru dengan awan yang berarak seperti arum manis. Beristirahat untuk minum dan menikmati makanan kecil sambil bercerita bahwa mereka telah melakukan hal yang hebat hari ini. Kami menonton seorang reporter yang meliput keadaan gunung setelah bencana dan pastinya akan menjadi berita yang menarik.

Mereka datang dari Jakarta. Mereka adalah orang-orang yang sangat kreatif yang berhasil menciptakan tayangan-tayangan bermutu dan diminati orang. Dengan kisah perjuangan, petualangan, ilmu pengetahuan, hingga program komedi dan  film-film box office di sebuah stasiun TV swasta nasional yang terkenal.

“Datang aja ke Jakarta” kata seorang dari mereka saat kami bertukar cerita soal pekerjaan.

Mereka bilang pekerjaanku-lah yang paling menyenangkan, tapi menurutku bekerja di sebuah stasiun TV nasional adalah sebuah pekerjaan yang tidak mudah didapat.

Aku mendapat kenalan yang mungkin bisa membatuku jika aku ingin bergabung dengan tim kreatif mereka. Wah, aku luar biasa senang! Tapi, harus datang ke Jakarta.

---

Ron menyelamatkan hidupku. Aku akan mengingat sosoknya yang pemarah itu selamanya. Sosok yang memberiku sebuah tipping point terbaik yang pernah ada.

“Itu untuk kamu. Kamu boleh menyimpannya untuk saya, dear” katanya menolak saat aku mengembalikan kameranya di bandara sesaat sebelum keberangkatannya. “Don’t cry” ujarnya saat aku bersandar dan dia menepuk-nepuk punggungku “Kamu akan baik-baik saja”

Aku mengangguk.

“I won’t forget you as a little black pearl. Now, don’t cry.Banyak hal yang akan terjadi” ujarnya lagi.

Aku melambaikan tangan kepadanya saat perlahan mulai menghilang dari pandanganku. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah melupakannya.

Selalu ada perpisahan setelah pertemuan. Namun, kurasakan bebanku berkurang tanpa kusadari. Mungkin sejak hari aku melihat dataran dari atas gunung dan aku pun bahkan tidak pernah terbayang akan mendaki gunung, aku melupakan kepahitan mendasar dalam hidupku.

Di sana aku menatap langit dan memanggil Mama, lalu berkata dalam hati, aku tengah memeluk bulan, Ma...

Aku kembali bekerja selepas kepergian Ron dari kantor, sebelum kontrak berakhir dan berencana pulang ke kampung halaman. Bertemu teman-teman, membawa banyak cerita untuk menyemangati mereka, untuk tidak menyerah berjuang.

Kemudian, giliran Winina yang  pergi.

“Kapan-kapan kita ngumpul lagi ya?” ajaknya, “Habis ini aku ke Jakarta, siapa tahu kita bisa ketemu lagi di sana”

“Ya” jawabku. “Siap untuk dangdut-an lagi?”

Winina yang tinggal di Jakarta sendiri tersenyum,  dan sepertinya ia masih akan mencari pekerjaan yang sama. Dia memang seorang ratu talkshow yang terbaik yang pernah kami punya di sini.

Handphone-ku berbunyi. Sebuah nomor fixed line dengan kode area 021 muncul di layarnya.  Dari seseorang yang tidak kukenal yang berada di Jakarta dan sudah membaca CV yang kukirimkan dengan iseng-iseng dan Ron sebagai referensinya.

Yah, handphone-ku masih sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Handphone yang dibilang jelek oleh Ben. Bagaimanapun ini adalah pemberian mama yang masih tersisa. Aku tidak berniat membeli yang baru, walaupun Blackberry makin marak karena perlahan turun harga seiring keluarnya model baru dan bergantung kepada kurs dolar. Aku tidak butuh Blackberry karena handphone-ku masih bisa mewakili komunikasi jaman sekarang lewat SMS dan telpon. Lagipula, masih ada jejaring sosial dan email yang bisa dilakukan lewat laptop dan sambungan internet.

Aku tidak mau seperti mereka yang keranjingan dengan Blackberry sampai tidak peduli sekitar. Yang sibuk berkirim pesan dan ‘ngerumpi’ sampai lupa kerja. Tidak  di mana-mana, pengguna smartphone itu selalu sibuk dengan dunianya sendiri dan kadang bikin aku geleng-geleng kepala. Atau mungkin aku orang yang kuno?

Padahal sudah terbayang olehku untuk pulang. Sepertinya aku harus membatalkannya karena mungkin ini bisa jadi lebih penting. Walau rasanya sudah seperti bertahun-tahun jauh dari kampung. Padahal belum sampai setahun. Mungkin karena aku terlalu lama tinggal di desa dengan lingkungan yang cukup terbatas dengan dunia luar.

Rambutku sudah panjang lagi. Banyak hal yang berubah. Penampilan dan wajah yang kusam karena jarang berdandan. Tubuhku lebih kurus. Kurasa ini lah penampilan terbaikku yang apa adanya. Tidak seperti dulu di saat aku, menyembunyikan rahasiaku dengan memakai pakaian bagus dan mahal supaya aku bisa setara dengan anak-anak di kampus. Aku bahkan tidak mempunyai alat make up yang lengkap sekarang.

Kurasa begitu sampai di Jakarta nanti aku harus pergi ke salon dan membeli pakaian resmi untuk menghadiri interview pekerjaan yang penting itu.

ooOoo


Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments