[Ch. 23] CINTA HITAM - Baca Novel Romantis Dewasa Online

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

Begin Again

Matahari akan terbit. Semuanya akan baik-baik saja.

Aku bangun pagi-pagi sekali, memakai celana longgar, kaos dan jaket. Berlari dengan sepatu kets ke pinggir pantai yang ramai setiap pagi minggu oleh anak-anak muda dan orang – orang tua yang melakukan terapi untuk kesehatan. Sambil membawa kamera dan memotret apapun yang menurutku menarik. Menjadikannya sebuah jurnal, yang akan kubaca saat aku merindukan kedua kakiku yang masih kuat untuk melangkah dan berlari, mengejar mimpi.

Aku hanya bisa tersenyum, ke mana aku akan mencari cinta itu?.

Kembali ke kotaku.

Bukannya aku tidak mempercayai cinta. Aku cenderung menunggu karena kupikir Tuhan sudah merencanakan yang terbaik untukku.

Aku tinggal di rumah Alya sementara karena selama menikmati masa cuti dua minggu ke depan. Sebelum kembali ke kota yang padat dan macet untuk berhadapan dengan komputer, pertemuan dan mitra kerja.

Sebuah mobil sedan berwarna hitam yang terasa familiar olehku, berhenti di depan pagar.

“Ben?” aku dan Alya sama-sama terkejut, kenapa dia bisa ada di sini?

Apa yang membuatnya kembali ke sini?

“Memangnya aku nggak boleh pulang kampung apa?!” Ben menjelaskan. “Dari tadi aku telpon Bita tapi nggak aktif-aktif!”

Aku segera sadar dan melihat handphone-ku yang ternyata sudah ‘tewas’. Yah, baterainya memang suka bermasalah akhir-akhir ini. Memaksaku untuk membeli yang baru..

“Jangan sedih gitu dong, jangakan barang, orang aja kalau kelamaan dipakai pasti rusak!” kata Ben, kembali lagi jadi sosoknya yang gila dan heboh dengan tawa renyahnya.

Hidup punya banyak kejutan.

“Pasar malam!” seru Ben mengagetkan aku yang duduk di sampingnya dan kami sudah berada di parkiran pasar malam.

Seperti kembali ke masa lalu di mana saat itu aku datang dengan keresahan yang tidak bisa diungkapkan. Sulit untuk bicara. Di tempat yang sama pasar malam digelar setiap tahunnya setiap perayaan hari ulang tahun TNI. Menghibur orang-orang yang mungkin menantikannya selalu. Melihat kelucuan artis lokal, lagu dangdut sampai larut dan pulang dengan tawa ceria.

Alya menunjuk perahu ‘kora kora’ yang dulu pernah kami naiki bersama.

Aku menggeleng, “Nggak deh...” gumamku menghindar, “Aku nggak mau naik itu...”

Alya heran padaku dan menatapku terpana, “Kamu nggak apa-apa?” tegurnya saat aku tertunduk.

Menyembunyikan wajahku yang memerah.

“Bita?” tegurnya lagi mendekat untuk memastikan aku tidak menangis.

“Yuk, naik!” ajak Ben yang sudah membeli tiket tapi dia hanya menarik Alya untuk pergi.

Naik perahu itu megingatkan aku akan segalanya, juga bianglala mini yang tengah berputar kencang. Dan “Ngeeeng!” suara yang khas itu seakan memanggilku lagi.

Aku menoleh ke belakang, tong setan, rumah pelarian yang kudatangi untuk menghilangkan kesepian yang melandaku sejak Mama pergi. Aku melangkah ke sana. Ragu-ragu apakah aku akan menaikinya seperti 3 tahun lalu. Melihat pertunjukan dan tertawa lagi.

Jantungku berdebar keras.

Terbayang olehku Daniel ada di dalam sana, tengah memanaskan mesin motor. Memakai celana robek dan baju kaos longgar. Menengadah ke atas untuk tersenyum padaku. Seperti memanggilku untuk melihatnya.

Tapi, bukan dia yang berputar seperti kelereng di dalamnya. Dua orang lain yang sama sekali tidak aku kenal.

Apa yang kuharapkan?

Daniel sudah benar-benar pergi dari hidupku. Meninggalkan kerinduan dalam yang menyiksaku setiap ingat padanya dan bertanya kenapa aku tidak bisa bersatu dengannya. Cinta hitam yang tidak pernah bisa aku miliki.

Semuanya seakan kembali menghantuiku. Bagaimana aku berputar bersamanya dalam tong itu dengan teriakan dan kengerian, namun menyenangkan. Seperti baru kemarin aku bisa memeluknya dengan erat dan dia pun tertawa.

Pertunjukan itu kembali membuatku sedih, saat kedua motor yang tengah berputar-putar turun untuk mengakhirinya. Satu per satu penonton mulai turun dan menyisakan aku, juga seorang wanita yang masih berdiri di tempatnya memandang ke bawah.

Kedua pengendara itu sudah keluar tapi, wanita separuh baya itu masih berdiri di sana.

Aku pun turun juga sebelum penonton yang baru naik untuk atraksi berikutnya dan kulihat kedua orang itu sedang sibuk membeli jajanan, memakannya berdua saja tanpa mengingatku.

Apa-apaan mereka?, gerutuku kesal dan hendak menghampiri mereka. Tapi, seketika aku menghentikan langkahku karena kupikir aku akan mengganggu.

Biar saja mereka seperti itu.

---

“Kamu sadar nggak sih kalau mungkin kalian cocok?” tanyaku pada Alya, di malam kami belum juga bisa tidur karena sesuatu di pasar malam itu.

Alya tahu, kembali ke sana membuatku sedih.

“Mana mungkin, Bit?” balas Alya.

Sama-sama menatap langit-langit kamar, seperti biasanya saat kami bingung mengutarakan kesulitan masing-masing.

“Apa pantas?” tanya Alya.

“Ben nggak pernah punya pacar sejak di Jakarta. Yang aku tahu...” jawabku, “Mungkin...”

“Kamu tau betul apa yang bikin aku selama ini nggak ingin pacaran...” katanya dengan sedih. “Aku takut...”

“Kamu harus jujur, Al” balasku.

“Kalau dia nggak terima?” tanyanya bimbang.

“Aku juga nggak tau” jawabnya, “Tapi, Ben kenal kamu dengan baik”

“Aku bingung, Bit...” akunya.

“Aku juga, nggak tau kenapa tadi waktu aku lihat kalian kayaknya cocok” sambungku meyakinkannya bahwa dia masih berhak untuk bahagia.

Alya seperti mau menangis.

“Semua orang punya sisi gelap, Al” ujarku, “Aku juga, berusaha untuk sembunyi tapi tetap nggak bisa. Tapi, Tuhan Maha Adil, Al. Kita dapat apa yang pantas buat kita, jadi kamu nggak usah takut”

“Terus?”

“Kita lihat saja...” ujarku, menenangkannya dan kurasa kami harus tidur agar bisa berpikir dengan jernih lagi besok pagi.

ooOoo


Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments