[Ch. 22] CINTA HITAM - Baca Novel Romantis Dewasa Online

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

Hampa

“Apaan sih ini?” Ben kaget setelah membaca surat yang aku serahkan padanya pagi-pagi sekali.

Aku hanya duduk dan diam di depannya, tidak ada yang bisa kukatakan selain bahwa aku tidak bisa melanjutkannya lagi.

“Aku nggak bisa terima” kata Ben,

“Masa gara-gara itu aja kamu mau berhenti?!”

Aku segera berdiri, apapun yang akan dia katakan untuk menahanku aku tidak akan tinggal di sini lebih lama.

“Bita!” panggilnya sambil menyusulku, “Tunggu! Kamu nggak bisa pergi dengan cara seperti ini!”

“Aku mau pulang, Ben” kataku, “Aku sudah terlalu lama di sini...”

“Aku tau kamu masih sakit hati! Mau membalas dia!”.

“Sudah cukup, Ben!” teriakku memintanya berhenti untuk berlagak bodoh.

Dia pikir ini adalah cara terbaik untuk membalas Wira, tapi kenapa sepertinya malah menyakiti aku?

Aku terkejut saat mendengar Mas Irwan bilang padaku bahwa dia akan memanggil Wira hari ini karena dia diterima.

“Maksud kamu apa?!” desakku untuk menjelaskan apa maksud dari semua rencana yang sudah dia susun tanpa sepengetahuanku dan membuatku sangat terpukul.

Pantas saja kemarin aku heran kenapa tiba-tiba ada penerimaan karyawan.

“Kamu sengaja! Kamu sengaja menyuruh dia ke sini dan membuat aku ada di sana kan?!” tuntutku, “Kamu keterlaluan, Ben!”

Ben awalnya terdiam, mungkin menyangka bahwa Mas Irwan akan diam saja dan tidak memberitahuku yang sebenarnya. Tapi, aku mendesaknya untuk bicara karena aku merasa ada yang tidak beres. Kenapa Ben minta tolong sama Mas Irwan agar memasukan Wira ke sini?

“Ini cuma menyenangkan kamu seorang, Ben!” kataku, menangis dan kecewa jadi satu.

Ben menggeleng-geleng dan sepertinya akan membantah, “Yang senang itu bukan aku, tapi kamu” katanya,

“Iya, betul! Sebelum aku tau bahwa ternyata kamu dalangnya!” teriakku lagi, “Kamu nggak tahu betapa aku nggak ingin melihatnya lagi?! Sampai aku berpikir berulang kali untuk nggak pergi ke Jakarta karena pernah lihat dia di bandara?!”

“Mau nggak mau kamu harus menghadapinya, Bit!” jawabnya, “Untuk membuktikan bahwa kamu nggak mengharapkan dia kembali lagi!”

“Tapi, bukan dengan cara kayak gini!” balasku, “Kamu nggak hanya mempermainkan aku, tapi Wira juga! Kasihan! Kamu tahu dia butuh pekerjaan, tapi kenapa kamu jadi jahat begini sih?!”

“Dia harus merasakan apa yang kamu rasain dulu!” jelas Ben, “Dia bahkan nggak pernah tahu kamu mencari aku untuk sekedar pinjam lima ratus ribu sementara dia malah sibuk sendiri! Aku bahkan dengar dari Alya kamu pernah datang ke rumahnya malam-malam habis jalan kaki jauh-jauh karena nggak punya apa-apa dan kelaparan! Kamu tahu nggak apa reaksinya dia saat aku kasih tau semua yang terjadi sama kamu?! Bahkan menyebut nama kamu saja dia sudah nggak sudi, Bit! Dia cerita ke temannya itu bahwa dia pernah memacari cewek yang kelakuannya nggak beres! Itu kamu! Aku sengaja ada di sana dan nggak pernah bilang bahwa kita berteman akrab, supaya aku bisa tahu apa yang benar-benar dia pikirin di saat kamu menderita gara-gara perbuatan dia!”

Aku syok. Tidak  pernah kubayangkan akan seperti itu jadinya.

“Dia pantas untuk itu, Bit...” Ben kembali meyakinkan aku, “Dia pantas menerima semua itu, Bit. Karena hukuman ini nggak datang dari kamu, atau aku, tapi dari Tuhan, melalui kita”

“Aku cuma mau pulang...” kataku.

“Kalau mau pulang kan bisa cuti, ngapain harus berhenti?” ujarnya, “Aku sudah bilang ratusan kali, jangan mikirin orang yang kayak gitu. Sekarang dia sudah kena batunya...”

Belakangan, aku memang sering memikirkannya. Tapi, bukannya mengharapkan dia kembali. Melainkan memberi pukulan yang hebat dan malah memantul kembali kepadaku. Aku bukan orang yang jahat, aku bukan orang yang tega menyulitkan orang lain. Aku tahu bagaimana diperlakukan lebih rendah oleh orang-orang yang merasa tinggi di atasku. Memperlakukannya seperti itu malah menyiksa diriku.

“Aku sengaja minta tolong Mas Irwan supaya dia tetap diterima. Dan kamu bisa perintah dia sesuka hati kamu” katanya lagi.

“Kamu ngomong apa? Melihat aku saja kemarin sepertinya dia nggak suka. Apalagi ketemu setiap hari” bantahku, “Aku tahu dia, yang harga dirinya selangit dan percaya diri yang luar biasa. Dia nggak akan datang”

“Mau nggak mau, Bit. Dia mau cari kerja di mana dengan IP segitu? Lagian dia mau menikah! Aku rasa dia juga menyombong sama pacarnya kalau dia hebat.”

Aku masih ingat saat Wira berjanji akan membawaku pergi bersamanya, berkeluarga, hidup berdua saat dia sudah mempunyai pekerjaan. Aku tidak akan lagi menyesali, bahwa dia sama sekali sudah menghapus aku dari kisah hidupnya. Walau aku sedih, Wira pernah menganggap aku adalah bagian memalukan dalam hidupnya.

Tapi, aku adalah pemenang dalam permainan ini.

Aku pun menghapus air mata kesedihan karena kebodohanku selama ini. Tidak  akan lagi menangis untuknya.

Maafkan aku jika aku orang yang jahat.

Anggap saja mengasihani orang yang malang, yang tidak punya pekerjaan di saat Jakarta semakin menunjukan kekejamannya pada perantau. Agar bisa bertahan hidup, membesarkan seorang anak dan menafkahi istrinya yang berkerudung dan soleha. Atau mungkin seorang gadis kaya, yang akan malu mempunyai seorang suami yang hanya bermodal kegagahannya, tapi  nol. Istilah lama seperti tong kosong nyaring bunyinya akhirnya berguna untuk menggambarkan Wira yang sok religius dengan semua kemunafikannya atas pengalaman mengharukan yang pernah dia ceritakan untuk menasehati aku untuk begini atau begitu. Tapi, ternyata semua hanya omong kosong. Cerita yang dilebih-lebihkan, agar aku menganggapnya hebat dan beruntung mendapatkan orang seperti dia.

Tapi, aku bersyukur tidak hidup dengannya, karena tentunya aku tidak akan pernah melihat ekspresinya saat duduk di depanku dan terbata-bata menjawab pertanyaanku yang sulit dan sengaja kuberikan untuk menguji benarkah dia sepintar yang pernah dia katakan.

Aku tahu dia cukup pintar untuk berkelit dengan berbagai argumen. Aku selalu kalah saat berdebat dengannya setelah dia menyalahartikan maksudku. Tapi, di interview itu dia sudah lebih dulu kehilangan harga dirinya di depan gadis murahan sepertiku. Jadi dia tidak bisa menjawab dan tidak benar-benar bisa membuktikan kepintarannya.

Mengungkit keburukan Wira memang tidak ada habisnya saat ini. Tapi, sejak dia pergi aku memang tidak bisa bernafas untuk pertama kali. Dan sejak dia pergi, berkatnya, sekarang aku mendapatkan apa yang kumau. Wira harus tau bahwa aku sudah mendapatkan apa yang aku mau.

Aku hanyalah manusia biasa, yang tidak bisa lagi menyembunyikan rasa benci. Aku puas.

Talkshow setiap maghrib itu pernah mengatakan jika kita benar-benar menginginkan sesuatu kita akan mencari 1001 cara untuk mendapatkannya, tapi di saat tidak meginginkannya kita akan mencari 1001 alasan untuk menolaknya. Yang terjadi dalam hidupku saat aku mencintai seseorang setengah mati, dan Tuhan pun tahu bagaimana aku berusaha untuk bisa bersamanya, sekarang hati dan jiwaku melawannya karena dia hanya menyakitiku.

Namun, bagaimana cara mengisi kekosongan ini? Kesendirian membuatku tidak berdaya.

---

Alya terkejut saat melihatku berdiri di depan pintu dan tentunya tidak pernah menyangka tiba-tiba aku kembali. Aku sengaja tidak memberitahunya lebih dulu.

Aku menyusuri semua kenangan yang telah kulalui. Saat-saat bahagia dan saat-saat paling sulit yang pernah membuatku hampir menyerah. Bersamanya waktu itu, di saat kami sama-sama putus asa. Luka itu sudah tidak pantas ditangisi, meski kami belum lagi jatuh cinta sejak itu. Aku tidak ingin jadi orang yang lupa diri. Sama sekali tidak ingin.

Aku sama sekali tidak pernah menyinggung masa lalu karena aku harus menunjukan padanya bahwa aku bahagia dengan kehidupanku. Aku sama sekali tidak pernah mempermalukannya di saat dia melakukan kesalahan. Aku bahkan dengan santainya bercanda dengan Ben di depannya di ruangan itu untuk memberitahunya bahwa selama ini Ben adalah seorang ‘mata-mata’-ku. Memberi tahunya bahwa kami sudah melakukan banyak hal bersama dan tentunya Wira tidak menyangka bahwa kami jauh lebih akrab dari yang pernah ia ketahui. Bukan hanya sejak kami menjadi rekan kerja, tapi sejak dia pergi meninggalkanku.

Kami sadar, sudah membuatnya tidak betah ada di ruangan itu. Menahan terlukanya harga diri seorang yang begitu percaya diri datang ke tempat itu bahwa dia bisa menaklukan pewawancara. Melihat dua orang yang dulu, ia anggap remeh saat kami sekelompok dengannya. Menyebut Ben gila dan menyebutku bodoh. Seakan dia satu-satunya orang yang pintar di dunia ini.

Aku salut padanya yang pasti merasa, ia sedang dianiaya. Tuhan sayang padanya jadi dia tidak akan berlarut-larut dalam ketidakadilan itu.

Yang bisa kukatakan saat ini adalah dia sama sekali tidaktidak  pantas untukku. Akhirnya aku bisa benar-benar pergi darinya, karena aku juga tidakpantas untuknya.

Aku tahu dia kesal. Tapi, dia tidak bisa melakukan apapun. Hatinya pasti berkata aku adalah orang yang sombong. Orang miskin yang kaget. Di depanku dia turut senang, aku berhasil menjadi apa yang aku inginkan, seolah mengucapkan selamat. Seperti memanas-manasi dirinya yang bukan apa-apa saat ini namun yakin bisa menjadi lebih suatu saat nanti.

Padahal sempat terpikir olehku untuk menamparnya dengan keras karena menganggapku murahan atau menyiram wajahnya dengan air di depan orang-orang untuk memberinya pelajaran berharga. Tapi, itu tidak hanya merendahkan dirinya. Aku sudah tidak mau bersikap emosional karena aku bukan lagi seorang yang terlihat kampungan yang bahkan tidak bisa menggunakan komputer. Pada akhirnya bersikap seperti itu hanya akan merendahkan harga diriku sendiri.

Aku tidak pernah tahu dia benar-benar atau bagaimana. Bagiku itu sudah tidak penting. Menunjukan padanya siapa diriku yang dulu merasa sangat terhina karena dirinya, sudah lebih dari cukup. Aku tidak akan memusingkan bagaimana tanggapannya.

Hanya membiarkanku pergi. “Semoga beruntung” katanya sebelum aku membuka pintu dan aku pun melangkah pergi.

ooOoo

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments