[Ch. 18] CINTA HITAM - Baca Novel Romantis Dewasa Online

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

 Pasir Kering

Angin bertiup kencang, meniup payung-payung rekreasi di pinggir pantai di sore yang tidak terlalu cerah. Aku yang kebingungan dengan segudang masalah, seperti meratapi nasib dan iri pada pasangan-pasangan yang bisa menghabiskan waktu berdua dengan jalan-jalan. Lebih dari itu, jangankan pacar, aku tidak punya pekerjaan lagi. Bagaimana aku bisa membayar kos tanpa pekerjaan?

Aku sudah berlari sangat jauh mengejar mimpi-mimpi yang mulai memudar dalam penglihatanku. Karena tidak juga kutemui apa yang kuinginkan. Bahkan jalanku gelap sama sekali.

Yang setiap hari menghitung uang dan menahan keinginan untuk membeli makanan yang enak atau baju baru. Aku bahkan hanya bisa makan mie instan dan melarikan diri dari rumah sebelum pemilik kamar kos datang menagih sewa. Makanya aku sering duduk di pantai dan melamun seorang diri. Memikirkan apa yang bisa kulakukan. Aku sudah menjual semua barang-barang yang kupunya untuk bisa bertahan dan saat sudah tidak ada lagi yang bisa kutukar dengan uang, aku kembali kebingungan.

Seringkali aku datang ke kantor pos untuk melihat lowongan pekerjaan. Tapi, untuk membuat dan mengirim lamaran pekerjaan juga perlu uang. Kadang aku pinjam dari Alya, tapi dia sendiri juga nggak punya penghasilan tetap dan bergantung pada orang tuanya. Jadi bila tidak sangat terdesak aku tidak akan datang padanya. Sementara itu, aku juga belum mendapat panggilan.

Di saat aku tidak tahan lagi, aku menangis juga. Aku tidak berdaya karena aku tidak punya siapa-siapa. Kadang aku merasa bahwa Tuhan tidak adil padaku tapi, aku melihat tayangan-tayangan di TV di mana orang yang punya mimpi besar bisa mewujudkannya karena benar-benar berusaha. Sangat banyak cerita tentang perjuangan hidup orang-orang yang awalnya tidak mudah sampai mereka bisa mendapatkan lebih dari apa yang pernah mereka bayangan. Mereka selalu bilang jangan menyerah, jangan menyerah dan jangan menyerah.

Memang mudah mengatakannya. Tapi, jika menyerah apa yang bisa kulakukan? Menyerah artinya mati. Karena aku tidak punya uang, aku bahkan tidak punya sesuatu untuk bisa di makan. Mau tidak mau aku tidak bisa menyerah. Sebuah paksaan yang mengharuskan aku untuk  berhenti menangis dan menyesali kebodohan-kebodohan yang sudah kulakukan saat masih bekerja. Seharusnya aku tidak menantang mereka karena akan jadi seperti ini, satu lawan banyak. Tentu aku habis di’hajar’ mereka.

Kalau ada Daniel kira-kira apa yang akan dia katakan? Apa dia akan bilang pergi dari sana adalah ide yang bagus?

Aku bahkan tidak tahu harus ke mana untuk mencarinya.

“Kamu dari mana?” tanya Alya melihatku datang malam-malam.

“Aku lapar” jawabku dengan wajah tertunduk kelelahan, karena aku hanya bisa berjalan kaki menuju rumah karena sudah nggak punya uang lagi untuk naik angkot.

Orang tua Alya juga baik padaku. Ibunya  menyiapkan makanan untukku dan dia menyarankan aku untuk menginap di rumahnya karena sudah larut malam. Mereka bertanya banyak hal padaku dan menaruh rasa iba akan cerita-cerita yang kuungkapkan sambil menangis. Betapa menyedihkannya hidup yang kujalani dan hanya punya beberapa helai baju untuk dibawa. Mengharapkan belas kasihan orang agar tidak tidur di jalanan.

Akhirnya aku meninggalkan kamar kos yang sempit itu karena ibu kos sudah megusirku dan dia sama sekali tidak mau memberikan perpanjangan waktu lagi. Kebetulan ada orang baru yang akan menyewa dan membayar dengan sewa yang lebih tinggi. Aku membawa semua pakaianku yang muat hanya dalam satu tas ransel besar ke rumah Alya. Tidak  ada tempat lain yang bisa aku tuju.

Untungnya keluarga itu sangat baik padaku. Namun sebaik apapun mereka, menumpang tinggal dan makan, tentu sangat merepotkan apalagi dalam waktu yang cukup lama. Aku mulai putar otak memikirkan bagaimana cara menghasilkan uang dan uang.

“Memangnya kamu punya rencana apa?” tanya Alya, malam-malam saat kami belum bisa juga tertidur di hujan yang lebat.

Aku menggeleng sambil berpikir, menatapi langit-langit kamar yang gelap tanpa cahaya lampu. “Nggak ada” jawabku, “Kamu sendiri? Apa nggak kepikiran untuk cari kerja supaya bisa bantu kuliahnya Lia?”

“Aku nggak tau deh, kayaknya pikiran aku buntu”

“Masih kepikiran soal Frans?”

“Nggak sih, tapi tetap aja merasa dibebani”

“Terus? Kenapa nggak cari yang lain aja?”

“Aku takut disakiti lagi, Bit”

“Sama, aku juga, Al”

“Kalau kita nggak punya pacar, satu masalah berkurang.”

Aku tertawa lirih, “Yah, kalau punya cowok, kita selalu mikirin cara supaya dia senang sampai kita nggak tau cara menyenangkan diri sendiri” jelasku, “Apa mereka semua seperti itu?”

“Yah...”

“Tapi, sendirian itu juga nggak enak, Al”

Alya tidak menjawabku,

“Tiap melihat orang pacaran dan jalan berdua aku jadi iri, kapan aku bisa dicintai orang lain dan apa bakal ada orang yang benar-benar mau menerima aku” kataku, “Eh, Al, besok aku boleh ikutan ke toko nggak? Siapa tau bisa bantu”

Ibunya Alya punya sebuah toko baju yang tidak terlalu besar dan Alya sering membantu ibunya menjaga toko. Mungkin karena itulah Alya tidak terlalu semangat untuk mencari pekerjaan, soalnya sudah ada usaha yang bisa dijalankan dan menghasilkan uang.

Pagi-pagi kami sudah membuka toko dan memulai pekerjaan dengan memasang display baju pada manekin yang dipajang di depan. Agar orang-orang bisa melihatnya dan tertarik untuk membeli.

Lalu sebuah mobil sedan mengkilat berwarna hitam berhenti di depan toko. Aku segera berdiri tapi Alya tampak malas-malasan.

“Datang lagi...” gumamnya acuh tak acuh.

Syahrini turun dari BMW satu miliarnya. Rupanya kemarin dia juga datang dan wajar saja semalam Alya tampak uring-uringan.

Rara, berambut panjang, ikal, dan pirang. Memakai dress tanpa lengan dan high heels yang kelihatan mahal. Tidak  lupa dia memakai sunglasses yang sepertinya mahal juga. Bak artis yang hendak pergi syuting. Kakinya yang panjang kelihatan putih dan mulus, seperti sehabis dari perawatan salon. Rara mirip dengan personel girlband Korea yang seksi dan modis yang sering muncul di TV .

Dia masuk ke dalam toko dan melirik dari balik kaca matanya lalu tersenyum. “Wow,...” decaknya sambil menghampiriku. “Lihat, di sini kita punya siapa”

“Kalau mau ganggu mendingan kamu pergi aja” cetus Alya, mengusir.

“Galak banget sama pelanggan” balasnya, meledek dengan tersenyum merendahkan kami.

“Masa bodoh, kami nggak mau melayani orang seperti kamu.” usir Alya mendorongnya keluar dari toko,

“Heh?”

Rara hanya ketawa seakan sama sekali tidak mengusiknya. Walau dia diusir keluar namun dia sengaja datang untuk memamerkan mobil barunya yang berbeda dari yang dilihat Alya kemarin. Untungnya kami tidak terlalu memikrikannya, tapi kedatangan Rara waktu itu tetap membuat Alya jadi murung.

Dulu mereka berteman akrab, bagaikan saudara kembar. Tapi, sekarang Rara kelihatan lebih hebat dari pada dirinya.

---

“Aku nyesal pacaran sama Frans” katanya tiba-tiba, “Aku jadi kehilangan banyak kesempatan sejak pacaran sama dia.”

Aku nggak berkomentar,

“Dia melarang aku berteman, kemana-mana harus sama dia, nggak boleh ini, nggak boleh itu” lanjutnya.

Tapi, apa boleh dikata, menyesal pun tidak ada gunanya.

Kalau dipikir-pikir, seperti Rara juga sama sekali tidak ada bagus-bagusnya. Belum tentu hidupnya bahagia setelah dia menghacurkan banyak orang dengan tingkah dan kata-katanya yang jahat.

Aku tidak menyangka ternayata aku tidak lebih buruk dari Rara yang sering menghinaku. Tapi, aku sudah tidak peduli. Masa lalu hanya masa lalu. Kalaupun bisa mempengaruhi masa depan, kuharap di masa depan ada hal-hal yang lebih baik menunggu.

Karena itu, aku bermimpi. Suatu hari bisa pergi ke tempat yang hebat, membuktikan bahwa dunia ini luas dan aku bisa pergi ke mana pun yang aku mau. Walau keterbatasan ini seolah menghalangi semua harapan-harapanku. Tapi, sudah banyak yang membuktikan  bahwa untuk bisa menjadi apa yang paling diinginkan kita harus banyak bermimpi. Bukan hanya sekedar bermimpi, tapi kita juga harus terus mengejarnya.

“Kamu masih suka nonton acara itu?” tegur Alya, saat aku sedang menonton sebuah talkshow yang biasa aku lihat setiap maghrib.

Aku suka tayangan itu karena banyak menceritakan perjuangan orang-orang yang tampak luar biasa namun mereka mengalami banyak kesulitan di masa lalu. Keterbatasan yang sering membuat orang-orang putus asa untuk melanjutkan hidup. Mereka punya alasan-alasan tertentu untuk terus berjuang dan alangkah sulitnya untuk mempertahankan apa yang telah mereka dapatkan. Talkshow itu menghadirkan selebritis dengan cerita-cerita yang kadang megharukan dan membuat orang yang melihatnya menjadi tahu bahwa mereka yang kelihatan hebat juga seorang manusia yang lemah, yang pernah menangis dan menderita.

Aku percaya akan adanya tipping point, berharap itu akan menghampiriku.

Setiap hari aku selalu menontonnya dan semakin hari aku semakin percaya bahwa setiap orang mempunyai kesempatan yang bagus untuk mendapatkan yang terbaik dalam hidupnya. Walau kadang rasanya lelah untuk percaya karena aku selalu terjerat masalah.

Kapan tipping pointitu akan datang padaku?

---

“Kapan ya negeri ini bisa bebas dari bencana?” Ibu Alya menanggapi sebuah berita yang kami tonton bersama sekitar jam delapan malam.

Ayah Alya sedang membaca koran sementara Lia, adik perempuan Alya satu-satunya sibuk tiduran di sofa sambil online di handphone-nya.

Aku dan Alya terpaku pada tayangan itu. Gunung Merapi yang ada di Yogyakarta meletus. Mengerikan, belum lagi tragedi Tsunami yang menewaskan seratus orang lebih di Mentawai. Sepertinya presiden akan bekerja lebih keras dan itupun kalau ia memikirkan rakyatnya daripada menciptakan lagu.

“Kenapa kamu nggak coba lihat di internet?” usulnya, “Perusahaan besar biasanya buka lowongan kerja di website”

“Kok nggak pernah kepikiran ya?”, aku seketika tersadar.

“Ya ampun, Bita, jaman sekarang udah canggih!” ejeknya tertawa, “Masa sih kamu nggak tahu?”

Mungkin karena aku punya terlalu banyak beban sampai tidak menyadarinya.

Tapi, dari semua lowongan pekerjaan sebagian besar berada di pulau Jawa dan tentu aku harus ke sana. Namun, aku jadi ingat saat Ben pernah menawari aku untuk pergi ke Jakarta. Dia benar, ada banyak lapangan pekerjaan di sana.

Sebuah tipping point yang selalu kunantikan. Dan apakah aku akan sanggup saat tipping point itu datang?

ooOoo

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments