๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Membangun tangga
Tidak punya pacar, bukan akhir dari segalanya. Aku memukul kepalaku berulang kali dan bertanya ratusan kali apa sih yang kulakukan di saat seperti ini? Aku jadi ingat, gara-gara pacaran aku sampai gagal diwisuda. Aku tidak mau itu terjadi lagi.
“Kenapa kamu?” tanya Alya dengan menatapku dibalik kaca mata berbingkai tebalnya itu, “Gimana kemarin?”
Aku menggeleng-geleng. Tidak mau mengingat-ngingat.
“Kamu diapain sama dia?” tanyanya makin penasaran.
Belum sempat menjawab yang dimaksud sudah datang sambil bawa sesuatu yang dari kemarin ingin diberikannya padaku. Sebuah Blackberry model baru yang lagi nge-trend, dan kalau punya Blackberry yang seperti itu tandanya anak orang kaya.
“Kemarin main kabur aja sambil marah-marah” jelasnya memberikan sebuah tas dan satu tas lagi yang kemarin kukembalikan padanya,
“Masa kamu suruh aku pakai baju itu sih?”
“Apaan nih?” tanya Alya, menyelidik sambil memperbaiki kaca matanya untuk bisa melihat lebih jelas dan memeriksa satu persatu isi tas itu.
Aku langsung mengemasi barang-barangku yang ada di atas meja untuk bergegas pergi sebelum Ben mulai lagi membuatku kesal. Sebelum pergi aku sempat mengambil tas-tas itu dan memberikannya pada Alya supaya Ben tidak kerepotan lagi menentengnya ke mana-mana.
“Buat aku nih?” tanyanya mendadak girang, “Asik!”
Tapi, Ben malah merampasnya kembali dan Alya tidak mau melepasnya. Mereka mulai saling tarik menarik.“Bita sudah kasih ke aku! Week!” serunya menarik lebih kuat sampai terlepas dari genggaman Ben dan ia pun tidak bisa protes.
Ben kembali mengejarku seperti nggak pernah bosan. “Aku minta maaf!” serunya keras-keras sampai semua orang melihat dan aku jadi malu karena terlihat seperti cewek jahat.
Aku menghentikan langkahku dan menghampirinya. “Apa lagi?”
“Jangan marah terus” katanya,
“Apa sih yang buat kamu nggak suka sama aku?”
“Kamu sama sekali bukan tipe aku” jawabku.
“Aku nggak seperti Daniel atau Wira, aku lebih dari mereka. Apa lagi yang bikin kamu keberatan?”
“Aku keberatan karena kamu terlalu kaya!”
“Apa?!” Ben sewot dan tidak puas denga jawabanku, “Memangnya kenapa aku kaya? Aku bisa beri kamu apa yang kamu mau!”
“Oke!” tandasku, “Kalau kamu pikir aku cewek matre, itu wajar! Karena dulu aku memang nggak ingin hidup terhina selamanya. Tapi, kamu sama sekali nggak sadar aku sudah jauh berubah. Dan semua yang kamu lakukan kemarin itu, membuat aku sama sekali nggak punya harga diri, tau?!”
“Tapi, aku nggak bermaksud begitu. Aku merasa kamu memang benar-benar butuh”
“Aku memang butuh tapi aku nggak akan mendapatkannya dari kamu!”
“Jadi aku harus gimana?”
“Aku hanya mau seseorang yang normal, yang nggak merasa dia adalah segalanya! Yang suka mengukur harga diri orang lain!” teriakku saking kesalnya sampai tidak sadar emosiku meledak lagi, “Kalau kamu serius, bisa nggak kamu jadi orang biasa? Pergi ke kampus nggak pakai mobil? Makan di pinggir jalan? Hidup tanpa Blackberry? Dan bawa uang nggak lebih dari lima puluh ribu sehari?”
Ben terhenyak sesaat sebelum dia kembali menyusul langkahku dan masih ada hal lain yang ingin dikatakannya.
“Aku bisa!” dia menantangku, “Aku bisa nggak bawa mobil, makan di pinggir jalan dan bawa uang cuma lima puluh ribu rupiah sehari”
Aku meragukannya.“Tapi, masa juga dilarang pakai BB sih? Itu hak azazi manusia, Bit! Lagian jaman sekarang orang biasa juga banyak yang pakai BB!”
Begitu sadar percuma bicara seperti itu pada orang seperti Ben, aku langsung ambil langkah seribu sebelum aku kembali teriak-teriak seperti nenek lampir kesurupan.Sepertinya aku kembali terserang penyakit. Yang gejalanya dimulai dengan suka marah-marah dan stress sendiri di depan komputer. Aku bolak-balik ke ruangan PA dan dosen untuk konsultasi soal skripsi. Duduk di depan komputer terlalu lama setiap malam sampai rambut kusut dan sering menguap sambil garuk-garuk kepala.
Aku melompat ke atas tempat tidur dan kembali melamun.Namun, aku merasa lega bila dibandingkan empat tahun lalu saat aku baru saja menjadi mahasiswa. Aku sendirian dan selalu membatasi diri dari lingkungan karena rasa minder dan ketidakmampuan untuk bergaul. Mungkin karena itulah teman-teman jadi sering membicarakan aku karena mereka pikir aku sombong. Lagipula, aku merasa takut dengan ucapan dan omongan Rara dan Alya soal kejadian-kejadian SMA yang sama sekali tidak menyenangkan bagiku. Aku diam supaya mereka tidak membicarakannya tapi ternyata cara seperti itu sama sekali tidak berhasil.
Rasanya berat sekali, saat aku merasa begitu malu sama semua orang yang berpikir aku adalah gadis murahan. Jika suatu saat nanti bertemu dengan mereka dan mereka kembali membicarakan keburukanku rasanya tidak adil. Aku pasti malu karena punya masa lalu yang kelam dan sama sekali tidak enak untuk diingat. Semoga saja, nanti aku tidak bertemu mereka sehingga orang lain tidak perlu tau siapa aku sebenarnya.
Di tahun terakhir, aku tidak lagi sendirian makan di kantin. Aku bisa berbagi dan bercerita banyak soal rencana ke depan. Aku juga bisa melihat Ben yang datang ke kampus tidak megendarai mobilnya.Aku merasa bersalah, padahal omonganku yang waktu itu sama sekali tidak serius. Aku hanya terbawa emosi karena dia selalu membuntuti aku di saat aku sama sekali tidak ingin diganggu.
Dengan bangganya dia bilang padaku bahwa nggak ada yang nggak bisa dia lakukan. “Aku juga nggak pakai BB lagi”A
lya menyikutku, berisyarat bahwa aku agak kelewatan.Tapi, ini seperti terapi, alias pembuktian. Cinta itu selalu butuh pembuktian.Ben selalu menantang aku dan aku pun melayaninya.
“Oke,” kataku, “Kita lihat kamu bisa bertahan berapa hari”
“Oke!” balasnya, dengan percaya diri.Alya sibuk dengan Blackberry yang baru dia dapat kemarin. Dia juga datang ke kampus dengan memakai baju yang dihadiahkan Ben buatku dan sepertinya dia sedang memanfaatkan situasi ini. Tapi, aku tidak peduli.Kami bertiga memang sebuah kombinasi yang aneh!
---
Ben tidak pernah kelihatan bawa mobil dan pergi kuliah naik angkot. Dia pernah memperlihatkan dompetnya untuk menunjukan bahwa dia cuma punya lima puluh ribu di dalamnya. Tanpa kartu ATM dan kartu kredit. Suatu kali aku juga pergi dengannya dan kami makan bakso di pinggir jalan.
“Aku sudah kenyang” katanya, setelah dia bilang tidak mau pesan apapun.Aku tahu, Ben sebenarnya tidak terlalu yakin karena berpikir maka di pinggir jalan bakal bikin sakit perut. Soalnya dia pernah cerita, waktu SD pernah sakit perut melilit gara-gara beli jajanan di pinggir jalan. Sejak itu dia tidak pernah lagi mencoba jajanan itu.
“Kamu cewek yang paling aneh yang pernah aku temui” komentarnya. “Cowok miskin pasti senang pacaran sama kamu, karena nggak banyak minta”
“Jangan mulai deh, Ben” celetukku.“Yah, akhirnya kamu bisa bersikap baik juga sama aku...” gumamnya sambil terus jalan dan dia malah senyum-senyum sendiri.
“Yah selama kamu nggak aneh-aneh”
Ben mengernyit padaku karena keberatan tapi aku malah membalasnya dengan tersenyum dan bilang aku hanya bercanda.
“Setelah lulus nanti kamu punya rencana apa memangnya?”
“Yang pasti...cari kerjaan untuk bertahan dan ganti uang yang sudah aku pinjam sama kamu”
“Nggak usah dipikirin... Kalau kamu butuh kerjaan aku bisa bantu”
Aku tersenyum dengan senang hati, “Artinya aku merepotkan kamu lagi, Ben” jawabku, “Yang jelas, aku harus bisa dapat IP di atas rata-rata. Kata orang bisa terima kerja di mana aja”
“Kenapa nggak pergi ke Jakarta?” tanya Ben, “Di Jakarta banyak lowongan kerja, dan gajinya besar. Memang sih kualifikasinya tinggi dan cuma orang-orang pintar yang bisa duduk dalam posisi penting”
“Beneran? Dulu aku pikir, susah untuk bisa dapat posisi penting kalau kita nggak punya seseorang yang bisa diandalkan”
“Yah, ada juga sih. Tapi, sejauh mana orang yang nggak punya skill bisa memimpin suatu bidang? Perusahaan nggak mau dirugikan kalau mereka merekrut orang-orang yang nggak punya skill”
“Dulu pikiran aku sempit sih. Soalnya sama sekali nggak mau kuliah, tapi Mama selalu memaksa supaya aku bisa dapat kerjaan yang bagus. Yang membuatnya bangga saat cerita ke orang-orang, aku kerja di sebuah perusahaan besar dengan gaji yang besar juga. Bisa beli rumah dan barang-barang, kalau bisa juga beli mobil...”
“Ke Jakarta aja” kata Ben.
“Mau ke Jakarta naik ojek?” celetukku lalu tertawa kecil.Ben ikut tertawa.“Jakarta jauh, Ben. Banyak orang yang datang ke Jakarta dengan impian besar tapi ujung-ujungnya mereka malah terjebak di sana karena nggak punya penghasilan cukup untuk pulang kampung” jelasku, “Berat meninggalkan kota ini.”
“Wira juga di Jakarta. Kamu nggak tau?” tanya Ben tiba-tiba.
Aku kaget tapi kemudian aku menggeleng.
“Yah, kayaknya dia lagi senang di sana. Tinggal di komplek mewah di kawasan Bintaro sama temannya yang kaya itu, nggak perlu mikirin sewa rumah atau makan sehari-hari. Padahal hidup di Jakarta susah juga, mau ke mana-mana jauh dan makanan pun nggak ada yang enak. Nasibnya mujur juga” jelas Ben. Dia selalu tau banyak soal Wira tapi dia nggak pernah menyebutnya padaku.Aku hanya bisa tersenyum. “
Yah, mudah-mudahan dia bisa bahagia” kataku
.“Nggak sedih lagi?”
“Apaan sih?!” tukasku sambil mendorongnya, lalu aku malah tertawa sendiri.
Aku tidak tau akan ada saat-saat seperti ini, di mana ketika mengingatnya aku tidak lagi merasa sakit. Bahkan aku sangat malas untuk menegok ke belakang di mana ada hari-hari saat bersamanya. Seolah itu hanya kejadian yang biasa dialami seperti kita tertusuk jarum, sakit akan menghilang dengan sendirinya.Yang pasti aku berusaha agar tidak ada kebencian apalagi dendam. Mungkin karena aku tidak pernah melihatnya lagi. Namun, aku tidak tahu apa jadinya bila suatu saat Tuhan mempertemukan aku lagi dengannya. Apakah aku akan menamparnya, memakinya atau mempermalukannya di depan orang? Aku rasa perasaan ingin seperti itu sangat wajar namun aku harus tahu di mana batas wajar itu.
Aku ingin sekali memberitahu Daniel soal ini. Tapi, dia sudah tidak bisa dihubungi.
---
“Mungkin sudah kawin ” kata Alya setelah cukup lama kami tidak membicarakannya.
“Bagus kalau gitu” balasku,
Aku melihatnya tersenyum, “Kamu berhasil deh kayaknya”
“Berhasil apa?”
“Nggak jadi cewek yang patah hati lagi”
“Oh...” aku tersenyum dengan sangat lega. “Kamu juga”
“Berkat kamu sama Ben” jawabnya, “Thanks ya...”
Kami berjalan ke luar dari area kampus setelah memastikan bahwa kami akan diwisuda tahun ini. Hari ini sangat melegakan dan membuatku tidak bisa berhenti tersenyum bahagia.
“Lihat tuh si Ben” tegur Alya saat dia melihat cowok itu di ujung jalan dan kami pun tertawa melihatnya naik ke sebuah mobil mewah yang biasa dia bawa ke kampus.
“Ternyata selama ini dia nggak beneran naik angkot, tapi menyuruh supir untuk mengantar jemput”
“Dasar, emang dia nggak bisa dipercaya” kataku, “Nggak lagi-lagi deh...”
Ben gagal lagi di wisuda alias mengulang sampai semester depan. Jadi kami terpaksa meninggalkan dia sendiri tapi pasti tidak akan jadi masalah karena toh dia selalu bisa menjadi teman buat siapapun. Dan yang pasti tidak ada yang ia takutkan, walau tidak kunjung lulus keluarga Ben punya banyak koneksi. Jadi dia bisa bekerja di mana pun yang dia mau dengan posisi yang menjanjikan. Dia orang yang karirnya sudah bisa kami tebak. Seperti kisah cintanya selama ini.
Komentar
0 comments