๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Kembali
“Apa sih senyum-senyum?” Ben menyikutku saat pelajaran berlangsung dan aku sama sekali tidak sadar dia mengambil tempat duduk di sampingku.
Aku melirik ke arahnya sebentar sebelum kembali fokus pada pelajaran dan seharusnya itulah yang aku lakukan. Melanjutkan apa yang sudah aku mulai dan menyelesaikannya dengan baik. Sejak kemarin, aku merasa lega walaupun belum merasa tenang. Tidak tahu kenapa, kesedihan karena kepergian Daniel untuk seorang gadis, membuatku cemburu, atau kecewa karena dia lagi-lagi tidak memilihku. Setidaknya aku lega, melakukan banyak hal belakangan ini. Hal-hal menyenangkan yang nggak pernah terlintas dalam pikiranku sebelumnya.
Aku pulang ke rumah. Naik angkot selama 20 menit seperti biasanya. Dan tidak lagi mengeluhkan cuaca yang panas dan terik matahari yang bersinar di atas kepala. Setelah turun dari angkot, aku harus jalan kaki sekitar 5 menit lewat gang yang menghubungkan jalan raya dengan kontrakanku yang jauh lebih kecil dari sebelumnya.
Terbayang olehku untuk tidur siang sebentar karena capek. Tapi, begitu sudah sampai di depan rumah aku melihat seseorang tengah berdiri di depan pagar menungguku.
Kemarin, kupikir aku tidak akan melihatnya lagi. Karena dia sendiri yang bilang akan pergi.
Daniel menghampiriku. Sama sekali nggak ada keceriaan di wajahnya seperti yang biasa ia perlihatkan padaku setiap bertemu.
“Ngapain kamu di sini?”
Dia tidak menjawab. Sudah jelas artinya dia menungguku sejak tadi.
Aku yakin, Daniel pasti lagi-lagi punya masalah dan sepertinya ini masalah baru.
Aku mengajaknya masuk.
“Kenapa kemarin kamu nangis?” ia bertanya padaku begitu kami berada di dalam.
Aku tersentak dan tidak sedikitpun berani menoleh padanya karena tidak ingin lihat wajahnya yang pasti kelihatan marah.
Daniel tidak pernah marah, yang kuingat suaranya tidak pernah lebih keras dari itu. Ada pun masalah, ia selalu menghadapinya dengan tawa dan sedikit gurauan khasnya yang membuat suasana yang kikuk menjadi menyenangkan.
“Emang kenapa kalau aku nangis?” balasku. “Aku nangis karena senang kok”
“Apapun alasan kamu nangis, itu membebani aku!”
Aku segera berbalik ke arahnya,”Kenapa?!”
Daniel mendekat, menatapku, dan dia tampak tidak tenang menghadapiku. Ada apa dengan dia? Kenapa Daniel tampak tidak bisa mengendalikan dirinya. Dengan gelagat seakan hendak menyentuhku tapi dia ragu-ragu. Menatapku dengan mata merah. Ada keinginan yang sangat besar di matanya untuk memelukku, tapi aku tidak akan mengizinkannya.
“Jangan, Daniel...” kataku pelan, “Jangan pernah sentuh aku sama tangan yang sama saat kamu sentuh Utari. Aku bukan siapa-siapa kamu, Niel. Kamu harus ingat itu...”
Dia makin tidak tenang dan membalikan badannya dariku untuk menghindar supaya tidak melakukannya. Aku mengerti dan akan sangat rendah bila aku membiarkan dia melakukannya padaku.
Aku menatapnya seakan ingin tahu apa yang akan dia lakukan padaku dengan tatapan emosi sekaligus sedih. Sampai akhirnya pergi sambil berlari dan tidak pernah kembali lagi.
Aku dan Daniel sama-sama terluka saat itu.
---
Namun beberapa hari kemudian telponku berbunyi dan dia kembali mengajakku bicara.
Aku yakin, hubungan seperti ini tentu memiliki sebuah akhir. Aku hanya tinggal menunggu dan siap untuk itu.
Daniel bahkan lebih berharga dari sekedar pacar yang kuinginkan bisa mengerti aku. Yang sering menelpon dan mengirim SMS menanyakan bagaimana kabar dan kuliahku. Apa yang aku lakukan, apa aku sudah lebih baik dan apa aku sudah menemukan seseorang yang bisa kujadikan pacar. Memberi dukungan di saat aku putus asa dan sedih.
Tiba-tiba Ben merampas handphone-ku dengan paksa karena terus menelpon sambil cekikikan sementara ia dan Alya menikmati makan siangnya di kantin.
“Ah, Ben!” jeritku sementara dia tertawa bersama Alya yang kelihatan lebih serius memakai kaca mata berbingkai tebal karena penglihatannya mulai bermasalah.
Ben mematikan telponnya sebelum mengembalikannya padaku.
“Lagi asyik-asyik begini, sibuk sendiri!” katanya, protes.
“Bilang aja cemburu!” ejek Alya sambil tertawa dan makan di saat bersamaan.
Handphone-ku berbunyi lagi karena Daniel kembali mencoba menghubungiku. Aku pun meninggalkan mereka sebentar untuk angkat telpon karena tidak mau dijahili Ben lagi.
“Ada apa sih?” tanya Daniel, “Di sana lagi heboh ya?”
“Biasa si Ben. Sensitif” jelasku.
Daniel tertawa, seperti Alya tertawa melihat Ben protes.
“Dia cemburu” katanya, dan aku sempat ge-er lalu melirik Ben yang juga menjahili Alya dengan mengambil kacamata Alya dan malah memakainya sambil meledek.
“Dia bisa naksir sama siapa saja, termasuk dosen muda di kelas yang selalu dia godain. Nggak lucu, Niel...” cetusku, “Dia playboy, pacarnya gonta-ganti seperti ganti baju”
Daniel masih tertawa. “Kenapa kamu nggak coba mendekati dia. Kalau dia baik, nggak ada salahnya kan?”
“Nggak mau!” jawabku, serta merta dengan suara keras.
Aku terdiam lalu jadi berpikir sambil memperhatikan kelakuan Ben yang jahil itu. “Nanti telpon lagi ya” kataku mengakhiri pembicaraan.
Aku tidak suka Daniel memintaku pacaran dengan orang yang tidak aku sukai. Rasanya aneh. Sangat aneh. Dia tahu aku tidak menginginkan kepergiannya dan sangat terpaksa menerima keadaan seperti ini. Daniel takut padaku. Takut akan melukaiku. Takut membuatku kembali menderita.
Padahal jika dia menghapuskan jarak itu, walaupun aku akan tetap menderita, setidaknya aku tidak kesepian. Karena kesepian bagiku, seperti derita panjang.
Ben sewot. Terang-terangan menunjukan kalau dia tidak suka setiap kali Daniel menelpon seolah itu sangat mengganggunya.
“Bakso aku siapa yang makan?” tanyaku sama mereka karena saat kutinggalkan bakso itu masih ada dan masih panas.
Alya langsung menunjuk Ben yang duduk di sampingnya dengan sebal.
Aku cemberut padanya berharap dia tidak menjahili aku atau Alya yang sering gerah sama ulahnya.
Tapi, aku memandangi mangkok kosong bekas bakso-ku. Sepertinya aku punya banyak kenangan soal bakso. Aku memang suka makan bakso dan bakso milikku selalu dihabiskan orang lain di saat aku lengah. Mulai dari Daniel yang terang-terangan suka merampas, lalu Ben yang diam-diam menghabiskannya untuk mengerjaiku.
“Kamu kenapa?” tegur Alya karena aku malah melamun seperti tidak rela baksoku dihabiskan Ben yang sudah nggak kelihatan lagi di hadapanku.
“Aneh...” gumam Alya komentar soal sikapku yang mendadak diam karena dia pikir aku akan menendang Ben karena menghabiskan makanan kesukaanku.
Ben balik lagi, dengan semangkuk bakso yang masih panas. Tanpa kecap, tanpa cabe dan bawang goreng. Persis seperti yang biasa kumakan. Tapi, di mataku, dia tidak kelihatan seperti Ben, malah seperti Daniel yang repot-repot membawakan semagkuk bakso dengan seragam putih abu-abu dan senyum lebarnya yang seakan merasa nggak bersalah dan nggak berdosa.
Gawat...pikirku, seketika langsung sadar kedua orang ini mempunyai persamaan. Sama-sama lucu dan humoris.
Akhir-akhir ini aku mulai merasa aneh. Semua ini gara-gara saran Daniel yang tidak masuk akal. Tapi, aku berpikir berulang kali sampai aku merasa sepertinya sudah memanfaatkan Ben karena selalu pinjam uang. Setiap kehabisan aku tidak pernah malu untuk pinjam darinya. Dari awal juga dia sudah berusaha menyadarkan aku bahwa aku harusnya hati-hati dengan Wira.
Ben memang ada benarnya. Kalau dari dulu aku mendengarkan dia dan tidak langsung terpengaruh ungkapan cinta yang secara mendadak yang diucapkan Wira, tentu aku tidak akan berakhir seperti ini. Harusnya, aku bertanya kenapa bisa dalam waktu sesingkat itu? Tapi, aku merasa jika menolaknya, entah kesempatan itu akan datang lagi.
“Kamu lagi di mana?” tanyaku, ingin tahu saat dia menelpon malam-malam saat aku sudah terelelap lalu terbangun karena mendengar handphone berbunyi.
“Hm...” Daniel nggak langsung jawab. “Di rumah...”
“Utari nggak marah?”
“Sudah tidur”
Aku pun tidak bersuara lagi. Mendengar suaranya masih membuatku sedih. Aku pikir dia benar-benar akan menghilang. Aku merasa dipermainkan tapi aku tidak bisa apa-apa. Aku yang bodoh membiarkan orang-orang mempermainkan aku. Dan berbuat sesukanya padaku.
“Kenapa?” Daniel bertanya lagi. “Kamu rindu aku?”
“Jangan tanya seolah kita lagi pacaran...” jawabku.
“Nggak boleh ya?”
Aku menarik nafas, “Aku nggak tau...” jawabku kembali bersedih.
“Kamu mau hubungan kita lebih dari ini?”
“Jangan bercanda, kamu lagi teler!”
Daniel tertawa tapi pelan dan terdengar lirih. Suaranya yang sedari tadi gemetar menunjukan bahwa dia dalam keadaan tidak sadar.
“Aku serius” balasnya, namun masih dalam tawa yang mengisyaratkan kegetiran tentang keadaan yang sebenarnya.
“Aku tau kamu, Niel. Kalau pikiran kamu lagi beres kamu nggak pernah ngomong yang aneh-aneh!”
“Kamu tau nggak sih, untuk ngomong seperti ini susah. Karena saat pikiran aku lagi beres, aku sama sekali nggak bisa berterus terang”
“Maksud kamu apa?”
Daniel kembali tertawa, kedengaran kacau dan bingung. “Saat ini aku lebih ingin berada di samping kamu”
“Kenapa kamu nggak ke sini aja?”, tantangku.
“Sekarang?”
“Kalau kamu bisa...”
“Tentu aku bisa, tinggal ngebut dan pasti kamu langsung bisa lihat aku di depan pintu”
“Dasar gila...” gumamku,
“Tapi, kalau sudah sampai di sana, aku mau apa juga nggak tau.”
Aku diam lagi. Kami sudah sering membahas ini dan ujung-ujungnya kami segera berhenti membicarakannya karena tidak ingin pembicaraan itu sampai ke tahap yang sangat berlebihan untuk status hubungan yang sama sekali tidak ada ujung pangkalnya.
Seketika jantungku berdebar keras, aku langsung duduk sementara handphone masih di dekat telinga. Mendengarkan kata demi kata yang sepertinya serius. Namun tidak harus ditanggapi serius karena Daniel berada dalam candu obat-obatan yang biasa dia pakai untuk bisa naik motor tong setan. Aku pun berkecil hati lagi karena mengharapkan sesuatu yang nggak mungkin terjadi.
“Dia bukan kamu”, katanya, “Kadang, aku berharap kalau dia adalah kamu...”
“Kalau begitu kenapa kamu memaksa?”
“Kamu mau aku ninggalin dia?”
“Aku nggak bilang begitu!”
“Aku bisa, tapi aku sudah biasa seperti ini. Kamu nggak akan sanggup”.
“Sanggup asalkan kamu mau berhenti kebiasaan kamu yang nggak baik. Aku mau Daniel yang dulu, seperti saat pertama kali kita bertemu...”
“Aku nggak bisa!” Tegas Daniel dan akupun tersentak, “Itu masalahnya, Bita. Itu masalah kenapa kita nggak bisa sama-sama. Kamu nggak akan sanggup dengan aku yang seperti ini, dan aku nggak bisa menjadi seperti yang kamu inginkan...”
Kata-katanya membuat aku terdiam. Sadar akan kenyataan yang sebenarnya.
ooOoo
Komentar
0 comments