๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
“She suffered from Schizophrenia. Are you lost your mind by taking her with you?”[1], aku menatap Hersch yang terlihat tenang.
“Psychological pain is not the same as physical pain, there is no term getting better or getting worse, it all depends on how Ayu overcomes it and everybody around her. If we treat her like a sick person, then she will consider herself sick. She’s not sick, you know that?”[2], katanya, “I know her better than you”[3]
“Whatever you said, I won’t let you”[4], kataku mengancam dengan serius. “She had to go to a psychiatrist”[5]
“She has decided”[6], balasnya, tenang sekali pun dia melihatku kesal, “She wants to go. I’m sorry, Man… but I have to say this, you broke her heart, remember?”[7]
“That’s none of your business…”[8], aku mulai gusar. Hendak meninggalkannya.
“I saw it!”[9], serunya, saat aku akan pergi. Ia masih ingin mengatakan sesuatu yang tidak ingin kudengar. “Everybody saw it!”[10]
Aku membalikan badanku. Apa yang ingin dia katakan lagi?
“Everybody thought she was crazy. Her friends were there to calm her down cause she was shouting your name along the way when she drunks and she said too many times that if she could meet you, she swore that she can change your mind. She knew that you already had someone else in her place and she couldn’t stand it…”[11], ia masih menatapku dengan tenang, “Now, she has no friend. They’re gone. And she knows how they’re gone…”[12]
Seolah menegaskan bahwa aku sudah tidak pantas berada di sini. Ayu sudah mengusirku jauh-jauh dari hidupnya begitu pria ini menjanjikan padanya sebuah dunia yang ingin ia datangi –dunia lain di mana aku tidak pernah ada. Dunia yang selama ini Ayu cari agar ia bisa melepaskanku.
Pria itu masih di sana menatapku.
“Let her go”[13], dia terdengar berujar, “If you love her that much, you should let her go…”[14]
“I used to!”[15], teriakku kembali berdiri di hadapannya, mengatakan padanya bahwa dulu itu pernah kulakukan. “I used to it…”[16]
Aku pernah berpikir bahwa aku harus melepaskannya demi kebahagiannya setelah semua yang aku lemparkan padanya bagai mimpi buruk berkepanjangan. Mengulang kembali dua tahun yang penuh siksaan oleh badai yang aku bawa ke dalam hidupnya. Bagaimana kami bertemu dan mengakhirinya saat kupikir Ayu tidak lagi membutuhkan diriku.
“I let her go for her sake but it was totally wrong,”[17] kataku lagi, rasanya ingin mengungkapkan apa yang kulihat malam itu. Malam saat mereka bergembira merayakan hari besar mereka dengan sebuah pesta yang menahan langkahku di luar.
Aku masih belum bisa menepis bayangan mereka yang menari-nari dengan bahagia di pelupuk mataku. Rasa panas membakar dadaku saat aku berdiri di seberang jalan itu, memandang pada kerumunan orang yang yang mengelilingi Ayu. Dan pria ini, berdiri di tengah-tengah mereka, melakukan hal yang sama. Mereka berdua saja.
Aku melihatnya dan masih dapat mengingat rasa pedih ketika aku menyingkir.
“You were there…”[18], dia berkata, menatapku tidak percaya, dan aku merasa bingung, “So you were there?”[19]
Aku hanya mengernyit
“She said that he saw you across the street, but then suddenly you were disappear…”[20], ia menjelaskan, seakan tidak percaya dengan apa yang ia jelaskan sendiri, “I still remember, she was dissappointed there was nothing once she look at it once again… She left the party earlier, her friends were following her and they said to me that Ayu was crying again”[21]
Aku tidak percaya dengan apa yang aku dengar. Sungguh, kepalaku berdenyut karena terlalu banyak mendengarkan omongannya yang malah menimbulkan penyesalan yang lebih berat dan menyakitkan.
Jika saja…
Jika saja aku tidak pergi…
Jika saja aku menerobos ke kerumunan itu untuk memastikan bahwa apa yang ia lihat bukanlah ilusi.
Jika saja aku mengingat bahwa dia selalu menungguku seperti yang dia katakan, aku akan memanggil namanya –sekeras mungkin, mengalahkan kerasnya musik yang membuatnya sibuk.
Mungkin saja dia akan menoleh, lalu melihatku, tidak akan ada kesedihan yang terlihat di wajahnya.
Mungkin saja dia akan meninggalkan kerumunan itu, berlari padaku dan berdiri di hadapanku.
Mungkin saja sebuah tempat di sampingku tidak akan kosong dalam neraka –hari-hari yang kujalani sendiri tanpanya.
Mungkin hari ini, dia akan menyiapkan kue dan piring-piring untuk merayakan ulang tahunku. Menghias rumah dengan pita warna-warni, meniup balon-balon dan menyanyikan lagu selamat ulang tahun. Mengguncang-guncang soda kalengan dan menyemprotku dengan busanya.
Mungkin hari ini, dia tidak akan berada di tempat seperti ini.
Jika aku melakukan semuanya, pemandangan di mana dia duduk di tempat pesakitannya akan sirna dari pelupuk mataku –karena itu tak pernah terjadi. Tak akan pernah terjadi…
---
[1] Dia menderita skizofrenia. Apa kamu sudah gila membawanya pergi bersamamu?
[2] Sakit psikis tidak sama dengan sakit fisik, tidak ada istilah membaik atau memburuk, itu tergantung oleh bagaimana Ayu mengatasinya dan orang-orang di sekitarnya. Jika kita memperlakukannya seperti orang sakit, dia akan menganggap dirinya sakit. Dia tidak sakit, kamu tahu itu?
[3] Aku mengenalnya lebih baik daripadamu.
[4] Apapun kamu katakan, aku tidak akan membiarkannya.
[5] Dia harus ke psikiater
[6] Dia sudah memutuskan
[7] Dia ingin pergi. Maafkan aku, Bung,… tapi aku harus mengatakan ini, kamu mematahkan hatinya, ingat?
[8] Itu bukan urusanmu…
[9] Aku melihatnya!
[10] Semua orang melihatnya!
[11] Semua orang berpikir bahwa dia sudah gila. Teman-temannya ada di sana untuk menenangkan dia karena dia meneriakan nama kamu sepanjang jalan saat mabuk dan dia mengatakan berulang kali bahwa jika dia bisa bertemu kamu sekali lagi kamu akan berubah pikiran. Dia tahu bahwa kamu sudah memiliki orang lain di tempatnya dan dia tidak tahan lagi…”
[12] Sekarang, dia tidak punya teman lagi. Mereka tiada. Dan dia tahu bagaimana mereka tiada…”
[13] Biarkan dia pergi
[14] Jika kamu mencintainya begitu besar, kamu harus membiarkannya pergi?
[15] Aku pernah!
[16] Aku pernah melakukannya…
[17] Aku membiarkannya pergi demi kebaikannya, tapi itu salah
[18] Kamu ada di sana…
[19] Jadi kamu ada di sana?
[20] Dia bilang bahwa dia melihat kamu di seberang jalan, lalu tiba-tiba kamu menghilang…
[21] Aku masih ingat saat dia kecewa melihat tidak ada apa-apa di sana saat sekali lagi ia melihatnya…. Dia meninggalkan pesta lebih dulu, teman-temannya mengikutinya dan mereka mengatakan bahwa Ayu menangis lagi.
Komentar
0 comments