๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Rumah Pelarian
Aku datang ke sana hampir setiap malam hanya untuk naik tong setan, begitu hari menunjukan pukul sembilan malam, aku langsung pulang dan tidur.
Tong setan adalah tempat melarikan diri bagiku.
Aku sering kembali ke tong setan itu. Sayang, pasar malam itu ternyata sepi lagi karena hujan. Tidak ada pertunjukan karena pengunjungnya sedikit sekali. Mereka hanya main game dan menonton acara lawakan oleh artis lokal yang lucu – lucu. Tapi, tidak lama. Satu persatu bubar saat hujan semakin lebat. Aku sama sekali tidak mendengar raungan motor Daniel dari dalam tong yang biasanya selalu terdengar saat ia memanaskan mesin.
Aku sedih, karena belum mau pulang.
“Baru potong rambut?” tegur seseorang yang berdiri di belakangku dan membuatku kaget.
“Ah, iya...” jawabku canggung. Melihat Daniel menghampiriku.
Aku baru saja memotong rambut dan mengganti modelnya agar tidak kelihatan kusut. Sebuah perubahan yang kuharap akan membuatku melupakan driku yang dulu. Orang bilang buang sial, mungkin saja.
“Hari ini sepi” Daniel menjelaskan, “Lagian juga harinya nggak tepat. Kamu sendirian?”
“Iya...” jawabku.
“Pantesan...” Daniel tersenyum. Lalu mengajakku masuk ke dalam tong setan, tempat yang menjadi daerah kekuasaannya di mana ialah rajanya. Pintunya kecil, jadi kami harus menunduk untuk bisa masuk.
Bau oli dan bensin sangat pekat di dalam tong. Biasanya aku cuma bisa melihat dari atas. Daniel kembali menghidupkan mesin motor dan memanaskannya. Daniel kemudian menutup pintu kecil itu dan memastikan pintunya benar-benar sudah rapat.“Hari ini kamu bisa nonton gratis” katanya lalu tertawa. “Tapi, besok harus bayar lagi”
Kembali, ia mengendarai motornya dan memanjat dinding kayu dan berputar. Aku yang berada di tengah-tengah ketakutan kalau-kalau ia terjatuh dan tentu akan menimpaku. Ngeri juga, tapi lama-lama jadi seru. Aku mulai bisa tertawa setelah memastikan di atas sana ia akan baik-baik saja karena sudah bisa melakukannya lagipula Daniel pasti sedang dalam keadaan teler. Seseorang tidak mungkin bisa dengan berani megendarai motor dan melawan gravitasi seperti itu kalau otaknya dalam keadaan normal. Daniel akhirnya turun setelah ia merasa cukup menghiburku karena aku tidak jadi sedih.
Aku langsung pulang ke rumah. Besok hari minggu. Aku berencana untuk membereskan rumah, memasak, dan menyelesaikan cucian yang sudah setumpuk.
Pada akhirnya aku kembali lagi ke pasar malam itu. Bertemu Daniel yang lagi teler sebelum pertunjukan tong setannya. Dia selalu tersenyum seakan menebar pesona. Orang-orang menyaksikannya berputar dan berputar. Mempermainkannya dan bertepuk tangan untuknya di akhir pertujukan. Seolah dia hidup hanya untuk menyabu dan atraksi maut itu setiap malam.
“Sejak kapan kamu bisa naik motor begituan?” tanyaku asalan karena tidak ada sesuatu yang lain yang bisa kukatakan untuk mengalihkan pikiranku dari kesepian.
“SMA mungkin” jawabnya yang sedang merokok dan kadang tampak melamun. “Nggak lama setelah dikeluarin dari sekolah. Aku diusir dari rumah sama Mami lalu ketemu abang-abang yang ngajarin gimana cara naiknya”
Aku nggak pernah tau soal ini.
“Kalau sekedar naik motor sih biasa aja. Cewek pun juga bisa balapan di jalanan”
“Pernah nggak sih kamu jatuh?” tanyaku mulai penasaran.
“Dulu sering” jawab Daniel, lalu memperlihatkan bagian dari tangan kanannya dan tampak ada sesuatu yang ganjil di pergelangan tangannya. Posisi tulang pergelangan tagannya nggak sama dengan tangan kiri yang masih normal. “Tiga tahun lalu pernah jatuh trus ketimpa motor...patah...rasanya sakit karena tulangnya nembus kulit”
Kehampaan seperti kebahagiaan bagi kami yang sering merenung di bawah hujan pasar malam. Ada hal yang seharusnya dikatakan tapi tidak bisa dikatakan.
“Ada apa sih?”, aku menanyainya karena dia tampak murung dan tidak ceria seperti biasanya. “Berantem sama Utari?”
Daniel tidak menjawab. Jika diam seperti itu pasti dia sedang punya masalah. Daniel yang hidup sendiri tidak akan punya masalah lain selain dari masalah dengan pacarnya.
“Apa sih susahnya menyenangkan hati cewek, Niel?”
Dia menatapku seakan aku bisa membantunya.
Ya, aku pernah mengharapkan sebuah pemberian dari sang pacar. Kupikir jika seorang cewek menerima hadiah dari orang yang dicintainya sebagai permintaan maaf, dia pasti senang dan mau memaafkan kesalahan cowoknya.
Aku hanya sebatas menolongnya. Walaupun aku tidak tahu Utari gadis yang seperti apa, mudah-mudahan saja dia merasakan hal yang sama denganku.
Sebuah toko perhiasan.
Aku jadi ingat dulu ada cewek di kampus, Amel, yang dibelikan kalung emas putih oleh pacarnya dan dia memamerkannya kepada semua temannya.
“Kamu punya uang nggak?” tanyaku padanya karena kulihat kalung yang ada kristalnya dan dipajang di etalase toko itu harganya lumayan.
Berapa penghasilan dari bekerja di pasar malam? Apalagi jika cuaca sering hujan, pemasukan pasti jadi berkurang.
“Maksud kamu apa sih?” celetuknya seakan aku meremehkannya.
“Kayaknya itu bagus” kataku menunjuk sebuah kalung denga liontin berbentuk hati dan ada kristal bening di tengahnya, sangat menawan.
Aku pernah berharap Wira membelikan sesuatu. Tidak perlu sesuatu yang mahal tapi berarti. Karena biasanya cowok suka memberi hadiah kepada ceweknya sebagai tanda cinta. Tapi, Wira tidak pernah. Kalau punya uang mungkin dia lebih suka memanjakan adik-adiknya.
Daniel memanggil gadis penjaga toko
Penjaga toko datang, “Ya..ada yang bisa dibantu?”
“Kalung yang itu berapa?” tanya Daniel menunjuk kalung yang aku maksud.
“Satu juta lima ratus” jawab penjaga toko sambil mengambilkan kalung itu agar kami bisa melihatnya lebih seksama.
Cantik. Terbuat dari emas putih dan berkilau. Persis seperti yang diterima Amel dari pacarnya yang sepertinya anak orang kaya raya. Kalau seandainya punya pacar yang seromantis dan perhatian seperti itu, pasti akan jadi cewek yang paling bahagia sedunia. Kaya lagi.
“Aku mau yang itu” kata Daniel pada penjaga toko supaya membungkusnya sementara dia mulai merogoh saku celana buat mengambil dompet dan mengeluarkan semua uangnya.
“Daniel?” aku heran karena dia memutuskan terlalu cepat dan kalung itu terlalu mahal.
“Bukannya kamu yang suruh beli?” ia balas bertanya sambil senyum-senyum, “Aku punya uang kok. Kamu lupa kalau aku Daniel? Mana pernah sejarahnya aku nggak punya uang?”
“Ih, sombong...”
Sorenya aku pulang sebentar untuk mandi, ganti baju dan istirahat sebelum Daniel datang lagi untuk menjemput. Kami menuju pasar malam yang makin ramai larut malam di saat cuaca cerah. Aku sudah tidak sabar mendengar ceritanya soal Utari setelah menerima hadiah itu.
“Gimana?” tanyaku penasaran.
“Apa sih? Anak kecil mau tau aja urusan orang...” cetusnya sambil ketawa dan menolak kepalaku dengan ujung jarinya.
“Iih, aku kan penasaran!” desakku. “Gimana sih reaksinya waktu kamu kasih hadiahnya?”
“Nggak ada.” jawabnya singkat. “Dia nggak suka.”
“Apa Utari masih marah juga?” tanyaku lagi.
Cukup lama Daniel tidak menjawabnya karena dia malah diam dan sepertinya tidak suka membahasnya terlalu jauh. Utari pasti cewek yang sangat rumit. “Gitu deh kira-kira” katanya, lalu menarikku pergi “Kamu kurang kerjaan kan di rumah, sini aku kasih kerjaan!”
Sikapnya aneh. Pasti bertengkar lagi, pikirku dan tidak lagi menanyakan soal Utari karena pasti akan membuatnya pusing.
Daniel mengenalkanku kepada semua pekerja pasar malam. Aku diberi tugas membantu mereka menjual karcis setelah Daniel bilang sama pemilik pasar malam. Kemudian hampir setiap hari aku melakukannya dan bahkan menerima bayaran. Aku mau saja melakukannya karena tidak ingin menyusahkan Ben dengan pinjam uang terus.
Jika cuaca lagi-lagi nggak bersahabat, pengunjung hanya sedikit. Kadang kami bisa naik bianglala, atau perahu ‘Kora Kora’ dan permainan lainnya selagi sepi. Semua pekerja, khususnya pekerja yang masih muda-mudi yang juga adalah operator wahana, sering naik permainan untuk menarik perhatian orang yang lewat di jalan raya. Bagi kami yang sering harus bekerja sampai larut malam jika pengunjung banyak ini adalah salah satu cara untuk bisa bersenang-senang. Agar bianglala kelihatan selalu berputar dinaiki oran-orang dengan lampu warna warni yang atraktif.
Aku sering dijahili sesama pekerja yang lain dengan nggak menurunkan kami saat aku sudah teler berputar-putar di atas bianglala atau pusing saat naik perahu ‘Kora Kora’. Mereka yang di bawah sana tertawa melihatku berteriak setiap kali biang lala berputar dengan kencang.
“Turunin aku!!” jeritku saat berada di bawah kepada operator yang tidak berhenti-berhenti tertawa.
Aku mendengar Daniel berteriak kegirangan saat kami naik ke atas dengan kencang dan melesat cepat ke bawah.
“Putar lagi!!” serunya kepada operator yang megacungkan jempol dengan senyum tidak jelas.
“Kayaknya si Abeng naksir kamu, katanya kalau nggak mau kasih nomor hp atau alamat facebook, dia nggak mau turunin” jelas Daniel lalu tertawa.
“Ah, enggak...” rengekku. “Turunin...”
Saat melesat ke bawah rasanya seperti jatuh dari ketinggian dan kepalaku sakit. Itu terjadi berulang kali selama 20 menit. Padahal jatah setiap orang untuk bisa naik permainan hanya lima menit untuk sekali putar sebelum mereka menaikan pengunjung baru.
Daniel masih menikmati permainan dan berhenti saat aku sudah ‘over-dosis’. Begitu turun dia tidak berhentinya tertawa melihat aku terduduk persis saat Alya yang lagi pusing setelah turun dari ‘Kora Kora’. “Nobita payah ah!” katanya mengejek,”Gitu aja KO!”
“Aduh...” keluhku, “Aku nggak sama kayak kamu, soalnya udah makanan sehari – hari”
“Ah, jangan cemberut gitu dong!” hiburnya, lalu lagi – lagi menarikku untuk pergi ke satu tempat.
Daniel tetap menjaga kerajaannya agar tetap kering karena jika dinding tong nya basah dia tidak akan bisa mengendarai motornya dengan melawan gravitasi. Dia menyalakan api di tengah – tengah tong untuk mengeringkan dinding yang semuanya terbuat dari kayu. Walau tidak ada yang melihat pertunjukan, Daniel tetap memanaskan motornya dan melakukannya tanpa penonton.
“Mau coba naik nggak?” ia menawarkan dengan tegas ku tolak.
Aku menjauh darinya. “Nggak ah”
“Nggak bakal kenapa-napa” ujarnya,
“Nggak!” aku menolak lagi.
“Sampai kapan sih mau jadi penakut terus?” sabarnya memancing emosiku.
Akhirnya aku naik juga dengan berpengangan padanya. Aku sempat ragu karena tidak yakin akan kuat di atas sana.
“Pegangan yang kuat. Kalau jatuh aku tidak tanggung jawab lho!” serunya dan ‘ngeeng’, motornya mulai berputar dan setelah sekali putaran langsung mengitari dinding.
Aku berteriak histeris, “Daniel, turunin aku!!” seruku tapi dia membalasnya dengan tertawa lepas.
Jahat sekali dia bilang nggak mau tanggung jawab, gerutuku dalam hati.
“Ngeeng! Ngeeng!” motor kembali meraung keras. Dan susunan kayu yang menjadi jalanan kami terasa berderak – derak. Mengerikan!
Tapi, suaraku pasti hilang oleh raungan mesin motor Daniel yang terus berputar dengan kencang. Aku memejamkan mata. Tidak ingin melihat ke depan apalagi ke bawah. Lebih mengerikan dari naik bianglala yang berputar kencang atau ‘Kora Kora’ yang melesat cepat. Namun semakin lama aku semakin terbiasa dengan tekanan udaranya. Tapi, aku sangat pusing sampai rasanya mau jatuh. Aku berpegangan padanya sangat erat dan dapat mendengar tawanya yang menyiratkan bahwa permainan ini sangat seru.
Ketika berputar dan hanya berkonsentrasi pada cara bagaimana kita bisa mengendalikan kecepatan. Bagaimana agar kita tidak membuat kesalahan dan selamat. Tidak bisa memikirkan hal lain selain itu.
“Peluknya jangan kelamaan!” tegur Daniel saat kupikir dia belum menyudahinya.
Ya, aku pusing dan sama sekali tidak sadar bahwa aku sudah kembali berada di bawah. Aku malu karena masih memeluknya erat lalu dia cekikikan karena itu lucu. Begitu kakiku meginjak lantai aku langsung ambruk.
Duniaku berputar. Padahal tidak sampai satu menit kami berputar tapi efeknya luar biasa. Aku jadi benci Daniel karena memaksaku naik.
“Masih hidup kan?” tanyanya setengah meledek sambil jongkok di depanku lalu mengacungkan jarinya. “Ini berapa?”
“Itu dua!” jawabku jengkel sambil mendorongnya sampai jatuh, “Aku nggak rabun, Daniel!”
Dia masih saja tertawa.
Tong setan ini membuatku merasa bahwa ada hal yang sepertinya tidak bisa kita lakukan, ternyata bisa dilakukan dengan sempurna. Menembus batas.
---
Tapi, mereka tidak bisa menetap hanya di suatu tempat untuk waktu yang sangat lama. Karena begitu pengunjung mulai sepi dari hari ke hari, mereka harus mencari tempat lain di mana masyarakatnya sangat haus akan hiburan. Karena di tempat seperti itulah rezeki menjadi murah. Mereka sudah mau menutup pertunjukan di tempat itu. Mereka akan pindah ke tempat lain. Semua arena permainan sudah dibongkar dan mereka menaikannya ke atas sebuah truk besar.
Suka cita akan pasar malam itu akan segera berlalu. Setelah itu ke mana lagi aku bisa pergi?
“Kamu harus rajin kuliah” kata Daniel. “Ya...siapa tau nasibnya mujur dan bisa jadi orang baik”
Aku termangu. Apa yang bisa kukatakan? Apa aku bisa menahan pasar malam ini untuk tetap berada di sini?
“Aku yakin kejadian enam tahun lalu sama sekali nggak menyakitkan bagi kamu” katanya memulai pembicaraan lagi, “Karena aku tau yang membuat kamu selalu kelihatan mau lari adalah kejadian yang baru saja terjadi. Aku nggak pernah tahu karena kamu nggak pernah cerita”
“Mamaku meninggal...” jelasku. “Karena penyakit memalukan yang nggak bisa disembuhin...”
“Terus?”
“Aku diputusin saat Mama lagi koma di rumah sakit”
“Berarti dia cowok bajingan. Nggak usah dipikirin.”
Terlalu banyak orang yang mencoba meyakinkanku bahwa pendapatku soal Wira salah. Tapi, jika dipikir lagi, jika dia orang yang baik, bukan dengan cara seperti seharusnya pergi. Dia tidak akan membiarkanku menangis karena memikirkannya. Dan dia tidak akan mengabaikanku di saat aku membutuhkannya.
“Ini hukuman karena aku ngelawan Mama,” jelasku lagi. “Apa salahnya saat itu aku nggak terlalu percaya sama orang yang baru dikenal...? Aku nyesal, Mama sakit gara – gara aku, sebelum meninggal sama sekali nggak mau bicara sama aku”
“Cinta itu buta” potong Daniel, “Tapi, kita harus punya mata”
Setelah sekian lama, ini tangis pertama sejak aku menemukan pintu di dasar air yang membawaku kembali pada daratan yang hilang. Untuk melihat cahaya dari langit. Pertama kali melihat matahari, yang saking silaunya membuat mataku pedih.
“Aku nggak pernah melakukan sesuatu untuk kamu” katanya, “Aku pikir kita nggak akan pernah ketemu lagi. Kamu nggak perlu melihat aku lagi...”
Aku sudah lama melupakannya. Bahkan sama sekali sudah tidak ada rasanya ketika melihat Daniel lagi. Mungkin karena sudah enam tahun semuanya berlalu dan kami memang nggak pernah menjalin hubungan yang serius. Perpisahan dengannya bukanlah hal menyakitkan yang menjadi kenangan buruk seumur hidup walaupun aku sempat bersedih karenanya. Hanya sebuah kenangan manis akan cinta pertama, tidak lebih dari itu.
Daniel punya Utari, cewek yang sudah menemaninya setahun ini. Aku hanya bayang-bayang kesepian dan sedang mencari tempat untuk lari. Meski berkata aku kuat menghadapinya, aku tidak setabah itu. Masih berharap seandainya dan seandainya. Entah kapan bisa menerima kenyataan bahwa mereka memang telah pergi. Mama sudah tidak ada lagi bersamaku. Wira sudah berlalu dan mungkin menemukan yang baru.
Tapi mugkin jalan seperti ini lebih baik. Mama tidak perlu lagi menderita. Tidak perlu lagi bekerja keras dengan jalan yang hina untuk diriku seorang. Meski aku merindukan pelukannya dan tawanya serta wajahnya yang selalu kelihatan cantik.
ooOoo
Komentar
0 comments