๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Halusinasi
“Alan…,” suara lembutnya memanggilku dalam keheningan waktu yang seolah terhenti.
Aku mengangkat kepalaku, menatap apa yang ada di depanku baik-baik. Dia yang datang menghampiriku dengan senyuman seperti saat pertama kali aku menemukannya.
Suaraku tertahan saat aku menyebutkan namanya, dan dia mendesis dengan telunjuk di bibir, memintaku diam. Aku hanya menatapnya dengan tidak rela, sebelum melihat tetesan darah mengalir dari pergelangan tangannya yang terluka.
Aku memandangnya baik-baik, “Kenapa kamu…,” aku bertanya padanya dan sebelum aku menyelesaikan kata-kataku, Ayu memelukku untuk selanjutnya menghilang, menjadi hampa, membuatku tidak dapat bernafas. Aku bahkan tidak ingat wajahnya dengan persis. Bayangannya memudar dan semakin menyatu dengan udara.
Semua karena aku tak benar-benar ingat lagi kapan terakhir aku melihat wajahnya. Ya, sudah sangat lama sejak aku menyadari bahwa ia lebih bahagia jika aku tidak ada di sekitarnya. Menyaksikannya tertawa dan menari-nari bersama orang yang dapat memberikan semua yang tidak dapat kuberikan padanya. Karena itulah dia menghilang dariku.
---
“Hi,” pria asing itu menyapaku.
Sejak hari aku datang hanya untuk memastikan Ayu sudah sadar dari tidur panjangnya, aku selalu melihatnya. Terkadang bersama seorang bocah tinggi kurus yang lumayan kukenali –karena pernah beberapa kali bertemu.
Tidak seperti si pria asing bermata abu-abu dan berkepala plontos yang terlihat ramah, bocah itu nampaknya tidak menyukaiku. Dia menatapiku dengan wajah tanpa ekspresi tapi matanya menunjukan sebuah kemarahan seakan akulah yang membuat Ayu berada di tempat ini.
Aku hanya membalas tatapan pria asing itu, tanpa mengucapkan satu kata pun. Dan di dekat mereka aku melihat seorang perempuan muda dengan bocah lelaki di dekatnya –keponakan Ayu yang usianya sekitar empat tahun itu tengah memelototiku. Ia mengingatkanku pada Raka yang terpaksa harus aku tinggalkan bersama Melissa beberapa saat sebelum aku kembali.
“Kapan kamu kembali ke Jakarta?” Rana, kakak perempuan Ayu bertanya padaku.
“Belum tahu,” jawabku tenang, sekali pun aku tidak betah dengan dua orang yang ada di dekat kami. Aku ingin menghindari tatapan menuduh mereka yang memojokanku. “Saya akan tinggal di sini sampai Ayu benar-benar sudah sembuh”
Kami masih menunggu. Masih menunggu dokter akan mengatakan sesuatu yang melegakan tentangnya.
Aku sadar, mereka selalu berada di sekitar Ayu saat aku tidak ada. Mereka ada di sini karena mencemaskannya. Aku dengar pria asing itu bahkan jauh-jauh terbang dari Pakistan begitu mendengar Ayu masuk rumah sakit karena percobaan bunuh diri. Dia pernah mengenalkan dirinya sebagai Peter Hersch, pernah menjadi bos Ayu sekaligus teman baiknya. Kurasa dia juga tahu soal kejadian tsunami di Kepulauan Mentawai yang tersebar ke penjuru dunia seperti gempa setahun sebelumnya.
Sedangkan bocah kurus yang katanya bernama Radhi adalah seorang teman yang sangat akrab dan dekat dengannya. Dia tidak akan datang setiap hari untuk menjenguk jika dia tidak pernah ada sesuatu di antara mereka. Saat aku datang ke sini dalam keadaan kacau dan ketakutan setengah mati, aku melihatnya duduk di sisi tempat tidur sangat lama, memandangi Ayu yang kurus dan pucat.
Hanya dia yang tahu bagaimana menderitanya Ayu akan kematian kedua temannya yang tidak selamat dalam bencana tsunami itu. Serta tingkah aneh Ayu yang ia tahu selalu ada hubungannya denganku. Menurutnya, Ayu sudah menunjukan gejala tertekan jauh sebelum tsunami menerjang Mentawai dan dia berada di sana untuk liburan bersama kedua temannya.
Beberapa saat lalu kami sempat bicara dan ia melontarkan sindiran yang menohok. Jika Ayu mati, tentu aku tidak akan ada di sini, bahkan aku tidak akan tahu semenderita apa dia selama ini. Aku akan terus hidup tanpa tahu apa-apa –parahnya aku bahkan mengira Ayu sudah bahagia dengan orang lain. Kenyataannya tidak.
Di dalam sana, ia terbaring. Setelah meminum beberapa obat penenang dan antipsikotik. Kejang-kejang dan berteriak sepanjang waktu, memecahkan cermin, dan tidak ingin makan. Ada kalanya, ia begitu dingin, tanpa ekspresi, dan mengatakan hal-hal yang absurd tentang dunia tanpa suara di sekitarnya –seperti tenggelam di dalam air lalu melihat hamparan pasir dan suara-suara yang memanggilnya.
Perawat terpaksa memotong rambutnya karena sudah panjang sekali, dan bilamana ia berdiri di lorong rumah sakit dengan piyama putih yang kebesaran, ia akan terlihat seperti hantu gentayangan yang ingin menuntut balas –melangkah terpincang-pincang, menyeret kaki kanannya yang pernah patah. Ia menakuti orang lain karena punya banyak bekas luka jahitan di betis dan di pelipis kanannya –guratan yang digoreskan takdir yang membuatnya trauma pada pantai yang dulunya begitu ia sukai.
Setiap malam terjaga, dan berteriak pada kegelapan, karena melihat gulungan ombak. Ia melihat teman-temannya tewas dan itu selalu datang berulang-ulang setiap kali ia memejamkan mata.
Itu sebelum akhirnya, ia menyayat dirinya sendiri. Menuliskan sebuah nama di atas karpet dengan darahnya sendiri –Dennis, seolah aku yang telah membunuhnya.
Entah mengapa dia lakukan itu. Dan entah apa yang ia lihat dalam halusinasinya.
---
Aku memandang wajahku di depan cermin. Tetesan air jatuh dari wajahku karena aku baru saja membasuhnya untuk menghilangkan rasa mengantuk yang sangat pada mataku. Bayanganku merefleksikan rasa lelah yang kurasakan belakangan. Ketika aku memakai kaca mataku lagi, aku bisa melihatnya dengan jelas.
Begitu aku keluar dari toilet dan kembali ke tempat di mana aku biasanya menunggu, pintu kamar Ayu terlihat lebih ramai dari biasanya. Ada banyak kerabat yang datang melihat karena akhirnya ia telah terjaga.
Dia duduk di atas tempat tidur. Mengabaikan sekitarnya. Tatapan kosong, yang bukan pertama kali aku melihatnya, seolah di dalam raganya yang kurus itu, jiwanya pergi entah ke mana.
Perlahan, aku mendekat. Orang-orang pergi keluar menyisakan kami. Ketika suara pintu menutup, ia akhirnya menoleh.
“Apa kabar, Dennis?” tanya dia, dengan seringai di bibirnya yang menghitam sedangkan wajahnya memutih. Kantung matanya terlihat jelas dari dekat. Serta rasa sakit pada tatapan matanya yang sayu.
Aku terkejut, dia tidak pernah memanggilku Dennis.
“Hentikan, Ayu…,” kataku memohon, menggenggam tangannya terluka dan dibalut kain kasa dengan noda darah yang meresap dari luka sayatan di tangannya.
Ia duduk di tempat tidur serba putih dengan wajah pucat dan raut berantakan. Rambutnya yang di potong pendek sekali, kelihatan acak-acakan.
Ruangan sunyi itu terasa mencekam bagiku saat ia dan tatapannya yang kosong tidak menggubrisku sama sekali.
“Aku mohon, hentikan…,” kataku lagi, menatapnya agar ia menatapku.
Namun tak pernah kulihat dia sedingin itu. Aku menyesal membuatnya menghabiskan hampir sepanjang tahun ini di rumah sakit hanya untuk sembuh dari skizofrenia yang ia alami sejak kembali dari Mentawai.
“Aku tidak gila, Lan,” katanya, sekarang sudah menatapku. Tapi, masih sedingin sejak aku datang ke sini sejam yang lalu.
Kupandangi dirinya dan luka bekas perjuangannya melawan maut yang nyaris merenggut dia selamanya dariku.
“Aku tidak benar-benar ingin mati,” katanya menjelaskan alasan mengapa ia menyayat nadinya sendiri dan membuat semua orang seperti diteror. “Kalau aku tidak melakukannya, mereka tidak akan menyuruh kamu ke sini…”
“Kamu bisa memberitahuku bukan dengan cara seperti ini…,” aku hampir menangis saat mengatakannya.
“Semuanya sudah aku lakukan, Lan,” katanya dengan suara yang amat pelan. Tapi, tatap matanya masih belum berubah. “Aku ke Jakarta, mencari kamu karena kupikir kita belum berakhir. Aku bukan sengaja menghindari kamu karena aku benci. Kamu meninggalkan aku di saat aku tidak berdaya… kamu masih punya Tyas dan meributkan masalah yang tidak pernah selesai tiap sebentar. Dan jangan pikir aku tidak tahu itu…”
“Itu tidak benar…,” kataku, “Kalau gempa itu tidak menghancurkan semuanya, Ayu, aku sudah pasti membawa kamu pergi… tapi kamu menghilang. Keluarga kamu saja tidak tahu kamu ada di mana. Begitu aku bertemu Tyas dan dia bilang kebetulan bertemu kamu, aku langsung ke Padang. Kupikir kita masih bisa bersama lagi… tapi…”
“Kamu pikir aku baik-baik saja tanpa kamu?” balasnya. “Apa aku terlihat begitu senangnya?”
“Maafkan aku, Ayu…,” pintaku menggenggam tangannya lebih erat saat ia ingin menariknya lagi dariku. “Aku sadar aku hanya membawa kamu ke dalam masalah sejak pertama kali kita bertemu…”
“Semua kesalahan yang aku lakukan berkat kamu berbuntut panjang,” katanya.
Aku menarik nafas, menenangkan diriku. Aku tahu sekali dia mengamuk, dia akan kehilangan dirinya. Masih belum pudar di kepalaku, saat ia berkata begitu membenciku karena apa yang kulakukan padanya, ia lebih cenderung menyakiti diri sendiri daripada membalasku.
“Sekarang bilang, apapun yang kamu inginkan, aku lakukan…,” ujarku meraih belakang kepalanya untuk sekedar merapikan rambutnya yang berantakan dan kusut.
Tapi, Ayu menepiskannya.
Ia terdengar menghela nafas. “Lepaskan aku, Lan,” katanya menatapku lekat-lekat, “Lepaskan aku dari penjara kamu”
“Apa maksud kamu?” tanyaku, bingung.
Ayu hanya menatapku dan menghela nafas lagi.
“Apa kita tidak bisa kembali bersama?”
Ayu menggeleng, lalu tertunduk. Genggamanku pada tangannya terlepas. Kupikir, dia melakukan hal yang gila ini hanya agar aku kembali. Dayaku hilang seketika, persis ketika seseorang memberitahuku di telpon bahwa ia sekarat karena percobaan bunuh diri. Sungguh, aku pikir aku telah melewati neraka yang tercipta karena ketiadaannya di sisiku dengan datang ke sini.
“Untuk saat ini… aku tidak merasa yakin,” katanya dan seketika kutarik tubuhku menjauh darinya.
Aku memalingkan wajahku tidak percaya, “Kenapa?” aku tidak bisa menerimanya begitu saja.
“Tapi, bukannya kamu bilang, kita tidak akan tahu apa yang terjadi nanti? Kita tidak perlu tahu akhir saat sebelum memulai?” balasnya, dan kata-kataku sendiri tersangkut di ujung lidahku.
Aku membeku.
“Untuk saat ini kita sudah berakhir, Alan,” ia menegaskan, tiada nada gentar pada suaranya yang dingin. “Tapi, jika memang… kita ditakdirkan untuk bersama, berapa lama pun atau berapa jauh pun kita berpisah, kita akan kembali lagi…”
Aku tidak bisa menerima kata-kata itu.
“Aku sangat lelah, Alan,” sambungnya, “Aku hanya ingin istirahat panjang dari memikirkan kamu…”
“Terus apa yang ingin kamu lakukan?” tanyaku akhirnya.
“Peter mengajakku untuk bekerja lagi kalau aku sembuh,” jawab dia. “Aku... ingin melakukan banyak hal. Pergi ke tempat yang belum pernah aku datangi sebelumnya. Seperti... yang dulu pernah aku katakan....”
Aku tidak pernah melupakan semua cerita getirnya tentang terkungkung dalam penjara orang tuanya.
“Kemungkinan setelah ini aku akan ikut Peter ke Nairobi atau Pakistan,” sambung dia. “Aku ingin melakukan hal yang lain selain memikirkan kamu. Aku akan mengurus anak-anak di pengungsian, kamu tahu, sebenarnya aku sama sekali tidak suka anak-anak. Tapi, aku jadi ingin mencobanya. Ingin sekali…”
Aku terdiam sangat lama. Aku tidak mengatakan sesuatu lagi –memintanya mengurungkan niatnya itu. Karena jika aku menghentikan angan-angannya, wajah bahagia itu akan kembali merana.
“Kamu pernah bilang seharusnya aku melakukan sesuatu yang besar ‘kan?” dia menegurku dan aku berusaha menahan sesuatu yang mengganjal di mataku. “Aku dibutuhkan di tempat lain yang jauh dari sini…”
Aku meninggalkan rumah sakit itu. Tangis sudah pecah di mataku selangkah aku pergi darinya. Aku tahu dia gadis yang cerdas. Aku tahu dia sangat berpendirian dan sesungguhnya pada masa-masa sulit dalam hidupnya dulu dia tidak pernah bergantung padaku. Melainkan kelemahanku yang tak terlihat bergantung kepada semua keceriaan yang ia bawa ke dalam hidupku sejak pertama bertemu dengannya.
Sekarang, ia sudah kembali menjadi dirinya yang dulu. Dan aku tidak mungkin menyeretnya kembali untuk bersamaku.
Tapi, tiba-tiba saja terngiang di kepalaku. Kata-kata sinis Tyas sebelum aku meninggalkan Jakarta setelah dia memberitahu bahwa Ayu masih hidup.
‘Kalian itu seperti bayangan bulan di atas air… sebegitu cintanya sampai tidak peduli orang lain akan menderita’
Betapa pun dihancurkan akan menyatu kembali.
Benarkah?
---
Komentar
0 comments