๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
“Sepertinya bakal bolak balik lagi...,” katanya.
Kali rutenya ini lebih jauh. Lantai enam belas.
“Aku janji ini pertama dan terakhir kalinya aku belanja kayak kesurupan...,” ujarku dan Nial hanya memutar matanya.
Kami turun dari mobil dan Nial mulai menurunkan barang yang paling berat bobotnya –bahan makanan dalam empat buah kantong besar. Aku mengeluarkan semua paperbag yang juga lumayan berat kalau dibawa sekaligus. Semua ini barang-barangku dan aku nggak sabar ingin segera membongkarnya. Mungkin akan butuh waktu semalaman karena banyak sekali.
“Kamu yakin bisa bawa sebanyak itu?” tanya Nial saat masuk lift.
“Ya, nggak berat kok... cuma banyak...,” jawabku cengengesan.
“Ya udah, nanti sisanya biar aku sendiri yang bawa. Kamu tunggu di atas.”
“Eh, tapi....”
“Tapi, apa?”
Aku langsung diam, melihat dia gusar hanya gara-gara dibantah sedikit.
Bellisa, kamu memang benar-benar nggak bersyukur. Dibelikan sebanyak ini, barang-barang diangkatin juga? Kurang apa lagi sih cowok judes itu?
Jangankan paperbag, dia membawa dua kantong belanjaan jumbo sekaligus dengan santai. Pantas, badannya begitu. Dan pikiran kotor itu kembali kalau aku sudah memikirkan soal tubuhnya. Aku sudah begitu sejak pertama kali aku berdiri di depan pintu itu –hal pertama yang secara nggak sadar langsung aku perhatikan, adalah kedua lengannya yang besar.
Nial sudah masuk sementara aku tertinggal cukup jauh di belakang.
Semua belanjaanku jatuh. Ada satu tali paperbag yang copot, aku memungutnya kembali dan itu malah menjatuhkan yang lainnya. Ada baju yang menyembul keluar dari paperbag. Dengan cepat aku mengumpulkannya kembali tapi ada satu lagi yang talinya lepas.
“Aduh...,” gerutuku dan saat itu aku melihat ada yang mengambilkannya untukku.
Valde.
“Kamu habis borong satu toko ya?” dia menyapaku.
Aku terdiam; merasa nggak enak dan canggung.
“Sini, aku bantuin,” dia menawarkan.
Aku langsung menggeleng. Selain karena nggak enakan, aku takut kalau Nial sampai melihatnya.
“Ada di SOP. Menolong penghuni yang butuh bantuan. Mengangkat barang itu sesuatu yang biasa,” jelas Valde tenang.
Aku membiarkan dia membawa sebagian belanjaanku bahkan sampai ke dalam. Dia menaruhnya di sofa ruang depan dan ya, Nial melihatnya masuk. Aku sudah keburu cemas.
“Selamat malam, Pak...,” begitulah sikap Valde ketika melihat Nial yang reaksinya hampir biasa. Lalu langsung pergi.
Dan aku juga nggak mengharapkan hal seperti itu dari Valde. Dia... bersikap seperti orang lain? Tapi, aku mau dia bagaimana juga? Nial sudah memperingatkannya agar nggak menemuiku lagi dan sikap tadi adalah satu-satunya yang bisa dia lakukan.
“Kamu tunggu di sini,” kata Nial yang sepertinya nggak terlalu peduli lagi dengan Valde. “Aku mau ambil sisanya.”
***
Komentar
0 comments