[Hal. 54] [Chapter 16] I LOVE YOU BUT...

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar
“Kamu mau ke mana? Supermarketnya di sebelah sana ‘kan?” tanyaku saat Nial malah mengambil arah berbeda.

“Kamu harus sabar dengan orang yang pelupa,” jawabnya.

Dia lupa arah sementara supermarket-nya jelas-jelas sudah terlihat dari kejauhan?

“Kesibukan sering bikin aku lupa hal-hal penting.”

Aku masih bingung saat dia kembali meraih tanganku dan mengajakku ke tempat tujuan yang mungkin baru saja terpikir olehnya. Aku pikir itu toko elektronik atau furnitur –untuk mengisi kekosongan di apartemennya. Kemarin dia beli mesin cuci dan mesin setrika –yang sampai sekarang belum datang dan entah Nial sudah menghubungi penjualnya, tapi sepertinya dia lupa. Dia baru saja bilang kalau dia pelupa ‘kan?

Dia masih menggenggam tanganku. “Aku nggak mau kamu pakai barang punya orang lain,” katanya di depan sebuah butik yang selama ini hanya kulewati tanpa berani menoleh. Mungkin inilah yang disebutnya sebagai hal yang penting –aku belum punya baju sendiri.

Tapi aku mendengarnya seperti ‘nggak mungkin aku yang punya banyak uang ini, malah membiarkan pacarnya pakai baju bekas. Apa kata dunia?’.

Kalau saja kami nggak berada di tempat umum, mungkin aku akan memeluknya sambil mengucapkan terima kasih. Mungkin juga aku akan menciumnya ya. Sesuatu yang kami lakukan di mobil tadi, sedikit menghilangkan kecanggunganku setiap berdekatan dengannya. Dia bernafas di leherku, membenamkan kepalanya di sana dan aku merasakan tangannya menyisip di bahuku, membelai dengan lembut kulitku seakan ingin melepaskan semua yang menutupi tubuhku agar dia lebih leluasa.

Tapi, Nial menghentikan angan liarnya. Dia memelukku sangat erat sebelum mengajakku turun di saat aku merasakan getaran aneh yang menginginkannya tetap sedekat itu denganku. Aku mungkin hanya akan diam dan menunggu kalau dia benar-benar ingin menyentuhku lebih dari itu. Aku juga menginginkannya.

Nggak salah setelah dia, aku nggak melihat hal lain yang bisa membahagiakanku selain dirinya. Aku mulai merasa, tanpanya aku bukanlah apa-apa. Tanpanya aku bukan siapa-siapa. Tanpanya aku hanya gadis kesepian yang depresi. Tanpanya, aku hampa. Dan aku nggak pernah mau memikirkan bilamana semua ini berakhir. Aku  nggak mau memikirkan rintangan yang mungkin akan muncul di tengah jalan. Aku hanya ingin bahagianya saja. Karena itu, apa pun, apa pun itu demi bisa bersamanya, akan kulakukan.

***

Seharian kami berbelanja. Berkeliling dari satu toko ke toko lainnya. Ini lebih menyenangkan dari memasukan mie ke dalam troli pastinya. Dia selalu menggenggam tanganku sebelum dia harus membawakan semua belanjaan. Ya, ini bagaikan mimpi. Aku belum pernah sebahagia ini dalam hidupku.

Bagian belakang mobil penuh dengan belanjaan –belanjaanku dan bahan makanan. Bertumpuk nggak beraturan.

“Besok kalau kita keluar lagi, sebaiknya belanjaan kamu nggak sebanyak ini...,” Nial akhirnya menggerutu tapi aku hanya tertawa. “Aku capek bolak-balik ke mobil.”

Siapa sih gadis yang nggak senang dibawa berbelanja dan dibayari juga? Dalam beberapa hari saja aku sudah menjelma menjadi gadis paling bahagia sedunia.

“Kamu nggak ngasih komentar jadi aku bingung,” kataku. “Kamu cuma bilang kalau aku suka ambil aja. Ya, aku suka semua dan pelayan tokonya juga nawarin yang bagus-bagus terus. Aku kalap. Sumpah. Siapa sih yang nggak bakal kalap bisa belanja tanpa harus mikirin harganya....”

“Dasar perempuan...,” celetuknya, sedikit gusar.

“Oh ya, kamu... bayar berapa buat belanjaannya?” tanyaku dengan hati-hati.

“Kenapa? Kamu mau ganti uangnya?”

Aku mendengus. Sedikit kesal. Apa salahnya dia menjawabku saja?

“Aku nggak mau tiba-tiba kamu terlilit hutang hanya karena ingin bikin aku senang.”

“Telat, Bellisa. Kamu udah belanja sebanyak itu dan baru sadar kalau aku bisa bangkrut setelah seharian?”

“Ya udah, kita balikin lagi aja!” umpatku kesal.

Dia tertawa. “Ya udah, kita balikin. Apa kamu rela?” tantangnya. “Aku sih nggak masalah. Uang segitu juga nggak ada artinya....”

Dan mulai lagi, sombongnya kambuh. “Kamu benar-benar Regina George versi cowok ya...,” gumamku.

Nial hanya tertawa meledek sebelum menyalakan mesin mobil.

“Aku... belanja kebanyakan ya?” tanyaku kemudian sedikit khawatir Nial jadi berpikiran buruk soal aku. Ternyata aku orang yang serakah, aku sudah menunjukan warna asliku, barangkali seperti itu.

“Kamu belanja kayak orang kesurupan,” jawabnya, masih terdengar meledek.

“Kamu tahu, aku...,” aku mencoba menjelaskan. Aku ingin mengatakan bahwa aku terlalu senang sampai lupa diri.

“Bell,” potongnya dengan cepat dan aku langsung kehilangan penjelasan di dalam kepalaku. “Jangan pernah berpikir soal uang. Aku nggak akan peduli sama berapa pun yang aku habiskan. Kamu tinggal sama aku sekarang dan aku punya tanggung jawab untuk memberikan apa pun yang kamu butuhkan, oke?”

Setelah banyak hal yang dia katakan padaku, kata-kata inilah yang paling melegakan. Bukan karena ujung-ujungnya aku menjadi materialistis dan itulah satu—satunya hal yang membuatku tergila-gila tapi dia sudah bicara soal tanggung jawab –terhadapku.

Betul ‘kan? Dia membuatku semakin jatuh cinta padanya dan betapa beruntungnya aku berada di sisinya. Dia memberiku lebih dari yang kuharapkan.

***

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments