๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Pemandangan yang ajaib ketika dia makan mie instan itu dengan hati-hati. Dan dia tampak cukup menyukainya. Nial menghabiskannya bahkan sampai kuahnya juga –aku bahkan nggak makan mie sampai begitu.
Sampai jam dinding menunjukan pukul sepuluh. Nial menguap satu kali.
“Kamu capek ya?” tanyaku.
Dia menoleh padaku dengan kepala yang tersandar pada sofa dengan tatapan tenang; saat kupikir dia akan menjawabku ketus, barangkali ‘kamu pikir apa?’ dengan kerutan di dahinya. Tapi, dia hanya menatap. Seolah ada yang ingin dia katakan tapi enggan. Dia hanya meraih wajahku dan mengusap pipiku dengan lembut. Sempat ku kira dia akan mencium lagi dan melanjutkan yang tertunda karena lapar.
Tapi, Nial bangkit dari sofa. “Belanjaan kamu masih berantakan di ruang depan,” dia mengingatkan dan sepertinya itulah yang harus dikerjakan lebih dulu, sebelum apa pun yang ada dipikiranku atau mungkin pikirannya.
Dia pernah bilang, sesuatu yang nggak teratur itu nggak bagus.
Aku sedikit kecewa. Ya, padahal aku sudah nggak peduli lagi sama barang-barang itu. Nial mengalihkan semua perhatianku hanya kepada dirinya. Dan aku berharap bisa kembali ke pelukannya segera.
“Iya, aku pindahin ke kamar sekarang,” kataku sambil berdiri dan segera pergi ke ruang depan. Dan kembali terpesona pada apa yang kudapatkan hari ini. Aku menghela nafas sambil tersenyum dan mulai mengambil satu persatu paperbag yang bertumpuk di lantai dekat meja, ada beberapa tumpuk lagi di atas sofa yang penuh.
“Kamu mau simpan di mana? Di sana nggak ada lemari,” Nial mengingatkan lagi.
Ya itulah kenapa baju Wanda masih di dalam kopernya. Kamar itu hanya punya tempat tidur dan meja rias. Di kamar Nial aku juga nggak melihat ada lemari –hanya sebuah cermin.
“Untuk sementara susun di sana dulu,” kataku.
Nial terdiam sejenak sebelum ia memunguti paperbag itu. “Ikut aku,” katanya dan aku dengan patuh mengikutinya.
Kembali ke kamarnya yang nyaris kosong. Ada sebuah pintu lain selain pintu kamar mandi di sana –aku pernah lihat, tapi sama sekali nggak tertarik untuk tahu itu ruangan apa. Yang jelas setelah Nial membukanya, aku tahu alasan dia nggak punya lemari. Ada walking closet yang seukuran kamar untuk menyimpan semua baju-bajunya.
Ruang itu hampir mirip dengan butik. Nuansa putih, terang benderang dan berkilauan oleh kaca-kaca yang memantulkan cahaya.
Rak gantung berjejer rapi tiga baris di tengah-tengah. Baris pertama adalah kemeja. Baris kedua t-shirt. Baris ketiga, semua yang berlengan panjang. Disusun berdasarkan warna.
Dinding kiri dan kanan, rak-rak putih menjulang tinggi hingga ke langit-langit. Di sebelah kiri tempat baju-baju yang terlipat. Di sebelah kanan, ada rak gantung yang posisinya lebih tinggi dari yang lain –di sana setelan jasnya tergantung dan rata-rata berwarna hitam. Di sebelahnya, kemeja yang semuanya berwarna putih –dia punya puluhan kemeja putih. Paling ujung ada lagi rak gantung namun perhatianku tertuju pada rak sepatu bersekat bawahnya di–dia juga punya banyak sepatu.
Nial masuk lebih dalam, ada ruang lagi di sebelah kiri dan di sana tampak seperti kamar pas dengan kaca yang besar. Meja panjang di bawahnya adalah tempat berjejer botol-botol parfum yang bisa aku pastikan mahal.
“Di sebelah sini banyak yang kosong, kamu bisa simpan di sini semuanya,” kata dia memberi tahu sambil menaruh semua paper bag di lantai dan dia membuka sebuah lemari geser kaca di sebelah kanannya.
Aku masih bingung dan hanya menatapnya sambil tetap memeluk belanjaanku yang melimpah ruah. Dia serius membaginya denganku?
“Kenapa?” tegurnya.
“Nggak...,” aku menggeleng, mengedarkan pandangan ke sekitarku. Ini lebih seperti butik pribadi daripada lemari dan aku akan masuk ke sini untuk ganti baju –seperti yang biasa dia lakukan. “Hanya....”
“Kita tinggal bersama sekarang,” Nial mengingatkan dan aku tersentak oleh kata ‘bersama’ yang dia ucapkan.
Aku mengangguk.
“Oke, kamu simpan semuanya dulu,” katanya, lalu pergi. Meninggalkanku dalam keheningan yang membuatku merinding tapi senang sampai-sampai lututku lemas dan aku merosot hingga terduduk di lantai yang di alasi karpet bulu coklat muda yang sangat lembut, di antara rak gantung yang banyak sekali.
Aku ingin melompat kegirangan, berteriak kalau perlu. Tapi, aku sedikit lelah. Aku harus menyusun barang-barangku sebelum bisa kembali padanya –ke pelukannya.
Tapi, setelah aku selesai, Nial sudah tertidur di sofa bawah jendela dengan satu kaki menjuntai ke bawah, masih dengan baju yang dia pakai ketika kami pergi. Dia pasti sangat lelah. Dia mengeluh, tapi nggak pernah bilang kalau dia lelah.
Ini pertama kali aku melihatnya tertidur. Dan melihatnya lebih dekat. Ternyata dia punya bintik-bintik halus di wajahnya dan satu tahi lalat di pipi dekat telinga. Dia sangat memikat. Hidungnya, bibirnya, bentuk wajahnya, segala sesuatu yang ditaruh di wajahnya dengan posisi yang tepat –nyaris sempurna.
Nial, kenapa... kamu bisa jatuh cinta pada orang sepertiku?
***
Komentar
0 comments