[Hal. 56] [Chapter 16] I LOVE YOU BUT...

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar
Hari ini sangat melelahkan tapi menyenangkan. Aku menjatuhkan diri di atas sofa di antara paperbag seperti menjatuhkan diri di atas ranjang yang bertaburan bunga. Aku suka dengan bau barang-barang baru yang menyeruak dari dalam paperbag itu dan menghirupnya seperti menghirup wangi mawar. Dan aku nggak bisa berhenti tersenyum pada langit-langit putih ruang tamu Nial yang sekarang adalah rumahku.

Aku ingat hampir setiap pengunjung memperhatikan saat aku sedang bersafari dari satu rak gantung ke yang lainnya dengan diikuti dua orang pramuniaga dan seorang cowok macam Nial – yang juga sudah menjadi pusat perhatian dari awal. Mungkin aku sedikit membuat mereka iri.

Pramuniaga menunjukan produk terbaik mereka karena melihat Nial dengan beberapa tas belanjaan di tangannya, berpikir bahwa kami adalah pelanggan yang potensial. Aku sempat menolak sebelum Nial berkata “kalau kamu suka, ambil aja,” dan itu adalah mantra paling ajaib sedunia yang membuat pramuniaga itu menjadi bersemangat menawarkan barang.

Lalu setelah keluar dari satu toko, aku tertarik pada barang yang kelihatan lebih bagus dari yang sudah dibawa Nial ke mobil. Dan kalau bukan karena aku ditanyai olehnya “Kamu mau masuk?”, kami mungkin akan lanjut ke supermarket. Aku menganggap pertanyaan itu seperti ajakan ‘ayo, belanja lebih banyak’. Aku mengangguk-angguk.

Di toko ke empat –aku mulai kalap. Aku juga menginginkan beberapa pasang sepatu yang biasanya hanya kulihat sambil lewat. Terakhir kali aku pernah ke mall, mungkin saat masih bersama Ruby –untuk nonton film, aku memandangi setiap barang di etalase yang aku lewati dengan perasaan ingin memiliki. Tapi, aku tahu, barang-barang seperti itu nggak diperuntukan bagi orang sepertiku.

Tiba-tiba saja aku berada di dalamnya, memilih dengan rakus seperti penggila belanja tanpa takut tagihan jebol. Dan mungkin saja sedikit kampungan, ketika aku melongo melihat harga di salah satu label baju yang kuambil dari dari rak gantung. “Nial, ini mahal banget,” kataku menunjukan baju itu padanya.

“Buat aku enggak,” balasnya, acuh tak acuh dan sibuk dengan handphone –mengirim pesan atau menelpon ketika aku sibuk memilih baju.

Mungkin aku kesurupan setelah dia bilang baju seharga enam digit bukanlah sesuatu yang mahal. Dan untuk selanjutnya aku nggak lagi memperhatikan label. Aku suka, aku butuh, masuk keranjang. Pilihan pramuniaga yang juga bagus untuk selera fashion-ku buruk atau aku memang sama sekali nggak punya karena aku miskin, tanpa pikir panjang juga masuk ke keranjang .

“Kenapa kamu senyum-senyum sendiri?” Nial mengejutkanku dengan wajahnya sudah menggantikan langit-langit putih yang tadi terlihat seperti lorong panjang dengan butik mahal di kiri dan kanan, terang benderang dan berkilauan.

Aku tertawa.  “Makasih...,” ucapku, menatap dia lekat-lekat dan sepertinya aku mulai terbiasa berada tanpa jarak sedikitpun darinya. “Hari ini aku senang banget....”

Nial mendekatkan wajahnya dan aku tahu apa yang dia pikirkan –mungkin sama dengan yang aku pikirkan. Mungkin inilah harinya ketika akhirnya aku benar-benar dimiliki oleh seorang lelaki. Semua itu dimulai dari sebuah ciuman yang tanpa jeda dan membuatku panas dan gelisah hingga sakit di antara kedua kakiku. Dan kedua tangannya yang mendekapku merayap di kulit punggungku.

Tapi, sayangnya, aku lapar dan itu nggak bisa disembunyikan karena perutku berteriak. Nial terkejut, aku juga.

“Aku juga lapar,” kata dia, segera bangkit 

Benar ‘kan? Yang ada di pikirannya hanya memasak?

Nial langsung pergi ke dapur. Meninggalkanku di antara paperbag yang penyok dan sedikit linglung. Jantungku masih berdebar keras. Sentuhan hangat tangannya masih terasa di kulitku.

“Kamu mau masak lagi?” tanyaku megikutinya.

“Kalau aku nggak masak, kita makan apa?”

“Aku punya mie instan,” jawabku enteng. Meskipun bisa saja dia menolaknya dan bilang ‘aku nggak makan sampah’, reaksi Nial ketika aku menuju rak mie instan di supermarket tadi hampir nggak ada dan itu adalah pertanda kalau dia mungkin nggak akan marah. Dia membiarkan aku memasukannya ke troli sampai puas.

Ya, dia hanya mendengus saat aku mulai mencari di dalam kantong besar di atas meja makan lalu mengeluarkan dua cup mie instan rebus –satu untuknya dan satu untukku.

***

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments