[Hal. 51] [Chapter 15] I LOVE YOU BUT...

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

Aku ketiduran itulah yang kutahu pagi ini. Jam digital di meja nakas, menunjukan pukul delapan. Dan aku menggeliat dengan sedikit gerutuan menemukan tempat di sampingku sudah kosong seolah itu nggak pernah ditempati sebelumnya. Aku sama sekali nggak pernah melihat Nial keluar dari kamar mandi dengan selembar handuk. Aku nggak tahu apakah setelah itu dia menghampiriku di tempat tidur. Aku nggak melihat semua itu karena aku ketiduran

Dia pasti sudah berangkat kerja lagi. Ini masih hari Kamis. Aku melengos dan segera keluar kamar dengan lesu. Dan aku melihatnya –sedang meletakan piring dengan telur mata sapi di atas meja makan. Tanpa setelan kantornya.

“Kamu nggak kerja,” tanyaku.

“Lagi malas,” jawabnya enteng.

Itu artinya aku kami akan bersama selama seharian ini?

Aku bergabung di meja makan untuk sarapan dan memilih pancake. Perutku nggak terlalu lapar. Entah. Aku sedikit gugup seperti biasanya. Nial makan dengan santai sambil mengusap-usap layar Ipad-nya. Nggak jelas apa yang dia perhatikan di sana –tapi itu memang pertama kalinya aku melihat dia menggunakan gawai. Nggak ada pembicaraan selama sarapan karena aku juga nggak tahu bagaimana memulainya. Begitu selesai makan, aku mengumpulkan piring dan menaruhnya di wastafel, bersiap untuk mencucinya.

“Biar aku aja,” kata dia menyela, mengambil piring yang baru saja kuambil untuk disabuni.

“Kamu yang masak, kamu juga yang nyuci piringnya. Apa sebagai cewek aku benar-benar nggak ada gunanya?” kataku.

“Kenapa kamu bilang begitu?” balasnya.

“Jangan bilang kamu takut kalau aku mecahin piring kamu yang harganya mahal...,” gumamku sedikit menggerutu.

Nial tertawa pelan. Dia tersenyum. “Aku cuma mau kamu duduk manis dan makan yang banyak,” katanya. “Kamu kurus kayak tulang ayam.”

“Hah?”

Dia memberiku tatapan meledek yang sedikit membuatku jengkel. “Kurus itu nggak bagus,” katanya.

“Makan sebanyak apa pun aku tetap kurus. Kamu tahu bagi sebagian cewek itu anugerah,” gerutuku lagi. “Kamu lihat model catwalk, semuanya kurus-kurus....”

“Memang kamu mau jadi model?” dia meledekku lagi.

Dia menghangatkan suasana hatiku dan dalam sekejap mendinginkannya lagi. Aku tahu dia hanya mempermainkanku tapi itu membuatku cemberut. Dia nggak suka dengan cewek kurus.

“Udah, kamu siap-siap sana. Kita keluar,” katanya kemudian.

Apa? Kencan?

Dan dalam sekejap juga dia mengembalikan bunga-bunga di hatiku. Berikutnya, aku mulai mengacak-acak koper Wanda, berusaha menemukan sesuatu yang cocok untuk dipakai. Dan aku tahu nggak akan ada yang cocok, karena hampir semuanya seksi.

***

“Kamu lama banget sih....” Nial mengeluh saat aku keluar dan dahinya langsung berkerut ketika melihatku.

Aku kira dia akan sedikit senang melihatku tampil beda dari biasanya –celana pendek dan kaos longgar. Minidress berbahan chiffon dengan belahan dada rendah motif bunga menjadi pilihan satu-satunya yang nggak terlalu terbuka. Tapi, dia hanya melongo lalu tertawa meledek lagi.

“Kita cuma mau pergi belanja ke supermarket, bukan ke pesta pantai,” ledeknya.

Malu. Iya. Dia tertawa sampai keluar air mata seolah aku terlihat seperti badut dengan baju yang aku pikir akan membuatnya memujiku. Oh ya, aku belum pernah mendengarnya mengatakan hal yang positif tentangku. Aku kembali ke kamar dan menggantinya dengan yang biasa kupakai.

Kupandangi baju-baju Wanda yang berserakan di atas tempat tidur. Semuanya bagus, tapi jadi jelek di badanku. Itu membuatku hampir menangis. Aku hanya ingin kelihatan cantik supaya bisa terlihat pantas berada di sampingnya.

Ternyata nggak mudah ya, bersama cowok yang kadang-kadang kelakuannya kayak setan....

***


Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments