๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Waktu rasanya berjalan lebih lambat dari biasanya. Aku memang sering bosan sendirian setiap kali dia pergi –atau mungkin berada di ruang rahasianya atau ketika dia sama sekali nggak bicara walaupun kami ada di ruangan yang sama. Tapi, saat itu aku belum pernah merasa begitu dekat dengannya atau bahkan tidur di kamarnya. Saat itu dia juga belum pernah memeluk dan menciumku –membuatku malu setiap mengingatnya. Saat itu... aku mencoba menyingkirkan segala bentuk perasaan yang mungkin akan membuatku kecewa dan itu belum apa-apa kalau dibandingkan dengan ini –merindukannya.
Ternyata jauh lebih berat. Seolah dia nggak akan pulang ke sini.
Padahal aku tahu itu hanya kegelisahanku saja.
Dia akan kembali sore nanti ‘kan?
Dan kalau dia pulang aku harus bersikap seperti apa? Dia selalu membuatku gugup. Biasanya aku akan mengoceh –walaupun aku bukan tipe yang seperti itu juga saat berhadapan dengan orang-orang, untuk menutupinya. Aku mungkin hampir nggak bisa bersikap manis juga. Nial yang aku tahu sangat cuek. Dia hanya bicara seperlunya. Dan jika aku sudah banyak bicara, dia akan jengkel. Itu selalu terjadi. Saat kami mengobrol, itu akan berakhir dengan pertengkaran kecil karena aku mengatakan hal yang salah.
Lalu seperti apa juga sikapnya padaku? Apa dia akan tetap cuek seperti biasanya? Ataukah dia sedikit akan lebih memperhatikanku? Sejauh yang bisa aku ingat tentang semalam, dia tetap nggak banyak bicara. Dia hanya banyak bicara kalau marah.
Aku mungkin hanya perlu mendengarkan dia, melakukan apa yang dia mau. Kuharap itu mudah.
Jam dinding di atas TV layar datar menunjukan pukul dua siang –aku baru saja menoleh ke sana saat jarum pendek berada dua puluh menit lebih awal. Aku mendengus, baru saja dua puluh lima menit rasanya seperti berjam-jam. Dan aku kembali menjatuhkan badanku di sofa empuk, meraih remot TV di atas meja dan mulai mengganti chanel.
Tidak ada film bagus yang bisa ditonton –rata-rata aku sudah menontonnya, dan sisanya, aku nggak suka. Itu film tentang perang, atau film aksi dengan adegan sadis berdarah. Aku lebih suka dengan drama atau romansa dan tak peduli berapa kali pun menontonnya, aku nggak pernah bosan. Cerita-cerita semacam itu cukup menghibur dan membuatku sedikit bermimpi tentang cinta –dan itu dikemas baik oleh pemeran Hollywood yang kemampuan aktingnya memang sudah mendunia. Dari semuanya aku menyukai Leonardo diCaprio dalam The Great Gatsby, hanya di film itu saja. Hari ini nggak ada film drama atau romansa. Hanya fiksi ilmiah, action dan komedi membosankan yang aku sama sekali nggak dapat leluconnya.
Entah untuk berapa kalinya dalam sehari aku melirik ke jam dinding; waktu berjalan seperti kura-kura. Aku sudah menghabiskan stok mie instan terakhirku. Hanya tinggal berapa keripik sekarang. Kalau Nial tahu aku makan mie segitu banyak, dia pasti marah –untuk yang satu ini, lebih baik dia nggak tahu. Aku akan membereskan sampahnya dan langsung membuangnya keluar sebelum dia pulang. Kalaupun ketahuan, aku akan bilang, bahan makanan sudah habis. Yang tersisa hanyalah beberapa kotak jus. Dan satu lagi, aku nggak bisa memasak.
Akhirnya jam lima; rasanya seperti sudah berjalan jauh tapi nggak kunjung sampai tujuan. Jam lima adalah jam pulang –pikirku. Tapi, apa yang aku tahu soal pekerjaannya? Aku hanya pernah melihatnya mengenakan setelan jas lengkap hampir setiap pagi tanpa tahu dia kerja di mana, kalau dia seorang bos, dia membawahi bidang apa dan kalaupun dia seorang pengusaha bisnis apa yang dia jalankan. Tapi, aku memang tidak pernah melihatnya pulang sore. Setidaknya tadi aku pikir, demi aku, dia akan pulang cepat. Dan ternyata tidak.
Yang aku tahu, Nial selalu pulang tengah malam dan sekarang pun tetap saja.
Aku meringkuk di atas sofa, menatap TV yang menyala dengan bosan. Ini jam tujuh malam dan aku kembali menengok pintu, berharap dia akan muncul dari sana. Tapi, tidak. Sejam kemudian. Dua jam kemudian. Tiga jam kemudian tak juga bergeming sampai aku kembali pasrah pada jam dinding.
Aku tak tahu mengapa kesepian terasa lebih pekat setelah semuanya jelas. Dan itu membuatku sedikit sedih. Ataukah aku yang selalu sendirian menjadi terlalu berharap karena sekarang aku punya seseorang? Aku berharap dia menemaniku karena yang kulakukan sepanjang hari hanyalah menghitung jarum jam yang berdetak. Apakah itu harapan yang berlebihan?
Air mataku selalu mudah mengalir keluar. Cengeng. Nial nggak akan suka. Tapi, aku selalu hampir menangis karena perkara kecil. Tipe sepertiku memang melelahkan.
***
Komentar
0 comments