๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Aku mengangkat kepalaku dan Nial sudah pulang.
“Nial?” aku menurunkan kakiku dari atas sofa.
“Kenapa kamu masih di sini?” tanya dia dan ternyata ini sudah jam dua dini hari, terakhir aku memperhatikannya jarum berada di angka dua belas. Artinya dua jam ini aku ketiduran.
“Aku nunggguin kamu,” jawabku dengan jujur sambil menggosok mataku yang perih.
Nial tampak menghela nafas. “Aku selalu pulang malam. Kamu tahu itu,” dia mengingatkannya. “Harusnya kamu tidur duluan.”
Aku menggangguk. “Iya, aku pergi tidur sekarang....” kataku dengan patuh sambil berdiri, menguap dan menggosok mataku. Sebenarnya aku rindu, tapi malah itu yang kukatakan padanya –dia juga kelihatan lelah dan pasti ingin istirahat. Aku menyeret langkahku yang sedikit berantakan menuju ke kamarku.
“Bell?” tegur dia tiba-tiba dan itu cukup mengagetkanku. Bell –adalah panggilan akrab bagiku. Entah mengapa, ketika Nial yang mengucapkannya terasa berbeda. Mungkin karena dia membawa lenganku bersamanya.
“Apa?” sahutku menatapnya dan menunggu sementara aku berusaha untuk membuka mataku lebar-lebar.
Dan dia menarikku pergi, seolah berisyarat aku pergi ke arah yang salah. Dia menuntunku ke arah yang benar –kamarnya. Aku masuk lebih dulu dan dia ada di belakangku.
Tadi pagi aku sempat penasaran seperti apa pemandangan malam dari jendela kamarnya. Karena terlalu serius menunggunya aku lupa untuk masuk ke sini lagi dan memastikannya. Awalnya jendela besar itu menarik perhatian karena sedikitnya aku bisa melihat cahaya lampu membias. Tapi, suara pintu yang menutup dan dikunci, membuatku menoleh ke belakang –di mana Nial berada dan kini dia mendekat, mendekapku dengan kedua lengannya yang besar. Tubuh kurusku menghilang di dalamnya.
Bau keringat dan parfumnya bercampur, tapi tidak buruk. Tampak benar-benar kelelahan dia membenamkan kepalanya di antara pundak dan kepalaku, dalam rambutku yang terurai. Ya, Nial bersandar di sana dan aku membeku.
“Aku seharusnya menelpon karena pulang terlambat. Tapi... aku terlalu sibuk...,” katanya pelan.
“Nggak apa-apa. Aku juga nggak punya kerjaan...” jawabku dengan bodohnya.
“Aku benar-benar lupa... maaf...,” ucapnya lagi, semakin membenamkan kepalanya di pundakku.
“Kamu kelihatan capek banget...,” kataku. “Harusnya kamu langsung istirahat.”
Aku merasakannya mengangguk. Lalu melepaskanku dan jantungku masih berdegup kencang. “Aku mau mandi dulu,” katanya sambil melepaskan jas hitam yang membalut tubuhnya. Dan aku memperhatikan –sambil menelan ludah. Dia melonggarkan dasinya sambil menuju kamar mandi.
Pikiran kotorku baru saja berharap dia akan melepas kemejanya di hadapanku. Dan pikiran kotor itu sudah berkembang sejak saat ia menarik lenganku. Dia memelukku dengan sangat erat. Bagaimana mungkin pikiranku masih bisa lurus? Setengah dari diriku takut, setengahnya lagi penasaran. Tapi, dia sudah berada di kamar mandi.
Bagaimana kalau nanti dia keluar dari sana dengan selembar handuk?
Aku panik –tapi bukan panik yang membuat ketakutan. Panik yang membuat pipiku merah. Aku duduk di ranjang. Menatap kaca yang memantulkan diriku yang gelisah. Sedikit-sedikit mengintip ke arah pintu kamar mandi; yang tidak bergeming –sama seperti saat aku menatapi pintu depan dengan harap-harap cemas, menunggunya pulang.
Tak mau terlihat begitu berharap kalau-kalau dia keluar dari kamar mandi, aku membaringkan badanku di ranjang. Pura-pura tidur mungkin. Sebentar lagi dia yang sudah bersih dan wangi akan bergabung di sini dan aku ingin terlihat tenang walaupun itu hampir nggak mungkin. Sesuatu akan terjadi malam ini dan aku nggak boleh bersikap menggelikan.
***
Komentar
0 comments