๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Missing You Already
Aku nggak ingat banyak hal selain keributan dengan Nial di pinggir jalan dengan Valde ketika aku membuka mata. Aku hanya ingat wajah Valde yang kecewa karena aku bahkan nggak pamitan padanya. Tapi, saat itu aku terlalu takut. Takut amarah Nial terhadapnya.
Dan hari yang baru dan berbeda telah datang, serasa terbangun di dalam mimpi lainnya di mana perasaan hangat menyelimuti hatiku. Di atas ranjang besar dengan seprai biru tua, aku sendirian. Masih dengan pakaian yang aku kenakan kemarin dan selimut yang menutupi seluruh tubuhku yang pegal. Aku menggeliat dengan khidmat karen belakangan aku hampir nggak pernah tidur senyenyak itu.
Jam digital di meja nakas hitam di sisi tempat tidur menunjukan pukul sebelas. Ya, ini sudah siang. Dan cahaya terang mengisi kamar nuansa abu-abu itu lewat sebuah jendela besar di sisi kanan ranjang. Di bawahnya ada sofa besar dengan bantal-bantal –sebuah tempat untuk bersandar menikmati pemandangan, mungkin sambil membaca buku dan minum teh, seperti yang aku lihat di film-film. Bila malam tiba pasti akan ada banyak lampu, ya banyak sekali lampu. Itu akan terlihat seperti foto-foto kalender yang menakjubkan.
Hampir satu menit berdiri di depan jendela dan menguap beberapa kali, perhatianku teralihkan pada standing mirror di sisi kiri ranjang, ketika aku memutar badan. Satu-satunya benda yang berada di sudut itu. Seperti yang sudah kuketahui, Nial nggak punya banyak perabotan bahkan termasuk di kamarnya yang berdinding abu-abu dan sedikit ornamen metalik berupa garis-garis halus timbul.
Dan di depan cermin kamar mandi aku mencoba mengingat dengan baik, apa yang kami bicarakan sebelum aku tertidur. Semalam aku benar-benar kacau dan mungkin saja mengoceh yang nggak-nggak. Setidaknya aku bisa berpikir dengan normal sekarang. Dan aku membungkuk, sedikit meringis dan aku ingat sesuatu terjadi semalam di antara kami.
Laki-laki itu menciumku. Aku berada dalam pelukannya dan... ya, aku tertidur di sana. Ya Tuhan....
Tapi, dia nggak bilang sesuatu yang melegakan seperti ‘aku juga suka kamu’ misalnya. Ataupun sesuatu yang seperti itu. Hal yang paling ingin aku dengar bahwa dia mempunyai perasaan yang sama.
Aku menghembuskan nafas lelah. Jangan bilang dia mengungkapkannya dengan ciuman itu.
Dia sudah pergi. Mungkin pagi-pagi sekali. Ketika keluar setelah mandi aku menemukan sarapan di atas meja –waffle madu. Tanpa catatan. Aku pikir dia akan meninggalkan sesuatu yang romantis untukku.
Ah, Bellisa! Romantis? Gerutuku. Itu bukan Nial. Sama sekali bukan gayanya. Kurasa.
Tapi, dia membuatkanku sarapan.
Dan aku tersenyum.
Ini sudah lebih dari cukup.
***
Komentar
0 comments