[Hal. 52] [Chapter 15] I LOVE YOU BUT...

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

“Kamu kesurupan setan apa?” tegur Nial.

Aku mengalihkan perhatian dari jalanan membosankan di depan ke samping –di mana Nial menyetir dan mungkin kami sudah setengah jalan menuju supermarket.

“Nggak biasanya kamu diam,” sambungnya.

“Bukannya kamu nggak suka aku banyak omong?” balasku, bosan. Kembali memandangi jalan yang membosankan. “Lagian apa sih yang bisa diomongin? Nanti juga ujung-ujungnya kamu ngeledekin aku kayak aku sama sekali nggak ada bagus-bagusnya....”

“Kamu masih marah gara-gara baju?”

“Enggak kok...,” jawabku acuh tak acuh. “Aku ‘kan memang nggak punya baju sendiri. Bagus di Wanda, jelek di aku....”

Entah apa yang dipikirkannya, dia meraih tanganku. Menggenggamnya selama sisa perjalanan.

“Aku nggak bilang jelek,”

“Terus?”

Nial nggak menjawabku. Hanya berdehem seolah ada sesuatu yang memang nggak mau dia katakan padaku, membuatku jadi penasaran.

“Terus apa? Jangan bikin penasaran orang.”

“Aku nggak pernah bilang kamu jelek,”

“Tapi, juga nggak cantik?”

Nial diam lagi. Menunjukan sikap yang sama. Sekarang aku tahu kalau dia memang nggak punya bakat merayu.

“Kamu nggak suka cewek seksi?” aku kembali dengan pertanyaan bodoh lainnya.

Reaksi Nial samar. Tapi, jelas dia menjadi nggak tenang karena pertanyaan itu. “Kamu pikir aku nggak normal?” celetuknya tapi bagiku itu bukan jawaban.

“Wanda itu seksi tapi kamu kayak nggak bereaksi...,” kataku sedikit bergumam dan itu kulakukan dengan sangat hati-hati. Ya, kata-kataku berpotensi membuatnya kesal. “Seksi itu ‘kan masalah selera bukan normal atau enggak... menurutku sih....”

“Wanda lagi...,”Nial memang gusar. “Buat aku dia nggak kelihatan kayak cewek.”

“Tapi ‘kan....”

“Kalau kamu kira teman bisa saja saling suka, itu sama sekali nggak salah. Tapi, kalau aku sama Wanda... nggak mungkin. Sama kayak suka sama saudara kandung.”

Aku diam. Aku pernah tahu soal persahabatan yang benar-benar awet dan bahkan bisa lebih dari saudara kandung.

“Dia, Simon, dan Devon, buat aku udah seperti saudara. Nggak ada rahasia, saling bantu dan kadang jadi kriminal bareng.”

Aku tertawa. “Kamu sama Wanda satu sekolah?”

Nial menggeleng. “Dulu Simon pacaran sama Myra,” jawabnya.

“Myra?”

“Adikku. Tapi, dia udah meninggal...”

Sepertinya aku akan tahu lebih banyak hal tentang dirinya. Dan itu sudah seharusnya. Paling nggak ini menjadi obrolan yang menyenangkan daripada aku yang mengoceh nggak jelas.

“Maaf, aku nggak tahu....”

“Nggak apa-apa. Udah lama juga. Sekarang Simon juga udah pacaran lagi. Itu bagus. Soalnya dia terpuruk sangat lama setelah Myra meninggal dan kita semua bantuin dia untuk bisa bangkit lagi.”

Ceritanya mulai semakin menarik.

“Masing-masing punya masalah sendiri. Beda sama Simon yang setia, Wanda sama Devon itu player. Aku sering jadi tameng kalau mereka udah tahu-tahu menghilang dan dicariin sama pacar mereka. Pokoknya mereka itu toxic. Tapi... mereka juga yang bantuin aku keluar dari masa-masa sulit.”

Masa sulit seperti apa? Rasanya aku lebih tertarik untuk mendengar yang itu. Tapi, aku nggak mau menyela di saat akhirnya Nial jadi banyak bicara –dan itu tentang dirinya. Ada banyak hal yang ingin kudengar. Ada baiknya membiarkan ini tetap mengalir.

“Kamu... juga punya masalah sama pacar kamu yang dulu?” kuharap itu sebuah pertanyaan yang normal.

Nial menggeleng. “Aku pernah nggak pacaran untuk waktu yang sangat lama,” dia menjawabnya dengan serius. Itu sebuah kemajuan pastinya. Artinya dia bukan orang yang tertutup ‘kan? “Tapi, Devon... dia pengaruh yang buruk kadang-kadang. Sejak Wanda pacaran sama Braska dan Simon juga udah pindah ke Amerika, kita tinggal berdua. Aku lebih banyak keluyuran di luar daripada masuk kantor dan sering ikut dia. Devon seorang fotografer profesional, sering macarin model dan pernah juga sama istri orang.”

Aku pernah dengar dari Wanda tentang gadis-gadis bodoh itu. Model dan selebriti yang berada di sekelilingnya. Devon yang membawanya ke dunia itu sementara sepertinya Nial bukan orang yang suka pesta pora dan selebrasi. Sekalipun sepertinya dia juga punya privillege sendiri yang membuat dia bisa saja ada di lingkungan semacam itu tanpa bantuan Devon. Nial terkesan seperti anak rumahan.

Ah ya, bukannya dia dulu sekolah kedokteran karena ingin jadi dokter? Masuk akal. Semua cerita itu menyambung sekarang.

“Aku nggak tahu apa itu bisa bikin aku melepaskan diri dari masa-masa sulit yang belum sepenuhnya berlalu dan Devon bilang, kadang butuh sesuatu yang lain untuk bisa melupakan sesuatu. Awalnya aku nggak percaya... sembilan dari sepuluh yang dikatakan Devon nggak bisa dipercaya. Tapi, kadang dia ada benarnya juga. Laki-laki tetaplah laki-laki....”

“Apa yang mau kamu lupakan?”

Nial nggak menjawabku.

“Kamu... gangguin istri orang juga?” tanyaku, mengalihkan karena Nial tampak keberatan.

Dia lagi-lagi nggak menjawabku. Mungkin berat untuk mengakui hal-hal semacam itu. Buatku dia sudah menceritakan cukup banyak. Bukankah semua orang perlu waktu saling mengenal. Aku pikir aku akan bersabar dan membiarkannya terbuka sendiri. Nial juga bukan orang yang tertutup –menurutku sangat jujur malah. Jadi dia akan menceritakannya kalau dia siap atau dia butuh harus menceritakannya padaku.

“Bell,” tegurnya satu menit kemudian. “Apa kamu benar-benar mengira kalau aku... orang yang baik?”

Aku tertawa pelan. “Baik?” balasku. “Aku pernah bilang kalau kamu itu Regina George versi laki-laki.”

“Siapa itu Regina George?” dia mengerutkan dahi.

“Cewek jahat yang paling epik di film Mean Girls.!”

“Jadi kamu mau bilang aku jahat?”

Aku tertawa. Nggak tahu kenapa begitu lucu saat melihatnya kesal sekarang. Biasanya aku akan gemetaran dan rasanya ingin sekali menarik kata-kataku.

Kudengar dia menghela nafas. “Ya, kamu benar, aku laki-laki jahat,” dia terdengar cemberut. “Aku pernah bikin seseorang sampai bercerai.”

Tawaku berhenti seketika. Itu bukan sesuatu yang lucu lagi. Pertanyaan tentang orang baik itu sepertinya melebar ke topik yang lebih sensitif. Padahal maksudku bilang dia mirip Regina George hanya karena dia suka meledek dan kadang bersikap angkuh. Bukan sesuatu yang berhubungan dengan masa lalunya.

Nial tampak serius.

Merebut pasangan orang lain adalah perbuatan kejam. Rasanya dia bukan Regina George. Sungguh. Kejahatan Regina George hanya karena dia sangat seenaknya dan manipulatif –dia membuat seisi sekolah heboh. Yang Nial lakukan, kalau memang dia pernah mengganggu rumah tangga seseorang itu adalah perbuatan yang sangat... entahlah.

Keluargaku berantakan karena perbuatan semacam itu –ya meskipun akhirnya ibuku terselamatkan dari sosok yang abusif, tapi pengkhianatan ayahku dengan wanita jalang yang bukan hanya satu atau dua, membuatnya lebih terpukul. Dan Nial, pernah menjadi seorang ‘penghancur’ dan sebelum itu dia... berhubungan dengan banyak gadis. Sayangnya, sebutan ‘jalang’ hanya ditujukan kepada perempuan dan sama sekali nggak ada julukan untuk laki-laki.

Aku mencoba untuk tetap tenang. Walaupun sedikit syok. Nial seorang perusak. Pikiranku menjadi lebih aktif –bagaimana dengan keluarga yang hancur itu? Bagaimana kalau mereka memiliki anak-anak? Nial telah menghancurkan sebuah keluarga. Itu perbuatan terkutuk!

 “Kayaknya Devon ini mengubah kamu jadi seseorang yang nggak kamu sukai...,” kataku.

“Bukan salahnya juga. Aku bisa menolak apalagi kalau itu sesuatu yang benar-benar aku nggak suka. Tapi, saat itu... saat itu aku nggak begini. Aku nggak setenang ini. Aku... pernah merasa begitu bingung, labil dan... entah... mungkin takut....”

Seorang Nial bisa merasa begitu takut?

“Kenapa?”

“Banyak hal yang nggak bisa aku selesaikan. Aku hanya ingin lari dan saat itu aku bertemu seseorang yang aku pikir bisa menenangkan pikiranku. Aku hanya butuh seorang pendengar, kamu tahu? Dan itu berubah menjadi sesuatu yang nggak seharusnya terjadi. Tapi, aku butuh walaupun aku tahu akhirnya nggak akan baik bagi siapa pun. Dan kami... sama-sama tahu itu....”

Tiba-tiba aku jadi ingat soal Nadine –yang mengiriminya pesan rindu dan kemungkinan besar adalah perempuan yang datang ke apartemen. Jangan-jangan dia istri orang yang belum move on karena Nial membuatnya bercerai! Nial merusak rumah tangganya dan dia nggak terima kalau Nial mengakhirinya!

Tapi,...

“Kenapa?” tegur Nial. “Kamu mulai takut?”

Aku juga seseorang dengan masa lalu yang buruk. Jika aku menceritakan pada Nial bahwa aku pernah gila dan dirawat di rumah sakit jiwa, apa dia nggak akan berubah pikiran? Latar belakang keluarga yang berbeda jauh dengannya. Satu hal yang selalu kuingat. Nggak peduli seberapa pun buruknya masa lalu Nial, nggak akan menyetarakan aku dengannya. Jaraknya terlalu jauh.

Lagipula... aku sudah terlanjur mencintainya seperti ini... apa aku bisa mundur?

Aku menatapnya dengan sangat yakin. “Aku nggak perlu takut kalau... semua itu cuma ada di masa lalu.”

Semua hanya masa lalu. Apa yang bisa kita perbuat dengannya?

Nial mengangguk. Dia tampak memastikan apa pun itu dengan model dan selebriti cantik, juga istri orang, sudah selesai. Meski aku ingin tahu tentang siapa Nadine sebenarnya.

 “Nial,...” aku ingin menanyakannya.

“Apa?” sahutnya, menoleh sebentar.

Tapi, aku hanya menggeleng. “Nggak...,”

Pertanyaan semacam itu akan terjawab sendiri nantinya. Karena kalau aku tahu sekarang, rasanya akan menghancurkan kebahagiaanku yang baru saja dimulai.

Bisa dibilang saat ini kami sedang kencan dan dia masih menggenggam tanganku –semakin erat. Dia telah menceritakan masa lalunya seakan aku adalah masa depannya. Bukankah dia mengejarku saat aku melarikan diri? Dia meninggalkan perempuan itu.

Aku rasa kami butuh jeda.

***

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments