[Hal. 47] [Chapter 14] I LOVE YOU BUT...

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

Nial melepas sabuk pengamannya dan aku masih bergeming, bersandar pada sisi jendela dengan lelah. Secara fisik aku lelah. Dan secara mental, aku sedikit ketakutan. Mataku mulai berat. Aku harusnya tidur sekarang. Tapi, malam sepertinya akan sangat panjang.

“Sudah sampai,” Nial menegurku.

Ya, aku tahu. Tapi, berat rasanya untuk menarik badanku menjauh dari sisi jendela untuk membuka pintu. Nial sudah bersiap untuk turun. Tapi, dia menutupnya lagi karena aku belum beranjak dari tempat semula.

“Kamu nggak apa-apa?” tanya dia; terdengar perhatian sekarang. Nada suaranya tenang. Seolah yang marah-marah tadi bukan dirinya. Tapi, aku tak cukup berani untuk menoleh dan melihat seperti apa wajahnya. Apakah dia sudah berhenti kesal?

Aku menarik diriku dari sisi jendela. Sedikit menggerutu kesal karena rasa kantuk seperti ingin membunuhku. “Aku nggak apa-apa...,” jawabku malas, “Walaupun kamu menyingkirkan satu-satunya teman yang aku punya....”

“Tapi, bagiku dia nggak kelihatan kayak teman,” balas Nial. Nada suaranya masih setenang yang tadi. Dan kemudian aku menoleh.

“Terserah. Itu nggak ada hubungannya sama kamu juga kok,” kataku, ketus. Sambil menarik gagang pintu dan membukanya. Aku langsung turun dengan langkah lelahku yang sedikit gontai. Aku mulai berjalan menuju elevator saat Nial turun lalu mendengar suara mobil itu terkunci.

“Itu ada hubungannya,” kata Nial di belakangku dan aku seketika menoleh.

Nial mendekat lalu dia melewatiku karena pintu lift sudah terbuka. Dia masuk lebih dulu dan menungguku. Aku memaksakan langkah gontai itu dan tubuhku hampir nggak berdaya. Rasa takut selalu bisa menguras semua dayaku.

“Aku nggak suka,” kata dia, tegas dan dalam.

“Tapi, aku suka,” balasku.

“Kamu suka sama anak itu?” dia bertanya, menoleh dengan dahi berkerut.

“Kalau aku suka memangnya kenapa?” balasku lagi.

“Jangan menjawab pakai pertanyaan,” tukas dia.

“Jangan menjawab pakai pertanyaan,” kataku, mengulang kalimatnya dengan suara gerutuan. “Kamu selalu seenaknya seolah-olah kamu memiliki hidupku. Aku harus begini atau begitu seolah-olah... aku akan terus bersama kamu... padahal itu nggak mungkin...”

“Kenapa  nggak mungkin?” balas dia.

Pertanyaan apa sih itu?

Aku menatap Nial. Ya itu nggak mungkin. Karena kamu nggak mencintaiku.

Dia juga menatapku. Tapi, pintu elevator terbuka. Kami harus keluar. Nial mendahului dan aku mengikuti tepat di belakang sambil menguap. Langkahku semakin gemetaran. Tapi, hatiku sakit. Sakit sekali sampai rasanya sulit bernafas.

Hingga kemudian aku berhenti dan menatapi punggungnya yang berjalan menjauh.

“Kamu nggak lihat seperti apa kelihatannya kalau kita terus kayak gini?” tanyaku, setengah putus asa. Mau nggak mau aku harus mengungkapkannya.

Beberapa jam lalu, ada seorang gadis di depan pintu itu memeluknya dengan penuh kerinduan. Bayangan itu masih ada di pelupuk mataku dan aku merasa begitu patah hati. Bisakah aku keluar masuk seperti biasanya setelah apa yang aku lihat?

“Kamu bilang kamu juga punya kehidupan sendiri. Dan kenapa... kamu nggak menjalaninya aja dan bukan... malah terus... membuat aku salah paham....” kataku berusaha untuk nggak menangis. Tapi, gagal. Setetes demi setetes jatuh dengan menyedihkan dari mataku.

Nial berdiri cukup jauh dariku –hampir sampai di depan pintu apartemennya. Dia memandang ke arahku dengan raut tak terbaca. Mungkin karena sesuatu yang membanjiri mataku sehingga aku nggak bisa melihatnya dengan jelas. Tapi, aku tahu dia mengerti maksudku. Aku butuh sebuah penjelasan dan alasan mengapa aku harus masuk ke sana dan kemudian mendengarkan setiap titahnya.

Dan kalau saja dia mengatakan apa yang paling ingin kudengar saat ini, aku bersumpah akan melakukan apa pun demi dirinya. Kedengaran gila. Tapi itu benar. Aku  jatuh cinta padanya dan kali ini berbeda –aku nggak bisa mengusirnya dari pikiranku.

“Tolong pikirkan perasaanku, Nial....” kataku, meratap tertunduk dengan menggelikan di hadapannya.

Aku tahu dia mendekat. Tapi, tanpa kata darinya. Apa dia akan menyeretku lagi karena menurutnya aku terlalu banyak bicara?

“Aku pikir kamu udah tahu...,” katanya, saat berdiri di depanku. “Aku melihat kamu lari dan pergi mengejar karena aku pikir orang itu akan menyembunyikan kamu di tempat lain. Aku pernah dengar kalian merencanakan sesuatu....”

Aku menggeleng. Sama sekali nggak ada rencana di antara kami. Walaupun Valde memang serius ingin mengeluarkanku dari sana.

Tapi, ternyata Nial seorang penguntit! Dia bisa tahu.

Sambil menarik nafas. Menghapus air mataku tapi itu tetap saja terus mengalir keluar tanpa permisi. Aku ingin mengangkat kepalaku tapi wajahku pasti kelihatan jelek saat terisak. Aku nggak mau Nial melihatnya.

“Ayo masuk,” ajaknya, merangkul bahuku dan menyamakan langkah. “Di luar dingin....”

Ya, aku merasa dingin. Sekarang nggak terlalu. Karena lengannya yang hangat berada di pundakku dan itu seperti sedikit kekuatan untuk bisa membuat beberapa langkah lagi sampai ke pintu apartemen. Aku sedikit nggak sabar ketika Nial membukanya dengan kartu. Aku sudah menghapus semua air mataku yang untuk sesaat berhenti.

Tapi, jawabannya sama sekali nggak bisa kumengerti. Kami masuk. Nial selalu di depan dan aku selalu mendapatkan punggungnya yang terlalu angkuh. Ya, aku menutup pintu dan tubuhku merosot karena lututku terlalu lemas untuk berjalan –padahal hanya tinggal beberapa langkah lagi dari kamar Wanda di mana aku bisa menangis lebih leluasa.

“Hei...,” Nial kembali.

Tiba-tiba saja aku kesal saat dia sudah ada di depanku. “Kenapa kamu sama sekali nggak mau panggil aku pakai namaku?”

Nial nggak menjawabku. Dan aku menatapnya dengan marah.

“Kenapa?” tanyaku lagi.

Dia hanya memberiku tatapan datar dan sedikit tarikan nafas lelah.

“Kamu sebaiknya tidur,” katanya. Dia mengulurkan tangannya untuk membantuku berdiri lagi, aku menepiskannya. Aku mendorong dia yang terlalu dekat agar menjauh dariku. Tanpa kata-kata aku memukul lengannya yang berusaha untuk memegangiku bertubi-tubi tanpa ampun. Aku tahu aku kelihatan sangat menyedihkan saat berusaha menyakitinya secara fisik meskipun aku tahu pukulanku amat sia-sia. Dia laki-laki yang kuat. Pukulanku bahkan nggak lebih sakit dari gigitan nyamuk baginya. Tapi, aku berusaha sekuat tenaga menyakitinya agar dia tahu seperti itulah yang aku rasakan saat ini.

Karena semua ini salahnya! Apa yang terjadi padaku, pada rumahku, dan hal-hal yang dulunya kumiliki sudah hilang.

“Aku seharusnya nggak mengikuti keinginan Wanda...,” kataku, meratap lagi dan tetap memukul. Lama kelamaan semakin lemah. “Seharusnya aku pergi kalau aku tahu... aku akan terjebak kayak gini.... dan aku benci... terjebak dengan orang seperti kamu....”

Sedangkan Nial, dia tetap berusaha untuk menarikku ke dekatnya hingga dia mendapatkan belakang kepalaku –dengan mudah ia membawaku ke dalam dekapannya. Mengunciku dengan kedua lengan besarnya yang kuat. Saat itulah aku berhenti memukul dengan putus asa.

Aku menangis –aku menangis sejadi-jadinya seakan-akan ini adalah akhir dari hidupku.

Meski kenyataannya nggak perlu sampai begitu. Aku berada dalam pelukan lelaki yang paling kuinginkan di dunia saat ini –meski ini hanya berkat rasa kasihan dan rasa bersalahnya. Dia memeluk dengan sangat erat, sangat lama.

Dan begitu dia melepaskanku, aku bisa menatapnya dari dekat. Tatapannya begitu lembut –nggak seperti biasanya dia kadang terkesan dingin dan ketus.

Namun, aku malah semakin putus asa padanya. Bahkan ketika dia mengaitkan semua rambutku yang acak-acakan ke belakang telingaku –dia melakukannya dengan sangat pelan dan penuh perhatian. Tanpa bicara. Apalagi marah.

Apakah dia juga melakukan itu pada kekasihnya tadi?

Dia bukan milikku tapi aku seakan nggak rela membaginya dengan siapa pun.

Ketika dia menyentuh wajahku untuk menghapus semua air mataku, aku mulai nggak siap untuk sesuatu yang lebih dari sekedar pelukan menenangkan darinya. Dia kembali meraih belakang kepalaku –sedikit mencengkramnya. Tubuhku menegang saat aku merasakan bagaimana bibirnya menyentuh bibirku beberapa detik.

Nial menciumku!

“Kenapa...?” pertanyaan itu langsung terlontar di menit yang sama dia menciumku begitu saja.

Kalau dia berpikir itu bisa membuatku tenang, dia keliru. Aku selalu butuh alasan. Aku pernah melihat seorang gadis memeluknya di depan mataku.

“Akhir-akhir ini aku sama sekali nggak tenang,” jawabnya pelan.

Aku diam mendengarkan suara rendahnya yang nyaris nggak terdengar sekalipun kami duduk berhadapan.

“Aku juga punya rasa cemas, Bellisa,” katanya.

Akhirnya kudengar dia menyebut namaku.

Meski mengatakannya dengan tenang, aku bisa merasakan kesedihannya.

“Terakhir kali aku bersama seseorang, semuanya nggak berjalan dengan baik karena segala hal dalam hidupku sudah diatur...,”dia menatapku dengan sedih, seperti terluka. “Dan dia menderita karena aku hampir nggak bisa melakukan apa-apa....”

“Terus aku harus gimana?” tanyaku, terisak lagi. Aku berusaha menyingkirkan air mataku tapi terus mengalir dengan menyedihkan. Aku mungkin terlihat seperti anak kecil yang tersesat dan limbung. “Kamu mau mengirimku ke mana supaya aku nggak menderita?”

Nial kembali menarikku dalam-dalam ke dekapannya. “Aku nggak tahu...,” katanya. “Hidup sama aku bukan sebuah akhir cerita bahagia.”

“Aku... bisa sedikit bahagia kalau kamu nggak marah-marah. Aku... bisa berhenti jadi cewek bodoh kalau kamu mau....”

Dia tertawa pelan. Mempererat dekapannya. “Kamu nggak perlu merubah apa pun...,” bisiknya dan aku benar-benar menyandarkan semua sisa tenagaku di sisinya. “Dan kamu... sama sekali nggak bodoh....”

“Oh ya?”

“Ya...”

Malam ini panjang, tapi sama sekali nggak buruk.


Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments