๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
I Love You
Ruby sempat terbesit dalam pikiranku yang lelah tentang tujuan pasti malam ini. Ya, satu-satunya tempatku bisa pulang hanya rumah yang dulu pernah aku tinggalkan dengan keras kepala. Namun, pikiran itu buyar dalam beberapa detik saja ketika kulihat sebuah mobil berhenti di dekat motor Valde yang parkir di dekat pedestrian rumah susun. Dan aku cukup mengenalinya –SUV hitam. Belum sempat aku menebaknya dengan benar, sosok Nial yang mengenakan sweater lengan panjang hitam turun dari sana.
“Masuk ke mobil sekarang!” dia langsung memerintah. Wajahnya serius. Suaranya tajam dan tentu saja dia marah.
Aku menggeleng. Tiba-tiba datang dan memerintah, aku bahkan nggak percaya kalau dia membuntutiku. Lagipula, kenapa dia bisa tahu aku pergi ke sini?
“Kamu nggak bisa seenaknya....” Valde memasang badannya di depanku saat Nial tampak ingin menyeretku.
“Diam kalau kamu masih ingin masuk kerja besok!” Nial pun mengucapkan kata-kata arogan itu dengan sikap angkuh yang seringkali membuatku muak.
Ya, itu memukul mundur Valde yang langsung diam.
“Kenapa kamu malah mengancamnya?!” aku marah.
Kami seperti dua remaja yang tertangkap karena hubungan terlarang. Lebih buruk, aku merasa seperti seorang pencuri yang kabur dari rumahnya.
“Aku bilang masuk ke mobil sekarang!” perintahnya lagi dengan berteriak.
“Aku nggak mau!” kataku, menjauh dua langkah darinya saat ia mendekat dan tampaknya benar-benar ingin menyeretku.
“Apa?” dia sedikit melotot.
Valde kembali menghalanginya. “Bellisa bilang dia nggak mau,” katanya, dengan tenang dan berani, menatap Nial langsung ke wajahnya seolah tak peduli lagi dengan ancaman Nial tadi. Itu nggak seharusnya dia lakukan. Nggak sepadan. “Apa kamu nggak malu memaksa perempuan?”
Nial nggak menjawabnya. Dia jelas menatap Valde gusar. “Apa pun yang mau aku lakukan itu urusanku,” katanya. “Sebaiknya kamu menjauhi masalah.”
“Dia nggak mau ikut,” tegas Valde. Dia tetap menyembunyikanku di belakang badannya yang tegap saat berhadapan Nial yang sudah merah padam.
Itu pertanda yang sangat buruk.
Nial menatapku setelah ia menarik nafas yang cukup panjang. “Kamu punya dua pilihan. Masuk ke mobil sekarang, atau aku bakal menghajar bocah ini,” sekarang dia mengancamku.
Laki-laki brengsek!
“Sekarang!” perintahnya.
Aku terpaksa menurutinya walaupun aku benci diperintah seperti itu. Aku hanya nggak mau melibatkan Valde. Aku sudah mulai khawatir kalau besok bisa saja ia kehilangan pekerjaannya. Itu nggak akan sepadan hanya demi membelaku.
Nial menjauhi Valde saat aku berjalan ke arah mobil.
“Satu hal lagi,” Nial kembali menghampirinya. “Jangan pernah menemuinya lagi!”
“Nial...,” tegurku. Ancaman itu sudah terlalu berlebihan. Dia nggak bisa begitu. Apa haknya melarang Valde menemuiku?
Aku... bukan kekasihnya.
Tapi, ya, dia bersikap seolah-olah demikian.
Aku semakin nggak mengerti. Apa yang dia dapatkan dengan memaksaku?
Nial berbalik dan menemukanku masih berdiam diri nggak jauh dari mobilnya. “Cepat masuk!” dia masih berteriak padaku.
Aku memandangi Valde yang kesal tapi aku bahkan nggak bisa mengatakan sesuatu seperti pamitan atau apalah. Nial menarik tanganku dan kemudian membukakan pintu mobil. Dengan isyarat di wajahnya yang marah, dia menyuruhku masuk. Aku terpaksa naik dan menjelang Nial duduk di belakang setir, aku memandang Valde dengan perasaan bersalah dari balik kaca mobil yang tertutup. Dia nggak bisa melihatku tapi aku bisa melihat ada rasa marah dan kecewa di wajahnya.
Seakan sekarang aku tahu, bahwa laki-laki ini adalah kelemahanku. Aku melirik ke sebelahku ketika dia menyalakan mesin dan mobil mulai melaju. Rautnya masih keras. Kekesalan masih bertahta di sana dan aku ingin menangis. Namun takut. Dan dalam perjalanan kembali itu, aku diam, karena Nial juga. Hawa dari amarahnya masih terasa dan aku selalu takut berurusan dengan orang yang marah.
Semakin lama dengannya, semakin kusadari, Nial mungkin nggak jauh berbeda dengan ayahku. Dia pemarah dan hampir selalu berteriak ketika emosi. Dan dia hampir selalu emosi. Dan entah mengapa aku... aku harus jatuh cinta padanya....
***
Komentar
0 comments