๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
“Uki?” tegur seseorang yang mengejutkan Uki
yang melamun.
Manda, datang membawakan minuman untuknya. “Kamu nggak pulang?”
Uki melirik ke ujung lorong rumah sakit
yang sepi. Erris sudah ditangani oleh dokter dan mereka cuma perlu menunggu. Lalu
menggeleng. Bagaimana dia bisa pulang?
“Kamu harus istirahat. Erris udah nggak
apa-apa” kata dia berujar. “Besok kamu bisa balik ke sini lagi ya?”
“Nggak, Kak Manda. Aku masih mau di sini sampai Erris sadar”
jawabnya sambil tersenyum, menyembunyikan gelisahnya.
Malam itu berlalu dengan sedih. Bayangan saat
Erris dipukuli kedua orang itu masih tersimpan di pelupuk matanya. Kenapa bisa
jadi begini?, ratapnya di samping Erris yang masih belum sadar. Pelipisnya terluka,
banyak lebam di wajahnya yang pucat dan tangan kanannya patah sampai harus
digibs.
Saat Erris terbangun, ia masih belum beranjak
dari tempatnya.
“Erris?” panggilnya, dan seketika air
matanya menetes saking bahagianya melihat Erris akhirnya membuka mata.
“Uki…” Erris menyebutkan namanya dengan
pelan, tapi kemudian ia tersenyum. “Kamu nggak kenapa-napa?”
“Yang kenapa-napa itu kamu… bukan aku…”
rengek Uki.
“Aku juga nggak kenapa-napa…” ujar Erris,
suaranya masih lemah tapi ia berusaha untuk tetap tersenyum. “Bentar lagi juga
sembuh…”
Uki masih merengek sambil tertunduk.
Isakannya terdengar makin keras.
“Udah… jangan nangis lagi…” ujar Erris
lagi, “ Kalau aku keluar dari rumah sakit… nanti kita pergi kencan lagi…”
“Kamu ini…” gerutu Uki, berusaha berhenti
menangis walaupun susah.
“Iya… aku janji… nanti… kita pergi ke
tempat yang bagus…”
“Janji?”
“Ya, aku janji…”
Uki baru tersenyum saat Erris meraih puncak
kepalanya, agar Uki dapat bersandar padanya sejenak. Sebelum Uki akhirnya
merasa lega untuk plulang. Bajunya bahkan masih sama dengan yang kemarin
–berlumuran darah dan kotor.
Rencananya setelah ganti baju, ia akan
kembali lagi ke rumah sakit untuk menemani Erris. ya, terpaksa ia bolos sekolah
juga. Tapi, ternyata, sekembalinya dari kos, ruang perawatan Erris sudah ramai
oleh teman-temannya. Ya, tentu mereka datang dan itu bukan kunjungan yang
singkat. Laras bahkan bersedia menjaganya saat kedua kakak perempuan Erris
sibuk mengurus keluarga dan ibu mereka yang dirawat di ruang terpisah.
Kehadiran mereka membuat Uki nggak bisa
masuk. Bakalan
aneh, kalau tiba-tiba Uki muncul. Padahal ia ingin sekali, tapi ia harus
menahan diri –demi Erris yang sakit.
Tapi, semakin lama menunggu, semakin pudar
kesempatannya untuk bertemu. Bahkan Erris pacarnya dan ia hanya bisa berdiri di
kejauhan, mengawasi kapan mereka akan pergi. Setiap salah satu dari mereka
lewat, Uki harus sembunyi. Sedikit melelahkan saat ia harus lari-larian di
lorong atau pura-pura jadi orang lain. Tapi, mereka seolah nggak membiarkan Erris
sendirian. Ya, mereka memang sahabat setia. Setiap malam mereka bergantian
menjaga Erris!
Ruangan itu ngga pernah kosong. Apa aku
nekat aja ya?, pikiran itu sempat terlintas saat Uki hanya bisa duduk di ruang
tunggu dan ia hampir menangis.
“Eh, cebol! Ngapain lo di sini?!” Rory
melihatnya. Cowok itu langsung menghampiri Uki yang duduk sendirian di antara
pasien yang sedang mendaftar.
Uki kaget setengah mati. Tiba-tiba ia jadi
khawatir. Apa dia bakal curiga?
“Ah, gue tau!” seru dia tiba-tiba sambil
melirik ke bagian pendaftaran. “Lo mau ketemu sama dokter kandungan ya?”
Ih, sialan nih orang!, Uki menggerutu dalam
hati. “Enggak!” jawabnya setengah berteriak. Apa aku harus bilang kalau aku mau
menjenguk pacarku?
Rory tertawa mengejek. “Terus lo mau
ngapain?” tanya dia lagi.
“Mau jenguk orang sakit” jawab Uki pelan.
“Orang sakit?” Rory heran. “Lo mau jenguk
Erris?”
Uki diam. Duh, kenapa jadi begini sih?!
“E…Erris?” balas Uki, mudah-mudahan
aktingnya cukup bagus. Entah mengapa, ia jadi ingin berpura-pura. Padahal kalau
bilang iya, semuanya akan jadi lebih mudah. “Memangnya dia masuk rumah sakit?”
“Lo nggak tahu?” dia malah balik nanya.
Lalu mengangguk-angguk sendiri. “Eh, iya, mana mungkin lo tahu”
Uki terdiam. Ah, semuanya jadi makin rumit.
“Udah ah, kalau gue kebanyakan ngomong sama
lo, ntar bakal jadi gossip di sekolah!” katanya dia sebelum pergi, nyelonong tanpa bilang
apa-apa. Benar-benar dia itu… memang suka memperlakukan orang seolah nggak
berharga.
Sekarang, Uki jadi tambah bingung. Ia
kembali duduk di sana. Menunggu.
***
“Gue ketemu si cebol di bawah” kata Rory,
begitu dia masuk dan di dalam sudah ada Laras dan Damar.
Erris sudah bisa duduk. Kepalanya masih
dibalut perban. Tapi, lebam dan memarnya sudah mulai hilang. Tangan kanannya
juga di-gibs.
“Si cebol siapa?” tanya Laras, mengernyit.
“Itu cewek yang ngempesin ban mobil gue
waktu MOS” jelas Rory, acuh.
Damar tertawa meledek. “Lo masih aja ya terkesan
sama tuh anak” katanya.
“Terkesan apaan!” celetuk Rory tiba-tiba
gusar, sementara Erris berubah murung. “Tiap lihat mukanya dia tetep aja gue kesel”
“Hati-hati lo. Benci itu singkatan dari
‘bener-bener cinta’. Ntar lo kualat!” kata Damar makin meledeknya.
“Ish, ogah gue! Yang cantik aja gue nggak
selera, apa lagi yang modelnya begitu” Rory mulai mencak-mencak. Lalu memandang
ke Erris yang dianggurin. “Gimana keadaan lo, Ris? Udah mendingan?”
Erris nggak menjawab. tatapannya kosong.
Nggak tahu apa yang dia lihat tapi sepertinya ia nggak dengar Rory menegurnya.
“Ris” tegur Laras memegang tangannya dan
seketika Erris tersadar.
Ah, dia jadi memikirkan Uki. Tentu, sudah
tiga hari Erris belum melihatnya. Ia mengerti, dengan keadaan sekarang, Uki
belum punya kesempatan.
“Apa rencana lo sekarang?” tanya Damar,
mulai serius. Mengira kalau Erris termenung gara-gara memikirkan masalah
keluarganya.
Erris tertunduk sejenak. “Gue tahu orang
yang bisa ngajarin gue menang main Blackjack” jawab dia, teringat pada pria tua
teman bermain poker Mama-nya.
“Maksud lo apa, Ris? Lo mau ikutan main?”
“Gue nggak punya pilihan lain. Cuma itu
satu-satunya cara ngedapetin lima ratus juta dalam waktu kurang dari sebulan,”
jelas dia. “Seluruh kehidupan gue terancam”
“Lo bisa pinjam dari bokap gue, Ris,” ujar
Rory.
“Gue juga bisa bantu,” kata Laras.
“Gue juga, Ris”, Damar ikut-ikutan.
Erris menggeleng. “Hutang judi dibayar
dengan judi. Itu udah jadi peraturannya” kata dia. “Dan semua itu nggak akan
gampang…”
“Lo tahu betul apa yang bakal lo hadapin
sekali lo masuk ke sana?” tanya Damar lagi.
“Sejak kecil itu udah jadi bagian dari
hidup gue. Sampai sekarang, itu nggak bisa lepas,” jawabnya dengan yakin. “Saat
ini gue cuma butuh support. Sisanya gue bisa nanganin ini sendirian”
Rory menarik nafas. “Itu keputusan lo,”
kata dia. “Tapi, lo harus selalu ingat, kita pasti bakal bantuin lo di saat lo
butuh, Ris…”
“Makasih…” kata Erris, dan kembali
memikirkan apa yang harusnya ia katakan pada Uki saat ini. ia harus mengakhiri
penderitaannya karena merindukannya.
***
“Tadi gue lihat Uki di depan. Kenapa dia
nggak berani masuk?” tanya Manda. “Masa sih, gara-gara teman lo dia nggak dibolehin masuk?”
Erris kembali tertunduk Bukannya ia nggak
mau tahu. Tapi, keadannya memang ngak memungkinkan bagi Uki. Apa lagi sekarang.
Sekarang, rasanya ia telah melibatkan Uki dalam masalah keluarganya. Hari itu,
Uki ada di sana dan preman itu bisa saja menyentuhnya karena mereka kejam.
“Kak, aku bisa minta tolong?”
“Apa?”
“Kalau Uki datang lagi, jangan bilang apa-apa
soal aku”
“Hah?”
“Aku nggak mau Uki terlibat sama masalah
kita. Setelah ini, kita bakal lebih sering berurusan sama orang-orang itu”
“Tapi, Uki nggak ada hubungannya…”
“Dia udah ditandai. Aku bisa lihat kalau
mereka mulai berpikir untuk mengancam kita dengan cara yang lain, Kak”
“Kasihan Uki, Ris…”
“Aku nggak punya pilihan lain. Ini demi Uki juga”, tegasnya, menatap kakaknya sungguh-sungguh.
.jpg)
Komentar
0 comments