[Baca Novel Dewasa] A Man with Roses Ch. 9 (Hal. 20)

🌜 Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia 🌛 Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari🥳

Info Gambar

Blackjack

Jakarta, Oktober 2005…

“Jadi… kemarin lo udah nge-date sama Erris?” Sasha kelihatan mau tahu sekali. “Pergi jalan ke mana?”

“Gue diajakin ketemu sama keluarganya?”

“Secepat itu?” Sasha kelihatan nggak percaya.

Uki mengangguk-angguk denga lugu. Masa sih Sasha nggak percaya?

“Terus? Terus?” Sasha makin penasaran.

“Ya gitu deh…” balas Uki, pikirannya kembali mengingat suasana di dalam rumah itu. walaupun menegangkan pada awalnya karena mereka nggak seperti keluarga kebanyakan. Yang jadi pertanyaannya, bagaimana Erris bisa bertahan tinggal di sana selama ini?

Minuman, poker, dan taruhan –satu paket dengan kriminalitas. Erris  hidup di dalamnya sebelum ayahnya membawanya keluar dari sana. Mengherankan, karena Erris tumbuh menjadi seorang cowok pintar dan kharismatik. Melihatnya di sekolah, ia tampak sama dengan ketiga temannya yang berasal dari keluarga kaya raya. Bagaimana bisa ia membangun sebuah citra murid teladan yang kesempurnaannya tanpa celah?

Seperti bunga mawar. Indah, tapi berduri. Jika menyentuhnya, kita akan terluka.

Tapi, kenapa ia memilih Uki ketimbang gadis-gadis lain? Yang mengiriminya surat cinta yang diselipkan di lacinya? Atau buku-bukunya yag sengaja dipinjam? Atau yang menyatakannya langsung sampai itu menjadi sebuah gossip hangat? Para cewek suka sekali membicarakan Erris dan gengnya. Seolah mereka selebritis yang kehidupan pribadinya selalu menjadi sorotan.

Semua tahu Cassandra mengejar-ngejar Rory sejak kelas satu sedangkan sahabatnya Melia adalah satu-satunya cewek yang terang-terangan meperhatikan Erris di depan umum. Sementara itu nggak ada satu pun cewek yang berani nembak Damar karena dia sudah punya Laras. Banyak sekali yang harus gigit jari saat menyaksikan Damar main basket di lapangan sekolah.

Itu memang keren. Apa pun yang mereka lakukan selalu jadi trend. Misal nongkrong di café live music –kata Erris, café itu milik sepupunya Rory, makanya mereka sering main ke sana. Yang lain pun juga ikut-ikutan datang ke sana dan tiba-tiba café itu jadi ramai. Namun, ada satu yang nggak pernah diketahui orang-orang sampai detik ini. Hubungannya dengan Erris. Entah Erris merasa atau tidak, tapi ia tampak ingin menjaga rahasia ini entah sampai kapan. Demi kenyamanan Uki –ah, seperti pacaran dengan super star saja…

Ketika di depan Uki, Erris dapat bersikap seperti seorang pacar yang sempurna. Perhatian, lembut dan romantis. Tapi, di keramaian sekolah, ia menjadi sosok idola yang tak tersentuh, yang bahkan nggak mau melirik ke Uki yang tengah memperhatikannya dari kejauhan. Separah itukah? Tapi, hari minggu berikutnya Erris kembali mengajak Uki bertemu dengan keluarganya. Entah kenapa, hanya karena ibunya bertanya Erris malah bilang akan membawanya pulang.

“Kita nggak belanja?” tanya Uki padanya.

“Buat apa? Aku bawa kamu ke sana bukan buat jadi tukang masak” jawab Erris.

“Yah, aku kan cuma keranjingan…”

Erris tersenyum sambil merangkul pundaknya. “Melihat kamu aja mereka udah senang kok” ujarnya.

“Main kartu?” tanya Uki.

“Emang kamu bisa main kartu?”

Uki menggeleng sambil tertawa pelan.

***

Sepi. Saat Erris membuka pintu depan sama sekali nggak terdengar suara-suara dari ruang tengah. Sepanjang siang, biasanya ibunya selalu berada di sana bermain kartu –bersama kedua saudarinya atau teman-temannya yang menjadikan rumah ini kasino mini terselubung. Ya, inilah yang membuat ayah Erris mengeluarkannya dari sini.

Seperti biasa, ruang depan berantakan. Erris menyebrangi kekacauan itu tanpa punya firasat apa-apa. Ia nggak menemukan siapa-siapa di dalam sampai ia menginjak sebuah benda yang berderak di bawah sepatunya. Pecahan gelas kaca.

“Erris?” suara lemah memanggil namanya dengan nada ketakutan dan seketika ia menemukan salah seorang kakak perempuannya –Sari, duduk di sudut ruangan dengan seorang pria di belakangnya. Sebilah pisau menempel di lehernya. Wajahnya tegang dan pria di belakangnya, itu menarik rambutnya hingga ia melenguh kesakitan.

“Kyaaaaaa!!” Uki terdengar menjerit!

Erris lupa bahwa dia masih di ruang depan. Ketakutan, Erris segera berlari kembali tapi ia disambut oleh sebuah pemukul kayu yang menghantam kepalanya.

Lalu gelap.

Apa yang terjadi?

Sakit di kepalanya terasa menyengat. Ia belum sepenuhnya sadar saat ia berusaha mengangkat kepalanya. Apa itu? Siapa yang memukulnya?

Erris melihat seorang pria berjaket hitam berdiri di hadapannya.

“Erris?!” Uki masih menjerit. Seorang pria lain memegangi tubuh kecilnya yang meronta di ambang pintu ruang tengah. Wajahnya tampak sangat ketakutan. “Erris?!”

Ternyata ada lima orang pria nggak dikenal di rumah itu. Hampir semua dari mereka yang berbadan besar. Namun ada satu, seorang pria tua –rambutnya hampir memutih semua, berkemeja motif bunga-bunga, duduk di kursi yang biasa diduduki Mamanya saat sedang main kartu. Ia menghisap sebatang cerutu dengan santai saat di depannya ada dua orang wanita yang nggak berdaya.

Kenapa mereka tega menganiaya perempuan?

Erris memandangi sekelilingnya dengan nanar. Ia merasakan sesuatu mengalir lewat pelipis kanannya. Ya, tetesan darah dari kepalanya sendiri. Lalu ia menemukan tubuh besar ibunya tergeletak nggak jauh dari tempat ia tersungkur oleh pemukul bola. Sementara Karla masih ditahan oleh pria yang bersenjata tajam. “Mama…”, gumamnya, beringsut ke dekat tubuh ibunya. Tapi, seorang pria menendang perutnya!

Ugh!

“Erris!” Uki menjerit lagi dan pria yang menahannya membekap mulutnya.

Sialan…

Erris serta merta bangkit dari jatuhnya walaupun sekujur tubuhnya sakit dan ia menerjang pria yang memukulnya. Pria lain menyandera Karla, ikut turun tangan saat Erris mulai memukul pria itu bertubi-tubi. Ya, sudah lama ia nggak mengotori tangannya dengan darah orang lain. Ya sudah lama. mengingatkannya pada hari kelabu saat preman lain datang ke sini menagih hutang dan mereka berniat menyentuh kakak perempuannya. Ia ingat, ia menerobos preman-preman berbadan besar itu, melemparkan apa saja kepada mereka. Mengambil pisau untuk mengusir mereka pergi. Ya, itu sudah lama sekali, tapi masih akrab dengannya.

“Erris!” Karla menjerit ngeri saat seorang pria lagi mendekat untuk menangkapnya.

Mereka mulai memukuli saat berhasil memegangi Erris yang menyerang dengan membabi buta.

“Kasih kami waktu lagi, Bang…” kata Karla, suaranya gemetar dan Erris masih belum mengerti apa yang sudah terjadi. Walau ia sudah lama tahu, bahwa masalah keluarga ini nggak pernah jauh dari perkara hutang judi –entah itu Mama-nya atau kedua kakaknya yang punya hobi sama. Mereka nggak pernah kapok, berhutang pada mafia. “Dia nggak ada hubungannya… tolong lepasin dia…”

“Lu udah gue kasih waktu berbulan-bulan” balas pria itu lagi. “Sekarang, apa lagi alasan lu nggak bisa bayar?”

“Gue mohon, Bang…” Karla mulai memohon.

Pria jahat itu memandangi Erris yang sudah habis dipukuli lalu ibunya yang belum sadarkan diri. “Kali ini apa jaminannya?” tanya dia, lalu matanya dengan cerdik melirik Uki yang ketakutan di dekat pintu.

“Tolong, Bang… kita pasti melunasinya…” kata Karla lagi.

Pria itu berdiri dari kursinya. “Gue kasih lu waktu sebulan”, kata dia akhirnya. “Kalau dalam waktu sebulan lu belum bayar juga, semua yang berhubungan sama keluarga lu bakal gue matiin!”

Lalu mereka pergi setela puas memukuli Erris yang sekarang tergeletak di lantai di samping Mama-nya. Wajahnya terluka.

“Erris?” Uki sudah ada di sisinya saat Erris berusaha untuk tetap sadar –ia harus memastikan orang-orang itu nggak menyentuhnya. Karena jika itu sempat terjadi, membunuh orang pun dia bisa. Tapi, Uki kelihatan nggak apa-apa. Dia cuma ketakutan dan menangis. “Erris? kamu nggak apa-apa?”

Erris berusaha menggerakan kepalanya di pangkuan Uki. Ya, dia nggak apa-apa. Dia masih hidup. Hanya saja ia nggak bisa bergerak. Ia berusaha mengenyampingkan segala hal hanya untuk bisa menatap Uki yang menangis. Berusaha menyapukan ujung jarinya di pipi gadis itu karena ia takut sekali, walaupun tangannya sudah berlumuran darahnya sendiri. Ia menyesal, sudah membawa Uki ke sini –ia menyesal telah membawa Uki masuk dalam kehidupannya sehingga gadis itu harus menderita karenanya setelah ini.

Ya, itu pasti.

***

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments