[Hal.14][Ch.7] A MAN WITH ROSES

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

First Love

Jakarta, Agustus 2005…

Siang itu di perpustakaan, Erris sedang mencari buku pelajaran antropologi jilid dua. Memang, ia nggak suka lihat kiri kanan kalau lewat di antara rak-rak buku. Ia melintas begitu saja dan di satu sudut kembali menemukan Uki yang sedang berjinjit menjangkau buku yang tersusun rapat di atas kepalanya. Dengan santai ia melewatinya. Tapi karena mendengar suara gedubrak yang lumayan berisik itu membuat Erris balik kanan dan sudah menemukan Uki bergelimang dengan buku di lantai.

Bayangkan tiga buah  buku tebal baru saja menimpa kepalanya bergantian –Uki gagal mendapatkan buku yang dia inginkan karena terlalu tinggi. Rambutnya kusut, dan ia terlihat meringis kesakitan sambil memegangi dahinya.

“Aduh…” Uki melenguh sampai keluar air mata.

Erris pun menghampirinya. “Kamu nggak apa-apa?” tanya dia sambil membantu memunguti buku-buku itu.

Uki Cuma melongo. Sakit, bingung dan malu bersamaan karena ada yang melihatnya! Tapi, sudah terlambat untuk menyembunyikan rasa sakit yang sudah menusuk ke ubun-ubun. Menelan ludah, Uki hanya menatap dia terkesima. Memang nggak mengherankan bisa ketemu lagi dengan Ketua OSIS di perpus karena sudah sering melihatnya wara-wiri. Tapi, ini pertama kalinya lagi setelah MOS berakhir mereka bertatap muka langsung dan sebelumnya mereka hanya bertemu sebagai orang asing.

“Aku nggak mau dibilang nggak punya hati,” kata Erris padanya tiba-tiba dan Uki jadi nggak enak karena waktu itu dia mengatakannya hanya gara-gara emosi. Lagipula dia juga sudah hampir lupa pernah mengatakan hal-hal seperti itu.

Uki berusaha untuk tersenyum, menutup-nutupi perasaan malu dengan sesekali tertunduk. Entah kenapa, ia harus bersikap menggelikan begitu. Tapi, saat sadar setidaknya Erris sudah sedikit merubah sikap terhadapnya, Uki pun berusaha untuk sedikit lebih ‘girly’.

Ketika mereka sama-sama berdiri, Uki seolah mengecil di sampingnya sampai ia harus menengadah untuk menatapnya. Tapi, karena takut jantungnya jadi nggak karuan memandang wajahnya, ia lebih memilih tertunduk seperti gadis pemalu. Tapi, makin terlihat menggelikan, karena itu bukan sifatnya. Harusnya ia menjadi cerewet, menyebalkan dan berisik. Tapi, saat itu ia lebih banyak diam sehingga Erris lah yang seringkali memulai. Agak mengherankan soal kenapa Erris tiba-tiba jadi ramah padanya.

Maksudnya, dari sekian banyak cewek di sekolah ini yang sepertinya menunggu senyumnya dengan penuh pengharapan, kenapa hanya Uki yang bisa mendapatkannya secara Cuma-Cuma? Bahkan juga nggak diharapkan. Dia juga bahkan nggak yakin orang ini masih mengingatnya.

***

"Jidat lo kenapa?" tanya Sasha saat Uki datang sambil memegangi keningnya.

"Ketimpuk buku," gerutunya memperlihatkan tanda merah yang memacing tawa Sasha.

Uki hanya merengut dan ia lemas membayangkan bahwa tadi ia coba mengambil buku di rak perpustakaan. Tapi, letaknya tinggi sekali. Uki terpaksa berjinjit sambil menggapai-gapai. Sialnya, begitu dapat, buku itu terlepas dan kamus setebal sepuluh buku paket itu menimpa kepalanya sampai ia terduduk.

"Duuh, sakit ya, Ki..." seseorang menyela, dengan duduk di sampingnya. "Mau ditiupin nggak?"

"Uuu!" seru Sasha sambil melempar cowok teman sekelas Uki dengan kerupuk.

Uki tertawa. "Apa sih, Ian! Nanti jadi tambah sakit...".

Ian cengengesan. Cowok itu adalah teman sekelas Uki. Duduk tepat di sebelahnya dan satu-satunya teman cowok yang sering berada di sekitar mereka. Dari sikapnya jelas ia naksir Uki, tapi masih agak malu-malu lebih-lebih kalau ada Sasha yang reseh menggodanya. Tapi, giliran Sasha nggak ada, Ian malah jadi tambah susah! Bawaannya selalu deg-degan.

"Kok bisa sih?" tanya Sasha

Uki hanya menyesalkan tubuhnya yang pendek. Coba agak lebih tinggi sedikit, tangannya pasti bisa dengan mudah menurunkan buku itu dan bukannya malah mendarat di kepala. Ada lagi yang lebih memalukan, seseorang melihat kejadian itu.

Erris! Ketua OSIS itu kebetulan ada di sana dan dia lihat dengan mata kepalanya bagaimana Uki jatuh dan kesakitan. Tapi, cowok itu baik juga karena membantunya berdiri. Dan bikin Uki jadi ser-seran. Apalagi kelihatannya sikap Erris agak berubah terhadapnya.

“Kamu…punya banyak PR?" tanya Erris padanya saat ia membantu menaruh kembali buku-buku yang terjatuh dari tempatnya.

Uki mengangguk lesu. "Biasa…," katanya. "Susah banget, Kak… Aku kan begok…”

Erris hampir terkekeh mendengar pengakuannya. “PR apa?” tanya dia.

“Matematika…” jawabnya bersungut-sungut. "Aku emang bego sih. UTS kemarin aja nilainya parah banget. Kalau aku nggak naik kelas, aku bakal disuruh pulang dan di sekolahin di kampung”

“Kamu tinggal sendiri?” tanya Erris, penuh perhatian.

“Aku nge-kos nggak jauh dari sini” jawab Uki sambal nyengir. “Bisa jalan kaki ke sekolah biar nggak ribet”

“Sama sekali ngak punya saudara yang tinggal di Jakarta?”

Uki menggeleng. “Tapi, ini baru pertama kali aku belajar mandiri. Ada sedihnya juga, tapi… kadang juga asyik” jelasnya. “Kalau di kampung, jam tiga aja belum nyampai rumah aku pasti dicariin sama Mas Wisnu”

“Kamu punya kakak cowok?”

“Ya, ada dua malah. Satunya lagi, Mas Handi, yang paling reseh suka masuk kamar aku dan nge-bully aku kalau lagi tidur. Ah, jadi kangen pulang kalau ingat mereka,” tanpa sadar Uki ngelantur lalu tiba-tiba ia jadi ingat sesuatu –kok malah jadi curhat yah.

“Nggak apa-apa”, jawabnya sambal tersenyum –dan itu kelihatan WOW. Karena dalam sejarah Uki pernah mengenal Ketua OSIS ini, dia termasuk cowok yang dingin dan lumayan anti-sosial. Kalau pun berteman dia hanya berteman dengan orang yang itu-itu saja.

Lidah Uki mendadak kaku. Sebenarnya ia Cuma nggak tahu bagaimana berhadapan dengannya. dan entah sejak kapan, bawaannya mulai deg-degan setiap bertemu Erris. entah itu saat berpapasan di lorong karena kebetulan atau Uki mulai sengaja rajin ke perpus hanya untuk bisa melihatnya –menjadi pengagum rahasia atau sejenisnya. Yang jelas, sejak itu mulai ada sesuatu yang berarti untuk dijadikan alasan ketemu di sana.

Setiap hari Uki datang ke perpustakaaan dengan membawa semua bukunya –entah ada tugas atau nggak. Tapi, terlihat membawa buku cukup membuktikan bahwa ke perpustakaan adalah kebutuhan buat Uki sekarang. Saat ujian semester pertamanya mendekat, tempat itu didatangi oleh lebih banyak orang sehingga sudut yang biasa mereka isi, nggak lagi kosong.

"Aku bisa bantuin kamu belajar," kata Erris padanya.

"Bantuin ngerjain tugas maksudnya?!" sahut Uki tiba-tiba jadi bersemangat.

"Itu malah bikin tambah bego," celetuknya dingin sambil memperbaiki posisi kaca matanya.

"Yah, Kak..." Uki lemas lagi. "Aku hampir putus asa belajar, nggak masuk-masuk. Di hafal sebentar eh hilang lagi..."

"Matematika itu nggak bisa dihafal," kata Erris, masih dengan sikap khasnya –tenang dan nggak terbaca.

Uki cemberut. Ia melihat-lihat buku yang ada di rak sebelahnya nya dan sama sekali nggak tertarik untuk mengambil salah satunya untuk dipelajari. Padahal dia sudah dag dig dug gara-gara ujian semester. Tapi, ia malah lebih sering memperhatikan Erris yang dari tadi nggak melepaskan matanya dari halaman buku yang dia baca.

"Eh, Kak..." tegurnya dan Erris terkejut setengah mati saat wajah Uki sudah ada di depan wajahnya. Dia malah tertawa. "Kakak kebiasaan deh nggak fokus sama lawan bicara"

Erris menutup bukunya dan Uki sudah duduk di sampingnya. Ia masih kebingungan saking kagetnya tapi cewek itu seolah nggak merasakan apa-apa. Untungnya Erris sudah terlatih pasang tampang dingin sekalipun jantungnya balapan di dadanya. Tersembunyi di balik bajunya dan Uki tertangkap basah memandanginya. Belum pernah ada cewek yang sebegitu dekat dengannya.

Tangan Uki meraih kaca matanya. "Wah, jadi pusing..." katanya sambil tertawa memakai kaca mata itu.

 "Balikin..." kata Erris pelan. "Nanti bisa ikutan jadi rabun jauh..."

"Emang rabun jauh bisa nular, Kak?" celetuknya riang. "Aku keren nggak?"

"Aku nggak bisa lihat," kata Erris. Ia hanya berpura-pura, padahal wajah Uki bisa kelihatan dengan jelas dari dekat walaupun tanpa kaca mata.

Walaupun kulitnya gelap, badannya kecil, tapi dia punya sepasang mata bulat yang lincah di bingkai dengan alis mata yang rapi. Mata itu terkadang melirik dengan centil kepadanya. Dagu yang lancip dan pipi yang tirus, membingkai wajahnya yang sama sekali nggak dirias –meski begitu, di mata Erris semua itu nggak menyembunyikan wajah asli dan senyumnya yang manis. Melihatnya dari dekat, Erris baru sadar, hidung kecil yang mancung itu menjadi pelengkap kesempurnaan di wajah itu –namun hampir semua orang nggak melihatnya. Biar saja, pikirnya seolah kesempurnaan itu diciptakan hanya untuknya dan tiba-tiba ia jadi ingin memilikinya.

"Kakak keren juga kalau nggak pakai kaca mata," kata Uki padanya seperti menggoda,

Wajah Uki tepat berada di depan wajahnya. Erris terpana. Seolah menunggu Uki lebih dekat lagi dengannya. Seperti sebuah isyarat untuk menyatukan dua pikiran yang berbeda, mereka hanya saling menatap. Seakan berada di dunia yang berbeda dan terpisah oleh dinding yang tipis, dan hanya akan sirna jika saling menyentuh. Ada kerinduan yang tak terlihat, tatapan mata menyembunyikannya jauh sekali di dalam alam bawah sadar, sehingga hanya dalam keadaan tak sadar mereka bisa menyadari bahwa itu ada. Perlahan, tatapan itu melemahkan satu sama lain. Saat ia akan memejam bersamaan, jarak yang semakin menipis hingga di satu titik nafas mereka dapat bertemu. Sedikit lagi saja, Erris dapat menyentuh bibirnya.

Sayangnya, debaran itu berlalu oleh suara “Teeeeet!” yang panjang –bel tanda jam istirahat berakhir. Uki menarik dirinya, membalikan badan dan sedikit salah tingkah. Malu-malu, ia menoleh ke Erris sebentar untuk pamitan.

“Belnya udah bunyi…” katanya, menatap Erris canggung sedangkan cowok itu belum beranjak dari tempatnya semula "Oh ya, Kak, soal bantuin aku belajar kayaknya boleh juga tuh," katanya sebelum pergi. "Kebetulan aku lagi banyak tugas"

***


Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments