[Hal.15][Ch.7] A MAN WITH ROSES

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

"Aku nggak tahu persis," katanya di jalan saat mereka memutuskan untuk belanja di supermarket terdekat karena di rumah Mama-nya sama sekali nggak ada bahan makanan. "Mereka udah kayak gitu sejak aku masih kecil"

Wanita itu berusia 48 tahun. Sedangkan kakak sulungnya Manda 21 tahun sedangkan Karla 18 tahun. Mereka sama-sama sudah menikah dan bercerai dalam rentang waktu yang nggak terlalu lama. Tapi, Manda belum memiliki anak dan baru menikah lagi dengan seseorang yang nggak pernah dikenal Erris.

"Papa kamu sudah nggak ada?" tanya Uki sambil membantu memilihkan apel untuk di masukan ke plastik dan ditimbang.

"Ada," jawabnya.

"Terus papa-mu nggak marah?" tanya Uki lagi.

"Ayahku beda sama ayah mereka," jawab Erris sambil menoleh padanya. "Mama tukang kawin. Kak Manda dan Kak Karla juga ayahnya beda..."

Uki bingung.

"Kenapa?" tegur Erris, menemukan kebingungan itu di matanya yang terlihat seperti kekecewaan bahwa Erris punya latar belakang keluarga yang sangat buruk. "Aku nggak seperti yang kamu pikirin?"

Tapi, bagi Uki, bukan itu masalahnya. Memang nggak terbayangkan sama sekali, karena Erris terlihat seperti anak orang kaya, seperti ketiga temannya. Tapi, apa karena untuk menutupi semua ini Erris tumbuh jadi anak yang pendiam?

"Oh ya, di rumah mau makan apa emangnya?" tanya Uki, mengalihkan sambil melihat troli yang sudah diisi makanan instan dan buah-buahan.

"Mama-ku nggak pernah masak, mereka apa lagi," jawab Erris sambil mendorong troli ke tempat lain.

"Hari ini biar aku yang masak, gimana?" usul Uki.

Erris nggak percaya akan tawaran yang baru dia dengar. Memang Uki bisa masak?

Uki mulai memasukan apa yang dia perlukan seperti bawang, cabe, sayuran, dan daging. Ia tampak berpikir akan membeli apa lagi yang ia butuhkan untuk menu yang ada di kepalanya. "Kenapa kamu nggak tinggal sama mereka? Maksud aku. . . kenapa mereka tinggal di tempat itu. . . sementara kamu bisa tinggal di komplek yang bagus?"

"Ayah nggak mau aku tinggal sama mereka yang seperti itu," jawabnya. "Jadi dia beliin rumah, dan membiayai aku sepenuhnya supaya nggak perlu kembali ke sana"

"Dia nggak di sini ya?" Uki masih bertanya. "Kok kamu nggak tinggal sama ayah kamu?"

"Dia di sini kok," jawab Erris datar, wajahnya tenang sekalipun ia akan mengatakan hal yang mungkin akan membuat Uki berempati. "Dia juga punya keluarga. Orang tuaku nggak pernah menikah, hanya…hubungan yang seperti itu…kamu ngerti kan maksud aku?"

Uki diam. Membayangkan bagaimana dia menjalani kehidupan yang kedengaran sulit bagi anak kecil yang terkatung-katung. Antara wanita pemabuk dan kakak perempuan yang putus sekolah dengan seorang pria berkeluarga dan hidup berkecukupan. Dia seperti orang luar.

***

"Ibuku suka marah-marah kalau anak gadisnya nggak pandai masak," jelas Uki yang sedang mencuci tangannya di bawah keran air. Ia terlihat lebih ceria dari saat Erris menjemputnya tadi.

"Kamu perlu apa lagi?" tanya Erris yang baru selesai memindahkan belanjaannya ke tempat yang cocok.

Uki menggeleng-geleng. Ia mengenakan celemek lusuh yang ia temukan tergantung di dinding lalu mengikat rambut sebahunya dengan karet gelang yang ia temukan di meja dapur. Uki mengenyampingkan poninya ke kanan dan ia mulai bekerja dengan dengan peralatan dapur seadanya.

Uki keluar dari dapur masih mengenakan celemeknya sejam kemudian. "Makanannya mau ditaruh di mana?" ia bertanya.

Manda melirik jam dinding, tanpa terasa sudah jam delapan malam. Semua juga pasti sudah lapar.

Ibu-nya Erris berdiri dari kursinya. "Karla, Manda, beresin mejanya," ia berkata lalu mengangkat Dio yang ketiduran di lantai untuk memindahkannya ke kamar.

Karla menyingkirkan kartu-kartu yang tadi mereka mainkan di atas meja sementara Manda menyusun kursi supaya meja bulat itu pas untuk lima orang, meski agak sempit-sempitan. Sedangkan Erris pergi ke dapur, membantu Uki memindahkan makan malam mereka dari dapur ke ruang tengah dengan nampan. Uki menyiapkan piring, gelas dan sendok juga air putih dalam teko. Setelah semuanya beres, mereka mengelilingi meja yang penuh dan menikmati semur daging dan sup bening dengan wortel dan kentang.

Sudah lama sekali mereka nggak makan bersama di satu meja, sambil tertawa dan bercerita seperti ini. Uki membuat mereka melupakan judi sejenak untuk mendengarkan ceritanya tentang kampung halamannya –Semarang. Tampaknya mereka menyukai Uki yang cerewet, periang dan lucu. Setelah makan malam selesai, Erris pun pamitan pulang.

Hari yang melelahkan. Seperti biasa Uki ketiduran dalam perjalanan pulang. Kepalanya bergoyang ke sana kemari tanpa ia sadari. Terbentur kaca di kanannya, ia hanya terbangun sebentar untuk mencari posisi yang nyaman sampai menemukan bahu Erris yang duduk diam di sampingnya dan bersandar dengan aman di sana selama Busway merangkak melawan macetnya jalanan pada malam hari di suasana liburan seperti ini. Membuat perjalanan menjadi lebih lama dari hari-hari biasa. Biar saja, asal Uki bisa kembali bersandar padanya…

***


Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments