๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Jakarta, April 2014…
"Lo kenapa sih?" tegur Damar yang
baru datang dan mengambil tempat kosong di sampingnya.
"Eh,..." Erris tersadar, bahwa ia
lagi-lagi melamun.
Damar duduk. Dia terlihat lebih segar, dan
agak berisi.
"Rory mana?" tanya Erris sambil
menaikan lengan kemejanya ke siku agar lebih nyaman.
"Sengaja nggak diajak, paling dia lagi
sama Natha," jawabnya. "Gue nggak bisa tidur. ,"
Erris menghisap rokoknya dan mengeluarkan
kepulan asap dari hidung dan mulutnya.
Damar mengernyit pada asbak yang sudah
penuh bahkan isinya sampai tumpah. "Kecanduan lo kayaknya parah nih,"
komentarnya. "Lo mau mati muda?"
Erris tertawa lirih. Mending juga mati muda
daripada mati tua menderita, celetuknya dalam hati.
"Lo lagi ada masalah sama
Henrietta?" tanya Damar serius, melihat ada yang aneh dengan senyumnya.
Erris nggak mabuk. Dia belum minum alkohol.
Hanya kelihatan bingung, gelisah dan. . . ketakutan. Dia sudah selesai dengan
sebatang rokok dan bermaksud menyulut yang berikutnya.
"Kenapa sih tiap ada masalah lo nggak
mau cerita ke kita?" tanya Damar lagi.
Ia hanya mengangkat bahunya dengan acuh.
"Ini bukan soal keluarga kan?"
Erris nggak bereaksi –isyarat bawah ia
nggak mau membicarakannya. Ia adalah tempat berkeluh kesah, bukan orang yang
bisa berkeluh kesah. Dari dulu selalu seperti itu dan untuk kali ini ia bahkan
nggak tahu akan memulai dari mana.
"Gue tahu kalau lo nggak suka
Henrietta," Damar mengawali. "Lo hanya maksain diri sendiri kayak
nggak ada pilihan lain"
Itu benar. Erris bukannya mau membicarakan
soal Henrietta. Ini
"Lo pasti nggak pernah tahu soal ini
deh..." Erris memulai, dia tertawa sedikit. "Lo pikir gue sama Uki
benar-benar pacaran dari SMA selama delapan tahun?"
Damar mengernyit lagi. "Jadi ini soal
Uki?"
Erris hanya meliriknya sebentar sambil
tertawa –tapi terdengar getir. “Sampai sekarang gue… nggak tahu Rory dengar apa
dari Chris sampai Rory pikir kalau gue berkhianat. Gue nggak pernah nanya sama
Uki langsung, nggak juga pernah klarifikasi sama Chris, karena nggak lama
setelah itu Rory masuk rumah sakit dan Uki nggak pernah muncul lagi”
"Tapi lo pernah punya hubungan kan
sama Uki?" tanya Damar penasaran.
Erris diam.
"Gue jadi nggak ngerti. Emang selama
delapan tahun kalian ngapain aja? Di rumah sakit kalian berantem kayak orang
udah berhubungan selama bertahun-tahun” kata Damar mengingatkan. “Terus bubaran
dan Uki hilang lenyap!”
“Kita udah lama putus” jawab Erris, selagi
pikirannya menerawang jauh ke masa lalu. Menembus masa-masa kelamnya yang telah
berlalu bersamaan dengan segala luka yang dahulunya nggak sedalam ini –yang
bahkan belum ada saat pertama kali ia menyukai seorang gadis. “Bahkan sebelum Rory
suka Uki, kita udah nggak punya hubungan apa-apa lagi”
“Hah?” Damar membelalak.
“Seperti yang lo tahu, Uki lebih sering
sama Rory dibandingkan sama gue,” jelasnya. “Itu udah cukup membuktikan kalau
gue sama Uki nggak pernah dekat lagi. Kita nggak pernah kembali bersama”
Damar mulai mengamati perubahan wajah Erris
lewat kata-katanya.
“Gue nggak pernah berkhianat sama Rory,”
tegasnya, menatap Damar lekat-lekat dengan meyakinkan seolah itu sangat berguna
sekarang setelah Rory hilang ingatan dan dia sudah punya kekasih baru. “Gue
sama Uki dekat jauh sebelum Rory suka sama Uki, sebelum gue kenal Blackjack dan
mulai terlibat masalah”
“Pisah gitu aja atau masih ada sesuatu yang
belum terselesaikan antara lo sama Uki?”
Erris diam, seketika kembali menjadi murung.
“Buat Uki semuanya nggak pernah selesai…”
Lalu hening. Dalam sesaat semua itu kembali
lagi padanya. Seakan mengejar setiap ia mengingat bagaimana rasanya melepaskan
Uki di saat ia sama sekali nggak ingin mengakhirinya…
***
.jpg)
Komentar
0 comments