[Baca Novel Dewasa] A Man with Roses Ch. 7 (Hal. 15)

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

"Duuh, Kak, capek..." Uki merebahkan kepalanya di atas buku paket matematika yang baru mereka bahas. "Kebanyakan mikir jadi ngantuk..."

"Ini baru jam tiga," Erris melirik jam tangannya. “Kamu sama sekali nggak kelihatan mikir…”

Uki menguap. "Jam tiga biasanya aku tidur siang..." jelas Uki yang makin malas-malasan. soal matematika di bukunya membuat matanya berkunang-kunang. Uki terlalu nggak menyukai angka. "Kakak pulang sekolah biasanya ngapain?"

"Nggak ada," jawabnya.

"Sama dong!" kata Uki. "Kalau nggak tidur siang ya nonton TV sampai malam. Bosen. Kadang main ke rumah Sasha juga, tapi sepupunya nyebelin banget! Oh ya, kakak sering nongkrong di luar  sama teman?"

"Kadang-kadang. Ngikutin mereka capek..."

"Emang kalau pergi sama mereka ke mana aja sih, Kak? Clubbing? Ajeb-ajeb gitu ya, Kak?"

"Mana ada anak SMA clubbing?"

"Yah, kan sering keluar di TV, Kak..."

"Kenapa emangnya?"

"Penasaran aja. Kayaknya asik…”.

Erris malah menyentil dahinya. "Anak kecil pingin clubbing?"

"Iih, Kakak! Jangan sok dewasa gitu kenapa sih?! Orang cuma beda setahun doang!" gerutunya.

"Terus kenapa panggil aku Kakak?" celetuk Erris.

"Yee kan nggak lucu, panggil nama sama senior, Kak!" Uki cemberut sambil merapikan poni-nya.

"Emang kenapa kalau panggil nama aja?"

"Yaah, kakak...pokoknya nggak lucu deh..."

"Nggak juga kok"

Uki berdehem. "Oke, Erris..." katanya mantap lalu tertawa terbahak-bahak.

Erris berusaha tenang, walau hampir nggak mungkin. Ia benar-benar ingin tertawa mendengarnya.

 "Iiih, tuh kan! Nggak lucu kan, Kak!" canda Uki sambil memukul-mukul lengannya.

Sedang asyik-asyiknya bercanda, Erris melihat Damar berjalan di antara rak-rak buku dan pasti mencari dirinya. Sebelum Damar sempat melihatnya, Erris sudah sembunyi di rak paling sudut. Menyelamatkan tasnya dan Uki yang terpaksa juga harus ikut dengannya. Erris membekap mulut Uki. Tubuh kecilnya tersandar di rak, tertahan oleh tingginya tubuh Erris. Uki nggak bisa bernafas beberapa saat. Ruang geraknya terbatas dan ia mulai mendengar suara teman-teman Erris yang tengah mencarinya.

"Mana sih?!" gerutu Damar. "Tuh anak suka banget ngilang!"

"Udah yuk, kita cabut aja. Biar dia pulang sendiri," kata Laras.

"Gimana, Ror?" tanya Damar ke Rory.

"Yuk!" kata Rory akhirnya karena nggak terlihat siapapun di sekitarnya.

Mereka pergi.

Erris menunggu beberapa saat untuk memastikan mereka benar-benar sudah pergi. Dan sama sekali lupa, Uki bisa pingsan kalau membekapnya lebih lama dengan posisi seperti itu. Saling mengatur nafas mereka kembali berhadapan. Erris menatapnya dengan sedikit rasa bersalah, walaupun Uki kelihatan makin lebih manis saat wajahnya memerah dan panas. Saat ia harusnya menyingkir memberi Uki celah untuk bernafas, Erris malah mendorong tubuhnya dan seketika terkesiap saat Erris menunduk hendak menyentuh wajahnya. Tapi…

“Ini sekolah…” kata Uki, kedua tangannya mendorong tubuh Erris agar memberinya sedikit jarak untuk bernafas.

“Ma… maaf…” ucap Erris, mundur beberapa langkah. Debarannya belum hilang saat mereka kembali ke tempat belajar dan setelah itu hampir sulit untuk bersikap biasa.

Sesekali mata bertemu, mereka berusaha untuk terlihat biasa walaupun janggal. Duduk berdekatan tapi masih berusaha mencuri pandang. Tapi, Uki, ia menunjukan dengan jelas bahwa matanya sangat terlatih  untuk mengamati wajah Erris –setiap ekspresinya, bagaimana gerak bibirnya dan bagaimana tatapan matanya saat ia menoleh.

***

Keesokan hari…

"Disuruh bikin karangan," kata Uki menjelaskan tugas Bahasa Inggris-nya sambil menyodorkan buku latihannya. "Tolong ya, Kak..."

"Itu sih namanya bukan belajar..." celetuk Erris, memperbaiki letak kaca matanya.

"Pliss, Kak. ...aku paling KO disuruh ngarang Bahasa Inggris..."

"Perasaan kamu KO sama semua mapel deh..."

"Duh, Kak Erris...plisss. ..."

Erris nggak pernah bisa menolak apalagi kalau Uki sudah memohon-mohon. Sekalipun cuma jadi cowok bego yang bisanya dimanfaatkan juga nggak apa-apa. Tapi, kadang ia jadi ingin memanfaatkan situasi.

"Kalau aku kerjain tugas kamu, aku dapat apa?" tanya Erris, tampak serius.

“Aku janji bakal rela disuruh apa aja”

“Apa aja?”

“Iya apa aja!”

Sepertinya, Uki nggak sadar kalau Erris mulai mikir yang aneh-aneh. Mungkin karena terlalu panik soal PR-nya.

Perpustakaan tampak ramai saat mereka ke sana setelah semua kelas dibubarkan. Kalau sudah ujian, bangsa siswa pemalas bahkan rela mengantri untuk meminjam buku pada peugas pustaka. Setiap meja sudah diisi oleh mereka yang menggandeng buku dengan soal-soal ujian tahun lalu. Ada yang serius banyak juga yang mojok. Akhirnya, Erris mengajak Uki ke rumahnya karena di sana dijamin suasananya nggak seramai ini.

"Kakak tinggal sendiri?" tanya Uki deg-degan saat menyadari rumah Erris nggak menunjukan tanda-tanda adanya orang lain selain mereka. Ia duduk di sofa ruang tamu sementara Erris ke dapur mengambilkan minuman botol.

"Sory, cuma ada itu," kata Erris lalu pergi ke kamarnya dan keluar dengan memakai kaos longgar hitam dan celana jeans hitam membalut kedua kakinya yang panjang. Dia kelihatan berbeda dari yang biasa Uki lihat di sekolah.

"Nggak...ada siapa-siapa ya?" tanya Uki canggung.

Erris tampak acuh. "Emangnya kenapa?" balasnya sambal duduk di sofa. "Mana tugasnya?"

Uki segera membuang pikiran macam-macam itu melihat sikap Erris yang sama sekali nggak menunjukan perubahan baik di rumah atau di sekolah. Tenang dan dingin. Lalu Uki mengeluarkan bukunya. Saat Erris mulai menulis, suasana hening. Dia membiarkan Uki malas-malasan dengan kepala di atas meja.

"Kakak...capek nih..." keluh Uki setelah satu jam berkutat dengan beberapa soal matematika dari buku paket. Ia kembali merebahkan kepalanya di atas meja dan menguap dibalik tangan mungilnya. "Aku nggak ngerti, Kak..." gerutunya. "Aku kan bego..."

Erris menghela nafas. "Kamu bukannya bego tapi malas," katanya sambil membuka kacamata untuk mengelapnya dengan kaos yang ia kenakan. Lalu memakainya lagi untuk melihat Uki yang belum ingin mengangkat kepalanya dari meja. "Kebanyakan tidur juga..."

"Tidur kan bagus untuk kecantikan, Kak..." katanya asal lalu menguap lagi. "Ngantuknya..."

Suara tawa terlompat dari bibir Erris. Teori dari mana sih?. "Kecantikan?"

Uki meliriknya sebentar sebelum menutupi kepalanya dengan tangan. "Iya deh..." gerutunya dengan suara yang kecil. "Aku memang nggak cantik..."

Uki jadi sensitif!

Erris terdiam saat Uki nggak bersuara lagi. Kadang, perasaan ingin lebih dekat itu timbul lagi lebih-lebih suasananya mendukung. Pintu terkunci. Nggak ada suara apapun selian keluhan manja Uki yang malas. Kemarin Uki sempat menolaknya karena mereka sedang di sekolah. Lalu perlahan, ia beringsut ke dekat Uki yang mulai sadar kalau Erris nggak lagi tertawa. Rautnya berubah serius dalam hitungan detik.

“Kak…” Uki mulai deg-degan lagi. Ia memasang kedua tangannya untuk mendorong Erris lagi darinya seperti kemarin. Tapi, ia tahu Erris nggak akan terima.

“Ssst…” desis Erris di depannya tepat di bibir Uki yang terbuka dan menggodanya sedari tadi. Uki sempat tersenyum malu-malu sebelum Erris menyentuhnya dengan manis. Itu adalah ciuman pertamanya, dan Erris memberikannya dengan cara yang sempurna.

***

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments