๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
"Duuh, Kak, capek..." Uki
merebahkan kepalanya di atas buku paket matematika yang baru mereka bahas.
"Kebanyakan mikir jadi ngantuk..."
"Ini baru jam tiga," Erris
melirik jam tangannya. “Kamu sama sekali nggak kelihatan mikir…”
Uki menguap. "Jam tiga biasanya aku
tidur siang..." jelas Uki yang makin malas-malasan. soal matematika di
bukunya membuat matanya berkunang-kunang. Uki terlalu nggak menyukai angka.
"Kakak pulang sekolah biasanya ngapain?"
"Nggak ada," jawabnya.
"Sama dong!" kata Uki.
"Kalau nggak tidur siang ya nonton TV sampai malam. Bosen. Kadang main ke
rumah Sasha juga, tapi sepupunya nyebelin banget! Oh ya, kakak sering nongkrong
di luar sama teman?"
"Kadang-kadang. Ngikutin mereka
capek..."
"Emang kalau pergi sama mereka ke mana
aja sih, Kak? Clubbing? Ajeb-ajeb gitu ya, Kak?"
"Mana ada anak SMA clubbing?"
"Yah, kan sering keluar di TV,
Kak..."
"Kenapa emangnya?"
"Penasaran aja. Kayaknya asik…”.
Erris malah menyentil dahinya. "Anak
kecil pingin clubbing?"
"Iih, Kakak! Jangan sok dewasa gitu
kenapa sih?! Orang cuma beda setahun doang!" gerutunya.
"Terus kenapa panggil aku Kakak?"
celetuk Erris.
"Yee kan nggak lucu, panggil nama sama
senior, Kak!" Uki cemberut sambil merapikan poni-nya.
"Emang kenapa kalau panggil nama
aja?"
"Yaah, kakak...pokoknya nggak lucu
deh..."
"Nggak juga kok"
Uki berdehem. "Oke, Erris..."
katanya mantap lalu tertawa terbahak-bahak.
Erris berusaha tenang, walau hampir nggak
mungkin. Ia benar-benar ingin tertawa mendengarnya.
"Iiih, tuh kan! Nggak lucu kan,
Kak!" canda Uki sambil memukul-mukul lengannya.
Sedang asyik-asyiknya bercanda, Erris
melihat Damar berjalan di antara rak-rak buku dan pasti mencari dirinya.
Sebelum Damar sempat melihatnya, Erris sudah sembunyi di rak paling sudut.
Menyelamatkan tasnya dan Uki yang terpaksa juga harus ikut dengannya. Erris
membekap mulut Uki. Tubuh kecilnya tersandar di rak, tertahan oleh tingginya
tubuh Erris. Uki nggak bisa bernafas beberapa saat. Ruang geraknya terbatas dan
ia mulai mendengar suara teman-teman Erris yang tengah mencarinya.
"Mana sih?!" gerutu Damar.
"Tuh anak suka banget ngilang!"
"Udah yuk, kita cabut aja. Biar dia
pulang sendiri," kata Laras.
"Gimana, Ror?" tanya Damar ke
Rory.
"Yuk!" kata Rory akhirnya karena
nggak terlihat siapapun di sekitarnya.
Mereka pergi.
Erris menunggu beberapa saat untuk
memastikan mereka benar-benar sudah pergi. Dan sama sekali lupa, Uki bisa pingsan
kalau membekapnya lebih lama dengan posisi seperti itu. Saling mengatur nafas
mereka kembali berhadapan. Erris menatapnya dengan sedikit rasa bersalah,
walaupun Uki kelihatan makin lebih manis saat wajahnya memerah dan panas. Saat
ia harusnya menyingkir memberi Uki celah untuk bernafas, Erris malah mendorong
tubuhnya dan seketika terkesiap saat Erris menunduk hendak menyentuh wajahnya.
Tapi…
“Ini sekolah…” kata Uki, kedua tangannya
mendorong tubuh Erris agar memberinya sedikit jarak untuk bernafas.
“Ma… maaf…” ucap Erris, mundur beberapa
langkah. Debarannya belum hilang saat mereka kembali ke tempat belajar dan
setelah itu hampir sulit untuk bersikap biasa.
Sesekali mata bertemu, mereka berusaha
untuk terlihat biasa walaupun janggal. Duduk berdekatan tapi masih berusaha
mencuri pandang. Tapi, Uki, ia menunjukan dengan jelas bahwa matanya sangat
terlatih untuk mengamati wajah Erris
–setiap ekspresinya, bagaimana gerak bibirnya dan bagaimana tatapan matanya
saat ia menoleh.
***
Keesokan hari…
"Disuruh bikin karangan," kata
Uki menjelaskan tugas Bahasa Inggris-nya sambil menyodorkan buku latihannya.
"Tolong ya, Kak..."
"Itu sih namanya bukan
belajar..." celetuk Erris, memperbaiki letak kaca matanya.
"Pliss, Kak. ...aku paling KO disuruh
ngarang Bahasa Inggris..."
"Perasaan kamu KO sama semua mapel
deh..."
"Duh, Kak Erris...plisss. ..."
Erris nggak pernah bisa menolak apalagi
kalau Uki sudah memohon-mohon. Sekalipun cuma jadi cowok bego yang bisanya
dimanfaatkan juga nggak apa-apa. Tapi, kadang ia jadi ingin memanfaatkan
situasi.
"Kalau aku kerjain tugas kamu, aku
dapat apa?" tanya Erris, tampak serius.
“Aku janji bakal rela disuruh apa aja”
“Apa aja?”
“Iya apa aja!”
Sepertinya, Uki nggak sadar kalau Erris
mulai mikir yang aneh-aneh. Mungkin karena terlalu panik soal PR-nya.
Perpustakaan tampak ramai saat mereka ke
sana setelah semua kelas dibubarkan. Kalau sudah ujian, bangsa siswa pemalas
bahkan rela mengantri untuk meminjam buku pada peugas pustaka. Setiap meja
sudah diisi oleh mereka yang menggandeng buku dengan soal-soal ujian tahun
lalu. Ada yang serius banyak juga yang mojok. Akhirnya, Erris mengajak Uki ke
rumahnya karena di sana dijamin suasananya nggak seramai ini.
"Kakak tinggal sendiri?" tanya
Uki deg-degan saat menyadari rumah Erris nggak menunjukan tanda-tanda adanya
orang lain selain mereka. Ia duduk di sofa ruang tamu sementara Erris ke dapur
mengambilkan minuman botol.
"Sory, cuma ada itu," kata Erris
lalu pergi ke kamarnya dan keluar dengan memakai kaos longgar hitam dan celana
jeans hitam membalut kedua kakinya yang panjang. Dia kelihatan berbeda dari
yang biasa Uki lihat di sekolah.
"Nggak...ada siapa-siapa ya?"
tanya Uki canggung.
Erris tampak acuh. "Emangnya
kenapa?" balasnya sambal duduk di sofa. "Mana tugasnya?"
Uki segera membuang pikiran macam-macam itu
melihat sikap Erris yang sama sekali nggak menunjukan perubahan baik di rumah
atau di sekolah. Tenang dan dingin. Lalu Uki mengeluarkan bukunya. Saat Erris
mulai menulis, suasana hening. Dia membiarkan Uki malas-malasan dengan kepala
di atas meja.
"Kakak...capek nih..." keluh Uki
setelah satu jam berkutat dengan beberapa soal matematika dari buku paket. Ia
kembali merebahkan kepalanya di atas meja dan menguap dibalik tangan mungilnya.
"Aku nggak ngerti, Kak..." gerutunya. "Aku kan bego..."
Erris menghela nafas. "Kamu bukannya
bego tapi malas," katanya sambil membuka kacamata untuk mengelapnya dengan
kaos yang ia kenakan. Lalu memakainya lagi untuk melihat Uki yang belum ingin
mengangkat kepalanya dari meja. "Kebanyakan tidur juga..."
"Tidur kan bagus untuk kecantikan,
Kak..." katanya asal lalu menguap lagi. "Ngantuknya..."
Suara tawa terlompat dari bibir Erris.
Teori dari mana sih?. "Kecantikan?"
Uki meliriknya sebentar sebelum menutupi
kepalanya dengan tangan. "Iya deh..." gerutunya dengan suara yang
kecil. "Aku memang nggak cantik..."
Uki jadi sensitif!
Erris terdiam saat Uki nggak bersuara lagi.
Kadang, perasaan ingin lebih dekat itu timbul lagi lebih-lebih suasananya
mendukung. Pintu terkunci. Nggak ada suara apapun selian keluhan manja Uki yang
malas. Kemarin Uki sempat menolaknya karena mereka sedang di sekolah. Lalu
perlahan, ia beringsut ke dekat Uki yang mulai sadar kalau Erris nggak lagi
tertawa. Rautnya berubah serius dalam hitungan detik.
“Kak…” Uki mulai deg-degan lagi. Ia
memasang kedua tangannya untuk mendorong Erris lagi darinya seperti kemarin. Tapi,
ia tahu Erris nggak akan terima.
“Ssst…” desis Erris di depannya tepat di
bibir Uki yang terbuka dan menggodanya sedari tadi. Uki sempat tersenyum malu-malu
sebelum Erris menyentuhnya dengan manis. Itu adalah ciuman pertamanya, dan
Erris memberikannya dengan cara yang sempurna.
***
.jpg)
Komentar
0 comments