๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
First Love
Jakarta,
Agustus 2005…
Siang itu di perpustakaan, Erris sedang
mencari buku pelajaran antropologi jilid dua. Memang, ia nggak suka lihat kiri
kanan kalau lewat di antara rak-rak buku. Ia melintas begitu saja dan di satu
sudut kembali menemukan Uki yang sedang berjinjit menjangkau buku yang tersusun
rapat di atas kepalanya. Dengan santai ia melewatinya. Tapi karena mendengar
suara gedubrak yang lumayan berisik itu membuat Erris balik kanan dan sudah
menemukan Uki bergelimang dengan buku di lantai.
Bayangkan tiga buah buku tebal baru saja menimpa kepalanya
bergantian –Uki gagal mendapatkan buku yang dia inginkan karena terlalu tinggi.
Rambutnya kusut, dan ia terlihat meringis kesakitan sambil memegangi dahinya.
“Aduh…” Uki melenguh sampai keluar air
mata.
Erris pun menghampirinya. “Kamu nggak
apa-apa?” tanya dia sambil membantu memunguti buku-buku itu.
Uki Cuma melongo. Sakit, bingung dan malu
bersamaan karena ada yang melihatnya! Tapi, sudah terlambat untuk
menyembunyikan rasa sakit yang sudah menusuk ke ubun-ubun. Menelan ludah, Uki
hanya menatap dia terkesima. Memang nggak mengherankan bisa ketemu lagi dengan
Ketua OSIS di perpus karena sudah sering melihatnya wara-wiri. Tapi, ini
pertama kalinya lagi setelah MOS berakhir mereka bertatap muka langsung dan
sebelumnya mereka hanya bertemu sebagai orang asing.
“Aku nggak mau dibilang nggak punya hati,”
kata Erris padanya tiba-tiba dan Uki jadi nggak enak karena waktu itu dia
mengatakannya hanya gara-gara emosi. Lagipula dia juga sudah hampir lupa pernah
mengatakan hal-hal seperti itu.
Uki berusaha untuk tersenyum,
menutup-nutupi perasaan malu dengan sesekali tertunduk. Entah kenapa, ia harus
bersikap menggelikan begitu. Tapi, saat sadar setidaknya Erris sudah sedikit
merubah sikap terhadapnya, Uki pun berusaha untuk sedikit lebih ‘girly’.
Ketika mereka sama-sama berdiri, Uki seolah
mengecil di sampingnya sampai ia harus menengadah untuk menatapnya. Tapi, karena
takut jantungnya jadi nggak karuan memandang wajahnya, ia lebih memilih
tertunduk seperti gadis pemalu. Tapi, makin terlihat menggelikan, karena itu
bukan sifatnya. Harusnya ia menjadi cerewet, menyebalkan dan berisik. Tapi,
saat itu ia lebih banyak diam sehingga Erris lah yang seringkali memulai. Agak
mengherankan soal kenapa Erris tiba-tiba jadi ramah padanya.
Maksudnya, dari sekian banyak cewek di
sekolah ini yang sepertinya menunggu senyumnya dengan penuh pengharapan, kenapa
hanya Uki yang bisa mendapatkannya secara Cuma-Cuma? Bahkan juga nggak
diharapkan. Dia juga bahkan nggak yakin orang ini masih mengingatnya.
***
"Jidat lo kenapa?" tanya Sasha
saat Uki datang sambil memegangi keningnya.
"Ketimpuk buku," gerutunya
memperlihatkan tanda merah yang memacing tawa Sasha.
Uki hanya merengut dan ia lemas
membayangkan bahwa tadi ia coba mengambil buku di rak perpustakaan. Tapi,
letaknya tinggi sekali. Uki terpaksa berjinjit sambil menggapai-gapai. Sialnya,
begitu dapat, buku itu terlepas dan kamus setebal sepuluh buku paket itu
menimpa kepalanya sampai ia terduduk.
"Duuh, sakit ya, Ki..." seseorang
menyela, dengan duduk di sampingnya. "Mau ditiupin nggak?"
"Uuu!" seru Sasha sambil melempar
cowok teman sekelas Uki dengan kerupuk.
Uki tertawa. "Apa sih, Ian! Nanti jadi
tambah sakit...".
Ian cengengesan. Cowok itu adalah teman
sekelas Uki. Duduk tepat di sebelahnya dan satu-satunya teman cowok yang sering
berada di sekitar mereka. Dari sikapnya jelas ia naksir Uki, tapi masih agak
malu-malu lebih-lebih kalau ada Sasha yang reseh menggodanya. Tapi, giliran
Sasha nggak ada, Ian malah jadi tambah susah! Bawaannya selalu deg-degan.
"Kok bisa sih?" tanya Sasha
Uki hanya menyesalkan tubuhnya yang pendek.
Coba agak lebih tinggi sedikit, tangannya pasti bisa dengan mudah menurunkan
buku itu dan bukannya malah mendarat di kepala. Ada lagi yang lebih memalukan,
seseorang melihat kejadian itu.
Erris! Ketua OSIS itu kebetulan ada di sana
dan dia lihat dengan mata kepalanya bagaimana Uki jatuh dan kesakitan. Tapi,
cowok itu baik juga karena membantunya berdiri. Dan bikin Uki jadi ser-seran. Apalagi
kelihatannya sikap Erris agak berubah terhadapnya.
“Kamu…punya banyak PR?" tanya Erris
padanya saat ia membantu menaruh kembali buku-buku yang terjatuh dari
tempatnya.
Uki mengangguk lesu. "Biasa…,"
katanya. "Susah banget, Kak… Aku kan begok…”
Erris hampir terkekeh mendengar
pengakuannya. “PR apa?” tanya dia.
“Matematika…” jawabnya bersungut-sungut. "Aku
emang bego sih. UTS kemarin aja nilainya parah banget. Kalau aku nggak naik
kelas, aku bakal disuruh pulang dan di sekolahin di kampung”
“Kamu tinggal sendiri?” tanya Erris, penuh
perhatian.
“Aku nge-kos nggak jauh dari sini” jawab
Uki sambal nyengir. “Bisa jalan kaki ke sekolah biar nggak ribet”
“Sama sekali ngak punya saudara yang
tinggal di Jakarta?”
Uki menggeleng. “Tapi, ini baru pertama
kali aku belajar mandiri. Ada sedihnya juga, tapi… kadang juga asyik” jelasnya.
“Kalau di kampung, jam tiga aja belum nyampai rumah aku pasti dicariin sama Mas
Wisnu”
“Kamu punya kakak cowok?”
“Ya, ada dua malah. Satunya lagi, Mas
Handi, yang paling reseh suka masuk kamar aku dan nge-bully aku kalau lagi
tidur. Ah, jadi kangen pulang kalau ingat mereka,” tanpa sadar Uki ngelantur
lalu tiba-tiba ia jadi ingat sesuatu –kok malah jadi curhat yah.
“Nggak apa-apa”, jawabnya sambal tersenyum
–dan itu kelihatan WOW. Karena dalam sejarah Uki pernah mengenal Ketua OSIS
ini, dia termasuk cowok yang dingin dan lumayan anti-sosial. Kalau pun berteman
dia hanya berteman dengan orang yang itu-itu saja.
Lidah Uki mendadak kaku. Sebenarnya ia Cuma
nggak tahu bagaimana berhadapan dengannya. dan entah sejak kapan, bawaannya
mulai deg-degan setiap bertemu Erris. entah itu saat berpapasan di lorong
karena kebetulan atau Uki mulai sengaja rajin ke perpus hanya untuk bisa
melihatnya –menjadi pengagum rahasia atau sejenisnya. Yang jelas, sejak itu
mulai ada sesuatu yang berarti untuk dijadikan alasan ketemu di sana.
Setiap hari Uki datang ke perpustakaaan
dengan membawa semua bukunya –entah ada tugas atau nggak. Tapi, terlihat
membawa buku cukup membuktikan bahwa ke perpustakaan adalah kebutuhan buat Uki
sekarang. Saat ujian semester pertamanya mendekat, tempat itu didatangi oleh
lebih banyak orang sehingga sudut yang biasa mereka isi, nggak lagi kosong.
"Aku bisa bantuin kamu belajar,"
kata Erris padanya.
"Bantuin ngerjain tugas
maksudnya?!" sahut Uki tiba-tiba jadi bersemangat.
"Itu malah bikin tambah bego,"
celetuknya dingin sambil memperbaiki posisi kaca matanya.
"Yah, Kak..." Uki lemas lagi.
"Aku hampir putus asa belajar, nggak masuk-masuk. Di hafal sebentar eh
hilang lagi..."
"Matematika itu nggak bisa
dihafal," kata Erris, masih dengan sikap khasnya –tenang dan nggak
terbaca.
Uki cemberut. Ia melihat-lihat buku yang
ada di rak sebelahnya nya dan sama sekali nggak tertarik untuk mengambil salah
satunya untuk dipelajari. Padahal dia sudah dag dig dug gara-gara ujian
semester. Tapi, ia malah lebih sering memperhatikan Erris yang dari tadi nggak
melepaskan matanya dari halaman buku yang dia baca.
"Eh, Kak..." tegurnya dan Erris
terkejut setengah mati saat wajah Uki sudah ada di depan wajahnya. Dia malah
tertawa. "Kakak kebiasaan deh nggak fokus sama lawan bicara"
Erris menutup bukunya dan Uki sudah duduk
di sampingnya. Ia masih kebingungan saking kagetnya tapi cewek itu seolah nggak
merasakan apa-apa. Untungnya Erris sudah terlatih pasang tampang dingin
sekalipun jantungnya balapan di dadanya. Tersembunyi di balik bajunya dan Uki tertangkap
basah memandanginya. Belum pernah ada cewek yang sebegitu dekat dengannya.
Tangan Uki meraih kaca matanya. "Wah,
jadi pusing..." katanya sambil tertawa memakai kaca mata itu.
"Balikin..." kata Erris pelan.
"Nanti bisa ikutan jadi rabun jauh..."
"Emang rabun jauh bisa nular,
Kak?" celetuknya riang. "Aku keren nggak?"
"Aku nggak bisa lihat," kata
Erris. Ia hanya berpura-pura, padahal wajah Uki bisa kelihatan dengan jelas
dari dekat walaupun tanpa kaca mata.
Walaupun kulitnya gelap, badannya kecil, tapi
dia punya sepasang mata bulat yang lincah di bingkai dengan alis mata yang
rapi. Mata itu terkadang melirik dengan centil kepadanya. Dagu yang lancip dan
pipi yang tirus, membingkai wajahnya yang sama sekali nggak dirias –meski
begitu, di mata Erris semua itu nggak menyembunyikan wajah asli dan senyumnya
yang manis. Melihatnya dari dekat, Erris baru sadar, hidung kecil yang mancung
itu menjadi pelengkap kesempurnaan di wajah itu –namun hampir semua orang nggak
melihatnya. Biar saja, pikirnya seolah kesempurnaan itu diciptakan hanya
untuknya dan tiba-tiba ia jadi ingin memilikinya.
"Kakak keren juga kalau nggak pakai
kaca mata," kata Uki padanya seperti menggoda,
Wajah Uki tepat berada di depan wajahnya.
Erris terpana. Seolah menunggu Uki lebih dekat lagi dengannya. Seperti sebuah
isyarat untuk menyatukan dua pikiran yang berbeda, mereka hanya saling menatap.
Seakan berada di dunia yang berbeda dan terpisah oleh dinding yang tipis, dan
hanya akan sirna jika saling menyentuh. Ada kerinduan yang tak terlihat,
tatapan mata menyembunyikannya jauh sekali di dalam alam bawah sadar, sehingga
hanya dalam keadaan tak sadar mereka bisa menyadari bahwa itu ada. Perlahan,
tatapan itu melemahkan satu sama lain. Saat ia akan memejam bersamaan, jarak
yang semakin menipis hingga di satu titik nafas mereka dapat bertemu. Sedikit
lagi saja, Erris dapat menyentuh bibirnya.
Sayangnya, debaran itu berlalu oleh suara
“Teeeeet!” yang panjang –bel tanda jam istirahat berakhir. Uki menarik dirinya,
membalikan badan dan sedikit salah tingkah. Malu-malu, ia menoleh ke Erris
sebentar untuk pamitan.
“Belnya udah bunyi…” katanya, menatap Erris
canggung sedangkan cowok itu belum beranjak dari tempatnya semula "Oh ya,
Kak, soal bantuin aku belajar kayaknya boleh juga tuh," katanya sebelum
pergi. "Kebetulan aku lagi banyak tugas"
***
.jpg)
Komentar
0 comments