[Hal.13][Ch.6] A MAN WITH ROSES

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar
Erris kembali berpidato di depan semua orang. Tapi, Uki sudah nggak tertarik melihatnya. Dia memang tinggi dan sepertinya banyak gadis yang mengidolakannya tapi Uki nggak peduli lagi. Toh, ada yang salah dengan kepribadiannya.

Setelah pidato dari Erris, panitia pun mulai membuka acara hiburan sebelum raja dan ratu MOS diumumkan. Nggak lama, Cassandra sudah berdiri di panggung dan bersiap untuk menyanyi seperti yang dia rencanakan sebelumnya. Suara piano mulai mengalun dan suara indah Cassandra memadukannya dengan lagu Kangen milik Dewa 19. Memang suaranya bagus, dan bikin semua orang bertepuk tangan –apalagi cowok-cowok.

Tapi, Uki malah menguap di bawah pohon pelindung, ditemani Sasha. Uki sudah nggak sabar ingin kembali ke kosannya dan tidur!

“Cewek mode singa itu suaranya bagus juga” kata Sasha dan Uki masih acuh –matanya tengah mengawasi sosok Erris yang berdiri di belakang panggung tapi jelas-jelas melihat kemari.

“Pindah yuk!” ajak Uki sambil menarik tangan Sasha demi menghindari tatapan Erris.

Dia pikir aku takut apa?!, gerutu Uki begitu tempat duduk mereka berikutnya akan jauh dari panggung.

Sepuluh menit kemudian, Cassandra selesai menyanyi. Tapi dia masih berdiri di atas panggung seakan nggak ada penyanyi lain lagi yang lebih menghibur. Dia sudah menyanyikan tiga lagu dari tadi!

“Baiklah, teman-teman semua” dia berbicara dengan penuh percaya diri dan secarik kertas kecil di tangannya yang ia dapatkan dari Melia di belakang panggung. “Kita… punya beberapa request yang sudah masuk ke panitia. Kita mulai dari request yang pertama ya. Buat yang namanya disebutin, silakan maju ke panggung”

Kata-kata Cassandra malah disambut dengan tepuk tangan. Nah, untuk bagian ini sepertinya peserta MOS jadi bersemangat. Apalagi saat Cassandra membuka lipatan kertas kecil yang ia genggam dengan tangannya.

“Baiklah, Rukia tolong maju ke depan”, katanya setelah ia membaca isi secarik kertas kecil itu.

Apa?! Sasha menyikut Uki yang hampir ketiduran karena hawa sejuk di bawah pohon yang membuatnya terbuai. Ia baru sadar saat semua orang memandang ke arahnya.

“Lo disuruh nyanyi tuh!” kata Sasha agak khawatir.

“Hah? Emang siapa yang request aku buat nyanyi?” tanya Uki sambil garuk-garuk kepala.

Sasha angkat bahu. “Lo nggak usah naik deh. Entar lo malah disorakin” ujar Sasha padanya tapi Uki malah berdiri seolah memenuhi tantangan terakhir dari senior yang iseng itu.

“Ki! Mundur!” seru Sasha saat Uki mulai disoraki anak-anak lain saat berjalan ke arah panggung, tentu dengan langkah yang canggung.

Orang-orang ini jumlahnya banyak sekali dan hampir semua dari mereka yang tertawa. Dengan tenang ia menemui Cassandra yang menunggu di sana dengan senyum sinis. Ia menyerahkan microphone-nya. Dari sini, Uki bisa melihat dan mendengar suara sorak sorai yang menolaknya naik panggung. Mungkin inilah terakhir kali senior ini menjebaknya, dan Uki pastikan mereka gagal.

“Wooooi! Apaan nih! Turun!”

“Turun!”

Uki nggak peduli. Dengan santai, ia memasangkan microphone itu pada stick-nya. Memandang ke depan sejenak –kepada orang-orang yang menertawainya. Lalu, ia sedikit menurunkan stick itu agar pas dengan tinggi badannya, Uki masih belum akan mundur dari sana walaupun riuh itu belum akan terkalahkan. Uki mengambil nafas, sebelum ia memulainya.

Haruskah kuulangi lagi

Kata cintaku padamu yakinkan dirimu

Riuh itu mulai berkurang tiba-tiba. Tanpa diiringi musik, Uki bernyanyi sendiri, melawan suara-suara melecehkan yang menyerbunya.

Masihkah terlintas di dada

Keaguan itu susahkan hatimu

Sekarang semua hening, hanya suara Uki yang terdengar –mengalun lewat microphone, menyebar di setiap pengeras suara. Ia menyanyikannya dengan tenang seolah itu memang keahliannya.

Lalu iringan keyboard mulai masuk, menyatu dengan ketukan Uki menyanyi.

Tak akan ada cinta yang lain

Pastikan cintaku hanya untukmu

Pernahkah terbesit olehmu

Aku pun takut kehilangan dirimu

Satu sudut mulai bertepuk tangan. Saat itulah Uki membuka matanya dan melihat, tatapan melecehkan itu sekarang sudah berganti menjadi ketakjuban.

Ingatkah satu bait kenangan

Cerita cinta kia tak mungkin terlupa

Buang semua angan mulukmu

Percaya takdir kita aku cinta padamu

Mereka membiarkan Uki menyanyi, menguasai panggungnya dan menghayati bakatnya untuk menunjukan pada mereka semua bahwa inilah hal yang bisa ia lakukan dengan sangat sempurna. Ia mulai membuat tarian kecil yang ia sesuaikan dengan gerak tubuh dan mimik wajahnya yang seolah tengah mengucapkan cinta kepada seseorang. Suaranya yang tanpa celah, merdu dan jazzy membuat telinga yang mendengarnya seakan terayu.

Tak akan ada cinta yang lain

Pastikan cintaku hanya untukmu

Pernahkah terbesit olehmu

Aku pun takut kehilangan dirimu

Uki mulai tersenyum. Ia menatap ke segala penjuru dengan senyum itu juga, sampai ia melihat beberapa orang guru bertepuk tangan untuknya. Tentu mereka akan suka dengan lagu Dewa 19 yang sudah lama terkenal itu. Nggak terkecuali seseorang yang seingat Uki nggak pernah tersenyum padanya, sekarang ia juga tersenyum.

Erris masih berdiri di sana. Tempat ia mengawasi Uki sejak tadi. Entah kenapa, melihatnya tersenyum membuat Uki senang. Mungkin, ia baru sadar kalau cowok itu memang keren –apalagi kalau senyum.

Begitu lagunya selesai, Uki langsung turun. Ia nggak ingin menyumbang satu lagi walaupun sebagian meminta ia menyanyi lagi. Tapi, sudah saatnya untuk sedikit jual mahal. Dengan yakin, ia kembalikan microphone itu ke Cassandra yang masih pasang tampang jutek –kayaknya nggak suka ada orang lain yang suaranya lebih bagus dari suaranya.

“Ini, aku balikin, Kak” kata Uki, sambil melewatinya. “Lain kali kalau mau ngerjain aku lagi, jangan pernah nyuruh aku nyanyi” sambungnya, sambil tertawa menghampiri Sasha yang sudah menunggunya di belakang panggung.

“Kok lo nggak bilang lo bisa nyanyi sih?” tanya dia kegirangan.

“Nggak pernah nanya” jawab Uki, sambil merangkul pundak Sasha dan membawanya pergi. “Aku mau pulang ah! Capek!”

Akhirnya Masa Operasi Sadis itu berakhir. Kita nggak perlu membalas orang lain dengan hinaan yang sama menyakitkannya dengan yang mereka katakana atau lakukan. Tapi, membalas dengan melakukan apa yang nggak pernah bisa mereka lakukan adalah cara yang lebih elegan daripada menghina. Paling nggak, itulah yang Uki pelajari selama tiga hari ini. Kesabaran dan keyakinan.

Sekali ia menoleh ke belakang, Erris masih berdiri di tempat di mana tadi ia melewatinya tanpa menyapa. Hanya sebuah senyuman –setidaknya itu lebih baik daripada melihat poker-face.

Dan begitulah cara mereka bertemu…

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments