๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Reversal
Hari keempat…
Sebuah panggung sederhana disiapkan di tengah lapangan. Jam dinding raksasa menunjukan hampir jam sembilan –sepuluh menit lagi acara penutupannya dimulai. Tapi belum banyak anak-anak yunior yang berada di barisan kelompok mereka. Mereka masih berpencar ke seluruh lapangan mencari tempat yang teduh karena matahari sudah mulai memanjat ke puncak kepala.
Uki nggak kelihatan di barisan kelompok empat. Ia juga nggak ada di antara anak-anak perempuan yang sedang mengipas wajah dengan selembar buku di bawah pohon taman-taman kecil di pinggir halaman upacara. Hanya Sasha yang sibuk melihat kiri kanan untuk mencari sosok kecil itu di antara ratusan kepala yang memadati halaman depan. Tapi, ia nggak menemukannya.
Sementara itu, di belakang panggung, panitia acara penutupan MOS sudah sibuk sedari pagi. Mengecek sound system, microphone, dan lain-lain. Dari belakang panggung sampai lorong-lorong sekolah yang menghubungkan satu kelas dengan kelas lainnya tampak sepi. Sebagian besar lebih memilih menunggu di sekitar halaman depan. Tapi, suasananya berbeda di ruang sekretariat office yang selalu sibuk didatangi anak-anak OSIS.
Lima menit menjelang acara, satu persatu sudah meninggalkan ruangan berukuran satu kelas itu untuk mengatur barisan siswa baru. Hanya Melia dan Erris yang masih sibuk mempersiapkan pidato terakhirnya.
Erris hanya mengangguk, mengabaikan Melia yang tampak ingin mengatakan sesuatu padanya –mumpung berdua saja. Tapi, mereka tiba-tiba terkejut saat menemukan seseorang sudah berdiri di pintu depan.
Uki. Mau apa dia?
“Bisa bicara sebentar?” kata Uki pada Erris. Tatapannya tajam dan datar, suaranya pun tenang.
“Lo duluan aja, Mel” kata Erris sama Melia yang ragu-ragu ingin pergi. Tapi karena Erris tampak serius, ia pun terpaksa meninggalkan sekretariat OSIS dengan buru-buru.
Setelah memastikan Melia pergi, Uki hampir gentar sama seperti kemarin-kemarin saat ia memandangi ekspresi dingin Erris setiap bertemu. Itu selalu membuatnya bertanya apa orang ini punya perasaan? Apa yang orang ini pikirkan? Setiap menatap matanya, Uki selalu merasa nggak nyaman. Karena Uki tahu, dia nggak seperti senior yang lain, yang senang mempermainkannya, tapi belakangan ada sesuatu yang mengganjal di hatinya –mengapa dia membiarkannya terjadi begitu saja di depan mata kepalanya?
“Aku Cuma mau bilang sesuatu, penting atau nggak penting, tapi tetap harus dikatakan” kata Uki, berusaha untuk tetap tenang walau ia hampir kembali tertunduk, mengumpulkan semua kata-kata di ujung lidahnya. “Aku memang nggak kenal siapapun di sini. Semuanya adalah orang asing tapi aku tahu gimana cara membedakan orang yang masih punya hati dan yang nggak. Di gerbang itu, yang aku tahu pasti, mereka nggak akan ngizinin aku masuk karena bajuku kotor. Tapi, waktu kakak datang dan ngebolehin aku masuk, saat itu aku langsung merasa kalau kakak adalah orang yang baik”
Erris terdiam –menunggu kata-kata Uki bermuara.
Uki terlihat menarik nafas panjang. “Tapi, aku salah,” sambung dia. “Kakak tahu apa kelebihan orang buta daripada orang yang bisa melihat?”. Ya, Uki menyeka sesuatu di sudut matanya yang hampir mengalir. “Karena nggak bisa melihat, orang buta bisa merasakan lebih banyak. Beda sama orang yang bisa melihat, dia kadang nggak bisa merasakannya bahkan di saat dia bisa melihatnya sendiri. Bodohnya, dia malah menutup mata dan berpikir itu bukan urusannya. Pikiran dan rasa memang nggak pernah sejalan. Tapi, ada kalanya saat pikiran mengetuk rasa atas apa yang ia lihat”
Apa cewek itu baru saja menyindirnya?, Erris masih termangu mendengarkan kata-katanya.
“Karena kita diberi hati untuk merasa…” kata Uki, pertahanannya pun mulai runtuh. Ia pun tertunduk sejenak, sebelum kembali dapat menatap Erris dengan sungguh-sungguh. “Dan kalau kita sudah nggak bisa merasa, berarti kita udah nggak punya hati…”
Lalu Uki pun pergi. Ia tampak puas mengatakan semua yang menyumbat kepalanya belakangan karena hari-hari melelahkan yang ia jalani. Ia nggak sabar, penutupannya segera berakhir dengan begitu, ia akan meninggalkan semuanya jadi kenangan.
***
Komentar
0 comments