๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Uki melangkah pelan di koridor lantai dua
bersama Rory. Di sana lapangan olahraga bisa kelihatan lebih jelas. Setelah
dipaksa Rory dengan berbagai alasan, Uki nggak bisa menolak walaupun ia sedikit
gelisah karena mendengar Erris masuk ruang kesehatan. Uki nggak tenang, ia
hanya merasa marah entah pada siapa.
"Ada yang mau aku lihatin ke
kamu," kata Rory dengan mengejutkan. Biasanya dia pakai kata 'lo' dan 'gue',
bukannya 'aku' atau 'kamu' –dengan nada yang lebih lembut juga.
Rory menuntun langkahnya untuk berdiri di
jendela dan melihat sesuatu di bawah sana.
Sebuah barisan rapi anak-anak lain yang
membentuk lambing 'I love you' yang bikin Uki makin deg-degan sekaligus takjub.
Jantungnya berlari seperti mengejar angin yang berhembus siang itu. Lalu ia
menoleh ke sampingnya di mana Rory menatapnya pakai senyum lesung pipi yang harusnya
bikin Uki meleleh. Tapi, tiba-tiba jadi ngeri. Kalau ibaratnya 'penembakan' itu
pakai senjata api, kalau segini ekstrim-nya rasanya kayak pakai senapan mesin
yang bisa bikin orang mati dalam sekejap. Tapi, Uki bisanya cuma melongo, gugup
dan… takut!
Anak-anak itu berdiri di bawah teriknya
sinar matahari jam setengah dua belas siang, tampak kompak lagi. Terbayang
sudah, Rory minta bantuan mereka pakai gaya setengah maksa yang bikin mereka
jadi ciut kalau menolak. Semua melihat ucapan itu, ada yag bersorak
“Wuuuu!" ada yang tertawa sambil geleng-geleng kepala. Sebagian besar dari
mereka melempar pandangan kepada Uki yang berdiri di jendela dengan perasaan
takjub sambil bilang "Rory, so sweet banget…". Sudah pasti jua mereka
berharap bakal ditembak cowok itu pakai cara beginian.
Sayangnya, pertunjukan barisan hanya bisa
berlangsung selama kurang dari semenit. Begitu mendengar tiupan pluit Pak
Septa, guru Olahraga yang gerah, mereka semua kabur dan berhamburan. Seperti
razia banci, anak-anak itu berlarian ke segala penjuru. Meski hanya sebentar
bisa melihatnya, Uki merasa tersentuh. Sekarang, semuanya sudah terlalu
terlambat.
***
Erris memikirkan semuanya kembali. Mencoba
menerima, wajar kalau Uki menerima sahabatnya itu. Rory orang yang
menyenangkan, dia seorang lelaki sejati. Orang seperti itulah yang mungkin
dibutuhkan Uki untuk bisa bahagia.
"Erris?" suara itu membangunkan
Erris dari tidur ayam yang bikin ia gelisah dari tadi. Mana bisa tidur kalau di
luar itu ribut banget! Apalagi cewek-cewek itu sudah kayak burung murai yang
nggak berhenti berkicau sebelum dikasih makan. Dan Erris segera membalikan
badannya untuk bisa melihat siapa yang datang, walau tiba-tiba jantungnya
berdetak keras karena amat mengenali suara lemah dan kecil itu.
Erris terkesiap untuk bangkit, lalu
menemukan Uki berdiri di dekat tempat tidur.
"Kamu nggak apa-apa?" tanya Uki
sambil duduk di dekat Erris yang sepenuhnya belum mau percaya.
Uki mengusahakan sebuah senyum di bibirnya
yang membentuk garis tipis dan samar. Ia menelan ludah. Dan matanya yang merah
menunjukan ia baru saja habis menangis. Suaranya gemetar dan ketakutan terlihat
jelas di matanya yang basah. Uki menarik nafas, menahan kesedihan berupa air
mata yang nggak bisa berhenti menetes.
"Kamu ngapain di sini?", tanya
Erris, tanpa putus memandang raut Uki yang merana. Tapi, Uki nggak menjawab. Ia
hanya tertunduk sambil menyeka air matanya yang berulang kali menetes dengan
gelisah.
Keduanya tampak begitu sedih sedangkan
seharusnya mereka bisa ketawa kayak biasa seolah mereka nggak pernah berselisih.
Perlahan Erris mengulurkan kedua tangannya untuk bisa meraih Uki, menghapus
setetes demi setetes air mata yang membuat wajah Uki kusut. "Maafin
aku..." kata Erris pelan dan membelai puncak kepala Uki dengan tangannya
yang gemetaran sebelum Erris memeluk tubuh kecilnya yang rapuh.
Uki mengangguk-angguk sambil bersandar di
bahunya sebelum Erris tersadar bahwa di depannya hanyalah dinding kosong. Nggak
ada siapapun yang datang ke sini untuk menengoknya sejak teman-temannya pergi.
Alangkah miris dirinya saat ini. Tapi, keputusan sudah dibuat dan suatu hari nanti, pasti mereka akan menyesali
semua ini…
***
"Tugas anak sekolah itu ya belajar,
bukan pacaran," kata Pak Septa membuat suasana hati Rory tambah buruk.
"Kali ini Bapak maafkan karena kamu nggak berkelahi"
Pak Septa pergi setelah menjadikan Rory
tontonan sebagai pelajaran bagi yang lain. Bisa-bisa peraturan dilarang pacaran
akan segera dikeluarkan. Tapi, Rory nggak peduli soal itu. Ia memperhatikan
sekelilingnya, anak-anak lain memandang ke arahnya. Ada yang prihatin, ada juga
yang mengejek tapi masih ada yang senang karena masih punya kesempatan jadi
pacarnya.
"Yuk..." ajak Damar sambil
menepuk bahunya.
"Itu biasa kok, Ror..." ujar
Laras di sampingnya.
Dengan lesu, Rory meninggalkan lapangan
olahraga dan tahu-tahu mereka dihadang duo yin yang, Melia dan Cassandra.
"Congratulation
ya, Rory..." ucap Cassandra yang sepertinya puas sekali setelah tadi
uring-uringan karena patah hati. "Sekarang lo bukan hanya cowok paling
keren di sekolah, tapi paling menyedihkan juga!"
"Apa lo bilang?!" geram Laras dan
langsung menghampiri mereka. Sebenarnya sudah lama Laras nggak tahan dengan dua
cewek pengganggu dan berisik itu!
"Jangan diladenin, Ras!" Damar
menariknya kembali, sebelum Laras menjambak rambut salah seorang dari mereka.
Sambil terkekeh, merayakan kegagalan Rory,
mereka pun segera berlalu karena Rory memilih untuk mengabaikan mereka daripada
bikin hatinya tambah mumet. Tapi bikin keki juga karena Cassandra tampak puas,
sakit hatinya terbalas dengan apa yang diterima Rory setelah cowok itu
membuatnya patah hati sejam yang lalu.
***
Seminggu kemudian…
Uki menutup buku raportnya dan segera
menyimpannya dalam tas begitu ada yang datang. Ia sangat malu akan angka-angka
dengan tinta merah yang tertera di dalamnya. Apa lagi kalau itu dilihat orang
lain, angka itu seakan bertanduk dan menertawainya. Tapi, dia dapat piala juara
satu lomba nyanyi.
"Selamat ya..." kata Sasha untuk
tropi lomba menyanyi Uki sambil duduk di sampingnya.
Uki tersenyum dengan sedikit malu,
mudah-mudahan Erris nggak bertanya bagaimana nilai di rapornya. Tapi, Sasha
juga sudah tahu begoknya Uki memang udah kebangetan dan tersiar ke mana-mana
berkat Rory.
"Erris, Rory, Laras dan Damar kabarnya
pergi liburan ke Anyer. Lo ada rencana pulang kampung ya?" tanya Sasha,
sepertinya masih khawatir.
Uki mengangguk. Ya, dia memang kangen
pulang. Liburan dua minggu ke depan memang hal yang paling dia tunggu-tunggu
sepanjang semester ini. Tapi, entah kenapa rasanya ia ingin menangis. Saat itu
Sasha berada di posisi yang tepat buat Uki ketika akhirnya ia meneteskan air
mata. Uki bersandar ke pundaknya dan Sasha memeluknya sambil menepuk-nepuk
punggungnya. Ia belum pernah merasa sesedih ini seumur hidupnya.
Sekolah makin sepi begitu lewat dari jam
satu. Nggak ada lagi kesibukan berarti setelah semua murid membawa pulang hasil
kerja keras mereka selama enam bulan ini. Tapi, di satu ruang kelas, seseorang
masih terlihat duduk di salah satu kursi dengan wajah murung.
“Ror, cabut yuk!” ajak Damar yang tiba-tiba
muncul di depan pintu dan seketika Rory tersadar, ia sudah duduk melamun di
sana sejak pembagian rapor selesai.
Rory segera berdiri. Tanpa menyahut, ia
menghampiri Damar yang tengah merangkul Laras di sampingnya dan mereka berjalan
dengan santai di depannya. Rory menghela nafas –kedua sahabatnya itu memang
serasi dan sudah dua tahun mereka bersama. Seketika harapan kosong itu kembali
berbunyi, beberapa hari lalu ia merasa begitu yakin bahwa ia juga bisa
menggandeng Uki di depan teman-temannya. Tapi, semua itu hanya tinggal harapan.
Sebuah kata ‘tidak’ menghancurkan perasaannya dalam satu detik saja.
Di parkiran, Erris sudah menunggu mereka.
Rautnya juga nggak berbeda. Murung dan tak dapat terkatakan. Masih tanpa suara,
mereka masuk ke mobil dan selama hampir sepuluh menit ngaak ada seorang pun
yang mau bicara.
“Jadi… lo beneran nggak bisa ikut, Ris?”
tanya Damar tiba-tiba, memecah kesunyian yang nggak biasa di dalam mobil.
“Sorry” jawab Erris datar. “Gue masih
banyak urusan”
Damar pun diam. ia lirik Laras di
sampingnya. Sang pacar memandang jauh keluar jendela seolah nggak peduli ada
badai es di dalam mobil sejak Rory menjadi begitu pemurung gara-gara patah
hati. Ditolak Uki membuat mentalnya meleleh. Suasana selalu mendung, walaupun
Damar menjadi semakin banyak bicara. Sungguh, nggak ada lagi tawa atau canda
mengejek yang bikin Rory bersumpah serapah sambil cekikikan.
Lalu setelah itu hening.
***
.jpg)
Komentar
0 comments