[Baca Novel Dewasa] A Man with Roses Ch. 14 (Hal. 37)

๐ŸŒœ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ŸŒ› Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐Ÿฅณ

Info Gambar

Uki melangkah pelan di koridor lantai dua bersama Rory. Di sana lapangan olahraga bisa kelihatan lebih jelas. Setelah dipaksa Rory dengan berbagai alasan, Uki nggak bisa menolak walaupun ia sedikit gelisah karena mendengar Erris masuk ruang kesehatan. Uki nggak tenang, ia hanya merasa marah entah pada siapa.

"Ada yang mau aku lihatin ke kamu," kata Rory dengan mengejutkan. Biasanya dia pakai kata 'lo' dan 'gue', bukannya 'aku' atau 'kamu' –dengan nada yang lebih lembut juga.

Rory menuntun langkahnya untuk berdiri di jendela dan melihat sesuatu di bawah sana.

Sebuah barisan rapi anak-anak lain yang membentuk lambing 'I love you' yang bikin Uki makin deg-degan sekaligus takjub. Jantungnya berlari seperti mengejar angin yang berhembus siang itu. Lalu ia menoleh ke sampingnya di mana Rory menatapnya pakai senyum lesung pipi yang harusnya bikin Uki meleleh. Tapi, tiba-tiba jadi ngeri. Kalau ibaratnya 'penembakan' itu pakai senjata api, kalau segini ekstrim-nya rasanya kayak pakai senapan mesin yang bisa bikin orang mati dalam sekejap. Tapi, Uki bisanya cuma melongo, gugup dan… takut!

Anak-anak itu berdiri di bawah teriknya sinar matahari jam setengah dua belas siang, tampak kompak lagi. Terbayang sudah, Rory minta bantuan mereka pakai gaya setengah maksa yang bikin mereka jadi ciut kalau menolak. Semua melihat ucapan itu, ada yag bersorak “Wuuuu!" ada yang tertawa sambil geleng-geleng kepala. Sebagian besar dari mereka melempar pandangan kepada Uki yang berdiri di jendela dengan perasaan takjub sambil bilang "Rory, so sweet banget…". Sudah pasti jua mereka berharap bakal ditembak cowok itu pakai cara beginian.

Sayangnya, pertunjukan barisan hanya bisa berlangsung selama kurang dari semenit. Begitu mendengar tiupan pluit Pak Septa, guru Olahraga yang gerah, mereka semua kabur dan berhamburan. Seperti razia banci, anak-anak itu berlarian ke segala penjuru. Meski hanya sebentar bisa melihatnya, Uki merasa tersentuh. Sekarang, semuanya sudah terlalu terlambat.

***

Erris memikirkan semuanya kembali. Mencoba menerima, wajar kalau Uki menerima sahabatnya itu. Rory orang yang menyenangkan, dia seorang lelaki sejati. Orang seperti itulah yang mungkin dibutuhkan Uki untuk bisa bahagia.

"Erris?" suara itu membangunkan Erris dari tidur ayam yang bikin ia gelisah dari tadi. Mana bisa tidur kalau di luar itu ribut banget! Apalagi cewek-cewek itu sudah kayak burung murai yang nggak berhenti berkicau sebelum dikasih makan. Dan Erris segera membalikan badannya untuk bisa melihat siapa yang datang, walau tiba-tiba jantungnya berdetak keras karena amat mengenali suara lemah dan kecil itu.

Erris terkesiap untuk bangkit, lalu menemukan Uki berdiri di dekat tempat tidur.

"Kamu nggak apa-apa?" tanya Uki sambil duduk di dekat Erris yang sepenuhnya belum mau percaya.

Uki mengusahakan sebuah senyum di bibirnya yang membentuk garis tipis dan samar. Ia menelan ludah. Dan matanya yang merah menunjukan ia baru saja habis menangis. Suaranya gemetar dan ketakutan terlihat jelas di matanya yang basah. Uki menarik nafas, menahan kesedihan berupa air mata yang nggak bisa berhenti menetes.

"Kamu ngapain di sini?", tanya Erris, tanpa putus memandang raut Uki yang merana. Tapi, Uki nggak menjawab. Ia hanya tertunduk sambil menyeka air matanya yang berulang kali menetes dengan gelisah.

Keduanya tampak begitu sedih sedangkan seharusnya mereka bisa ketawa kayak biasa seolah mereka nggak pernah berselisih. Perlahan Erris mengulurkan kedua tangannya untuk bisa meraih Uki, menghapus setetes demi setetes air mata yang membuat wajah Uki kusut. "Maafin aku..." kata Erris pelan dan membelai puncak kepala Uki dengan tangannya yang gemetaran sebelum Erris memeluk tubuh kecilnya yang rapuh.

Uki mengangguk-angguk sambil bersandar di bahunya sebelum Erris tersadar bahwa di depannya hanyalah dinding kosong. Nggak ada siapapun yang datang ke sini untuk menengoknya sejak teman-temannya pergi. Alangkah miris dirinya saat ini. Tapi, keputusan sudah dibuat dan  suatu hari nanti, pasti mereka akan menyesali semua ini…

***

"Tugas anak sekolah itu ya belajar, bukan pacaran," kata Pak Septa membuat suasana hati Rory tambah buruk. "Kali ini Bapak maafkan karena kamu nggak berkelahi"

Pak Septa pergi setelah menjadikan Rory tontonan sebagai pelajaran bagi yang lain. Bisa-bisa peraturan dilarang pacaran akan segera dikeluarkan. Tapi, Rory nggak peduli soal itu. Ia memperhatikan sekelilingnya, anak-anak lain memandang ke arahnya. Ada yang prihatin, ada juga yang mengejek tapi masih ada yang senang karena masih punya kesempatan jadi pacarnya.

"Yuk..." ajak Damar sambil menepuk bahunya.

"Itu biasa kok, Ror..." ujar Laras di sampingnya.

Dengan lesu, Rory meninggalkan lapangan olahraga dan tahu-tahu mereka dihadang duo yin yang, Melia dan Cassandra.

"Congratulation ya, Rory..." ucap Cassandra yang sepertinya puas sekali setelah tadi uring-uringan karena patah hati. "Sekarang lo bukan hanya cowok paling keren di sekolah, tapi paling menyedihkan juga!"

"Apa lo bilang?!" geram Laras dan langsung menghampiri mereka. Sebenarnya sudah lama Laras nggak tahan dengan dua cewek pengganggu dan berisik itu!

"Jangan diladenin, Ras!" Damar menariknya kembali, sebelum Laras menjambak rambut salah seorang dari mereka.

Sambil terkekeh, merayakan kegagalan Rory, mereka pun segera berlalu karena Rory memilih untuk mengabaikan mereka daripada bikin hatinya tambah mumet. Tapi bikin keki juga karena Cassandra tampak puas, sakit hatinya terbalas dengan apa yang diterima Rory setelah cowok itu membuatnya patah hati sejam yang lalu.

 ***

Seminggu kemudian…

Uki menutup buku raportnya dan segera menyimpannya dalam tas begitu ada yang datang. Ia sangat malu akan angka-angka dengan tinta merah yang tertera di dalamnya. Apa lagi kalau itu dilihat orang lain, angka itu seakan bertanduk dan menertawainya. Tapi, dia dapat piala juara satu lomba nyanyi.

"Selamat ya..." kata Sasha untuk tropi lomba menyanyi Uki sambil duduk di sampingnya.

Uki tersenyum dengan sedikit malu, mudah-mudahan Erris nggak bertanya bagaimana nilai di rapornya. Tapi, Sasha juga sudah tahu begoknya Uki memang udah kebangetan dan tersiar ke mana-mana berkat Rory.

"Erris, Rory, Laras dan Damar kabarnya pergi liburan ke Anyer. Lo ada rencana pulang kampung ya?" tanya Sasha, sepertinya masih khawatir.

Uki mengangguk. Ya, dia memang kangen pulang. Liburan dua minggu ke depan memang hal yang paling dia tunggu-tunggu sepanjang semester ini. Tapi, entah kenapa rasanya ia ingin menangis. Saat itu Sasha berada di posisi yang tepat buat Uki ketika akhirnya ia meneteskan air mata. Uki bersandar ke pundaknya dan Sasha memeluknya sambil menepuk-nepuk punggungnya. Ia belum pernah merasa sesedih ini seumur hidupnya.

Sekolah makin sepi begitu lewat dari jam satu. Nggak ada lagi kesibukan berarti setelah semua murid membawa pulang hasil kerja keras mereka selama enam bulan ini. Tapi, di satu ruang kelas, seseorang masih terlihat duduk di salah satu kursi dengan wajah murung.

“Ror, cabut yuk!” ajak Damar yang tiba-tiba muncul di depan pintu dan seketika Rory tersadar, ia sudah duduk melamun di sana sejak pembagian rapor selesai.

Rory segera berdiri. Tanpa menyahut, ia menghampiri Damar yang tengah merangkul Laras di sampingnya dan mereka berjalan dengan santai di depannya. Rory menghela nafas –kedua sahabatnya itu memang serasi dan sudah dua tahun mereka bersama. Seketika harapan kosong itu kembali berbunyi, beberapa hari lalu ia merasa begitu yakin bahwa ia juga bisa menggandeng Uki di depan teman-temannya. Tapi, semua itu hanya tinggal harapan. Sebuah kata ‘tidak’ menghancurkan perasaannya dalam satu detik saja.

Di parkiran, Erris sudah menunggu mereka. Rautnya juga nggak berbeda. Murung dan tak dapat terkatakan. Masih tanpa suara, mereka masuk ke mobil dan selama hampir sepuluh menit ngaak ada seorang pun yang mau bicara.

“Jadi… lo beneran nggak bisa ikut, Ris?” tanya Damar tiba-tiba, memecah kesunyian yang nggak biasa di dalam mobil.

“Sorry” jawab Erris datar. “Gue masih banyak urusan”

Damar pun diam. ia lirik Laras di sampingnya. Sang pacar memandang jauh keluar jendela seolah nggak peduli ada badai es di dalam mobil sejak Rory menjadi begitu pemurung gara-gara patah hati. Ditolak Uki membuat mentalnya meleleh. Suasana selalu mendung, walaupun Damar menjadi semakin banyak bicara. Sungguh, nggak ada lagi tawa atau canda mengejek yang bikin Rory bersumpah serapah sambil cekikikan.

Lalu setelah itu hening.

***

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments