[Baca Novel Dewasa] A Man with Roses Ch. 14 (Hal. 36)

🌜 Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia 🌛 Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari🥳

Info Gambar

Pesta sudah berlangsung separuhnya saat malam menunjukan jam sembilan. Untungnya ini hari Sabtu sehingga nggak ada yang perlu takut telat bangun besok pagi. Erris sudah menerima kejutannya, kue tart dengan lilin angka delapan belas menyala untuk ditiup. Ia dikelilingi oleh teman-temannya sedangkan Uki menyanyikan Happy Birthday to You dengan khidmat. Ah, bagaimana sih rasanya nyanyi di depan mantan pacar yang  berulang tahun dan dikelilingi sama cewek-cewek? Kalau Uki nggak kuat iman sudah pasti ia turun panggung dan berlari sambil nangis ke toilet. Tapi, tentu semuanya bakal tahu dan setelah itu hidupnya menjadi gelap.

Untungnya ada seseorang yang membuatnya sibuk di panggung –Evan. Cowok itu ternyata juga penyanyi café, suaranya nggak kalah keren dari penyanyi lain yang sudah nyumbang berberapa lagu sejak acara dimulai. Kalau boleh diibaratkan suara Evan yang super tinggi itu perpaduan antara suara Anji Drive dan Fadli Padi. Bikin Uki merinding saat duet dengannya tapi di akhir lagu semua orang berseru sambil tepuk tangan.

Ternyata Evan orangnya ramah juga plus sama seperti Uki yang jago akustik. Jadi begitu giliran mereka lagi nggak nyanyi, mereka mulai ngobrol. Sedangkan Eliza menghilang entah kemana sementara yang berulang tahun sudah diceburkan ke kolam renang di belakang café yang biasanya di-set untuk pool party. Semua orang menuju ke sana untuk melihat bagaimana Erris kembali jadi bulan-bulanan seperti tadi siang.

Ya, dia berada di dalam kolam bersama beberapa orang yang ikut-ikutan tercebur karena mereka mulai ‘ngamuk’. Uki hanya melihat sebentar sebelum ia pergi mengambil sesuatu di dalam tasnya –kado untuk Erris yang belum sempat diserahkan. Walaupun nggak ada istimewanya karena hanya sebuah kartu ucapan berisi puisi tanpa nama dan sekotak mawah merah yang diawetkan. Ia mulai mencari-cari tempat di mana ia bisa menyelipkan kadonya. Yang ketemu hanya jaket Erris yang tersandar di kursi yang ia duduki tadi.

Lalu Uki meraih gitarnya. Saat semua orang berada di kolam renang, Uki menyelinap keluar dari café sambil menyeka air matanya. Berada di antara mereka memang nggak cocok untuknya.

***

"Erris, awas!!" teriakan Damar menggema di dalam aula di mana semua orang terkesiap berdiri dari tempat duduk mereka. Melihat ke tengah-tengah lapangan basket di mana pertandingan antar kelas tengah berlangsung.

Erris sudah rubuh di lantai dengan rasa sakit menyengat di wajahnya, merambat dengan cepat ke otaknya. Waktu ia lihat Damar mendekat dengan panik, semua mulai gelap.

Tahu-tahu saat sudah sadar, ia melihat seseorang yang membuatnya shock. Erris langsung bangkit dengan gugup.

"Kamu udah nggak apa-apa kan?" tanya cewek berambut lurus sebahu yang duduk di tempat tidurnya –Melia. Cewek itu sudah semakin berani menempelinya sejak ia punya kesempatan ketika perayaan ulang tahun Erris dan dia berhasil terpilih. Lama-lama dia mulai kelihatan seperti Cassandra yang kelewat agresif sama Rory.

Erris menjauh darinya dengan beringsut. Saat ini, ia nggak membutuhkan seorang cewek cantik untuk membuatnya merasa baikan. Malahan kehadiran Melia yang sok perhatian malah bikin kepalanya jadi tambah sakit.

"Minggir! Minggir!" Rory menghalau mereka, dengan masih mengenakan baju olahraga, walau samar-samar di pandangan Erris, masih terlihat gagah. Yah, dialah Rory yang kadang-kadang bikin Erris jadi iri.

"Kaca mata gue mana?" tanya Erris, penglihatannya yang buram membuatnya sedikit gelisah. Seperti dikepung oleh kaca yang buram.

"Hancur," jawab Damar yang tampak berdiri di ambang pintu ruang UKS.

Erris menerawang, sambil menahan sakit di kepalanya yang berdenyit. Dan menemukan ada seorang cewek lagi selain Laras yang ada di ruangan itu. Dari ciri-cirinya yang berambut panjang, itu pasti Cassandra.

"Lo ngelamun ya tadi?" tanya Rory yang nggak habis pikir mengingat kejadian dua jam yang lalu saat cewek-cewek histeris melihat bola menghantam wajah Erris.

Erris sama sekali nggak sadar. Dia shock waktu melihat si bundar berwarna coklat yang keras itu melesat ke arahnya.

"Gue kan udah bilang, gue nggak bisa main..." Erris berkelit, bukannya dia sudah menolak berkali-kali untuk jadi anggota tim basket dari kelasnya?

"Bukan itu masalahnya," tegas Damar. "Sebelumnya lo nggak pernah ketimpuk bola, di muka lagi! Malu-maluin, tau nggak?! Kenapa tiba-tiba lo jadi hang sih?"

"Iih, lo apa-apaan sih, Mar?" celetuk Melia sambil mendorong Rory menjauh dari Erris supaya bisa duduk dekat-dekat.

Suara langkah kaki lain tiba-tiba mulai terdengar, sayup dan perlahan mendekat. Ada yang datang saat Melia dan Rory saling sewot kayak mau adu tinju.

"Eh, Uki, gimana lomba nyanyinya? Menang nggak?" tanya Damar pada Uki yang sudah berdiri di pintu.

Uki melihat ke dalam, dengan ragu-ragu. Dan Rory, yang sedang jengkel mendadak ceria. "Uki?" sapanya mengabaikan Cassandra yang pasti pasang tampang cemberut.

Apa Uki datang karena cemas?, Erris seperti baru minum seteguk air dari oasis yang ia temukan di tengah padang pasir. Tapi, keadaan ini membuat hal itu menjadi fatamorgana.

"Lo cemas juga?" tanya Rory pada Uki yang tiba-tiba jadi bingung. Gimana enggak? mereka lengkap di tambah dua tukang bully yang langsung pasang muka jutek melihat Uki datang. "Si Erris udah nggak apa-apa kok..."

Erris diam saja, terpaksa membiarkan Uki berpikiran yang nggak-nggak soal Melia yang duduk di sisi tempat tidur Erris. Tapi, hatinya jadi sakit. Andai dia bisa menyebutkan nama Uki, sebagai tanda kalau ia sangat membutuhkannya sebelum Uki salah paham tapi…

Semuanya jadi makin keliru, saat menemukan Uki tiba-tiba jadi kesal dan nggak ada seorang pun yang sadar kalau kedatangannya bukan karena Rory, bukan karena Erris temannya Rory. Padahal, Uki datang karena kabar Erris cedera saat tanding basket dua jam lalu sudah tersiar ke mana-mana. Banyak cewek-cewek yang khawatir, makanya beberapa saat lalu sebelum Laras, Damar dan Rory mengamankan, di depan pintu ruang UKS banyak banget yang ngantri buat menjenguk.

"Eh, Uki, ikut gue bentar yuk!", Rory mengajak Uki pergi dan cewek itu hanya sempat berdiri kurang dari dua menit di sana.

Melirik ke dalam sebentar sambil merengut dan bingung, Uki pun manut dan segera hilang dari pandangan Erris.

"Masa sih Rory suka sama cewek yang modelnya begitu?" gerutu Cassandra sebal, melihat pemandangan barusan. Rory langsung ngacir sama si cebol? Nggak bisa diterima!

Damar tertawa sinis. "Lo nyerah aja deh, sekarang, Cas..." katanya. "Hari ini Rory bakal nembak Uki"

Rory bakal bikin Uki terpesona sama rencananya. Cassandra yang mengetahuinya langsung uring-uringan meninggalkan ruangan dengan bersungut-sungut. Terpaksa Melia juga pergi walaupun dia nggak ingin.

"Lo udah baikan kan?!" tanya Damar padanya. "Kita keluar yuk, gue penasaran banget nih sama kerjaannya si Rory"

"Nggak ah, gue di sini aja, mau tidur sebentar lagi," katanya sambil beringsut ke bawah untuk merebahkan tubuhnya yang lemas.

"Ya udah" kata Damar sebelum pergi, lalu hening.

Jika ini memang harus terjadi, terjadilah, katanya sambil membayangkan saat-saat semua akan makin sulit baginya. Memvisualisasikan penjelasan Damar di dalam kepalanya soal scenario penembakan yang dibuat Rory supaya Uki terkesan terus bilang 'iya' dan Rory bakal melompat kegirangan.

***

Posted by
Home For You Wattpad Instagram Facebook TikTok Threads
Tautan disalin

Komentar

0 comments