🌜 Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia 🌛 Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari🥳
Pesta sudah berlangsung separuhnya saat
malam menunjukan jam sembilan. Untungnya ini hari Sabtu sehingga nggak ada yang
perlu takut telat bangun besok pagi. Erris sudah menerima kejutannya, kue tart
dengan lilin angka delapan belas menyala untuk ditiup. Ia dikelilingi oleh
teman-temannya sedangkan Uki menyanyikan Happy Birthday to You dengan khidmat.
Ah, bagaimana sih rasanya nyanyi di depan mantan pacar yang berulang tahun dan dikelilingi sama
cewek-cewek? Kalau Uki nggak kuat iman sudah pasti ia turun panggung dan
berlari sambil nangis ke toilet. Tapi, tentu semuanya bakal tahu dan setelah
itu hidupnya menjadi gelap.
Untungnya ada seseorang yang membuatnya
sibuk di panggung –Evan. Cowok itu ternyata juga penyanyi café, suaranya nggak
kalah keren dari penyanyi lain yang sudah nyumbang berberapa lagu sejak acara
dimulai. Kalau boleh diibaratkan suara Evan yang super tinggi itu perpaduan
antara suara Anji Drive dan Fadli Padi. Bikin Uki merinding saat duet dengannya
tapi di akhir lagu semua orang berseru sambil tepuk tangan.
Ternyata Evan orangnya ramah juga plus sama
seperti Uki yang jago akustik. Jadi begitu giliran mereka lagi nggak nyanyi,
mereka mulai ngobrol. Sedangkan Eliza menghilang entah kemana sementara yang
berulang tahun sudah diceburkan ke kolam renang di belakang café yang biasanya
di-set untuk pool party. Semua orang menuju ke sana untuk melihat bagaimana
Erris kembali jadi bulan-bulanan seperti tadi siang.
Ya, dia berada di dalam kolam bersama
beberapa orang yang ikut-ikutan tercebur karena mereka mulai ‘ngamuk’. Uki
hanya melihat sebentar sebelum ia pergi mengambil sesuatu di dalam tasnya –kado
untuk Erris yang belum sempat diserahkan. Walaupun nggak ada istimewanya karena
hanya sebuah kartu ucapan berisi puisi tanpa nama dan sekotak mawah merah yang
diawetkan. Ia mulai mencari-cari tempat di mana ia bisa menyelipkan kadonya.
Yang ketemu hanya jaket Erris yang tersandar di kursi yang ia duduki tadi.
Lalu Uki meraih gitarnya. Saat semua orang
berada di kolam renang, Uki menyelinap keluar dari café sambil menyeka air
matanya. Berada di antara mereka memang nggak cocok untuknya.
***
"Erris, awas!!" teriakan Damar
menggema di dalam aula di mana semua orang terkesiap berdiri dari tempat duduk
mereka. Melihat ke tengah-tengah lapangan basket di mana pertandingan antar
kelas tengah berlangsung.
Erris sudah rubuh di lantai dengan rasa
sakit menyengat di wajahnya, merambat dengan cepat ke otaknya. Waktu ia lihat
Damar mendekat dengan panik, semua mulai gelap.
Tahu-tahu saat sudah sadar, ia melihat
seseorang yang membuatnya shock. Erris langsung bangkit dengan gugup.
"Kamu udah nggak apa-apa kan?"
tanya cewek berambut lurus sebahu yang duduk di tempat tidurnya –Melia. Cewek
itu sudah semakin berani menempelinya sejak ia punya kesempatan ketika perayaan
ulang tahun Erris dan dia berhasil terpilih. Lama-lama dia mulai kelihatan
seperti Cassandra yang kelewat agresif sama Rory.
Erris menjauh darinya dengan beringsut.
Saat ini, ia nggak membutuhkan seorang cewek cantik untuk membuatnya merasa
baikan. Malahan kehadiran Melia yang sok perhatian malah bikin kepalanya jadi
tambah sakit.
"Minggir! Minggir!" Rory
menghalau mereka, dengan masih mengenakan baju olahraga, walau samar-samar di
pandangan Erris, masih terlihat gagah. Yah, dialah Rory yang kadang-kadang
bikin Erris jadi iri.
"Kaca mata gue mana?" tanya
Erris, penglihatannya yang buram membuatnya sedikit gelisah. Seperti dikepung
oleh kaca yang buram.
"Hancur," jawab Damar yang tampak
berdiri di ambang pintu ruang UKS.
Erris menerawang, sambil menahan sakit di
kepalanya yang berdenyit. Dan menemukan ada seorang cewek lagi selain Laras
yang ada di ruangan itu. Dari ciri-cirinya yang berambut panjang, itu pasti
Cassandra.
"Lo ngelamun ya tadi?" tanya Rory
yang nggak habis pikir mengingat kejadian dua jam yang lalu saat cewek-cewek
histeris melihat bola menghantam wajah Erris.
Erris sama sekali nggak sadar. Dia shock
waktu melihat si bundar berwarna coklat yang keras itu melesat ke arahnya.
"Gue kan udah bilang, gue nggak bisa
main..." Erris berkelit, bukannya dia sudah menolak berkali-kali untuk
jadi anggota tim basket dari kelasnya?
"Bukan itu masalahnya," tegas
Damar. "Sebelumnya lo nggak pernah ketimpuk bola, di muka lagi!
Malu-maluin, tau nggak?! Kenapa tiba-tiba lo jadi hang sih?"
"Iih, lo apa-apaan sih, Mar?"
celetuk Melia sambil mendorong Rory menjauh dari Erris supaya bisa duduk
dekat-dekat.
Suara langkah kaki lain tiba-tiba mulai
terdengar, sayup dan perlahan mendekat. Ada yang datang saat Melia dan Rory
saling sewot kayak mau adu tinju.
"Eh, Uki, gimana lomba nyanyinya?
Menang nggak?" tanya Damar pada Uki yang sudah berdiri di pintu.
Uki melihat ke dalam, dengan ragu-ragu. Dan
Rory, yang sedang jengkel mendadak ceria. "Uki?" sapanya mengabaikan
Cassandra yang pasti pasang tampang cemberut.
Apa Uki datang karena cemas?, Erris seperti
baru minum seteguk air dari oasis yang ia temukan di tengah padang pasir. Tapi,
keadaan ini membuat hal itu menjadi fatamorgana.
"Lo cemas juga?" tanya Rory pada
Uki yang tiba-tiba jadi bingung. Gimana enggak? mereka lengkap di tambah dua
tukang bully yang langsung pasang muka jutek melihat Uki datang. "Si Erris
udah nggak apa-apa kok..."
Erris diam saja, terpaksa membiarkan Uki
berpikiran yang nggak-nggak soal Melia yang duduk di sisi tempat tidur Erris.
Tapi, hatinya jadi sakit. Andai dia bisa menyebutkan nama Uki, sebagai tanda
kalau ia sangat membutuhkannya sebelum Uki salah paham tapi…
Semuanya jadi makin keliru, saat menemukan
Uki tiba-tiba jadi kesal dan nggak ada seorang pun yang sadar kalau
kedatangannya bukan karena Rory, bukan karena Erris temannya Rory. Padahal, Uki
datang karena kabar Erris cedera saat tanding basket dua jam lalu sudah tersiar
ke mana-mana. Banyak cewek-cewek yang khawatir, makanya beberapa saat lalu
sebelum Laras, Damar dan Rory mengamankan, di depan pintu ruang UKS banyak
banget yang ngantri buat menjenguk.
"Eh, Uki, ikut gue bentar yuk!",
Rory mengajak Uki pergi dan cewek itu hanya sempat berdiri kurang dari dua
menit di sana.
Melirik ke dalam sebentar sambil merengut
dan bingung, Uki pun manut dan segera hilang dari pandangan Erris.
"Masa sih Rory suka sama cewek yang
modelnya begitu?" gerutu Cassandra sebal, melihat pemandangan barusan.
Rory langsung ngacir sama si cebol? Nggak bisa diterima!
Damar tertawa sinis. "Lo nyerah aja
deh, sekarang, Cas..." katanya. "Hari ini Rory bakal nembak Uki"
Rory bakal bikin Uki terpesona sama
rencananya. Cassandra yang mengetahuinya langsung uring-uringan meninggalkan
ruangan dengan bersungut-sungut. Terpaksa Melia juga pergi walaupun dia nggak
ingin.
"Lo udah baikan kan?!" tanya
Damar padanya. "Kita keluar yuk, gue penasaran banget nih sama kerjaannya
si Rory"
"Nggak ah, gue di sini aja, mau tidur
sebentar lagi," katanya sambil beringsut ke bawah untuk merebahkan
tubuhnya yang lemas.
"Ya udah" kata Damar sebelum
pergi, lalu hening.
Jika ini memang harus terjadi, terjadilah,
katanya sambil membayangkan saat-saat semua akan makin sulit baginya.
Memvisualisasikan penjelasan Damar di dalam kepalanya soal scenario penembakan
yang dibuat Rory supaya Uki terkesan terus bilang 'iya' dan Rory bakal melompat
kegirangan.
***
.jpg)
Komentar
0 comments