🌜 Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia 🌛 Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari🥳
Tepat jam enam, BMW Silver Rory sudah
nangkring di depan pagar. Suara klaksonnya membuat beberapa orang teman kos Uki
terpancing keluar. Siapa tuh? Tanya mereka sambil menelisik keluar. Si Uki
cowoknya ganti!, begitulah anggapan mereka saat akhirnya Uki keluar dari rumah
kos dan membawa serta gitarnya. Sore ini ia memilih sebuah gaun terusan warna
abu-abu dan sepatu kets.
Saat Rory menurunkan kaca mobil, Uki
melihat di depan nggak ada siapa-siapa. Hanya dia sendiri di mobil. “Naik!”
katanya.
Uki melempar gitarnya ke jok belakang
sebelum ia menarik pintu depan dan masuk. lalu Rory mulai melaju dengan
kecepatan normal menuju café sepupunya di mana katanya Damar, Laras dan Erris
sudah menunggu.
“Sejak kapan lo pandai main gitar?” tanya
Rory setelah lama Uki diam dan murung di sampingnya.
“SMP” jawab Uki singkat dan datar.
“Oh ya? Belajar sendiri?”
Uki menggeleng. “Diajari sama mas-mas yang
biasa nongkrong di teras rumah, di kampung…” jawab Uki.
“Mas-mas?”
“Aku punya dua kakak cowok. Teman-temannya
sering ngumpul di depan sambil main gitar” jawabnya. “Karena waktu kecil aku
tomboy, aku sering ikut nimbrung terus ikut-ikutan main gitar juga sama mereka.
Nyanyiin lagu-lagu Padi atau Dewa 19”
Lalu Rory diam lagi. Ia nggak bertanya lagi
sampai akhirnya mereka sampai di café. Tenyata tempat itu sudah tumpah ruah
oleh orang-orang yang ikut meramaikan ultahnya Erris. di panggung live music,
sudah ada Cassandra dan Melia yang menyanyikan lagu Ratu dan orang-orang tampak
menikmatinya –mungkin karena mereka cantik dan pakai rok mini. Café itu menjadi
heboh, lebih-lebih saat para cewek melihat Rory datang tapi ups, dia punya
gandengan di belakangnya.
Cewek-cewek itu langsun gigit jari saat
melihat cowok itu memegang tangan Uki menuntunnya melewati orang-orang yang
memenuhi café. Gila! Kayak mau nonton bareng piala dunia saja!
Di salah satu meja yang posisinya paling
depan, ketiga teman Rory sudah duduk manis bersama dua orang yang nggak dikenal
Uki. Seorang cewek cantik berambut panjang dan seorang cowok indo duduk di
sebelahnya.
Cewek itu langsung berdiri menghampiri Rory
lalu mereka cipika-cipiki. What?
“Lo telat banget sih, Ror” kata cewek itu
tapi matanya tertuju ke Uki yang berdiri dengan canggung di belakang. “Hey, lo
yang namanya Uki ya? Gue Eliza”
Uki mengangguk-angguk sambil membalas
uluran tangan sepupunya Rory yang super cantik itu. Mencoba tersenyum di depan
Erris yang memandang tanpa putus –alias melotot! “Apa kabar?”
Eliza tersenyum ramah, lalu melirik ke
sebelahnya dan cowok Indo itu sudah berdiri. “Ini kenalin cowok gue, Evan” kata
dia lalu cowok yang bernama Evan itu salaman dengan Uki.
“Hai” sapanya dan bikin Uki sedikit
bergeming. Ganteng banget nih cowok! “Gue Evan, Evan Dimitri”
Lalu Evan berhenti di Uki. Kelihatan
sedikit tertarik sebelum mereka duduk sama-sama. Cassandra dan Melia masih
menyanyi sebelum akhirnya Rory beraksi. Dia naik ke panggung dan sempat bikin
orang-orang kaget.
“Turun sana!” kata dia jutek sama Cassandra
yang langsung mati gaya. Rory memang nggak kira-kira kalau lagi sebel. “Bosen
gue denger suara lo yang gitu-gitu aja”
Dengan tampang kusut, Cassandra menyingkir
ditemani Melia yang menepuk-nepuk bahunya.
Sekarang, giliran Rory yang menguasai
panggung. Dia pegang microphone seolah-olah dia mau nyanyi. Dia menatapi
sekitarnya yang ramai sebelum mulai pidato. Oh ya?
“Oke, kayaknya hari ini jadi makin spesial
karena hampir satu sekolahan datang buat nerayain hari jadinya Ketua OSIS kita
yang dari tahun ke tahun nggak pernah berubah. Tetap gloomy, kalem dan pastinya
masih jomblo, juga masih perjaka ting ting” kata Rory sambil nyengir dan
anak-anak tertawa dengan istilah-istilah terakhir yang bikin Erris masam –huh,
mereka cuma nggak tahu yang sebenarnya. “Jadi buat yang mau jadi ceweknya
Erris, pedaftarannya udah dibuka mulai sekarang!”
Anak-anak cewek mendadak histeris!
“Sialan lo, Ror…” Erris bergumam dari
tempatnya dan Damar menepuk punggungnya sambil ketawa cekikikan. Bisa-bisanya
Rory mempromosikan Erris di depan orang banyak kayak jualan obat di Pasar
Senen!
“Nah, mumpung momennya pas banget setelah
tadi siang kita bikin tampang kalemnya jadi ancur. Jadi malam ini, kita pakai
cara yang agak soft untuk… bikin dia jadi raja sehari. Dan tadi siang juga gue
sama temen-temen gue, Damar, Laras, dapat ide dari sepupu gue Eliza untuk bikin
semacam permainan”
Permainan?
Uki mendelik. Firasatnya mulai nggak enak.
Melirik Erris di depannya, ia mulai sedikit deg-degan.
“Jadi gini…” Rory melanjutkan. “Laras udah
nyiapin setoples kertas undian. Di kertas itu udah ada nama-nama cewek yang
udah register di depan. Berhubung karena Erris selalu jomblo jadi, malam ini
dia punya kesempatan untuk menarik tiga nama dari dalam toples untuk nemenin
dia selama pesta!”
Cewek-cewek makin histeris, Erris makin
mencak-mencak!
“Apa-apaan nih?!” protesnya ke Damar.
“Santai aja, Ris. Cuma permainan” ujar
Damar sambil senyum-senyum.
“Nah, cewek-cewek silakan deh komat-kamit
berdoa pada Yang Maha Kuasa supaya nama kalian kecabut. Mana tahu Erris bisa
jadiin kalian ceweknya, permanen!” kata Rory lagi lalu tertawa.
“Rory!” panggil seorang cewek yang berdir
agak jauh dari panggung. “Undian buat lo nggak ada ya?”
Yang lain pada ketawa. Kayaknya cewek ini
ngarep banget bisa nempelin Rory selama pesta.
“Sorry” jawab Rory dengan lesung pipinya
bikin sebagian cewek lagi ser-seran. “Udah ada yang gue suka”
Apa?! Jangankan orang lain, Damar dan Laras
saja juga terkejut. Tapi, saat melirik Uki mereka jadi nggak heran. Pertanda
itu sudah kelihatan belakangan ini.
“Sekarang daripada gue yang komat-kamit di
sini, mendingan kita dengerin hiburan yang asik dulu sebelum acara puncak nanti
jam delapan!” kata Rory mengakhiri sambutannya dan ia menatap lurus ke arah Uki
dan gitarnya. “Please welcome, anak paling bawel se-SMA Nusa Jaya! Rukia!”
Acaranya pun dimulai.
***
.jpg)
Komentar
0 comments