๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Birthday Party
Jakarta,
Desember 2006…
Ujian semester yang menakutkan datang juga.
Semua orang sibuk ke perpustakaan meminjam buku. Erris duduk sambil membaca
buku pelajaran Antropologi di antara beberapa orang siswa yang tampak serius –tapi
bosan. Ada yang berusaha berkonsentrasi, ada yang menguap, dan juga malah ada
yang sudah ketiduran di tengah keramaian anak-anak yang belajar keras. Siang
ini begitu melelahkan bagi sebagian orang, Erris melepas kaca matanya untuk
sekedar memijit pangkal hidungnya karena agak mengantuk. Dan dia menemukan
seorang teman sekelasnya terkantuk-kantuk dengan buku pelajaran di depannya.
Orang-orang lewat dan pergi. Ada yang
menggerutu ada yang berusaha santai, dengan memasang headphone di telinga lalu
berfantasi menjadi seorang drummer dengan pulpen di tangan. Erris mengernyit
pada siswa di sampingnya yang tengah menggebuh drum khayalan. Seorang penjaga
pustaka terdengar berdesis dengan mata melotot pada dua orang yang berbicara di
antara rak buku dan kedengaran berdebat.
Erris memasang kaca matanya kembali untuk
melihat di sana ada Rory yang cengengesan bersama Uki yang sedang mencari-cari
buku. Rory juga mengambilkan beberapa buku yang letaknya berada di atas puncak
kepala Uki. Lalu mereka keluar dengan buku-buku itu. Erris menutup bukunya,
menaruhnya kembali di tempat semula untuk segera keluar. Matanya dengan liar
mencari-cari sosok mereka yang terkesan kian dekat. Ia tahu, Uki berusaha untuk
mengabaikannya dan dia seakan membalas sakit hatinya tempo hari.
Memang sangat menyesakan saat tahu bahwa Uki
mencoba kembali akrab dengan Rory. Mereka membahas buku di kantin yang mulai
sepi karena sudah banyak yang pulang. Lebih-lebih, Rory tampaknya berusaha
membuat Uki nggak bergantung pada orang lain untuk mengerjakan tugas-tugasnya
seperti saat Erris bersedia mengerjakan PR yang malah bikin Uki jadi tambah
malas. Lihat saja, kadang-kadang Rory menolak kepalanya sambil bilang bego dan
Uki memekik kesal sambil membalas.
Setelah berakhirnya ujian semester dan
sekolah mengadakan class meeting untuk berkompetisi dalam beberapa kegiatan.
Seperti lomba kesenian dan olahraga. Nggak ada yang menarik dari acara tahunan
itu karena biasanya cewek-cewek jadi makin histeris mendukung cowok-cowok idola
mereka yang ikut lomba. Semua orang bersemangat, kecuali Erris yang awalnya ingin
minta izin sama panitia untuk nggak datang dengan alasan sakit –bohong banget.
Tapi, apalah daya ketua OSIS yang dielu-elukan ini? Nggak datang, bukan cuma
cewek-cewek yang kecewa, guru-guru juga. Walau sudah bertransformasi jadi
seorang cowok brengsek, kesan murid teladan itu susah dihapus dari namanya.
Sebelum class meeting dimulai, Uki nggak
terlihat beberapa saat, sampai teman-teman sekelasnya mengutus dia untuk lomba
nyanyi. Kembali, dia berdiri di depan orang-orang dengan percaya diri
menyanyikan lagu Laskar Pelangi dengan gitar. Sedangkan Erris, digadang-gadang
sama Damar untuk masuk ke dalam timnya mengalahkan tim dari kelas lain saat
pertandingan basket.
Erris menolak berkali-kali, karena dia
nggak jago olahraga. Walaupun sering ikut-ikutan Damar main, ia sama sekali
nggak bersemangat. Tapi karena Laras dan Rory juga support, dia pun nggak bisa
menolak.
Bertepatan dengan classmeeting, 21 Desember datang juga. Itu adalah hari ulang
tahunnya ke delapan belas. Suasana makin heboh karena teman-temannya mengerjainya
beramai-ramai. Mereka punya kue, tepung dan telur untuk membuatnya kotor.
Di balik hingar bingar sekolah karena
perayaan ulang tahun Erris, Uki malah sembunyi di ruang kesehatan bersama gitar
yang sengaja dibawa dari rumah untuk lomba nyanyi. Walaupun pengumumannya
belum, tapi sudah terdengar kabar bahwa Uki yang memenangkannya. Seharusnya dia
senang, bakatnya mulai diakui dan pandangan orang-orang terhadapnya sudah
berubah. Nggak terasa, satu semester di kelas dua sudah berlalu. Tapi,
sepertinya ia nggak rela. Semakin ia melangkah ke depan, maka semakin pula
jarak dengan Erris terbentang sekalipun mereka sering berhadapan. Cowok itu
kembali menjauhinya.
Uki kembali
memetik gitarnya di atas ranjang putih menghadap jendela kaca. Setiap bersedih
pasti ia akan menyanyikan sebuah lagu.
Indah .. terasa indah
Bila kita terbuai dalam alunan cinta
Sedapat mungkin terciptakan rasa
Keinginan saling memiliki
Namun bila itu semua
Dapat terwujud dalam satu ikatan cinta
Tak semudah seperti yang terbayang
Menyatukan perasaan kita ...
Tetaplah menjadi bintang di langit
Agar cinta kita akan abadi
Biarlah sinarmu tetap menyinari alam ini
Agar menjadi saksi cinta kita
berdua ... berdua ...
Tiba-tiba saja Uki mendengar suara tepuk
tangan. Ia segera menoleh ke belakang, Rory sudah bersandar di pintu. Mungkin
sudah cukup lama dia sudah berdiri di sana penuh dengan rasa kagum mendengarkan
nyanyiannya.
“Kamu ngapain di sini?” tanya Uki padanya
dan Rory bergerak masuk. Ya, ia duduk di samping Uki dengan santai.
“Gue nyariin lo dari tadi” kata dia sambil
tersenyum. “Di depan heboh banget sampai gue hampir lupa kalau gue mau minta
tolong sama lo”
“Minta tolong apa?”
“Nanti malam gue sama yang lain mau bikin
party di cafรฉ-nya Eliza. Gue mau ngajakin lo ikut, terus nyanyi di sana buat
Erris biar dia surprise” jelas Rory.
Menyanyi buat Erris?
“Sebenarnya gue nggak ngundang siapa-siapa.
Cuma kita berempat dan elo. Tapi, kayaknya acaranya bocor dan pasti bakal
banyak yang datang” sambung Rory. “Agak ribet sih, tapi mungkin bakal seru.
Sayang banget kalau lo nggak datang”
Uki masih diam.
“Nanti jam enam gue jemput ya?”
Setelah itu Rory langsung pergi. Dan Uki
kembali berpikir. Ingin sekali ia pergi, menyanyi untuknya walaupun nggak bisa
bersentuhan lagi dengannya. Tapi, ia takut akan menangis di panggung karenanya.
***
.jpg)
Komentar
0 comments