๐ Blog Novel Dewasa 21+ Indonesia ๐ Buat yang bosan dengan chapter berbayar, kamu bisa temukan dan BACA novel dewasa romantis Bahasa Indonesia secara ONLINE hanya di sini. Cerita baru sudah tersedia. Chapternya lengkap, GRATIS, tanpa download aplikasi, tanpa log in, tanpa koin, tanpa langganan premium, dan update tiap hari๐ฅณ
Momen yang tepat! Erris
mendengus. Saat ia hanya bisa berdiri di depan pintu ruang kesehatan dan
untungnya ia menahan langkahnya karena Rory sudah dulu ada di dalam. Ah,
benar-benar membuat jantung terbakar!
Ia menjaga Uki sebagai
bentuk pertanggungjawabannya walaupun ia dimarahi habis-habisan oleh guru dan
dua jam lalu Mama-nya baru saja pergi memenuhi panggilan kepala sekolah.
Sepertinya Rory nggak peduli dengan masa skorsing belum lagi larangan menyetir
mobil ke sekolah yang ia terima sebagai
sanksi akibat perbuatan ugal-ugalannya. Kualat! Ia hampir menabrak Uki.
Uki masih belum sadar
sejak ia diangkat dari lapangan sekolah ke sini. Rory belum beranjak dari
sampingnya sejak tadi. Agak mengesalkan karena dia memandanginya begitu lama.
Tingkat kesengsem Rory sudah semakin parah. Dan ia sepertinya nggak sadar,
kalau ia hanya terlalu berharap. Sampai detik kemarin, yang Erris tahu Uki
masih mencintainya. Mana mungkin ia akan terpesona pada Rory? Ya, tentu, Erris
adalah lelaki pertamanya karena itu ia nggak bisa melepaskannya. Tapi, melihat
pendekatan Rory yang mulai intens, lampu kuning sudah berganti menjadi lampu
merah.
“Lo ngapain, Ror?” tegur
Erris, menyetel suaranya setenang mungkin saat Rory mendongakan wajahnya ke Uki
yang masih belum sadar.
Rory terjungkang.
Terkejut, ia malah cengengesan. “Elo, Ris!” protesnya. “Lo yang ngapain!”
“Lo dipanggil sama kepsek
tuh!” kata Erris padanya –ngarang.
“Ngapain lagi sih?!” Rory
menggerutu. “Gue udah tanda tangan pernjanjian di atas materai ‘kan?!”
“Kenapa lo keselnya sama
gue sih?” cetusnya.
Sambil mencak-mencak,
Rory pun pergi dengan kesal.
Erris menghela nafas.
Jantungnya benar-benar terbakar kalau Rory punya kesempatan mencium Uki –di
depan matanya!
Untung dia langsung
pergi, Erris pun tersenyum sambil mendekati Uki yang belum bergerak sama
sekali. Matanya terpejam dengan damai padahal beberapa jam lalu pasti sangat
menegangkan baginya. Erris sedikit merasa bersalah padanya. Lalu, ia memberinya
sebuah kecupan di dahi yang ternyata malah bikin Uki terbangun!
Uki membuka matanya
seketika!
“Erris...” panggilnya
dengan suara lemah.
“Kamu udah nggak
apa-apa?” tanya Erris, kembali menjadi lembut padanya.
Uki mencoba tersenyum,
sambil menggeleng-geleng. “Aku nggak apa-apa...” jawabnya lega sampai rasanya
ingin menangis. Akhirnya ia bisa melihat Erris kembali seperti semula. Lalu ia
raih pundak Erris untuk memeluknya.
Syukurlah, Erris masih
mau membalas pelukannya.
“Ehm!” seseorang menegur
dan bikin Uki langsung melepaskan Erris.
Ah, Cuma Sasha! Uki lega,
itu hanya sahabatnya yang pasti mau melihat keadaannya.
"Tahu nggak sih lihat
kalian berdua gue kayak ngelihat pasangan gila yang ada di film layar lebar?
Atau mungkin karena ini pertama kalinya gue lihat kalian berdua," Sasha
menyipitkan matanya. Wajahnya kelihatan masih kesal karena terjebak di situasi
di mana dia tiba-tiba jadi pengacau kesenangan sepasang kekasih yang lagi mabuk
asmara, dan sialnya dia nggak menyangka Uki dan Erris berani pelukan begitu –di
sekolah lagi.
Uki menghembuskan nafas
lega, lalu mencoba tertawa. Dasar si Sasha reseh!
"Pokoknya gue nggak
mau tau!" cetusnya lagi. "Kalau kalian berdua nggak bayar kompensasi
ke gue, gue bakal buka mulut sama semua orang!"
"Hah?" Uki
sewot.
"Gimana, Kak
Erris?" tanya Sasha kayak ngancam.
Uki hanya menatap Erris
dengan perasaan nggak enak. Sasha kok bisa malu-maluin begitu sih? Tapi, itu
memang gayanya. Ditraktir makan juga dia bisa ketawa lagi.
“Rory datang!” kata Sasha
tiba-tiba dan bikin mereka kocar-kacir. “Cepetan sembunyi!”
Uki panik! Begitu juga
dengan Erris yang kemudian membawanya ke ranjang sebelah. Supaya nggak
ketahuan, ia menarik kerai biru yang mungkin bisa menyembunyikan mereka
sementara waktu.
“Ssst...” desis Erris
pada Uki yang terpaksa menahan nafasnya. Ia menutup mulutnya sendiri sambil
menahan tawa. Bersembunyi seperti ini terasa sedikit menegangkan
sekaligus menyenangkan.
“Lho, Uki mana?!” tanya
Rory, kedengaran sebal. Ya iyalah, pasti dia disewotin sama Bu Kepsek yang
merasa nggak memanggil Rory.
“Udah keluar” jawab Sasha
acuh.
“Terus Erris?” tanya Rory
lagi.
“Erris? Emang tadi dia ke
sini?” balas Sasha lagi,
“Aaaah! Sialan tuh si
Erris, gue dikerjain!” Rory makin menggerutu, lalu suaranya nggak terdengar
lagi. Sepertinya dia langsung pergi.
Suara Sasha juga nggak
terdengar lagi. Uki pun memberanikan diri mengintip dari balik kerai. Temannya
itu juga sudah nggak ada.
“Udah aman” kata Uki
sambil berbalik, bermaksud mengajak Erris turun dari sana. Tapi sepertinya
Erris belum ingin. Kembali, ia meraih Uki ke dekatnya untuk sebuah ciuman dan
pelukan rindu.
***
Seminggu kemudian...
"Siapa yang suruh lo duduk di
sini?!" Rory jengkel, mendapati ada tas yang jelas bukan tas Uki di bangku
sebelahnya. Baru selesai menjalani masa skorsing ia belum bertemu Uki sejak
pagi dan tiba-tiba malah mendapati orang lain duduk di kursinya.
"U...Uki yang minta..." kata anak
cowok itu gelagapan. Ia pikir Rory sudah agak 'jinak' sejak banyak bergaul
dengan Uki yang humoris. Tapi, kenapa dia mendadak gila lagi?
Rory pun pergi keluar kelas, ia mulai
menanyakan Uki pada semua orang yang ia temui di sepanjang koridor. Mereka
semua menggeleng. Tapi, Uki yang
badannya kecil seolah bisa menghilang dan muncul begitu saja seperti Jinny.
"Tadi dia masuk perpus..." jawab
seorang siswa lelaki gemetaran saat Rory menghampirinya.
"Perpus?" Rory mengernyit.
"Ngapain dia ke perpus?"
"Bukannya Uki sering ke sana tiap
pulang sekolah...kali aja dia di situ..." jawab anak itu takut memandang
ke wajahnya.
Rory nggak langsung percaya. Kalau Uki
sering ke perpus, kenapa dia nggak pintar-pintar juga?, pikirnya lalu menarik kerah
baju siswa itu. "Awas kalau lo asal jawab..." ancamnya.
"Siap-siap aja gue gantung di pohon!" makinya lalu menunjuk dua orang
lain yang ada di sana. "Kalian juga!"
Begitu Rory pergi, mereka lebih dari
sekedar berharap sebaiknya Uki memang ada di sana. Untuk menyelamatkan mereka
dari kekerasan yang mungkin akan terjadi.
Di perpustakaan, Uki menghembuskan nafas panjang di sudut favoritnya dengan sebuah
buku paket Bahasa Inggris. Ia masih berharap Erris akan datang. Tapi, yang muncul
malah Rory.
"Gue udah minta maaf, lo jangan cuekin
gue gitu dong!" suara Rory terdengar jelas karena perpustakaan begitu
hening.
Beberapa orang yang kebetulan ada di
sekitar sana mulai merasa tertarik karena tahu itu suara Rory. Termasuk Erris
yang baru datang dan terpaksa harus sembunyi untuk bisa mendengar pembicaraan
mereka.
"Ssst!" desis Uki, menekankan
suaranya yang kecil supaya nggak memancing orang-orang untuk datang ke sini.
"Ini perpus bukan kelas, Rory!"
"Gue nggak sengaja, Ki! Mana mungkin
gue kepikiran buat nabrak orang apalagi itu elo!" kata Rory terdengar
memohon dengan panik. Sepertinya ia nggak peduli banyak orang yang mendengarnya
termasuk guru pengawas perpustakaan yang pasti bakal mengusir mereka.
Tapi, benar Rory memohon?
“Udahlah, Rory, jangan ganggu aku lagi deh,"
kata Uki ketus sambil berdiri, bersiap untuk pergi karena ia nggak tahan
menjadi sorotan orang-orang yang melihat
Tiba-tiba Rory menarik lengannya. “Uki,
dengerin gue dulu!” paksanya.
Uki berontak dengan menarik paksa dirinya
dari Rory. “Kamu ingat ini bukan pertama kalinya kamu bikin aku sial?! Dan
masih untung aku masih hidup buat dengerin semua hinaan dan ejekan kamu soal
aku!”
Lalu ia pergi dengan raut kesal membiarkan
Rory tampak menyesal di sana.
Erris nggak percaya
dengan apa yang baru saja ia lihat. Uki berteriak pada Rory di depan beberapa
orang yang kebetulan melihat mereka? Kenapa seolah-olah
kesannya malah jadi seperti… Uki mengusir Rory karena sudah nggak
membutuhkannya untuk mendekati Erris? apa Uki sejahat itu? tapi, itulah yang terlihat
saat Uki pergi dengan raut kesal dan membiarkan Rory di sana sendirian.
Lebih dari itu, Rory baru saja dipermalukan! Dalam keadaan normal pasti ia akan
marah dan membalas. Tapi, saat itu, dia diam saja. Seakan ia menerima semua perkataan Uki
yang menyebutnya ‘masalah’.
***
.jpg)
Komentar
0 comments